Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Serasa di surga.



Seorang pria yang masih di landa patah hati karena dikhianati sang kekasih duduk termenung di kursi samping kemudi. Tatapannya tak terarah, melihat ke luar jendela.


"Ck!" Benzema yang saat ini sedang mengemudi berdecak kesal. Pasalnya dia harus menjemput sepupunya di Bandara untuk pulang ke rumahnya. Karena sepupunya itu tak lagi di terima oleh keluarga besarnya. "Berhentilah memikirkan wanita itu! sudah tau dia licik masih saja di pikirkan! mengotori otak mu saja!"


"Huufffttt.." King tak menimpali ucapan Benzema. Laki-laki itu mana tau rasanya patah hati! Di tipu, di khianati, rasanya sakit luar biasa! "Lu gak tau sih rasanya patah hati!"


Benzema melotot, tidak suka dengan cara King berbicara padanya yang tidak sopan. "Kalo ngomong yang sopan!" tegurnya.


"Iya! Sorry." Benzema tipe pria yang sangat kaku, pergaulannya pun tak selebar dirinya. Sungguh sangat membosankan bagi King, mereka tak se-frekuensi.


Di usir oleh daddy nya tak membuatnya mengalami kesusahan, karena Clara dengan senang hati menerima King untuk tinggal di rumahnya. Mobil mereka sudah memasuki kawasan perumahan. Hanya beberapa meter lagi akan sampai ke rumah.


Tiba-tiba Benzema menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil. "Ngapain sih?" padahal tinggal empat rumah lagi sampai, tapi mendadak berhenti.


King menajamkan penglihatannya. Karena penasaran pria itu ikut keluar dari mobil. "Ada apa?" suaranya sedikit berteriak agar Benzema mendengarnya. Tapi di abaikan oleh Benzema.


"Kamu kenapa menangis? jalan sendirian, mau kemana?" Benzema bertanya pada gadis berkaca mata, tetangganya yang sudah lama ia kenal.


"Aku.. mau ke tempat temen kak." jawabnya sembari menghapus air matanya.


"Jalan kaki? mana mobil mu? gak di antar?" Benzema.


"Aku sudah pesan taxi kak, bentar lagi datang.." ucapnya seraya mengeluarkan ingus yang keluar dari hidungnya karena habis menangis, lalu melemparkan tisu bekasnya ke sembarang tempat.


King bergidik geli, begitu juga dengan Benzema yang jijik melihat adegan itu.


Tak lama mobil yang gadis itu pesan tiba. "Aku pergi ya kak.." pamitnya.


"Iya, Hati-hati Cilya.." Benzema.


"Siapa? gebetan?" King bertanya. "Ya ampun Benz, gak ada cewek lain apa? cewek model begitu di taksir!" ucapnya tak percaya, banyak gadis cantik di luar sana kenapa Benzema menyukai gadis berpenampilan buruk.


"Ngaco kamu!" Benzema membantahnya. Pria itu hanya sekedar mengenal, melihatnya menangis di tepi jalan membuatnya iba.


"Kirain mata elu udah kebalik!" King.


"Kalo ngomong yang sopan!" Benzema.


"Iya, Sorry!" berulang kali mengatakan maaf tapi masih saja memanggil Benzema dengan tidak sopan.


Tiba di rumah Benzema di suguhkan pemandangan yang membuat mood nya menjadi buruk. Langit dan Arletta sedang bersantai di ruang tamu. Langit dengan nakal mencuri ciuman dari adik perempuan nya itu Benzema melupakan jika Langit sudah sah menjadi suami adiknya.


"Langit!" seru Benzema. Mengagetkan Langit yang sedang menggombali Arletta.


"Kak..." Langit menghentikan kecupan nya. "Kakak udah pulang.." ucapnya terbata.


"Arlet! masuk ke kamar!" Benzema.


"Yaudah yuk kak kita ke kamar aja." dengan polosnya Arletta mengajak Langit untuk ke kamarnya. Benzema semakin naik pitam.


King menepuk pundak Benzema. "Biarin aja napa, mereka udah sah jadi laki bini." walau King baru saja tiba di Indonesia, pria itu tak tertinggal kabar terbaru keluarga nya. Terutama tentang pernikahan Arletta dan Langit.


Benzema hanya melirik King. Mengingat Arletta baru saja sembuh, Benzema berusaha meredakan emosinya. Pria itu berjalan mendekati adiknya. "Kakak senang kamu udah sembuh." memeluk dan memberikan kecupan di puncak kepala Arletta.


"Kak lepasin, Arlet sesak nafas." entah keberanian dari mana hingga Langit berani mengucapkan kalimat itu. Melihat Arletta di peluk laki-laki lain membuatnya tak nyaman, meski Benzema adalah kakak kandung dari istrinya.


Langit menarik Arletta dan menyembunyikan tubuh istrinya di belakangnya.


"Udah Ngit bawa masuk ke kamar." King.


"Kak, aku kamar dulu. Nanti aku temui kakak." Langit .


"Baru jadi suami siri aja udah betingkah!" gerutu Benzema.


"Kamu gak bakalan ngerti gimana rasanya wanita milikmu di sentuh pria lain." King terus berceloteh. "Makanya cari pacar! biar tau indahnya saat bercinta! " Benzema kembali melototinya. "Maksud gue.. eh.. aku, cinta cintaan bukan bercinta di kasur.. hehe.." cengir King.


"Ck! yakin cinta itu indah?" ucap Benzema dengan nada mengejek. "Buktinya kamu tersakiti, gagal move on! inget, minggu lalu kamu keliatan kayak orang gak waras!"


"Bangsattt!!!" umpat King dalam hati, mana berani dia berbicara kasar pada Benzema, orang yang memberikan bantuan padanya.


Benzema meninggalkan King sendirian di ruang keluarga. "Ahhh.. gue tidur dimana?? di kamar Kenzo aja deh.."


***


Pagi harinya saat Langit membuka matanya, ia dengan jelas bisa melihat wajah Arletta sangat dekat. Semalam mereka tidur dengan saling berpelukan.


"Pagi sayang.." Langit mengelus-elus pipi Arletta untuk membangunkannya. "Sayang.. bangun yuk.." ciuman mendarat di seluruh wajah Arletta. Membuat gadis itu menggeliat.


"Hoaammm..." Arletta meregangkan otot-otot nya. Senyumnya mengembang tatkala melihat wajah tampan suaminya.


"Pagi sayang.." Langit mengulangi sambutan selamat pagi.


"Pagi.." balasnya. Mereka berdua saling melempar senyum. Lalu Arletta dengan cepat menutupi wajahnya dengan selimut. Langit masih bertellanjang dada, seketika Arletta malu mengingat kegiatan yang mereka lakukan semalam.


Langit terkekeh. "Kamu gemesin sayang.." semakin erat memeluk istrinya.


"Kak, ih.. pake baju sana.. aku malu tau!" ucapnya namun wajahnya masih bersembunyi di balik selimut.


"Gak usah malu!" Langit menarik selimut itu agar bisa melihat wajah Arletta dengan jelas.


Cup. Langit langsung mengecup bibir Arletta ketika selimut itu terbuka. "Harus terbiasa, kalo saatnya tiba, kita akan melakukan lebih dari semalam." jika saja istrinya tidak sedang kedatangan tamu bulanan, sudah di pastikan Langit akan meminta haknya semalam.


"Ya ampun sayang kamu godaain aku?" kedua mata Langit berbinar melihat isi di balik piyama Arletta yang terbuka lebar. Rupanya Arletta lupa mengancingkan kembali piyama nya. Banyak sekali tanda merah di sana yang pria itu ciptakan.


"Ishh kakak! jangan di liatin!" cepat cepat Arletta membenarkan piyama nya.


"Aduh sayang, aku udah gak sabar!" Langit hendak meninndih Arletta. Ingin menikmati tubuh indah istrinya lagi. Namun suara ketukan pintu menghentikan asiknya.


"Ada apa bi?" tanya Arletta yang membukakan pintu.


"Anu non, ada yang nyariin den Langit."


"Iya bik, suruh tunggu ya."


"Baik non."


Di lantai bawah, pagi-pagi sekali rumah itu kedatangan tamu yang mengganggu acara sarapan pagi bersama. Semua anggota keluarga tengah berkumpul di meja makan, membiarkan pengantin baru tidak ikut bergabung bersama.


"Mari silahkan ikut sarapan bersama." Clara menyambut tamu yang mencari menantunya. Yang ia tahu bahwa wanita itu bekerja untuk Langit, menurut pengakuannya. "Siapa nama kamu?"


"Kalpana.." jawabnya. Kedua matanya berbinar ketika masuk ke ruang makan yang sudah di penuhi dengan pria-pria tampan. "Banyak pria tampan.. serasa di surga.." batinnya bersorak ria mendapati pria-pria tampan.


Bersambung...