Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Bertemu Arletta



"Benz sama sekali gak setuju!" Benzema tak setuju dengan keputusan Clara yang memberikan ijin Langit untuk menemui Arletta. "Mami tega liat Arlet terluka lagi? pria itu yang bikin Arlet sakit mih.."


Clara menghela nafasnya. "Siapa tau kalo Arlet mendengar penjelasan langsung dari Langit, Arlet kita akan kembali." Clara menaruh harapan penuh pada Langit agar mampu membujuk Arletta sembuh seperti sediakala. "Arlet cuma salah paham nak," terang Clara.


"Salah paham gimana mih, jelas-jelas pria sialan itu menggandeng wanita lain. Itu pasti cuma akal-akalannya aja! gak mau ngaku punya hubungan sama wanita lain!" ucap Benzema berapi-api.


Sangat sulit menjelaskan pada putra sulungnya yang keras kepala. "Langit udah cerita semuanya ke mami. Dan mami maklumin itu, salahnya dia gak ngomong dulu sama Arlet."


"Mami belain Langit?" ketus Benzema.


Clara menggeleng. "Mami gak belain siapa siapa. Untuk Arlet, apapun akan mami coba. Mami pengin Arlet cepet sembuh nak."


Benzema mendengus kesal. "Papi kenapa diem aja! bukannya papi kemaren setuju ama Benz, buat jauhin Langit dari Arlet?" tak habis pikir papinya diam saja tanpa menolak keinginan istrinya. Jelas-jelas kemarin pria itu bersama dengannya mengumbar kebencian pada Langit, penyebab kondisi yang menimpa Arletta. Kemarin kompak kenapa sekarang membelot? Benzema benar-benar kesal.


"Mami kamu benar, siapa tau Arlet sembuh dengan kehadiran si itu!" enggan sekali Bastian menyebut nama Langit. Jika bukan karena permintaan istri tercintanya, mana mungkin dia memperbolehkan Langit menemui putrinya dengan mudah setelah apa yang telah ia perbuat.


Benzema mencibir. "Ck! bilang aja takut ama mami!" kesalnya, lalu beranjak pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih duduk di sofa. Jika mami dan papinya sudah memutuskan, mana bisa ia memberontak.


"Kalo kamu udah punya istri bakalan ngerti." ucap Bastian berbisik ketika putranya melintas di hadapannya, menutupi mimik wajahnya dengan lembaran koran. Bastian mana mungkin bisa berkata tidak pada istrinya.


"Ck!" decaknya kesal.


***


Langit tak sabaran untuk sampai ke rumah Arletta. Pagi tadi ia mendapat kabar dari Clara, jika hari ini Langit boleh menemui Arletta. Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, mengemudi dengan perasaan senang. Tak lupa di perjalanan dia membeli sebuket mawar merah untuk kekasihnya, bunga yang sangat di sukai Arletta.


Tiba di rumah Arletta, Langit di sambut oleh penghuni rumah tersebut. Hanya satu senyuman yang menyambutnya, senyuman dari ibu sang kekasih. Sedangkan yang lain menyambut dengan wajahnya datar, serta tatapan yang tajam.


Langit tak peduli dengan tatapan Benzema yang mengisyaratkan kebencian padanya. Yang terpenting hanya bertemu dengan Arletta. Urusan dengan Benzema di kesampingkan, ia pikirkan nanti saja.


Binar kebahagiaan di wajah Langit berubah menjadi sendu, tatkala langkahnya semakin mendekat pada gadis yang sedang duduk di kursi roda.


Clara menyuruh Langit untuk langsung menemui Arletta di taman.


"Biar aku saja." ucap Langit pada suster yang membantu merawat Arletta. Langit mengambil alih tugas suster yang sedang menyuapi Arletta. Suster itu pun memberikannya, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Langit berjongkok di depan Arletta, mensejajarkan tubuhnya agar berhadapan. "Sayang, ini aku." ucap Langit dengan memberikan senyumannya. Meski hatinya begitu sakit melihat keadaan Arletta sekarang, namun ia harus tetap tersenyum, memberikan semangat pada Arletta.


"Hei.. jangan menangis." Langit segera menghapus air mata itu. "Maafkan aku jika melukaimu." Langit membelai wajah Arletta dengan lembut.


"Kamu lupa, apa yang pernah aku katakan pada mu? " meski Arletta tak mungkin menjawabnya, tapi Langit tahu jika Arletta akan mendengarkannya.


"Aku pernah bilang kan, jangan percaya apapun di luar sana. Percayalah kalau aku hanya mencintaimu." Langit menggenggam erat jemari Arletta. "Semua yang kamu liat waktu itu hanya sandiwara. Bukan sungguhan. Maaf karena gak ngasih tau kamu lebih dulu tentang sandiwara itu."


"Aku hanya mencintaimu Arletta.." Langit mengecup jemari Arletta. Ingin sekali mengecup kening kekasihnya, tetapi Langit sadar ada mata elang yang sedang mengawasinya.


"Sora bilang, kamu mau liburan ke Kasmir? mau tunjukin tarian mu di sana padaku? udah hapal belum? hem? " pria itu tertawa kecil, Langit ingat dengan cerita Soraya, jika Arletta sangat antusias menirukan tarian sang artis Bollywood dan akan menunjukkannya pada Langit. "Akan aku antar, maka cepatlah kembali.. aku menunggu persembahan tarianmu."


Langit berbicara panjang lebar, namun tak ada tanggapan dari Arletta. Gadis itu masih setia dalam diam.


"Sekarang makan yang banyak dulu, biar tenaga kamu bertambah.. karena setelah kamu sembuh, bersiaplah.. aku akan membawamu berpetualangan ke manapun yang kamu inginkan." Langit dengan telaten menyuapi Arletta yang sudah mau membuka mulutnya, meski mulutnya hanya terbuka sedikit. Walaupun lama, makanan yang ada di piring itu habis tak tersisa. Tidak biasanya Arletta akan menghabiskan makanannya. Biasanya Arletta hanya akan menghabiskan paling banyak empat suap saja.


Benzema siaga memantau pergerakan Langit, waspada jika Langit melakukan tindakan yang tidak ia sukai. Sangat siap jika harus mengusir Langit dari rumahnya.


"Ngapain kamu liatin orang pacaran!" tegur Clara.


Benzema terjingkat kaget. "Ck! mami!"


"Makanya.. cari pacar gih sonoh, biar gak iri."


"Siapa yang iri! mami ngaco deh!" Benzema.


"Yaa..siapa tau kamu iri. Tuh liat romantis banget kalo cowok ngasih bunga. Kamu udah pernah ngasih bunga ke cewek belum?" tanya Clara penuh selidik. Penasaran dengan kisah cinta putra sulungnya itu.


"Bunga? terlalu melankolis!"


Clara menghela nafasnya, terlihat jelas sekali dari jawaban Benzema, jika pria itu tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. "Ntar mami cariin. Mami udah pengin nimang cucu nih. Kamu udah cukup umur untuk berumahtangga."


"Jangan mulai deh mih.." Benzema langsung pergi. Malas rasanya membahas tentang pernikahan yang sama sekali belum terpikirkan oleh nya.


Bersambung...