Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
The power of money



Hari ini, pernikahan Langit dan Arletta telah di langsungkan kembali. Pernikahan mereka sudah sah secara hukum dan agama. Acara yang di langsungkan cukup sederhana. Karena memang di lakukan secara dadakan. Belum terencana.


Malam pertama antara Langit dan Arletta nyatanya menjadi berita heboh di keluarga besar Arletta. Sungguh sangat memalukan bagi sepasang suami istri itu. Hal yang seharusnya privasi, menjadi bahan perbincangan layaknya di persidangan.


Bastian yang tidak ingin Arletta hamil terlebih dulu sebelum di sahkan secara hukum, langsung bertindak cepat.


"Jaga adikku, jangan sampai kau menyakitinya." Benzema mencoba mengikhlaskan hubungan adiknya. Bagaimana pun juga dia tidak bisa lagi menyuruh mereka untuk berpisah. Apalagi melihat Arletta selalu tersenyum bahagia jika berada di dekat suaminya itu.


Dua hari lagi benzema harus kembali ke Meksiko, perusahaan menantinya di sana. Benzema juga harus ke Jerman, masalah di sana mulai ada titik terang. Jika di persidangan dia menang dengan bukti-bukti kuat yang ia kantongi, kemungkinan besar cafe milik Arsen akan di dapatkan kembali.


Sedangkan di ruang kelurga, mereka sedang berdiskusi mengenai pesta perayaan putra-putri mereka.


"Aku ingin merayakan pesta besar besaran di India." Ardiansyah ingin sekali memperkenalkan menantu cantiknya pada seluruh keluarga besar, teman, dan partner kerja.


"Pesta di sini sudah cukup besar. Kenapa gak sekalian saja di gabung? suruh teman mu yang datang ke sini." ujar Bastian.


"Teman dan kerabat ku lumayan banyak di sana. Gak mungkin diboyong semua kesini. Jangan khawatir dengan biayanya. Aku yang tanggung semuanya." ucap Ardiansyah berbangga diri tentang kekayaannya.


"Bukan begitu Kasihan putri ku, dia akan kelelahan." Bastian memikirkan putrinya jika harus bolak-balik Indonesia-India, belum lagi dengan kuliahnya. Bastian mengkhawatirkan pendidikan Arletta akan terhambat, kalaupun tidak, pasti mendapatkan nilai yang tidak maksimal.


"Habis acara di sini terus ke India, balik lagi ke sini buat kuliah." Bastian menghela nafasnya.


"Cuti saja dulu." saran Ardiansyah. "Lagian capek karena sesuatu hal yang membahagiakan pasti tidak akan terasa."


"Iya bener itu." Clara setuju.


"Sayang, ini masa depan Arletta!"


"Masa depan Arlet sudah jelas sangat terang. Aku akan meninggalkan warisan yang melimpah, di sini banyak, di sana juga banyak. Khawatir apa lagi? putraku juga sangat mencintai nya. Udah paket lengkap pokoknya." Ardiansyah.


"Uang bukan segalanya." Bastian.


"Aku tahu! hanya mengajukan cuti bukan masalah besar kan? Arlet masih bisa melanjutkan kuliahnya. Aku pun mendukung pendidikan Arletta setinggi mungkin. Tapi gak usah terlalu buru-buru. Menuntut ilmu bisa di lakukan kapan saja, sudah tua juga bisa kuliahkan. Seperti kamu."


"Iya mas, aku setuju usulan pak Ardi." Clara membujuk suaminya. "Cuti setahun, sekalian siapa tau Arlet kita hamil."


"Betul itu. Bisa jadi semburan putraku tokcer!" Ardiansyah tergelak. Sedangkan Bastian mendelik.


"Gimana mas?"


"Apa boleh aku jawab tidak buat kamu?" Bastian pasrah.


"Hehe.. gak boleh sih."


"Wahhh.. aku akan memberi bingkisan buat ibu besan."


"Yang banyak ya." tentu saja Clara dengan senang hati menerima hadiah dari besan royalnya itu.


Di lantai bawah masih ramai dengan sanak saudara, namun kedua sejoli itu tengah asik memadu kasih di dalam kamar.


"Kayaknya kakak ketagihan nih.." nafas Langit masih memburu, begitu juga dengan Arletta. Mereka berdua baru saja selesai dengan kegiatan yang mengasyikkan.


"Ish.." Arletta memukul dada bidang suaminya yang tak terbungkus kain. Arletta berada dalam dekapan sang suami.


"Udah gak sakit kan?" Arletta mengangguk.


"Kakak bilang apa, udah gak bakalan sakit lagi. Justru malah enak." Langit mengelus punggung Arletta yang polos.


"Iya.." gumam Arletta yang kelelahan, ingin menutup mata untuk beristirahat.


"Yaudah, kakak pengin lagi." Langit bangkit lalu main memposisikan diri.


"Kak!" pekik Arletta terhenti ketika bibirnya terbungkam oleh ciuman. Hanya bisa pasrah dengan permainan suaminya. Menerima sentuhan itu, yang mulai membuatnya bergairrah kembali.


***


Satu kalimat yang sangat menyakitkan keluar dari mulut Arsen ketika menghampiri nya. "Cih! dasar laki-laki banci! sudah tak di anggap malah menjadi parasit keluarga lainnya. Laki-laki tangguh dan mempunyai harga diri, akan berdiri sendiri dengan kakinya untuk bertahan hidup! tidak menumpang." Arsen mengatakan itu tanpa melihat putranya.


King termenung, sekaligus marah dengan perkataan daddy nya yang menyebut dirinya laki-laki banci. Dengan kemarahan King keluar dari rumah itu tanpa berpamitan pada uncle dan aunty nya. King hanya berpamitan pada Kenzo yang memang ada di sana, melihat semua penghinaan itu.


Berjalan kaki keluar dari rumah uncle nya cukup melelehkan. Jarak dari pintu utama dengan pintu gerbang lumayan jauh.


"Gue bakalan buktiin bisa hidup tanpa uang kalian!" geram King yang semakin menjauh.


"Tapi gimana caranya?" gumam King mulai kebingungan. Langkahnya terhenti, lalu melihat ke belakang. "Buset gue udah jalan kaki ampe jauh gini tapi belum nyampe juga!" gerutunya kesal karena mulai kelelahan. Padahal belum sampai ke gerbang komplek sudah terasa lelah.


"The power of money!" tanpa uang, ternyata memang sulit. Belum sampai satu jam, King sudah mengeluh. King merogoh dompetnya yang ada di saku celana, di sana hanya ada tujuh lembar uang berwarna merah.


"Segini emang cukup buat nginep di hotel?" King mulai bingung akan tidur dimana malam ini. Langkah kakinya tidak ia perhatikan, hingga tersandung oleh kakinya sendiri.


Brukk.. tepat saat King jatuh, sebuah mobil pun berhenti mendadak tepat di hadapan tubuhnya.


"Apa anda tidak apa apa?" pengendara mobil keluar untuk memastikan orang yang hampir saja tertabrak oleh nya. "Maafkan saya." ucapnya. Meski ia tahu jika dirinya tidak salah. Karena jelas-jelas orang itu terjatuh duluan dan tidak tersentuh sedikitpun oleh mobilnya.


King mengamati penampilan gadis di depannya itu. Memakai sweater kedodoran, rok plitsket rajut hingga mata kaki, kacamata tebal menghiasi wajahnya.


"Sekali lagi saya minta maaf." ucapnya.


"Kenapa dia minta maaf? padahal bukan salah dia." batin King. Lalu otaknya berfikir dengan cepat. "Boleh juga manfaatin dia, kayaknya dia Oon! gue bisa tidur nyenyak malam ini."


"Hei mau kemana lu!" teriak King pada gadis yang hendak pergi.


"Saya harus segera pergi Bukannya anda tidak apa apa? tidak ada yang luka di tubuh anda?"


"Enak aja! Elu harus tanggung jawab!" King sudah berdiri tegap di hadapan gadis itu.


"Tanggung jawab?" King mengangguk.


"Tapi anda jatuh sendiri, bukan karena mobil saya. Dan anda pun sehat, bisa berdiri tegak!"


"Tapi elu emang harus tanggung jawab, udah bikin jantung gue kaget, kadar ketampanan gue berkurang satu persen karena panik. Itu semua sangat mahal, dan elu harus ganti rugi." entah darimana perkataan konyol itu keluar begitu saja dari mulutnya. Yang ada di pikiran nya agar bisa menemukan tempat untuk menginap.


"Dia ngomong apa?gak masuk akal banget!"


"Anda jangan aneh-aneh! tidak masuk akal sekali!"


"Cek kesehatan jantung di rumah sakit elit butuh duit banyak! perawatan wajah di luar negeri butuh duit banyak! elu harus ganti rugi!"


"Tapi.."


"Gak ada tapi tapian, sekarang gue bakal ikut sama elu, buat mastiin elu gak bakal kabur dari gue!" King seenak jidatnya masuk kedalam mobil gadis itu.


Gadis itu diam saja dengan tingkah menjengkelkan pria yang sudah duduk di kursi samping pengemudi. Dia sudah terbiasa di kelilingi orang-orang yang selalu bertindak sesuka hati padanya.


"Tapi aku mau ke luar kota." ucapnya.


"Yaudah..gue ikut!" King.


"Yakin?"


King mengangguk. Lalu bertanya. "Siapa nama lu?"


"Cilya.."


"Oh.. rawit!" celetuk King


Cilya mendengus kesal tapi tidak berani menimpalinya.


Bersambung...