
Dirimu ada, hati ini tenang. Tak bertemu membuatku merasa yang kata orang disebut dengan 'rindu'.
Nilga Putra Adyatama
***
Nilga mengotak-ngatik ponsel sambil menunggu Rachel yang sedang mengambil kotak P3K. Mata laki-laki itu seketika dibuat melotot dengan pemberitaan di grup angkatan yang di dalamnya memuat anak SMA Ceniya kelas 11.
"Heh! Sini tangan lo yang luka," ucap Rachel membuat Nilga kaget setengah mati dan membalikkan ponsel dengan posisi telungkup. Di tangan gadis itu sudah ada kotak P3K. Rachel menarik kasar tangan Nilga yang bukannya membuat laki-laki itu kesal malah merasa tarikan dari Rachel mengandung cinta untuknya. Nilga memang sudah gila! Entah sejak kapan, namun laki-laki itu akui... dia, menyukai gadis yang kini sedang mengobati tangannya.
"Ah, ah, ahhh. Pelan-pelan kek lo, kasar banget jadi cewek!" ringis Nilga ketika Rachel mengobati tanpa belas kasih.
"Rewel lo ya, masih untung gue mau obatin lo. Unfaedah banget nih buat gue." Dia berucap tanpa menoleh ke muka Nilga yang sedang meringis kesakitan, tapi Nilga justru terharu karena fokus Rachel hanya ke luka di tangannya.
'Laki-laki mana yang udah dapetin pengobatan eksklusif-nya Rachel, hah? Sini maju, menghadap gue!' Seketika Nilga berbangga diri karena kayanya baru dia laki-laki yang diobati lukanya oleh Rachel, itu menurut pemikiran Nilga saja. Tapi nyatanya, Zenkra sudah lebih dulu mendapatkan perawatan dari gadis itu.
"Ya udah, biar lo nggak sia-sia ngobatin tangan gue, gimana kalau lo pulang bareng gue?" tanya Nilga penuh makna. Nilga mengetahui kalau Rasya pulang duluan bersama Karin.
Rachel tampak berpikir sejenak sebelum menyanggupi, "Oke, boleh juga."
Yes.
Nilga tersenyum tanpa Rachel ketahui. Entah mengapa ada hal berbeda di diri Rachel, entah apa itu, bahkan Sania yang sering mendekati Nilga pun belum bisa membuat jantung laki-laki itu berdegup sekencang saat ini, ketika dia sedang bersama dengan Rachel sekarang.
Tak lama senyum Nilga sirna, terganti raut kesal bercampur bingung. Dia ingat mengapa tadi sempat terkaget setengah mati melihat kedatangan Rachel dan buru-buru menelungkupkan ponselnya. 'Kenapa foto gue sama Rachel bisa kesebar di grup angkatan? Siapa pemilik akun berinisial 'R' itu? Apa tujuannya?'
Yang terpenting sekarang, 'Gue harus bawa dulu nih anak pulang dengan selamat. Gue nggak ingin kejadian pas di kantin terulang lagi,' pikir Nilga baik.
"Tangan lo luka karena apa?" tanya Rachel tiba-tiba.
"Karena... fokus gue ke muka cecan tadi." Cecan--Cewek cantik. Nilga sedang melemparkan kode ke gadis di hadapannya.
Namun sepertinya, Rachel tidak peka dan malah menjawab, "Dasar mata keranjang!"
"Lo nggak mau tanya siapa cecan-nya?" tanya Nilga meringis dikatai mata keranjang oleh Rachel, gadis pujaannya.
"Sorry to say... nggak penting buat gue."
"Itu lo, Hel," ungkap Nilga dengan ekspresi semeyakinkan mungkin.
Akan tetapi mendapat satu tonjokan kasar di lengannya dan gelakan dari orang yang baru saja mendapat pengakuannya. "Hahaha... segitu frustrasinya lo, ya. Udah nggak ada slot cewek lagi sampai gue juga kena samber begini?"
'Astaga... gue jujur salah, nggak jujur dia nggak bakal tau isi hati gue. Jujur juga dia nggak percaya,' pening Nilga.
"Gue jujur, Hel."
Lagi-lagi gadis itu tergelak. "Hahaha... tampang buaya kaya lo, biar bilang jujur juga gue harus periksa dua kali bener apa enggaknya. Udahlah, cari aja cewek lain, stok cowok yang ngejar-ngejar gue udah kebanyakan, ditambah lo satu jadi makin banyak nanti."
"Jujur aja deh, lo jatoh 'kan pasti nih?" tunjuk Rachel ke arah lukanya Nilga.
"Iya, jatoh pas futsal tadi," jawab Nilga malas, percuma dia kasih kode keras ke Rachel kalau ujung-ujungnya tidak mempan.
Tawa Rachel terpingkal-pingkal. "Jadi, cecan lo itu bola futsal?"
'Yah salah paham dia,' pikir Nilga.
"Ada ya orang yang saking cintanya sama hobi sampai nganggap bola cewek cantiknya. Sampai jatoh-jatoh pula, ya ampun..."
"Jadi pulang bareng, nggak?" tanya Rachel memastikan.
Tapi seolah-olah seperti Nilga yang membutuhkan tumpangan, laki-laki itu berkata dengan menurunkan harga dirinya. "Ya... jadi."
"Helm dua?"
Mendengar pertanyaan itu, Nilga mengernyitkan kening bingung.
"Gue juga butuh jaminan keselamatan 'kan?" ucap Rachel membenarkan pertanyaannya.
Nilga manggut-manggut paham sekarang. "Satu doang. Buat lo aja."
"Buat gue? Dermawan juga hati lo, Ga," jotos Rachel sekali lagi pada lengan Nilga, kali ini lebih kasar dari yang sebelumnya, tepat di bagian yang terdapat luka.
Nilga meringis kesakitan. "Yang bener aja deh, Hel! Ini kalau lo obatin cuma buat dibikin berdarah lagi percuma namanya."
"Maap, tau maap nggak lo?"
"Tau lah, ayo pulang," ajak Nilga merelakan lengannya yang terluka menjadi samsak Rachel sebelumnya.
"Tapi ya, Ga. Rumah gue agak jauh."
"Ya baguslah."
"Bagusnya?" Rachel tidak mengerti.
"Bisa lama di jalan."
Namun yang kali ini Rachel peka, "Bisa berduaan maksud lo?"
"Ya, bisa dibilang begitu," aku Nilga.
"Hihh... mau bilang gitu aja susah. Gue nggak heran kalau banyak yang mau berduaan sama gue mengingat betapa paripurnanya kecantikan gue ini. Tapi... gue lagi sariawan mendadak. Nggak ada ngobrol-ngobrol."
"Bisa begitu? Sariawan mendadak?" Nilga tidak menyangkal kecantikan gadis di hadapannya. Tapi dia juga mengerti kalau Rachel tidak ingin diajak berbicara selama perjalanan pulang. Sariawan mendadak hanya alasan gadis itu saja.
"Yap. Gue nggak pandai nambah obrolan. So, nggak pakai lama ya, Ga. Gue udah capek banget kepengin rebahan di kasur empuk gue."
"Siap, yang ngajak lo pulang ini sodara jauhnya Rossi. Sebelas duabelas lah kita. Mau secepet apa? Gue bisa sanggupin," guyon Nilga.
"Yang sesuai sama pepatah aja, biar cepet asal selamet."
Sebentar Nilga merasa ada yang salah dengan pepatahnya. Tapi dia tidak mau ambil pusing. Karena bagi Nilga, apapun yang Rachel katakan semuanya mendekati kebenaran. Jadi dia percaya.
Sepanjang perjalanan ke rumah Rachel hanya ada hening. Memang tidak ada yang mau memulai bicara. Hanya ucapan terima kasih ketika mesin motor berhenti tepat di depan rumah bercat putih bersih, berpagar hitam, dan memiliki pekarangan di depannya. Setelah itu pun Nilga hanya mengangguk dan melajukan motor pergi saat Rachel berpamitan.
Baru sebentar Rachel berpamitan dengannya, Nilga sudah merasa ingin melihat gadisnya itu lagi. 'Apa ini yang dinamakan dengan 'rindu'?' pikir Nilga sembari melajukan terus motornya.
Di samping itu, pikiran Nilga kembali khawatir dengan maksud foto yang dikirimkan seseorang berinisial 'R' di grup angkatan. Nilga tidak menghiraukan citranya di sekolah, namun yang menjadi perhatiannya itu adalah gadis yang dipaparazi bersama dengannya adalah Rachel.
Nilga takut sesuatu terjadi pada Rachel. Dia mesti mencari tahu tentang orang yang dengan sengaja mengirimkan foto dengan pose-nya sedang dekat ke Rachel. Tapi Nilga agak senang juga.
"Hehehe, gue bisa jadiin wallpaper homescreen ponsel gue. Lumayan," kikiknya senang.