
" Cie.. yang udah ketemu ama pangerannya.. " Soraya terus saja menggoda Arletta. Mereka berdua kini sudah siap menghadiri pesta, terlihat cantik dengan gaun yang sangat pas di tubuhnya.
" Iya dong.. gue hepi banget! " Arletta tersenyum.
" Ngapain aja kemaren? " Soraya penasaran apa yang sudah sepasang kekasih itu lakukan. " Kissing? " Arletta mengangguk malu-malu.
" Woooaaaa... gue jadi iri. " teriak Soraya. " Gimana rasanya? aduh.. gue penasaran banget. " Soraya tak sabar mendengarnya.
" Ya gitu, gue gak bisa jabarin.. yang gue tahu.. jantung gue gemeteran. " jawab Arletta. " Mending elu cari pacar deh, biar tau rasanya. " saran Arletta.
" Tapi gue belum nemu yang cocok. " Soraya.
" Elu carinya ketinggian sih.. " Arletta.
" Gue minta cariin aja ama daddy, biar gampang.. hehehe.. " cengir Soraya.
" Ikh dasar! "
Kedua gadis itu menjadi pusat perhatian tatkala mereka berdua memasuki ballroom hotel, tempat pesta itu berlangsung. Arletta dan Soraya menebar senyum pada para tamu undangan, berjalan menuju tempat kedua orang tuanya berkumpul, setelah menyapa kedua orang tuanya. Arletta dan Soraya ikut bergabung dengan kakak laki-laki mereka.
" Kak Tasyi.. " panggil Arletta dan Soraya bersamaan. Menyapa gadis bernama Tasyi. Gadis yang sudah lama menjadi kekasih Kenzo.
" Hai.. " Tasyi membalasnya dengan sebuah pelukan dan ciuman di pipi kanan dan kiri.
" Kak Tasyi makin cantik aja, pantesan kak Kenzo cinta banget ama kakak. " ujar Arletta.
" Iya dong, pilihan kakak pasti oke! " ucap Kenzo sembari mengedipkan sebelah matanya.
Arletta tersenyum. " Kamu juga cantik Arlet. "
Soraya menyikut lengan kakak laki-laki nya. " Kak Key mana pacarnya? cantik gak? " cibir Soraya.
King membenarkan krah jasnya dan tersenyum jumawa. " Pacar kakak lebih cantik dong! jangan di tanya lagi kecantikan seorang Camelia.. " ucapannya bangga.
" Cih.. gak percaya aku! palingan cantikan juga aku. "
King mencubit gemas kedua pipi adiknya. " Iya lah.. kamu paling cantik, Cantik nomor dua di mata kakak. " ujar King.
" Nomor satu siapa? "
" Lisa blackpink lah! " jawabnya.
" Kakak suka cewek Korea? " dahi Soraya berkerut.
" Lisa onoh.. " tunjuk King dengan sorot mata menuju wanita paruh baya yang sedang berdiri di samping pria berwajah persis seperti dirinya.
" Ish.. itu mommy! "
" Iya, mommy kita Lisa kan? hehehe... " canda King.
" Ya ampun kak! " Soraya mencibir, bibirnya maju hingga lima centi, membuat King gemas dengan adiknya itu.
" Ikh.. kak! jangan cium-cium aku! " Soraya mendorong tubuh King yang mendaratkan ciuman di wajahnya begitu gemas. " Aku udah gede! "
" Abisnya kakak gemes! "
" Iya tapi jangan cium-cium aku lagi. Ini buat calon pacar aku nanti. Kakak udah gak boleh cium-cium Sora lagi. Dilarang keras! " seru Soraya.
" Dih.. masih bocil mikir pacaran! kuliah dulu yang bener. Lulus dulu. " ujar King seraya mengacak puncak kepala Soraya.
" Aku udah gede! bukan bocil lagi kak. Bentar lagi dapet pacar di cariin daddy. "
King tergelak. " Nyari pacar sih minta ke daddy! yang ada di kenalin ama temennya daddy, udah tua, kamu mau? "
" Gak lah. Aku minta Lee Min Ho jadi pacar aku. "
" Ya ampun Sora! ada-ada aja kamu! " King tak habis.
" Iyain aja napa! biar gak nangis. " sela Kenzo.
" Iya.. deh.. iya.. bocil mah iyain aja deh biar seneng. " King.
" Arletta! " Bastian memanggil putrinya, melambaikan tangan untuk segera mendekat. Arletta yang sedang asik mengobrol dengan Tasyi pun pamit untuk menghampiri Bastian.
Arletta berjalan dengan anggun menghampiri Bastian " Ada apa pih? "
" Ini sayang, ada Hugo.. masih ingat kan? " Bastian masih berusaha mendekatkan putrinya dengan pria bernama Hugo.
Pandangan Arletta teralih pada pria yang berdiri di samping papihnya, lalu tersenyum padanya. " Masih ingat pih. " senyuman Arletta begitu manis di mata Hugo. Membuat jantung nya berdetak lebih kencang.
" Hai Arletta.. " sapa Hugo dengan gugup. Arletta membalasnya dengan senyuman lebih lebar.
" Sayang, temani Hugo dulu ya.. papi mau menyapa tamu yang lain. " ujar Bastian yang memberikan Hugo dan Arletta waktu agar saling mengenal.
" Loh pih.. " Arletta ingin menolak, tapi di urungkan karena tidak enak menolak langsung di depan Hugo.
" Temenin Hugo ya. " Bastian mengelus punggung Arletta seraya meninggalkan mereka berdua. Arletta tersenyum canggung pada Hugo. Berdekatan dengan pria yang baru dikenalnya membuat Arletta tidak nyaman.
" Ehemmm.. " Hugo berdehem untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Berdekatan dengan gadis secantik Arletta membuatnya gugup dua kali lipat. " Apa kamu keberatan menemani ku? " tanya Hugo.
" Terimakasih. " ucap Hugo. " Oiya.. bagaimana kuliah mu? maksud ku, apa kuliah mu berjalan lancar? apa memiliki kendala? mungkin aku bisa membantu mu. " ujar Hugo. Pria pendiam itu gugup hingga tanpa sadar telah mengeluarkan pertanyaan beruntun.
" Kuliah ku berjalan dengan lancar. Terimakasih atas perhatian nya, tapi aku belum butuh bantuan mu. " ujar Arletta.
" Mau minum? atau..? " pandangan Hugo tertuju pada meja yang menyediakan berbagai minuman dan makanan kecil. Dia kehabisan kata-kata hingga bingung mau membuka obrolan. " Dia sangat cantik, membuat ku gugup saja! "
Arletta menggeleng. " Aku mau ke toilet sebentar... " Arletta ingin menghindar dari Hugo.
" Oh.. baiklah aku akan mengantar mu. " dengan senang hati Hugo mengantar Arletta.
" Eh.. gak perlu kok. Aku bisa sendiri. Kamu di sini aja. "
" Gak baik seorang gadis cantik berjalan sendirian. Ayo aku temani. "
" Tapi.. "
" Uncle Bastian menitipkan mu pada ku.. "
Arletta mendengus kesal. " Iya. "
Bukan hanya anak muda saja yang menikmati pesta tersebut. Para orang tua pun menikmati nya. Terutama Clara dan Lisa yang bisa bertemu dengan Bela. Sahabat lamanya yang sudah lama tak jumpa. Bela harus pindah ke Surabaya, mengikuti suaminya yang di pindah tugaskan.
Arsen menyerahkan salah satu anak perusahaan yang ada di Surabaya pada Doni, mantan asisten sekaligus sekertaris nya dulu. Kemampuan Doni cukup membuat Arsen mempercayai nya untuk memimpin perusahaan tersebut.
" Ini Ceri? " tanya Clara.
" Iya tante.. " jawab Gadis yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
" Wah.. kamu cantik sekali. " Clara mengelus pipi gadis berwajah imut, anak kedua dari Bela dan Doni.
" Makasih tante. " ujarnya.
" Cantik kayak mamahnya lah.. " ujar Bela. Sedangkan Clara dan Lisa mencibir ucapan Bela.
" Kelas berapa sayang? " tanya Lisa.
" Kelas dua belas tan. "
" Beda setahun ya sama si kembar. Si kembar baru kelas sebelas. " Clara.
" Eh.. kok si Mikha belum keliatan. " Lisa mencari keberadaan Mikha sekeluarga.
" Belum dateng kali. Jalanan macet. " Clara.
" Gimana Bel, betah di Surabaya? "
" Lumayan lah.. asal keluarga pada ngumpul sih betah-betah aja. " awalnya Bela cukup sulit bersosialisasi dengan lingkungan, karena kesulitan dengan bahasa mereka. Tapi lama kelamaan Bela bisa menyesuaikan diri.
" Dia doang ya Ra, yang udah punya cucu. Kita belum. " Lisa.
" Iya. Cucu mu udah berapa Bel? "
" Baru satu. " Memiliki anak pertama seorang perempuan memang membuatnya cepat mendapatkan cucu. Berbeda dengan Clara dan Lisa. Anak pertama mereka seorang laki-laki. Memikirkan menikah saja rasanya belum ada di pikiran Benzema dan King.
" Sabar ntar juga dapet giliran. " Bela.
" Rasanya sih bakal lama. Benzema kan gitu kayak bapaknya! susah cari sendiri. Kayaknya mesti di jodohin baru mau nikah. " Clara.
" Hus! jangan jodoh-jodohin anak. Kasian anak kita. Suruh cari sendiri aja. " Lisa.
" Kamu mah enak! King pinter nyarinya. Lah aku, gak yakin banget Benzema niat nyari istri! " Clara tahu dengan semua sifat anaknya. Terutama Benzema yang sulit tertarik dengan lawan jenis. " Eh.. kalau gak, Ceri buat menantu aku ya..hehe.. "
" Heh! ngaco kamu! dia masih kecil.. "
" Hehe.. bercanda kok. " Clara.
***
Sedangkan di belahan dunia lainnya, tepatnya di India. Langit tiba di rumahnya. Dengan beberapa kali transit, Langit menempuh berjalanan hingga empat belas jam lamanya. Tidak memperdulikan tubuhnya yang lelah, Langit langsung menemui Ardiansyah, ayahnya.
" Apa kamu bercanda! tidak semudah itu membatalkannya! kamu akan mempermalukan keluarga besar kita Raj! " seru Ardiansyah. Pria tua itu terkejut dengan permintaan putranya.
" Please pah.. Langit gak bisa lanjut semua ini. "
Ardiansyah menghela nafasnya panjang. " Apa berita yang beredar itu benar? kamu memiliki perilaku menyimpang? menyukai sesama jenis? " ucap Ardiansyah yang terdengar kecewa.
" Come on pah. Langit masih normal! " sanggahnya.
" Lalu kenapa kamu menolak Neelam yang begitu cantik. " sarkas Ardiansyah. " Semua tidak bisa di batalkan! "
" Pah, Langit mencintai seseorang. Dia adal--- "
" Stop! papa jijik mendengar nya! sebaiknya kamu harus rajin terapi agar penyakit memalukan itu sembuh. " Ardiansyah geleng-geleng kepala. Kecewa pada putranya. Tidak menyangka putra satu-satunya itu mengalami perilaku menyimpang.
Seumur hidup nya, tidak pernah mendengar putranya itu menjalin kasih dengan seorang wanita, padahal di lingkungan kerja, dia setiap hari bertemu dengan wanita cantik dan seksii. Dan gosip terus beredar mengenai Langit yang menyukai sesama jenis, hal itu membuat Ardiansyah cepat bertindak.
Bersambung...