Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Hugo semakin mendekat



Langit berdecak kesal melihat Neelam berada di kamarnya ketika pria itu membuka kedua matanya di pagi hari. Neelam mempunyai wajah yang cantik khas India, tubuhnya pun begitu menarik bagi kaum adam, tapi tidak di mata seorang Raja Malhotra. Secantik dan seseksii apapun perempuan di sekitarnya, Langit hanya memuja gadis cantik yang sudah lama mengisi hatinya.


" Raj.. aku merindukan mu. " Neelam mendekat dan duduk di tepi ranjang. Pakaiannya begitu terbuka, memperlihatkan tubuh seksiinya.


" Jangan mendekat! " seru Langit. Pria itu merubah posisinya menjadi duduk, sedikit menjauh dari jangkauan Neelam.


" Kenapa? aku ini tunangan mu. " ujarnya. Neelam begitu bahagia bisa menjadi tunangan dengan produser terkenal di Negara-nya. Neelam terus saja mendekati dan menggoda Langit, ingin membuktikan jika gosip yang beredar tidaklah benar. Neelam tidak percaya, laki-laki setampan Langit mempunyai perilaku menyimpang.


" Apa kamu tidak merindukan ku? " Neelam lebih mendekat. Tubuhnya sedikit membungkuk, memamerkan bulatan yang menyembul di balik pakaiannya, berusaha untuk menggoda pria di depannya.


Langit memejamkan matanya, kemudian memalingkan wajahnya. Menghindari perlakuan senonoh Neelam. " Keluar dari kamar ku! " sentak Langit.


" Raj! apa berita yang beredar itu benar! " ucap Neelam begitu geram karena Langit sama sekali tidak tergoda oleh nya.


Langit mendengus kesal. " Bukan urusan mu! "


" Tapi aku tidak percaya! buktikan jika semua itu tidak benar. " Neelam semakin berani, mendekat lalu memeluk erat tubuh Langit. Menempelkan bagian tubuhnya yang menonjol. Neelam tersenyum tipis, merasakan Langit yang bergetar ketika tubuh mereka bersentuhan.


" Jangan kurang ajar Neelam! " Langit segera menjauhkan diri, " Jaga batasan mu Neelam! sekarang keluar dari kamar ku! " teriak Langit.


Neelam terkekeh. " Kamu beraksi Raj! kamu masih normal. "


" Kalpana! " teriak Langit. Pintu yang sedikit terbuka membuat suara Langit bisa terdengar dari Luar. Kalpana yang selalu siap sedia di sisi tuannya muncul beberapa menit kemudian.


" Iya tuan. Ada apa? " Kalpana terengah, sudah jelas wanita itu terburu-buru menghampiri tuannya.


" Singkirkan dia! "


Kalpana mengangguk. " Baik tuan. " asisten nya itu selalu bisa di andalkan. Menghalau siapapun yang tidak di inginkan Langit. Termasuk para wanita yang berani mendekatinya.


" Raj! kamu mengusir ku? " Neelam terkejut. Tatapannya beralih ke Kalpana. " Jangan coba-coba berani mengusir ku! "


" Maaf nona, saya harus menuruti perintah tuan ku. " Kalpana menyeret Neelam.


" Aku bisa sendiri! " sentak Neelam melepaskan cengkraman sari Kalpana.


" Jangan sampai dia bisa masuk lagi ke kamar ku! " ucap Langit pada Kalpana. Sembari berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri dan bersiap, Langit menemui ayahnya.


" Pah, aku serius dengan ucapan ku semalam. "


Ardiansyah berdecak. " Memalukan! " umpatnya kesal. Ardiansyah semakin kesal mengetahui Neelam di usir dari kamar putranya. Menolak gadis cantik di hadapannya, hal itu membuat Ardiansyah semakin yakin jika putranya menyukai sesama jenis. " Buka mata dan hati mu! banyak wanita cantik di sekitar mu! kenapa kamu memilih kumbang daripada mawar! " dengus Ardiansyah.


" Astaga Raj! kamu seperti bukan keturunan ku saja! papa mu ini terlalu pintar dengan urusan wanita! " Ardiansyah menghela nafasnya, bingung harus berbuat apa. " Sudahlah.. kamu harus benar-benar terapi. Setelah itu papa ajarkan bagaimana cara menaklukkan wanita. "


Langit mengusap wajahnya kasar. Lalu duduk di samping ayahnya. " Pah.. aku sudah mencintai wanita sejak lama. Wanita itu sangat spesial bagi ku. "


" Benarkah? " Ardiansyah terkejut bercampur rasa lega di hatinya.


Langit mengangguk. " Selama ini aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun karena aku sudah memiliki satu wanita di hatiku. Namanya sudah ada sejak lama disini. " Langit menunjuk dadanya.


" Siapa wanita itu? "


" Aku baru menemuinya.. dan akan mengejarnya sampai dapat. " ucapnya. Wajah Arletta terlintas si benaknya membuat bibir Langit tersenyum. " Papa sudah mengenalnya. "


" Yasudah bawa kesini. kenalkan dia pada kami. " Ardiansyah.


" Dia jauh pah. Dan tidak mudah membawanya ke hadapan mu. Aku harus meyakinkan kedua orang tuanya dan kakak laki-laki nya. "


Ardiansyah berbinar dan sedikit bisa menebak. " Apa dari Indonesia? papa mengenalnya? "


Langit mengangguk. " Iya pah? "


" Saudara teman mu itu? siapa.. papa lupa.. emm.. King? iya.. King teman mu kan? "


" Iya pah.. "


Ardiansyah menghela nafasnya panjang. " Apa ayahnya tidak menyukai mu? " Ardiansyah bisa menebak dari raut wajah Langit.


" Tidak peduli apapun itu. Aku harus mendapatkan nya. Aku sangat mencintainya pah. "


Ardiansyah menepuk bahu Langit. " Papa mendukung mu. Walau seperti nya akan sulit bagi mu. Bagaimana pun, ayahnya pernah mempunyai masalalu dengan mama mu. "


Langit menunduk. Masalalu ibunya yang buruk memang tidak bisa di lupakan begitu saja bagi orang terdekat. " Langit akan mencoba membujuk orang tuanya. "


" Iya pah. " obrolan mereka terhenti ketika Kalpana datang dan memberitahu tentang jadwal kegiatan Langit hari ini.


Ardiansyah memandang kepergian Langit. " Apa Arsen akan menerima putra ku? "


***


Arletta semakin heran dengan keberadaan Hugo di rumahnya, yang siap siaga mengantar dirinya ke kampus. Sudah tiga hari berturut-turut, Hugo datang ke rumahnya.


" Kamu di sini lagi? " tanyanya heran.


Hugo mengangguk sembari tersenyum. " Iya. Aku akan mengantar mu ke kampus. " ucapnya.


Arletta mengerutkan keningnya. " Kok bisa kamu tau jadwal kuliah ku?


Hugo menggaruk tengkuknya. " Uncle Bastian yang memberitahu ku. "


Arletta mendengus kesal. " Ish.. papi nih! "


" Udah siap? "


Arletta mengangguk. " Besok-besok gak perlu lagi nganterin aku. Aku bisa berangkat sendiri kok. Kamu gak perlu repot repot. Lagian bukannya jadwal kamu itu padet? "


" Kebetulan memang waktu ku senggang. " Hugo berkilah. Padahal pria itu sengaja mengosongkan jadwal nya agar bisa mengantar Arletta.


Bastian semakin melebarkan senyumannya, melihat kedekatan putrinya dengan Hugo. " Sepertinya aku berhasil. " gumamnya.


" Mas, kamu masih berniat jodohin mereka? " tanya Clara.


Bastian mengangguk. " Bibit premium jangan di sia-siakan! "


Clara mencibir. " Sok tau kamu mas! "


Bastian terkekeh. " Aku hanya menirukan ucapan mu. Yang selalu memuji ku dulu.. sepertinya Hugo juga memiliki kualitas premium itu. "


" No.. no.. no.. kualitas premium mu hanya menuruni ke anak-anak ku. Bukan orang lain! " Clara tak terima. " Tebakan mu salah. Menurutku dia hanya memiliki kualitas yang KW... "


" Terserah kamu aja deh.. "


" Terus mas kenapa gak berangkat kerja? ini udah siang loh mas.. " sudah hampir jam sembilan tapi Bastian si manusia super sibuk masih berada di rumah.


Bastian menyeringai. " Aku kangen kamu.. udah selesai haidnya kan? "


" Ish.. gak inget umur kamu mas. "


" Semakin tua, aku semakin Hot! " Bastian sudah menarik istrinya untuk masuk ke dalam kamar.


" Ahhh... sepertinya aku harus cepat-cepat suruh Benzema pulang. Menggantikan ku. " ujar Bastian yang ingin segera pensiun dari pekerjaannya.


***


" Terimakasih.. " Arletta mengucapkan terimakasih pada Hugo karena telah mengantarnya sampai ke kampus.


" Sama-sama. Jam berapa pulang? nanti aku akan menjemput mu. " ujar Hugo berharap Arletta menerima tawarannya. Berdekatan dengan Arletta sungguh menyenangkan. Rasanya ingin segera membuat Arletta menjadikan miliknya.


" Gak usah.. aku pulang bareng Sora. Udah janji soalnya. " jawaban Arletta membuat Hugo kecewa.


Hugo mengangguk mengerti. Pria itu ingin lebih lama bersama Arletta. Meski sudah beberapa kali mengantar Arletta, gadis itu hanya bicara seperlunya saja. Menjawab jika Hugo bertanya padanya.


" Emm.. apa nanti malam ada acara? aku ingin mengajak mu pergi.. " tidak mau membuang kesempatan, Hugo ingin lebih dekat dengan Arletta. Mengajak jalan bersama mungkin solusi yang bagus agar mereka semakin dekat. Bisa mengobrol secara intens dan mengenal satu sama lain.


" Maaf Hugo.. aku tidak bisa.. " jawabnya. Wajah Hugo terlihat kecewa, membuat Arletta tak enak hati. " Mungkin lain kali aku bisa. "


Seketika senyum Hugo terlihat. " Baik, aku akan menunggu kalau kamu mempunyai waktu luang. "


" Iya. " Bunyi ponsel Arletta terdengar. Segera Arletta mengambil ponselnya di dalam tas. Terlihat nama kekasihnya di layar ponsel tersebut. " Aku turun ya, sekali lagi terimakasih. " ucapnya seraya keluar dari mobil Hugo.


Arletta menerima panggilan itu. " Hallo tuan Malhotra yang paling tampan... aku kangen sama kamu. "


Hubungan Arletta dan Langit semakin dekat meski hanya lewat panggilan telepon seluler. Tak jarang mereka melakukan panggilan video call ketika malam hari. Langit selalu mengantar Arletta ketika akan memasuki alam mimpi.


Bersambung...