
" Kak.. " Langit terkejut mendengar suara yang sangat ia kenali. Menutup panggilan yang sedang berlangsung dan membalikan tubuhnya.
" Kakak mau pergi ninggalin aku? kakak pergi gak pamitan ama aku? " suaranya bergetar. Kecewa karena Langit akan pergi tanpa bertemu dengan nya terlebih dahulu.
Arletta yang tidak ingin berjauhan dengan Langit memutuskan menyusul, dan tidak sengaja mendengar obrolan Langit yang meminta Kalpana untuk bersiap ke Bandara.
Kedua mata Arletta berkaca-kaca, gadis itu sedih. " Kakak jahat! " isaknya.
" Arlet.. " Langit menatapnya sendu. Melihat Arletta bersedih membuatnya ikut merasakan kesedihan itu.
" Hiks.. hiks.. kakak tega! kakak jahat! " tangisan Arletta semakin terdengar. Gadis manja itu tak sanggup menahan tangisannya.
Hati Langit terenyuh melihatnya, tak tega. " Arletta.. " Langit dengan cepat berjalan menghampiri gadis itu, kemudian memeluknya dengan erat. " Jangan menangis." dari dulu, Langit tidak bisa melihat gadis yang sangat ia cintai mengeluarkan air matanya.
" Maaf.. jangan nangis lagi. " ucapnya seraya mengelus punggung Arletta.
" Kakak jahat! " Arletta memukuli dada Langit. " Kak Langit mau tinggalin aku lagi kan? ngilang gitu aja! gak kasih kabar ke aku sama sekali! hiks.. hiks.. kakak tega banget! "
" Ssstttt.. maafin kakak. " Langit. Seberapa kerasnya membentengi hati, Langit tetap akan luluh jika berhadapan langsung dengan Arletta. Mana bisa pria itu mengabaikan gadisnya terlalu lama. Rasa cintanya yang sudah mendarah daging tidak bisa pudar begitu saja.
Itulah alasannya kenapa Langit selama ini tidak pernah menghubungi Arletta. Karena hanya sekali saja mereka berkomunikasi, sudah di pastikan, rencana Langit untuk melupakan cinta pertama nya akan gagal. Meski sampai saat ini nyatanya cinta itu masih melekat di hatinya. Cintanya untuk Arletta tumbuh semakin besar.
" Jangan pergi.. " lirih Arletta.
" Aku harus pergi Arlet... " Langit.
Arletta mengendurkan pelukannya. " Please.. jangan pergi secepat ini. Aku masih kangen kak. " ucap Arletta yang memperlihatkan wajah memelasnya.
" Tiga hari lagi Film ku akan Launching, kakak harus ada di sana. " ucap Langit yang memang tidak bisa mengabaikan acara penting itu.
" Satu hari aja please.. "
Langit menghela nafasnya panjang. Rasanya sulit menolak permintaan Arletta. " Tapi.. "
" Besok pagi kakak boleh pergi. Nanti aku antar sampe Bandara. Hari ini kita habiskan waktu hanya berdua. Gimana? " Arletta berharap Langit akan memenuhi permintaan nya. Menghabiskan waktu berdua dengan Langit sungguh momen yang selama ini ia nantikan.
Langit tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Arletta. " Iya.. Anything for you. "
Arletta tersipu malu, memeluk erat kembali tubuh Langit. " Makasih kak. " ucapnya. " Tapi jangan ajak asisten kakak ya! aku gak suka! " pinta Arletta.
" Oke. "
" Woi! kalian ngapain peluk-pelukan di kuburan! " teriakan King terdengar. Membuat pelukan Langit dan Arletta terlepas. " Buru! mau ujan nih. " King yang menunggu di dalam mobil merasa bosan karena Arletta dan Langit tidak kunjung kembali.
" Kamu sama Key? " Arletta mengangguk.
" Kalian ada apa sih... melow gitu? " tanya King ketika Langit dan Arletta berjalan mendekat ke arahnya, terlihat begitu aneh di penglihatan King. " Ini kenapa elu pegang-pegang tangan si Arletta! " King meraih tangan Langit, melepaskan tautan mereka.
" Emang kenapa? " tanya Langit.
" Anak perawan ini! bukan bocah lagi! elu gak boleh pegang-pegang! enak aja lu! " King menarik Arletta menjauh dari Langit. " Jangan deket-deket ama si Bombay. " ucapnya pada saudara sepupunya itu.
" Ikh.. kak Key! " Arletta memanyunkan bibirnya. Sedangkan Langit menggelengkan kepalanya dengan keposesifan King pada Arletta. Tidak bisa di bayangkan jika yang ada di sana adalah Benzema, tentu lebih posesif dari King.
" Jadi mau kemana nih? " Langit.
" Bukannya elu mau ke Bandara? " King.
" Arletta.
" Wahhh... asik nih.. yaudah kita cabut yuk! "
" Ehh.. kemana? kak Key gak ada acara gitu? " Arletta tidak ingin acara berduaan dengan Langit terganggu oleh King.
" Gak! kakak free.. ayok! "
Langit menganggukkan kepalanya memberi pengertian pada Arletta agar menurut saja. Ketiganya memutuskan untuk pergi ke cafe terdekat, bersantai serta mengobrol bersama.
Wajah Arletta menjadi masam. Pasalnya dia harus berpisah dengan Langit, terpaksa satu mobil dengan King. " Kak! bukannya kakak sibuk ya? harusnya kan kakak ke kantor bantuin uncle Arsen. " ujar Arletta yang kesal.
" Di bilang kakak gak sibuk! kamu kok kayak gak suka gitu jalan bareng kakak? ada apa? " King berbicara sembari fokus mengemudi.
" E-enggak sih.. " mana mungkin Arletta berkata jujur, jika keberadaan King sangat menganggu dirinya untuk bersama dengan Langit. Arletta hanya ingin berdua saja tanpa ada pengganggu.
Mobil mereka sampai terlebih dahulu, sedangkan mobil yang dikendarai Langit berada di belakangnya. Meja yang berada di pojokan menjadi pilihan mereka untuk di tempati. Suasananya nyaman, tidak banyak pengunjung lainnya berlalu lalang di sekitarnya.
Langit duduk bersebelahan dengan Arletta. King berada di sebrangnya. King sibuk dengan buku menu untuk memilih pesanannya. Kesempatan bagi Arletta untuk saling melirik dan melempar senyum. Tangan mereka pun saling menggenggam satu sama lain.
" Kalian pesan apa? " Arletta dan Langit buru-buru melepaskan tauatan tangan mereka.
" Emm.. aku coffee latte aja kak ama Tiramisu cake. " jawab Arletta.
" Gue Espresso aja. " Langit.
" Oke! " Langit menjentikan jarinya memanggil pelayan. Kemudian memesankan pesanan mereka. Setelah itu, King di sibukkan dengan ponselnya.
" Kak, selama di India, Kakak punya temen gak? biasanya ngapain aja? apa kakak kerja terus? " Arletta penasaran dengan kehidupan Langit di India.
" Temen ada, tapi ya gitu.. gak seakrab sama kalian. Kakak sibuk ama pekerjaan. Jadi punya temen dikit. " ujar Langit.
" Oh.. orang di sana baik-baik gak? ceweknya cantik-cantik gak? " tanya Arletta.
Langit menatap Arletta. " Gak ada yang secantik kamu. " Arletta tersipu malu mendengar jawaban Langit. Pria itu memuji kecantikannya.
" Eh! gak usah baperin dia! " sela King.
" Apaan sih! emang aku cantik kok. " Arletta.
" Si Langit ini tuh produser terkenal, banyak di kelilingi cewek-cewek cantik, artis pula! Bohong kalo gak ada yang cakep satu pun. Apalagi body nya pada Aduhai.. pinter nari, liat puser dimana aja dan kapan aja. Mana tahan dia! iya gak Ngit? " King menaik turunkan alisnya seraya menggoda Langit.
Langit mendelikkan matanya. Takut jika Arletta salah menilai dirinya. " Gak tuh mereka biasa aja! "
" Alaaahh!! itu yang namanya si Neelam Neelam cakep juga! tapi cakepan Camelia sih. " Tetap! dimata King hanya Camelia seorang yang paling cantik. " Bukannya kemaren abis ada proyek bareng elu? bareng terus dong? "
Kening Arletta berkerut, menatap tajam ke Langit. Menunggu jawaban dari pria itu tentang wanita yang tengah mereka bicarakan.
" Iya, tapi kita gak sering ketemu. Kan gue gak ikut ke lokasi. " ujar Langit. " Udah deh.. gak usah ngomongin kerjaan. Ngobrol yang lain aja. " Langit tak ingin membahas pekerjaannya.
Pelayan datang mengantar pesanan mereka. " Beneran cuma kamu yang paling cantik. " bisik Langit saat King tengah fokus pada pelayan yang menyajikan pesanan, dan meletakkan di hadapannya.
Bersambung...