
Sore ini Arletta berjanji akan bertemu dengan Soraya di pusat perbelanjaan untuk menonton film terbaru di bioskop. Arletta mengajak sang suami dan Soraya mengajak kekasihnya. Kedua gadis itu berencana kencan bersama dengan pasangan nya masing-masing.
Arletta sudah bersiap, tinggal menunggu sang suami menjemputnya. Tidak menunggu lama, mobil Langit terlihat memasuki pekarangan rumah.
"Sayang, kamu udah siap?" tanya Langit ketika turun dari mobil. Tak lupa memberikan kecupan pada istrinya. "Cantik banget sih kamu." ucapnya begitu gemas.
Arletta selalu saja di buat senang dengan kata-kata suaminya yang memujinya. "Aku udah siap, kamu mau mandi dulu apa langsung berangkat nih." tanya Arletta.
"Ganti baju aja, mandi nya entar pas pulangnya."
"Yaudah.. mau aku temenin?"
Langit menggeleng. "Kamu tunggu di sini aja, bentar doang kok, cuma ganti baju."
Soraya telah mengabari jika sedang dalam perjalanan menuju mall, tempat janji temu mereka. Sebenarnya Arletta tidak menyukai kekasih Soraya, karena terlihat jelas, Digta memiliki maksud tertentu pada Soraya. Namun demi kebahagiaan Soraya, Arletta tak bisa berbuat banyak, Arletta hanya sering berpesan untuk berhati-hati pada Digta.
Langit menghampiri istrinya ketika telah siap. "Ayok kita berangkat." tangannya merangkul pinggang sang istri, mengiringnya jalan menuju mobil.
Empat puluh lima menit mereka telah sampai. "Kita samperin Sora dulu kak, dia nunggu di cafe biasa." ujar Arletta.
Langit mengangguk setuju. "Kenapa gak kencan sendiri aja, lebih asik daripada double date." ujar Langit.
"Pengin aja kak, kata orang double date itu seru." tangan Arletta sudah melingkar di lengan suaminya, berjalan beriringan.
"Lebih seru kita pacaran sendirian, lebih romantis. Apalagi pacaran di kamar." ucap Langit menggoda istrinya.
"Ikh.. kakak mesum!" Arletta mencubit perut Langit.
"Aww.. sakit sayang.." Langit mengusap bekas cubitan Arletta. "Tapi bener kan? buktinya kamu ketagihan.. hehe.."
Wajah Arletta bersemu merah, memang benar apa yang di katakan suaminya. Dirinya begitu ketagihan dengan permainan Langit di setiap malam. "Ish.. kakak rese! gak usah bahas napa!"
"Iya sayang.. kita bahasnya ntar aja ya, pas pulang. Malam ini kakak minta tiga ronde ya?" pinta Langit, tak lupa mengerlingkan sebelah matanya. Arletta hanya tersipu dengan ucapan Langit.
Di cafe, Soraya memanggil Arletta ketika gadis itu terlihat. " Arlet!"
Suara Soraya terdengar begitu nyaring membuat Arletta cepat menoleh ke arahnya dan menghampirinya.
"Sorry Ra, nunggu lama ya?" Arletta.
"Lumayan sih, tapi gak papa, aku kan di temenin Digta." ujar Soraya sembari melirik kekasihnya yang duduk di sebelahnya.
"Hai.." sapa Digta pada Arletta dan Langit.
Arletta tersenyum tipis menyambut sapaan Digta. Walau jarang bertemu. Tetapi Arletta sudah mengenal sosok Digta.
"Digta.." ujar Digta memperkenalkan diri pada Langit.
"Langit.." Langit menerima uluran tangan Digta untuk bersalaman.
"Bukannya anda Raj Malhotra?" Digta seorang selebgram yang ingin meraih puncak lebih tinggi, tentu saja dia mengenal beberapa pria terpenting dalam dunia entertainment. Termasuk Langit yang terkenal sebagai produser muda dengan segudang prestasi.
Langit mengangguk. "Langit nama kecil ku."
"Oh.. senang bertemu dengan anda." Digta.
Mereka berempat menuju bioskop, sebentar lagi film akan di mulai. Arletta dan Soraya begitu antusias dengan film bergenre romantis itu.
"Filmnya bagus kan kak?" tanya Arletta pada Langit.
"Lumayan.." jawabnya. "Apa kita langsung pulang?" sesuai menonton, Langit ingin cepat-cepat pulang. Rasanya tak sabar ingin mempraktikkan adegan romantis di film yang mereka tonton barusan.
"Kok pulang si kak, Sora mana mau langsung pulang." Arletta.
"Jangan pulang dulu dong, baru kek jam delapan." gerutu Soraya yang masih ingin berlama-lama bersama Digta.
"Iya kak, aku mau belanja dulu." ujar Arletta.
"Ada tas keluaran terbaru Let, kita kesana yuk." ajak Soraya bersemangat. "Biar kak Langit yang traktir ya?"
"Ish! minta ama cowok kamu lah.. masa minta ama kak Langit!" seru Arletta.
"Yaelah.." cibir Soraya, dia tahu jika Digta mungkin tak akan sanggup membelikan tas yang ia inginkan. "Kak Langit juga gak keberatan kok, iya kan kak?" Soraya bertanya pada Langit.
"Iya." Langit mengangguk.
"Pak.. bagaimana proses film terbaru yang empat bulan lagi akan tayang?" tanya Digta gugup.
"Jangan panggil Pak, santai aja." ucap Langit. Digta tersenyum kikuk. "Semuanya lancar. Mudah-mudahan selesai tepat waktu."
Digta berhasil membuka obrolan, Langit sangat welcome pada Digta. Membuat pria itu tak ragu lagi untuk meminta peran kecil di film berikut nya.
Senyuman mengembang di wajah Digta ketika Langit menerimanya untuk bergabung di proyek film selanjutnya. Meski harus melakukan casting terlebih dahulu.
***
"Malam pah.." sapa Arletta pada papa mertuanya.
"Baru pulang?"
"Iya pah, maaf bikin papa makan malam sendirian." ucap Arletta.
"Siapa bilang papa makan sendirian?" Ardiansyah.
Kening Langit berkerut. "Papa makan malam sama siapa?"
"Tante Rosmi. Tadi dia datang sama putrinya." jawab Ardiansyah.
"Papa pacaran sama tante Rosmi?" terka Langit. Sebenarnya dia tak kenal siapa itu tante Rosmi. Melihat gelagat papanya yang terlihat bahagia membuat Langit curiga.
Ardiansyah mengedikkan bahunya. "Papa gak pacaran! dia datang bertamu, ya papa sambutlah.. masa papa usir!"
"Tapi papa suka kan sama dia?" Langit.
"Emangnya kenapa kalau papa pacaran atau nikah lagi?" tanya Arletta. Menurutnya, papa mertuanya itu berhak mempunyai pasangan lagi.
"Jadi kamu setuju kalau papa nikah lagi?" tanya Langit. Arletta mengangguk.
"Kok jadi ributin papa sih.. siapa yang mau nikah lagi!" ujar Ardiansyah.
"Itu papa udah main bawa bawa tante Rosmi ke rumah."
"Dia yang dateng, bukan papa yang ngajak."
"Tante Rosmi.. cantik pah?" tanya Arletta tanpa peduli pada Langit yang terlihat tak suka papanya dekat dengan wanita.
Ardiansyah mengangguk. "Cantik, kulitnya masih mulus." jawabnya jujur.
"Papah!" geram Langit.
Ardiansyah terkekeh. "Arlet tanya, ya papa jawab lah..kok malah marah."
"Masih muda pah?" lanjut Arletta.
"Masih. Beda sepuluh tahun sama papa."
"Papa suka?" Lagi-lagi Ardiansyah mengangguk.
"Dia cantik, masih muda, kenapa gak suka." jawabnya santai.
"Pah, Langit gak mau punya adik! malu pah!" seru Langit.
"Siapa yang mau bikinin kamu adik sih! nikah aja gak." ujar Ardiansyah. "Mending kamu aja gih.. bikinin papa cucu.. kasih yang banyak biar rumah ini rame."
"Nanti Langit kasih cucu ke papa, tapi janji ya gak nikah lagi. Gak ngasih adik buat aku." terlalu malu jika usianya yang sudah dewasa memiliki adik kecil dari pernikahan papahnya, jika itu terjadi. Seharusnya dari dulu papahnya menikah, Langit akan menerimanya. Jika sekarang, tentu saja dia akan menolaknya.
"Iya.. iya.."
"Ayok sayang, kita ke kamar.. kerjain PR dari papa." Langit langsung mengajak istri masuk ke kamar.
"PR apa?"
"PR bikin cucu!"
Bersambung...
Hai semua apa kabar.. maaf baru bisa up, minggu ini otor sibuk ngurusin anak yg pengin liburan. Semoga satu bab ini bisa ngilangin rasa kangen kalian sama Arletta dan Langit. Sampai ketemu lagi.. bye..