
Keluarga besar tengah berkumpul di rumah Bastian. Makan malam bersama di adakan untuk melepas rindu yang lama tak jumpa karena kesibukan masing-masing.
"Sorry Ra, mama sama papa gak bisa ikut. Mama masih perlu istirahat." ucap Lisa. Elsa yang baru saja sembuh dari sakitnya terpaksa tidak ikut makan malam di rumah Clara. "Papa nemenin mama."
"Iya Lis, gak papa. Besok aku ke sana lagi." meski berbeda rumah, Clara selalu menyempatkan diri untuk menjenguk kedua orang tuanya. "O iya.. gimana Key? udah ada kabar dari dia?" tanya Clara mengenai putra pertama dari Arsen dan Lisa.
Raut wajah Lisa menjadi sendu mengingat putranya, yang entah di mana keberadaan nya saat ini. "Gak ada kabar Ra, Arsen bener bener marah sama Key. Gak mau cari tau keberadaannya." ibu mana yang tak cemas jika tidak tahu keberadaan putranya saat ini.
Clara mengelus punggung Lisa, memberikan ketenangan. "Nanti aku bantuin cari, semoga dia baik-baik aja."
"Iya Ra, terimakasih." Lisa.
"Yaudah yuk.. gabung sama mereka." Clara mengajak Lisa untuk bergabung dengan yang lainnya. Mereka semua sedang berada di ruang keluarga, berbincang sejenak sebelum makan malam.
Bastian dan Arsen terlihat serius membicarakan bisnis mereka. Sedangkan Para anak muda mengobrol santai, tanpa melibatkan pekerjaan.
"Mas!" baru saja menunjukkan diri, Clara berseru memanggil suaminya membuat semua orang menatapnya heran.
"Apa sayang.." Bastian menoleh pada istrinya yang sudah berdiri di hadapannya. Kening Bastian berkerut tatkala wajah istrinya terlihat marah. "Are you oke?"
"Nadia Almira itu siapa mas?" tanya Clara dengan marah.
"Mana ku tau!" jawab Bastian santai.
"Namanya ada di mana-mana loh mas, kamu berulang kali transfer ke dia. Aku punya buktinya mas!" seru Clara. Wanita yang sudah tak muda lagi itu mulai menunjukkan bakat actingnya yang sampai saat ini masih melekat. menirukan sebuah drama series yang sedang viral. Sedangkan Lisa yang melihat tingkah Clara hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ngomong apa kamu." ucap Bastian.
"Gak cuma itu mas! kamu beliin dia rumah mewah di Bali seharga 10 Milyar! kamu selingkuh mas!" Clara mulai beracting mengeluarkan air matanya.
"Papi beneran selingkuh!" Benzema mulai terbawa suasana. Rupanya putra sulungnya itu sudah terbawa dalam drama yang ibunya ciptakan.
Bastian menggeleng dengan cepat. "Papi aja gak tau Perempuan itu siapa."
"Jangan bohong pih!" Kenzo pun mulai mencurigai ayahnya. Melihat ibunya sudah menangis tersedu-sedu, seorang anak pasti tak tega melihatnya.
"Kamu selingkuh Bas!!!" Arsen, sang adik pun ikut geram di buatnya. Ketiga lelaki yang tak pernah mengikuti perkembangan sosmed itu sudah berapi-api. Marah pada pria yang terdiam, bingung dengan situasi saat ini.
"Sayang, aku gak selingkuh. Kamu ini pasti salah info. Bukan aku. Mana mungkin aku selingkuh." Bastian hendak merangkul Clara ke dalam pelukan. Namun Clara dengan cepat menghindar.
"Terus, Nadia Almira itu siapa mas?"
"Aku gak tau, mungkin karyawan di kantor kali." ucapnya asal.
"Ck! udah lah Ra, gak usah acting! kasihan mereka." Lisa menengahi ketegangan. Tidak tega juga melihat Bastian tersudutkan. "Acting kamu emang bagus dari dulu. Gak bakal ilang bakat mu. Gak perlu acting lagi."
"Hehe.. iya kah?"
Helaan nafas terdengar dari para pria yang merasa lega. "Mami ini ada ada aja!" Benzema.
"Iya, aku pikir papi beneran selingkuh." Kenzo.
"Acting mami masih bagus kan?" Clara.
"Ck! mami, bikin keget aja!" Kenzo.
***
"Kak, udah buruan.. mereka pasti udah nungguin di bawah." nafas Arlet terdengar memburu. Keringat sudah bercucuran di sekitar dahinya.
"Bentar lagi.." Langit enggan menyudahi kegiatan yang mengenakkan. Pinggulnya asik berpacu untuk mencari setitik kenikmatan yang sudah menjadi candu. Kegiatan sehari-hari yang tak pernah terlewatkan.
"Kamu nikmat, rasanya gak mau berhenti. Ingin lagi dan lagi." ucap Langit. Sudah puluhan tahun dia menahan tidak melakukan kegiatan ini dengan wanita manapun. Hanya bersama Arletta dia ingin melakukannya. Ketika mendapatkan nya, mana mungkin akan melewatkan setiap ada kesempatan.
"Iya kak, tapi bisa di cepetin dikit." Arletta.
"Oke!" Langit mulai menambah kecepatan dalam berpacu. Seruan erangan terdengar ketika pria itu mencapai puncak kenikmatan.
"Makasih sayang." tak lupa memberikan kecupan di kening sang istri.
"Aku mandi duluan." buru-buru Arletta membersihkan diri. Jam makan malam sebentar lagi. Dia tak boleh terlambat.
"Mandi bareng ya?" Langit.
"No! aku dulu, baru kakak." bergegas Arletta mengunci pintu kamar mandi, bisa gawat kalau suaminya ikut menyusul. Bukannya cepat, malah bisa bertambah lama kalau suaminya ikut bergabung.
"Cie.. cie.. rambut masih basah nih, abis ngapain kalian?" Soraya menggoda Arletta. Rambutnya masih setengah basah ketika ia turun dan menghampiri Soraya. Wangi shampoo juga tercium.
"Mau tau aja!"
Soraya mencibir. "Iya deh.. yang udah halal. Bisa ngrasain sesuatu yang eemmmmhhhh..."
"Makanya cepet nikah! biar tau nikmatnya surga dunia."
Soraya memutar bola matanya malas. "Ntar, nunggu kembarannya Lee Min Ho dateng nglamar gue!"
"Serius pengin punya suami Korea?" tanya Arletta.
Soraya menggeleng. "Gak juga. Yang penting unyu unyu kaya oppa oppa Korea. Lokal juga gak papa asal mirip. Hehe.. asal jangan bule! apalagi bule Jerman! bisa numpuk orang Jerman di keluarga kita."
"Gue kasih tau ya Ra, interlokal lebih hot loh.." ucap Arletta yang sedikit sudah bisa membedakan seorang pria. "Lu bakal seneng deh.. dapetin laki bule..ketagihan malah."
"Gak ah.. serem!" masih teringat jelas blue film yang pernah ia tonton. "Gue mau yang sedeng sedeng aja."
"Gak serem Ra, nikmat malah!"
"Bukannya dulu elu juga pengin yang lokal ya? kenapa tiba-tiba demen yang interlokal?"
"Hehe.. kak Langit interlokal, jadi ya.. gue seneng-seneng aja tuh.. gak serem kok."
"Ck!" decaknya kesal. "Gak usah bahas itu deh.. elu ngracunin otak suci gue!"
"Iya.. iya. kan gue cuma ngasih tau elu!"
"Udah ah.. ngomong ini bikin gue ngiri aja! lanjut cerita kalo gue udah punya laki. Sekarang kita gabung yuk.. mereka udah pada kumpul di ruang makan." Soraya.
"Ayok"
Bersambung...