Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Kedatangan keluarga dari India



"Temen deket?" Langit mengulangi ucapan Alesya. "Kenal aja baru. Ketemu baru dua kali ini, apa itu bisa di katakan temen deket?" Langit membantah, tak mau istrinya menaruh curiga padanya, mempunyai teman dekat seorang wanita.


Alesya malu sendiri mendengar penolakan Langit. "Emm.. maksud ku, kita akan berteman.. yah.. gitu.." ucapnya gugup.


Arletta bisa membaca gerak-gerik wanita yang ada di hadapan nya itu. Seperti tertarik dengan suaminya. "Kak, kita makan siang di luar aja deh." ajaknya. Tak mau membuang tenaga untuk menghalau wanita bernama Alesya itu. Toh, suaminya sama sekali tak menanggapinya.


"Iya, kita makan di luar aja." Langit menggandeng tangan Arletta, melangkah pergi meninggalkan Alesya yang masih terpaku di tempat.


"Pak.. pak.. Pak Raj, tunggu.." sejurus kemudian Alesya mengejar Langit yang hendak memasuki lift. "Saya sudah siapkan makan siang, kita makan siang bersama di sini saja." ucapnya penuh harapan.


"Tidak usah, terimakasih."


"Tapi sayang loh pak, saya untuk bawain banyak makanan." Alesya kekeh, menahan pintu lift agar tidak tertutup.


"Pak Ali dan yang lainnya akan menemani mu. Biar gak mubazir." ucap Langit memberikan solusi terbaik. Membiarkan staff kantor menikmati makanan yang di bawa Alesya.


"Tapi.."


"Maaf mbak, kami mau pergi. Tolong jangan paksa suamiku kalo gak mau." ucap Arletta mempertegas statusnya.


Pintu lift tertutup. Arletta menatap tajam suaminya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. "Seneng ya, di kejar-kejar cewek cantik." sindirnya. "Kalau aku gak dateng pasti kakak udah mau tuh di ajak makan siang bareng!"


"Kamu ngomong apa sih yank, aku gak pernah ngladenin cewek lain. Aku cintanya cuma sama kamu." Langit berkata jujur. Tetapi sepertinya jawaban Langit tidak terdengar puas di telinga Arletta.


"Awas aja kalo kamu berani nanggepin cewek-cewek yang deketin kamu, aku bakal bikin perhitungan sama kakak!"


"Iya sayang, aku gak bakal macem-macem kok." Langit memeluk Arletta, lalu mengecup singkat bibir Arletta yang mengerucut. "Aku seneng kamu cemburu, itu tandanya kamu juga cinta sama aku."


"Ish, aku gak cemburu ya kak. Jangan Geer!" Langit mengulum senyum. Arletta menyangkalnya.


"Iya deh, gak cemburu. Tapi jeoules."


"Ish."


Sedangkan Alesya terkejut mendengar pengakuan gadis muda yang datang bersama Langit. Seakan tidak mau tau, Alesya tak akan mengurungkan niatnya untuk mendekati Produser muda dan tampan seperti Langit.


Wanita itu percaya diri, jika Langit akan tergoda kecantikannya. Apalagi Alesya memiliki tubuh yang sedikit bervolume di bagian tertentu. Banyak kaum adam yang menggilai tubuhnya. "Gue pasti bisa dapetin Raj." Alesya yakin sekali bisa memikat Langit, semudah dia menaklukkan pria yang berhasil ia jerat selama ini.


***


Sepertinya hari ini bukan hari yang baik bagi pasangan suami-istri itu. Belum lama ada Alesya yang mengaku-ngaku dekat dengan Langit. Sekarang, ada pengganggu lainnya yang tiba-tiba muncul di antara mereka.


"Hai Arlet." Hugo yang sedang makan siang juga di restoran itu menghampiri Arletta, menyapa gadis cantik yang pernah ia sukai.


Arletta mengerutkan keningnya, mengingat-ingat siapa laki-laki di depan yang menyapanya.


Sudah lama sekali Hugo tak menunjukkan diri. Sewaktu Arletta di kabarkan sakit, Hugo tidak ada kabar, hilang bagi di telan bumi. Mungkin karena Hugo sedang dinas di rumah sakit yang ada di Singapura. Tapi setelah pulang pun dia tak lagi menanyakan kabar Arletta pada Bastian.


"Aku Higo, masih ingat?" ucap Hugo berharap Arletta mengingat dirinya. "Kamu udah sembuh?"


"Oh.. iya.. aku ingat." Arletta.


Langit menatap tak suka pada Hugo, tatapan Hugo begitu mendamba pada sang istri. "Ehemmm.." Langit berdehem, menunjukkan keberadaan nya yang sama sekali tak di anggap oleh Hugo. "Sayang, mau pesen apa?" tanya Langit, sengaja mengatakan kata sayang.


"Kalian.." Hugo menerka-nerka.


"Iya, Arlet milik ku." jawab Langit cepat.


"Bukan pacaran! kami sudah menikah." Langit.


Hugo terkejut. "Benarkah?"


Langit mengangguk dan Arletta pun tersenyum, mengiyakan.


"Kalau gak ada kepentingan lagi, kami akan makan siang, dan gak mau ada yang menganggu." ucap Langit mengusir Hugo secara halus.


Dengan lesu, Hugo pun berpamitan pada Arletta dan Langit.


"Sayang, seharusnya pesta pernikahan kita dipercepat." Langit ingin status mereka diketahui public. Agar semua orang tahu jika Arletta telah menjadi miliknya, dan sebaliknya dirinya sudah menjadi milik Arletta.


"Sabar kak, tinggal seminggu lagi." nyatanya tak segampang itu untuk mempercepat pesta perayaan, mengingat pesta yang akan berlangsung cukup meriah.


***


Keluarga dari India sudah berdatangan. Kediaman Ardiansyah bertambah ramai. Arletta menjadi pusat perhatian seluruh anggota keluarga.


Kalpana menjadi juru bicara, pengantar komunikasi antara Arletta dan yang lainnya, sesekali Langit dan Ardiansyah pun ikut membantu Arletta.


Arletta tersipu malu saat keluarga besar Langit memuji kecantikan nya.


"Siapa dulu, istri ku." Langit berbangga diri karena telah mendapatkan Arletta.


Ruang keluarga menjadi ramai, tawa pecah dari keluarga besar terdengar riuh. Rupanya Ardiansyah tengah di pojok-kan. Di suruh menikah lagi dengan wanita pilihan keluarga besar.


"Mereka ngetawain apa?" tanya Arletta pada Langit yang tak mengerti hal apa yang membuat semuanya tertawa.


"Papa di suruh nikah lagi dengan bibi Simran. Tapi papa gak mau." jawab Langit.


"Kenapa gak mau?" Arletta penasaran.


"Jelas papa gak mau lah, dia udah tua." saut Ardiansyah yang mendengar pembicaraan Arletta dan Langit.


"Papa juga udah tua! maunya sama daun muda!" seru Langit.


"Daun muda juga banyak yang tergila-gila sama papa." ucapnya jumawa.


"Ck!" Langit berdecak kesal, sedangkan Arletta tertawa cekikikan melihat Papa mertuanya yang gaul abis.


"Yasudah gak papa, Arletta setuju papa menikah lagi. Sama daun muda juga gak papa." ujar Arletta.


"Sayang!" tegur Langit yang tidak setuju.


"Menantu juga mendukung! masa anak sendiri gak mendukung sih." Ardiansyah.


"Langit setuju kalo papa mau nikah lagi, tapi sama bibi Simran." Langit.


"Gak aah, mending gak usah nikah lagi." Ardiansyah.


"Kalo sama Kalpana mau pah?" celetuk Arletta.


Ardiansyah, Langit dan Kalpana sendiri terkejut mendengarnya.


Bersambung...