
Langit sudah bersiap untuk pergi. Hari ini ia sengaja datang ke kantor siang hari, karena Langit ingin mengunjungi makam ibunya. Dua minggu sekali, Langit akan menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat peristirahatan wanita yang telah melahirkan nya ke dunia ini.
Ingin rasanya Langit membawa Arletta, mengenalkan wanita yang ia cintai pada ibunya, tapi Langit sedikit ragu. Takut, jika Arletta tidak bisa menerima ibunya seperti anggota keluarga nya yang lain.
"Kamu udah mau jalan kak?" tanya Arletta.
"Iya sayang." satu kecupan mendarat di kening Arletta. Langit menyambut istrinya yang sudah bersiap untuk ke kampus.
"Tapi tumben, Kalpana gak keliatan?" biasanya asisten suaminya itu sudah berada di rumah itu pagi-pagi sekali. Tapi kali ini wanita asal India itu tak terlihat batang hidungnya.
"Dia sudah ke kantor duluan, aku yang nyuruh." jawab Langit. Mereka berdua keluar dari kamar, berjalan menuju ruang makan untuk sarapan pagi bersama.
"Papa mana bi?" Langit menanyakan keberadaan papanya yang tidak ada di ruang makan, biasanya Ardiansyah tidak akan melewatkan sarapan pagi bersama.
"Pagi-pagi sekali tuan keluar den, keliatannya mau lari pagi." jawab asisten rumah tangga.
"Tumben!" gumam Langit yang tak biasanya papanya rajin berolahraga.
Arletta dan Langit terpaksa sarapan terlebih dahulu, karena tengah mengejar waktu. Tiba-tiba ponsel Langit berdering nyaring, ada sebuah panggilan dari nomor asing.
"Siapa kak?" tanya Arletta.
Langit mengedikkan bahunya. Dia pun tak tahu siap yang menghubungi nya. "Gak tau."
"Angkat aja, siapa tau penting. Udah dua kali telpon tuh."
"Gak kenal nomor nya, biarin aja." Langit enggan menjawab panggilan itu.
"Justru nomer gak di kenal. Siapa tau penting, takut ada apa-apa sama orang terdekat kita." ujar Arletta yang berfikir positif, bisa saja panggilan darurat mengenai salah satu orang terdekat.
"Hallo.." Langit pun akhirnya menjawab panggilan itu. Betapa terkejutnya ia, mendengar suara wanita yang mengaku bernama Alesya. "Tau darimana nomerku?" batinnya, sembari melirik ke arah istrinya.
"Kok dimatiin? siapa kak?"
Langit menggeleng. "Gak tau, gak ada suaranya."
"Oh.."
Langit mengantarkan Arletta ke kampus terlebih dahulu sebelum pria itu pergi ke makam ibunya.
***
"Ra, gue cabut duluan ya. Pak Seno gak ada." ucap Arletta pada Soraya. Kedua gadis tak sengaja berpapasan di Koridor.
"Yah padahal baru mau ngajak elu ke kantin." Soraya.
"Males ah, gue masih kenyang. Biasanya juga ama cowok lu. Dimana dia?" biasanya Soraya akan di temani kekasihnya, Digta. Mereka berdua begitu dekat, selalu terlihat bersama di sekitar kampus.
"Gak masuk dia. Ada kerjaan katanya." jawab Soraya.
"Yaudah, gue duluan ya" pamit Arletta. Jika saja tak ada mata kuliah lagi, Soraya akan ikut pulang bersama Arletta.
Hari masih siang. Ingin pulang ke rumah orang tuanya, tapi Bastian dan Clara sedang ke luar kota. Akhirnya Arletta memutuskan untuk mengunjungi Langit di kantornya.
Untuk pertama kalinya, Arletta menginjakkan kakinya di tempat kerja sang suami. Pernikahannya dengan Langit belum terekspos, wajar saja para karyawan di sana tidak mengenal Arletta.
Arletta harus menunggu Langit di ruang tunggu yang memang sudah di sediakan untuk para tamu. Tadinya Arletta ingin menunggu di ruang kerja sang suami tapi wanita itu tidak di ijinkan untuk masuk, karena Langit sedang tidak ada di tempat. Menghubungi suaminya pun tak kunjung di terima panggilannya.
Lima belas menit menunggu, Arletta baru bisa melihat kedatangan suaminya. Senyum merekah menghiasi wajah cantik itu, untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Kak." panggil Arletta sembari berjalan mendekati Langit
Langit cukup terkejut dengan kedatangan istrinya.
"Gak kuliah? bolos?" tanya Langit. Tangannya ter-ulurkan meraih pinggang Arletta.
"Oh.. udah makan siang?"
"Belum."
"Yaudah, makan siang bareng yuk." ajak Langit. Kebetulan ia belum sempat makan siang. "Mau makan di resto favorit kita?"
"Capek kak, makan di sini aja ya, sambil aku mau liat kamu kerja kak. Hehe.."
"Oke.Kita delivery aja."
"Aku yang pilihin ya." Arletta.
"Oke."
"Mas, sepatu kamu kok kotor? banyak tanahnya?" ucap Arletta yang tak sengaja melihat sepatu yang dikenakan Langit penuh dengan tanah merah. "Kamu abis darimana kak?"
"Emm.. itu, aku abis ke makam mama." ucapnya jujur.
Arletta menghentikan langkahnya, menatap Langit dengan sendu. "Kenapa gak bilang? gak ajak aku?"
Langit tertunduk. "Kamu mau ketemu sama mama aku? " tanyanya.
"Ya maulah, bukannya dulu juga aku pernah ke makam mama?"
"Aku malu, takut kalo kamu gak mau anggep mama. Mama dulu--"
"Stop kak!" Arletta menyela. "Aku cinta sama kakak, aku menerima kekurangan dan kelebihan kakak, termasuk mama. Aku gak berhak menilai buruk siapapun. Apalagi cuma katanya, gak liat sendiri. Mama Sofie pasti mama yang hebat karena udah melahirkan pria seperti kakak."
Langit terharu mendengar ucapan Arletta. "Terimakasih.." tak tahan untuk tidak merengkuh wanitanya.
Arletta tersenyum. Melirik sekelilingnya, wanita biru baru sadar jika mereka berdua telah menjadi bahan tontonan para karyawan. "Kak, udah lepasin. Kita jadi tontonan tuh." ucapnya karena Langit begitu erat memeluk tubuhnya.
Langit pun melepas pelukannya. "Kamu malu aku peluk?"
Arletta menggeleng. "Gak kok. Cuma.." Arletta bingung harus menjawab apa. Dia memang malu menjadi bahan tontonan. Tapi sepertinya Langit akan salah paham jika dirinya menjawab iya.
"Kak, besok ajak aku nemuin mama ya?" Arletta mengalihkan pembicaraan.
"Oke."
Ketika sampai di ruang kerja Langit. Arletta dan Langit di kejutkan dengan keberadaan Alesya yang sedang duduk manis di sofa. Lengkap dengan beberapa menu makanan yang sudah tertata rapih di meja.
Arletta mengerutkan keningnya, menatap tajam ke suaminya, seraya meminta penjelasan tentang apa yang dilihatnya saat ini. Dengan cepat Langit menggelengkan kepalanya.
"Selamat siang Pak Raj, saya menunggu lumayan lama. Akhirnya bapak dateng juga." terdengar nafas kelegaan dari Alesya yang sudah menunggu hampir satu jam di ruangan itu. "Pasti bapak belum makan siang kan?" ucapnya percaya diri.
"Kenapa anda bisa masuk? dimana Kalpana?" Langit.
"Saya masuk atas seijin sekertaris bapak yang ada di depan. Kalau Kalpana, saya tidak tau." tentu saja Alesya bisa masuk dengan mudah karena Kalpana sedang tidak ada di tempat. Alesya mengelabui sekertaris Langit yang ada di depan dengan dalih sangat mengenal Langit.
"Siapa kak?" tanya Arletta dingin.
"Saya Alesya, kamu adik Pak Raj ya?" belum sempat Langit menjawab, Alesya sudah lebih dulu bersuara. Dan mengira jika Arletta adalah adik dari Langit.
"Kamu cantik sekali. Tapi kayaknya wajah kamu gak asing deh.." ucap Alesya yang sangat familiar dengan wajah Arletta. Tentu saja wajah Arletta sangat mirip dengan ibunya, artis papan atas yang sampai saat ini terkenal.
"Kak! dia siapa?" Arletta mengacuhkan Alesya. Penasaran dengan wanita yang ada di dalam ruang kerja suaminya.
"Aku Alesya, temen deketnya pak Raj."
Bersambung...