Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
SAH



Benar saja malam harinya para kerabat dekat datang ke rumah Bastian atas undangan sang tuan rumah.


"Kak, Arlet beneran mau nikah?" tanya Arsen pada Clara. Pria itu terkejut dengan kabar yang mendadak sekaligus mengejutkan.


Clara mengangguk. "Iya, Arlet mau di nikahin Langit. "


"Langit?" ulangnya sembari mengingat-ingat nama yang tak asing itu. "Langit putranya pak Ardi." jelas Clara.


"Ardi siapa ya?" Arsen belum mengingatnya.


"Anaknya mantan istrimu!" bisik Clara. "Pasti inget kan?"


"Ck!" decaknya sebal karena di ingatkan kembali masalalu yang tak ingin terlintas di pikirannya lagi. "Kok bisa?"


"Bisalah, mereka saling mencintai." Clara.


Arsen mengangguk mengerti. Acara akan di mulai setelah semuanya berkumpul. Kedatangan Mikha dan suami menambah keramaian rumah itu. Semua keluarga Alexander, Haidar dari anak cucu mantu sudah hadir. Tinggal menunggu keluarga mempelai laki-laki.


Tidak lama kemudian, Ardiansyah dan Langit datang. Mereka datang hanya berdua sebagai keluarga inti. Selebihnya hanya karyawan yang bekerja di rumahnya.


Arsen menelisik tajam sang mempelai pria yang kini duduk di antara mereka, menunggu kedatangan Arletta. "Kamu yakin mau nikahin keponakan ku?" tanya Arsen tiba-tiba.


Langit mengangguk. "Iya om."


"Tulus?"


"Sangat tulus om." jawab Langit.


"Lu lagi sidak ceritanya?" bisik Junet yang duduk di sebelah Arsen.


"Diem lu!" semburnya. Tatapan Arsen kembali tertuju pada Langit. "Buktinya apa kamu tulus menikahi keponakan ku?"


"Saya sangat mencintai Arletta. Dan ingin membahagiakan nya." Langit sedikit gugup di tanya di depan para tetua keluarga calon istrinya.


"Buktinya kurang akurat!" Arsen.


Melihat putranya yang terpojok, Ardi segera menyela pembicaraan Arsen. "Bukan bukti atau janji yang putra ku berikan. Melainkan jaminan!" seru Ardi.


"Jaminan membahagiakan Arletta." tambahnya.


"Bergaransi?" celetuk Junet.


Ardiansyah mengangguk. "Bergaransi seumur hidup!" jawabnya. "Iya kan?" tanya Ardiansyah pada putranya. Langit menganggukinya.


"Lu jangan galak-galak ama dia." ucap Junet pada Arsen ketika Ardiansyah dan Langit sudah beranjak ke tempat akad nikah berlangsung. "Gak inget apa? lu kan ikut mupuk dia.." ucap Junet tergelak. "Untung aja gak nikah ama Soraya, bisa gawat itu!"


"Sialan!" umpat Arsen. Mereka sudah tua tapi masih saja berkelakuan seperti anak muda, tak tau umur! mungkin itulah rahasia mereka yang masih terlihat lebih muda dari umur sebenarnya.


Acara akad nikah berjalan dengan lancar. Di pimpin oleh Bastian yang menjadi walinya, serta sanak saudara menjadi saksinya. Hanya pernikahan di bawah tangan yang berlangsung, mengingat kondisi Arletta belum sepenuhnya pulih. Bastian akhirnya melepaskan tanggung jawab Arletta pada Langit. Berharap keputusan nya menikahkan mereka tidaklah salah. Pernikahan secara resmi di mata negara akan di laksanakan jika Arletta sudah pulih. Keputusan itu sudah di setujui oleh kedua belah pihak.


"Saya akan menjaga Arletta sebaik mungkin om." Langit.


"Langit!" panggil Clara. "Kamu gak pengin liat istri mu?" ucap Clara, memanggil Langit agar bertemu dengan Arletta.


"Jangan menyentuhnya, sebelum putri ku sembuh." ucap Bastian memperingati menantunya agar tidak menyentuh Arletta terlebih dahulu.


"Baik om." Langit pun tau diri, tidak mungkin dia menyentuh Arletta dalam kondisi seperti itu. Langit kemudian menghampiri Clara yang akan mengantarnya ke kamar Arletta.


Sedangkan di ruang tamu, suasana masih ramai. Arsen dan Junet masih asik bercengkrama. Para perempuan masih berkumpul di ruang keluarga, bercerita sembari menonton televisi. Dan para anak muda asik dengan kegiatannya sendiri, mengabaikan para tetua yang cerewet memberikan wejenang.


"Pak Ardi masih setia menyendiri? gak minat menikah lagi?" tanya Junet pada Ardiansyah yang sedari tadi hanya diam, sibuk dengan ponselnya. Mengabari saudaranya yang ada di India tentang pernikahan Langit.


Ardiansyah tersenyum tipis. Belum sempat menjawab, Arsen lebih dulu menyautinya. "Jangan tanya gitu! udah jelas kan, dia udah berumur! mana ada gairaah begituan." Arsen sembarang menerka.


"Lu kok jadi sewot! masalalu belum kelar nih ceritanya?" sindir Junet yang langsung dapat pelototan dari Arsen.


"Ngaco lu!"


Ardiansyah terkekeh. "Bukan gak ada gairrah. Tapi Langit melarang ku menikah lagi."


"Loh kenapa?" tingkat kekepoan Junet belum menghilang juga hingga usianya menua.


"Aku sukanya daun muda. Langit gak suka. Yasudah lah.. aku ngalah.." jawab Ardiansyah. Di sana sudah biasa jika laki-laki seperti Ardiansyah menikahi daun muda, apalagi Ardiansyah memiliki banyak uang, sangat mudah mendapatkan gadis untuk di per-istrinya. Langit tak mengizinkan nya. Langit akan mengijinkan Ardiansyah menikah lagi, jika wanita itu seumuran.


"Pedofill" Arsen.


Ardiansyah hanya mengedikkan bahu menanggapi cibiran Arsen, toh dia tidak menikah dengan gadis muda. Itu hanya sebuah keinginan saja. Tidak terlaksana pun tak apa. Terserah orang mau bilang apa padanya, karena tak menikah lagi. Pria tua itu hanya ingin bahagia di sisa hidupnya. Ingin segera menimang cucu yang banyak.


Malam semakin larut, para tamu sudah pulang beberapa jam yang lalu.


Di kamar, Langit telah selesai mengganti pakaian tidur pada istrinya. Meski harus menahan gejolak dalam tubuhnya, ketika melihat tubuh polos Arletta, Langit harus bisa menahannya.


Sebelum merebahkan Arletta, Langit menyisir rambut istrinya terlebih dahulu. "Aku gak nyangka kita udah nikah." ucapnya penuh dengan kebahagiaan. Rasanya tak menyangka semudah itu mendapatkan Arletta. Semua itu karena papanya yang terlalu pintar membujuk kedua orang tua Arletta.


Untungnya, Kenzo bisa menerima keputusan Clara dan Bastian. Menyetujuinya, tanpa perdebatan yang panjang. Jika ada Benzema, mungkin akan terlalu sulit menggapai Arletta.


Langit mengecup kedua tangan Arletta, lalu pindah ke kening, pipi, sekilas di bibir. "Aku sangat mencintaimu.. cepatlah sembuh." kemudian membawa Arletta ke atas ranjang, merebahkannya. Kali ini Langit bisa memeluk Arletta ketika tidur. Bahkan malam-malam berikutnya Langit bisa leluasa memeluk Arletta sepanjang malam.


Di belahan bumi sana, seorang pria mengumpat kelas ketika melihat banyak foto yang menunjukkan pernikahan adiknya dengan pria yang sangat menyebalkan baginya. Berulang kali melakukan panggilan kepada kedua orang tuanya, namun tak kunjung ada yang menjawabnya. Menghubungi Kenzo dan Soraya pun sama, tak dapat jawaban.


"Ini semua gara-gara kamu!" seru Benzema pada Key yang duduk terdiam meratapi nasibnya. Tak menyangka jika Camelia-gadis pujaan hatinya menipu dirinya. Bukan hanya menipu, dia bahkan berselingkuh dengan pria lain.


Benzema mengusap wajahnya dengan kasar. Jika saja dia tidak pergi ke Jerman, membantu menyelesaikan masalah yang di sebabkan oleh King. Mungkin dia bisa mencegah adiknya di nikahi oleh Langit. "Bikin masalah tapi gak bisa menyelesaikan!" sarkas Benzema geram. Mau tak mau, Benzema ikut turun tangan mengingat perusahaan peninggalan grandpa Jordan hampir terusik oleh perbuatan wanita penipu itu.


"Kacau!" Benzema.


Bersambung...