Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Pernyataan Cinta



" Ayok pulang! " King mengajak Arletta ikut pulang dengannya. Setengah jam berada di cafe, King mendapatkan panggilan dari daddy Arsen untuk segera pulang.


" Tapi kak, aku mau ke toko buku dulu. Ada buku yang harus aku beli. " bohong Arletta, gadis itu ingin lebih lama bersama Langit. " Anterin aku dulu ya, baru pulang. " ujar Arletta. Dalam hati gadis itu berharap, King tidak bisa menemaninya dan membiarkannya pergi bersama Langit.


King melihat jam yang melingkar di tangannya. " Gak bisa, nanti aja beli bukunya. Daddy nungguin aku, ada hal penting katanya. "


" Kalo gitu biar aku aja yang anterin. " sela Langit.


King menatap Langit. " Yaudah tolong temenin dia ya. " terpaksa King membiarkan Langit untuk mengantar Arletta. " Balikin Arlet dengan kondisi utuh. Jangan kurang apa lagi nambah! " serunya.


" Iya! " Langit.


Sedangkan Arletta mengerutkan keningnya. " Kok dengernya aneh ya? biasanya cuma bilang jangan ampe kurang doang, nambah apa maksudnya?. " Arletta kebingungan.


King mengetuk kening Arletta. " Gak usah di pikirin. Otak bocil belum nyampe! " jelas King. Arletta hanya memanyunkan bibirnya.


" Iya tenang aja.. ntar gue anterin Arlet seperti sedia kala. " ujar Langit.


" Sip! gue percaya ama elu. " King.


Kepergian King membuat Arletta tersenyum-senyum. Akhirnya dia bisa menghabiskan waktu dengan Langit berdua tanpa ada gangguan siapapun.


" Arlet, kakak harus meeting bentar nih. Ngasih tau ke team, kalau kakak belum bisa pulang. Harus atur schedule ulang. " ujar Langit.


" Gara-gara aku ya kak? "


Langit menggeleng. " Buat kamu gak masalah. Masih bisa di handle kok. "


" Makasih ya kak.. " Arletta.


" Kita pulang ke rumah kakak ya? mobil kamu juga masih di sana kan? "


" Ada Kalpana? " tanya Arletta.


" Dia udah pulang duluan. Kakak yang suruh. "


Tiba di rumah Langit. Arletta membiarkan Langit masuk ke ruang kerja, sedangkan dirinya bersantai sembari bermain ponsel.


" Ponsel gue mana? " gumam Arletta ketika tidak mendapati ponselnya di dalam tasnya. Gadis itu berfikir sejenak, mengingat-ingat di mana terakhir kali ia memainkan ponselnya. " Apa di kamar kak Langit ya? coba aku cari.


Pagi tadi, Arletta tertidur di kamar Langit dan tidak sengaja meletakkan ponselnya di nakas saat ingin membangunkan Langit.


" Tuh kan ada. " Arletta mengambil ponselnya yang masih berada di tempat semula. Tidak sengaja netranya melihat sekilas benda berkilau. Karena rasa penasaran, Arletta membuka laci yang tidak tertutup dengan rapat. " Cincin? "


Arletta mengambil cincin polos terbuat dari emas, tidak ada batu permata di sana. Benar-benar polos. " Cincin siapa? "


" Raj.. " gumamnya, membaca tulisan yang terdapat di bagian dalam cincin itu. " Apa punya kak Langit? " tidak mau ambil pusing, Arletta meletakkan kembali cincin itu ke tempat semula.


Gadis itu kembali menunggu Langit menyelesaikan pekerjaan nya sembari bermain ponsel. Duduk bersandar di sofa. Menghubungi Sora dan menceritakan semua momen yang sudah ia lewati bersama Langit.


" Bete ya nungguin kakak? " surat Langit tiba-tiba terdengar. Pria itu duduk di samping Arletta.


" Lumayan.. tapi udah selesai kan? " tanya Arletta.


" Udah. " Langit mengelus puncak kepala Arletta. Gadis yang selalu ia sayangi. " Mau nonton? "


" Yah.. baru kek pulang. Capek kak. " ujar Arletta yang tidak ingin keluar rumah lagi. Waktunya pun akan tersita di perjalanan.


" Nonton bukan berarti harus pergi. Kita bisa nonton di rumah aja. " Langit meraih remote televisi.


" Hehe.. iya kak. "


Mereka berdua memilih menonton sebuah film bergenre romantis yang berasal dari Spanyol. Keduanya menikmati film itu. Sesekali Arletta merasa panas melihat adegan yang begitu vulgar. Hatinya berdegup kencang saat melihatnya.


" Tutup mata dulu. " Langit segera menutup kedua mata Arletta dengan telapak tangannya. " Gak baik buat kamu tonton. " ujarnya.


" Gak liat tapi suaranya meresahkan kak. " ujar Arletta. Surat erotis masih terdengar di telinga Arletta. Tidak mengurangi debar jantung dan kegelisahannya.


" Yaudah tutup kuping mu. " Langit.


Arletta menurut, dia menutup kedua telinganya dengan tangannya sendiri. Meskipun suara itu tidak benar-benar hilang di pendengarannya. " Udah belum kak? "


" Belum. " jawab Langit yang sudah tidak fokus lagi dengan jalannya film itu. Kedua matanya menatap bibir Arletta yang terlihat menggoda. Bibir yang beberapa saat lalu ia rasakan kemanisannya.


" Kak.. "Arletta. Hembusan nafas Langit terasa menerpa kulit pipinya. Semakin dekat, teras sentuhan lembut di bibirnya. Langit mendaratkan ciumannya di bibir Arletta.


Gadis itu terdiam, menikmati ciuman Langit yang terasa begitu lembut dan hangat. Arletta membalas ciuman itu dengan kaku. Kedua matanya masih tertutup oleh telapak tangan Langit. Suara bibir mereka yang sedang bekerja terdengar begitu syahdu.


" Hei kenapa malu? " Arletta semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Langit. Memeluk pria itu.


" Ikh.. kakak! aku malu.. jangan liatin aku. " ucap Arletta. Gadis itu terlalu malu bertatapan dengan Langit.


Langit terkekeh. " Gak usah malu sama kakak. " Langit mengelus punggung Arletta. Mengecup kening Arletta dengan sayang. " Kakak sayang sama kamu. " ucapnya.


" Aku juga sayang sama kakak.. sayaaaanggg bangettt.. jangan tinggalin aku lagi. "


" Iya, kakak tau itu. " Langit tersenyum lebar.


" Oiya kak. " Arletta mengendurkan pelukannya. " Tadi aku liat cincin di kamar kakak. Itu punya kakak? cincin apa emang? " Arletta menanyakan cincin yang ia temukan si kamar Langit. Senyum Langit meredup seketika.


" Cincin apa kak? " desak Arletta.


" Bukan apa-apa! hadiah dari keluarga. " jawabnya cepat. " Kita makan siang yuk? " Langit mengalihkan pembicaraan.


" Ini udah mau sore kak. Jam makan siang udah lewat. Lagian aku masih kenyang. "


" Oh.. pantesan kurus! makan cake doang udah kenyang


" ujar Langit.


" Ini gak kurus kak, tapi langsing! "


" Iya.. iya.. langsing deh.. " ucap Langit. " Kakak laper nih, temenin kakak makan ya? "


" Ayo aku temenin. Mau sekalian aku masakin kak? "


" Emang bisa masak? "


" Hehe.. gak juga sih, ntar si mbok yang bantuin.. hihihi. " Arletta terkekeh.


Langit mengacak rambut Arletta dengan gemas. " Gak perlu masakin kakak. Cukup senyumin kakak aja, udah seneng banget. "


Arletta menyiapkan makanan ke dalam piring. Menaruh nasi dan lauk yang Langit suka. " Ini kak. "


" Terimakasih.. "


Arletta memperlihatkan Langit menghabiskan makanannya. Rasanya seperti mimpi bisa berduaan dengan Langit. Arletta tidak mau berpisah kembali, apalagi menjalin hubungan jarak jauh. " Kak.. apa kita udah resmi pacaran? " Tiba-tiba saja Arletta memikirkan hubungan apa yang tengah ia jalani. Berteman tapi mereka bermesraan layaknya kekasih. Langit tidak mengatakan apapun untuk meresmikan hubungan mereka.


" Uhukk.. uhukk... " Langit tersedak makanannya. Arletta dengan cepat memberikan segelas air minum. " terimakasih.. " ucapnya ketika telah meminum habis segelas air yang diberikan Arletta.


" Jadi? "


Langit meletakkan sendok dan garpunya. " Menurut mu apa? apa belum jelas dengan sikap yang kakak tunjukkan ke kamu? Kakak menyayangi mu, Arlet.. "


Arletta tersenyum. " Iya kak, Aku ngerti dan aku juga sayang ama kakak. " sudah berulang kali kata sayang saling mereka ucapkan. Membuat Arletta yakin jika Langit mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya. " Kakak cinta kan sama aku? "


" Sangat! kakak sangat mencintai mu. " jawab Langit.


Kedua mata Arletta berkaca-kaca, terharu mendengar jawaban Langit yang juga mencintai dirinya. Dengan cepat Arletta menghambur ke pelukan Langit. " Aku seneng kak. "


" Dengerin kakak. " Langit menangkup kedua pipi Arletta dengan telapak tangannya. " Kakak sangat mencintai mu melebihi apapun. Percayalah.. " Arletta mengangguk dengan cepat. " Jangan percaya omongan atau gosip apapun di luar sana jika kamu mendengarnya kelak. Hanya kamu yang kakak cintai, yang kakak inginkan. Mengerti? "


" Iya kak, Aku ngerti. "


" Sekarang kakak antar kamu pulang ya? "


" Tapi aku masih pengin sama kakak. " Arletta enggan berpisah.


Langit menggelengkan kepalanya. " Bukan waktu yang tepat Arlet.. banyak setan yang bisikin hal buruk ke kakak. Kamu harus cepet pulang. " ujarnya.


" Setan? " Arletta mengerutkan keningnya. " Di rumah kakak banyak setan? " Arletta bergidik ngeri, kedua matanya mengitari sekitar dengan ketakutan.


Langit terkekeh. " Iya.. " jawabnya asal sembari mengacak rambut Arletta gemas. " Ayo.. "


" Tapi aku pulang sendiri aja kak, kan aku bawa mobil. " Arletta.


Sebelum Arletta pulang, Langit memberikan sebuket mawar merah yang sudah ia siapkan, dan tidak lupa mendaratkan kecupan manis di kedua pipi Arletta. Membuat gadis itu senang bukan kepayang mendapatkan perlakuan romantis dari Langit.


Visual liat di IG: Srt_tika92


Bersambung...