
Langit sudah di ijinkan pulang, dua hari di rawat di rumah sakit membuatnya bosan. Apalagi tak tega melihat istrinya menemaninya di rumah sakit. Kesehatan nya baru saja pulih waktu istirahat dan tempat yang nyaman.
"Kak, aku antar ya sampe rumah." ujar Arletta.
Langit mengerutkan keningnya. "Kita pulang bersama. Tempat ku pulang ya ke rumah istriku."
Arletta masih belum menyangka jika dirinya sudah menikah dengan Langit. Gadis itu selalu lupa dengan statusnya sebagai istri dari seorang Langit, meski berulang kali Langit mengatakan jika Arletta adalah istrinya. "Hehe.. iya kak aku lupa."
"Jangan lupa dong, masa suami sendiri di lupain!"
"Abis aku gak nyangka kita udah nikah kak, rasanya kayak mimpi."
Setibanya di rumah, Clara dan Giska menyambut kepulangan Arletta dan Langit.
"Cucu ku udah sembuh.." Giska merangkul Arletta begitu erat, merindukan cucu cantiknya yang hampir sebulan menghilang, raganya bersama mereka namun jiwanya entah kemana.
Semenjak sadar, Arletta belum pulang ke rumahnya karena harus menemani Langit di rumah sakit. Semua keperluannya akan diantarkan oleh pelayan yang bekerja di rumahnya. Bukan hanya Giska, Davon pun ikut nyambut kepulangan Arletta dan Langit. Lama mereka berbincang melepas rindu, melupakan jika Langit harus beristirahat terlebih dahulu.
"Duh kalo udah ngobrol gak bakal ada habisnya. Mami sampe lupa, kalian baru pulang harus banyak istirahat." ujar Clara.
"Iya, oma juga lupa." Giska ikut menimpali. "Kalian istirahat dulu di kamar, oma juga mau nyusulin opa di kamar."
"Iya oma." Arletta.
"Ayo mah, Clara antar." Clara menantu yang sangat menyayangi mertuanya, Davon dan Giska sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri.
"Kak.."
"Hem."
"Emm.. kak Langit istirahat di kamar aku?" tanya Arletta yang belum terbiasa ada laki-laki masuk ke dalam kamarnya, apalagi ini pria yang sangat ia cintai, bukan saudara kandungnya. Rasa gugup melanda gadis itu
Langit terkekeh. "Terus kakak harus ke kamar yang mana?" wajah Arletta tertunduk malu, dengan kedua pipi yang sudah semerah tomat.
"Tiap malam kaka tidur sama kamu, mulai saat ini kamu harus terbiasa tidur dengan suami mu ini." Arletta mengangguk mengerti meski jantungnya berdegup kencang.
"Eh kak! mau ngapain?" Arletta panik ketika melihat Langit membuka bajunya.
"Mau mandi gerah." jawabnya santai tanpa tau jika gadis yang berdiri tak jauh darinya sudah gugup setengah mati. "Mau mandi bareng?" ucapnya seraya menggoda.
"Ish! gak boleh mandi bareng! kakak duluan aja. Aku tadi udah mandi." kata Arletta tanpa memandang wajah lawan bicaranya. Arletta membalikkan badan agar tidak melihat Langit yang bertellanjang dada.
Langit tergelak, langkanya semakin maju mendekati Arletta. "Kita udah sering mandi bareng kok." bisiknya sangat dekat di telinga Arletta, membuat gadis itu meremang.
Tubun Arletta semakin menegang tatkala Langit merangkulnya dari belakang. Mengecupi ceruk lehernya. "Kak.." rintih Arletta.
"I love you.." berulang kali Langit membisikkan kata cinta sembari bermain-main di kulit mulus istrinya.
"Kak, katanya mau mandi." ucap Arletta agar Langit menghentikan permainan yang membuat tubuhnya merasa tergelitik.
"Gak jadi! aku mau kamu dulu." Langit membalikkan tubun Arletta hingga ia dengan mudah menyambar bibir mungil Arletta. Melummatnya begitu lembut.
Langit tak lagi menahan apa yang ia inginkan, mengingat hubungan mereka telah resmi menjadi sepasang suami-istri.
"Kak.." Arletta begitu pasrah menerima permainan Langit. Ia pun menikmatinya.
"Awww!" pekik Arletta ketika tubuhnya melayang, Langit menggendongnya dan menghempaskan nya pelan ke atas ranjang.
Tiga kancing blush yang di kenakan Arletta sudah terlepas. "Indah... sangat indah.." Arletta merona mendengar Langit memuji miliknya.
Dengan cepat Arletta menutup kedua mata Langit dengan telapak tangannya. "Jangan di liatin kak, aku malu." lirihnya.
Langit terkekeh, lalu menyingkirkan telapak tangan Arletta. "Gak usah malu, aku sering melihat nya, tapi belum pernah merasakannya."
"Kakak!" gantian, Arletta kini menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Kak mandi gih.." Arletta ingin segera lari, menghentikan kegiatan intim mereka.
"Kakak belum puas." Langit melabuhkan ciumannya lagi. Ciuman yang begitu lembut. Ciuman itu perlahan turun ke leher, lalu ke bukit kembar milik Arletta.
Awalnya Arletta terkejut menerima sentuhan di bagian itu. Namun lama kelamaan sentuhan itu membuatnya merasakan nikmat luar biasa. Hingga dessahan keluar dari mulutnya. Keduanya larut dalam permainan panas yang baru pertama kali mereka lakukan. Sungguh mengasikkan!
Tok.. tok.. tok...
"Arlet!!" terdengar suara teriakan Soraya. Bunyi ketukan berulang kali terdengar, meminta cepat di buka.
Langit dan Arletta segera menghentikan aktivitas mengasikkan itu. "Kak, kakak mandi dulu aja. Biar aku yang bukain pintu."
Langit menghembuskan nafasnya kasar, merasa kesal karena terganggu. "Besok nginep di rumah aku ya.. sekalian jengukin papa." ucap Langit. Disini banyak sekali gangguan, lebih baik membawa Arletta kerumahnya yang sudha pasti tidak ada pengganggu di sana.
"Iya kak." Langit beranjak dari tubuh Arletta, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Arletta membenarkan pakaiannya.
"Ada apa sih!" seru Arletta ketika pintu kamarnya terbuka.
"Wowww.. judes amat!" Soraya. "Ternyata bener kamu udah sembuh Let." Soraya memeluk Arletta. Senang, saudara nya telah kembali. "Gue kangen.."
"Gue juga kangen Ra.." Arletta.
"Tunggu.." Soraya melepaskan pelukannya, kemudian meneliti penampilan Arletta. "Rambut lu kok acak-acakan?" Soraya melebarkan kedua matanya. "Lu abis ngapain Let!" seru Soraya yang melihat beberapa tanda mereka di leher jenjang Arletta.
Arletta tersenyum dan tertunduk malu. "Gue.."
"Ada kak Langit?" Arletta mengangguk malu-malu.
"Ck! lu baru sembuh Let! kak Langit juga baru sembuh kan?" ucap Soraya tak habis pikir. "Gak bisa di tunda dulu ya?"
"Ishh.. kepo lu! mana bisa kayak ginian di tunda-tunda!"
"Ehh.. beneran udahan lu?" tanya Soraya penasaran. "Gimana rasanya?"
"Ikh.. kepo banget sih.."
"Yaelah pelit amat! gak mau info gimana rasanya di unboxing!"
"Belum Ra, gue lagi dapet!"
"Kirain udah!"
"Baru Appetizer Ra." Arletta.
"Ah.. gue jadi penasaran."
"Gak boleh penasaran sebelum punya pasangan! dilarang keras coba-coba!"
"Iya deh.. iya.."
Obrolan mereka terhenti tatkala Langit keluar dari kamar mandi. Arletta segera mengajak Soraya melanjutkan perbincangan nya di empat lain. Tidak lupa Soraya memberitahu jika ia sudah menjalin kasih dengan Digta, pria sejuta pesona di kampusnya.
"Ra, gue gak setuju kalo elu sama Digta." ujar Arletta. Digta terkenal mempunyai banyak kekasih dan pintar merayu gadis-gadis. Terutama para fansnya.
"Tapi gue suka sama dia. Jalanin dulu aja deh.. gue gak mau mikir yang enggak-enggak." Soraya memang tahu jika Digta di kelilingi banyak gadis yang mendambakan nya. Maklum, Digta adalah selebgram yang tengah naik daun.
"Yaudah jalanin aja.. tapi ati-ati jangan baper apalagi ampe bucin duluan."
"Iya Let, santuy.."
Arletta melupakan Langit yang tengah menunggu di kamarnya. Berbincang dengan Soraya selalu membuatnya lupa waktu. Kedua gadis itu seakan sulit terpisahkan jika sudah asik ber-gibah ria.
Bersambung...