Rachel

Rachel
Diculik ke Tempat (Tidak) Asing



Mengapa kamu menyukaiku?


Adinda Rachel Karenina


Karena kamu yang kupercayai untuk masuk dan mengintip kerapuhanku, kekelamanku, serta ketidakberdayaanku.


Zenkra Anugerah Widyarta


***


Waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Gadis itu masih memejam seperti tidak ada niatan untuk bangun. Namun pada akhirnya, dia memutuskan untuk membuka mata. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, mempertanyakan apakah ini masih di alam mimpi. Pasalnya, dia merasa aneh dengan suasana di ruangan yang didominasi warna gelap ini. Seingatnya, terakhir kali dia tertidur di UKS SMA Ceniya yang notabene-nya didominasi warna putih.


Rachel bangkit duduk dan mengamati sekitar. Benar saja. Ini tempat yang berbeda dan asing baginya. Lantas matanya menemukan sesosok yang sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Tangannya bergerak menekan tombol keyboard, entah apa yang diketikpun Rachel tidak tahu. Rachel memantapkan diri untuk memanggil, walaupun paham akan mengganggu kesibukan orang itu.


"Kak Zenkra..." panggil Rachel.


Zenkra menoleh dan Rachel kembali bertanya.


"Ini dimana?"


Bukannya menjawab, Zenkra malah balik bertanya.


"Udah bangun, Princess?"


"Ish... Gue tanya, ini dimana, Kak?"


Zenkra menutup laptopnya dan menghampiri ranjang tempat Rachel berada.


"Kediaman Widyarta," jawab Zenkra santai. Namun Rachel kini sontak melotot.


"Hah? Kenapa gue bisa ada di sini?"


***


Rachel tertidur di ruang UKS. Zenkra dan Nilga tampak bingung dengan pemikiran perempuan ini. Dia justru mempersilahkan mereka melanjutkan perkelahian, dan dengan tanpa dosa malah tertidur di sini.


Keduanya menghampiri ranjang tempat Rachel tidur.


"Kra, ini cewek ***** amat ya. Dia tidur udah kaya mati," ucap Nilga.


"Iya. Gue juga sampai heran, bisa-bisanya bucin ke cewek kaya si Rachel," ucap Zenkra sambil menggelengkan kepala. Pikirnya, ekspresi tidur Rachel kini akan dia tuliskan juga ke dalam daftar favorit di hidupnya. Lucu, baginya.


"Terus mau diapain nih?" tanya Nilga. Mendadak Zenkra melotot.


"Maksud lo?! Jangan berani-beraninya lo sentuh Rachel!" ujar Zenkra dengan nada meninggi.


"Et lo, Kra. Sensian amat jadi orang. Maksud gue, ini udah jam balik sekolah, masa kita tinggalin dia di sini gitu aja. Kan nggak mungkin," jelas Nilga.


"Bawa ke rumah gue," titah Zenkra dan kini Nilga yang melotot.


"Lo jangan macem-macem, Kra! Lo mau apain nih anak orang, hah?"


"Tenang, gue nggak akan apa-apain. Lo bisa ikut kalau nggak percaya."


Nilga mengangguk dan bersiap menggendong Rachel. Namun belum sampai terlaksana, Zenkra sudah mendorong tubuhnya menyingkir. "Gue aja."


Nilga pasrah dan mengekor. Meskipun hatinya dongkol melihat Zenkra menggendong Rachel. Di dalam pikirannya, 'si Rachel kebo amat sih sampai dipindahin aja nggak kerasa'.


Sesampainya di mobil berwarna hitam keluaran terbaru.


"Ambilin kunci mobil di saku celana gue!" perintah Zenkra.


"Dih, ogah amat! Entar kalau ada yang lihat, gue disangka lagi grepe-grepe lo," ucap Nilga bergidik ngeri.


"Udah nggak ada orang. Cepetan kek lo! Berat ini si Rachel. Nih cewek kecil-kecil berat banget, dikasih makan apa sih."


Nilga pasrah dan meraba-raba kantong celana Zenkra, mengambil sesuatu yang dia rasa adalah kunci mobil.


"Nih." Nilga memberikan hasil pencariannya.


"Itu kunci motor gue, yang bener dong lo!"


"Lagian lo bawa mobil ngapain di kantong ada kunci motor segala."


"Elah, cepetan woiii berat. Kalau udah ada lo bukain pintu nih."


Nilga mencari kembali dan ketemu. Sebuah gantungan kunci kepala tengkorak. Nilga mengeluarkan dari kantong Zenkra.


"Ga, itu kunci kamar. Lo nyari kunci aja nggak becus amat!"


Nilga memutar bola mata malas dan meraba kantong Zenkra lagi.


"Nah itu," ucap Zenkra ketika melihat kunci yang Nilga keluarkan.


Nilga membukakan pintu mobil dan Zenkra membaringkan Rachel di kursi penumpang.


"Kra, lo bawa mobil, biar gue di belakang jagain Rachel."


"Etttt... Nggak boleh! Enak lo ya di belakang, bisa naro kepala Rachel di pangkuan lo. Sambil ngelihatin muka cakepnya," tungkas Zenkra.


"Ya gue juga nggak bisa biarin lo berlaku kaya gitu, Kra."


"Gini aja biar adil, gimana kalo kita berdua di depan, deal?"


"Deal."


Mereka sepakat. Tapi dengan laknatnya membiarkan Rachel di belakang sendirian dalam keadaan tertidur.


Selama perjalanan, Zenkra membawa mobil dengan hati-hati. Takut-takut Rachel menggelinding dan jatuh.


Akhirnya, mereka tiba di kediaman Widyarta. Nilga tidak melongo ataupun kaget melihat betapa megah istana di hadapannya. Pasalnya, kediaman Adyatama pun tak kalah besar. Sebelas-dua belas.


Keduanya keluar dari mobil. Zenkra membuka pintu penumpang. Rachel masih tertidur. Keduanya sempat berpikir bahwa Rachel tidur atau mati.


Nilga masuk dan membopong Rachel. Zenkra melotot, namun Nilga lebih dulu berucap.


"Gantian. Tadi lo, sekarang gue."


Zenkra kesal dengan Nilga yang tidak ada takutnya ke dia yang notabenenya adalah kakel alias kakak kelas.


"Ettt... Jangan protes, apalagi berisik. Nanti kalau Rachel bangun, yang ada nanti dia nggak mau nginjekin kaki di rumah lo."


Napas Nilga tersegal begitu sampai dan membaringkan Rachel di ranjang king size milik Zenkra. Naik tangga, ditambah membawa Rachel yang memang benar berat seperti kata Zenkra.


Nilga duduk di sofa, tepat di sebelah Zenkra yang sudah memangku laptop. Nilga tahu sedikit soal Zenkra yang sudah harus mengurus beberapa hal terkait perusahaan meski masih kelas 12 SMA. Sania suka membicarakan Zenkra. Karena mereka sudah berteman dari masih jadi cabang bayi. Kata Sania, kedua orang tua mereka dekat dan bersahabat sudah lama. Mereka malah ingin dijodohkan, namun keduanya menolak.


Membicarakan soal Sania. Panggilan masuk ke ponsel Nilga.


Sania is calling...


Panjang umur. Nilga mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, San. Ada apa telpon?"


"Oh, aku cuma kangen aja. Kamu lagi dimana?"


Nilga memutar bola mata jengah.


"Di rumah Zenkra."


"Aku mau ke mall, tapi supir aku ga bisa antar. Kamu mau ya, antar aku."


"Sekarang banget nih?"


"Iya, pliss ya. Soalnya ada yang mau aku beli dan itu penting."


Nilga menghembuskan napas kasar. "Oke."


Zenkra menguping dan berekspresi yang sulit diartikan.


"Sania?" tanya Zenkra.


"Hmm..."


"Kenapa dia?"


"Biasa, minta anterin ke mall. Katanya ada hal penting yang mau dibeli."


"Yaudah anterin gih."


"Maleslah. Masa iya, gue ninggalin Rachel di sini. Nanti gimana kalau lo macem-macemin dia," kata Nilga dengan nada menyelidik.


"Nih ya. Logikanya. Lo suka sama Rachel kan?" tanya Zenkra.


Nilga mengangguk.


"JADI LO BENERAN SUKA SAMA RACHEL, HAH?" tanya Zenkra dengan nada meninggi.


"Iyalah. Bukan lo doang kali yang berhak. Eits, lagian lo nggak ada hak buat ngelarang gue suka sama Rachel."


Zenkra berpikir sebentar, omongan Nilga ada benarnya juga. "Oke, oke. Apa lo akan berbuat sesuatu yang buruk sama orang yang lo suka atau sayang?"


"Enggak sih," jawab Nilga dengan gelengan kepala.


"Nah begitulah gue. Lo tahu kan se-bucin apa gue?" tanya Zenkra meyakinkan. "Nggak akan gue apa-apain calon nyonya Widyarta."


"Jangan ngarep lo! Kalau dia jadi bagian keluarga Adyatama, lo cuma bisa gigit jari!"


Lama Nilga memandangi raut wajah Zenkra, mencari kebohongan, namun yang didapat justru ketulusan tercetak di wajah Zenkra. Nilga merutuki hal itu.


"Oke. Gue biarkan kali ini. Tapi enggak buat lain kali. Gue benci bilang ini, tapi gue titip Rachel dan jangan sampe dia kenapa-kenapa."


"Gue janji."


***


Zenkra jengah melihat Nilga yang menggendong Rachel sampai ke kamar. Akhirnya dia duduk di sofa sambil mengecek beberapa file perusahaan di laptop. 'Tuh bocah tengik udah naro Rachel di ranjang gue,' pikirnya. 'Duh, malem ini tidur di ranjang yang masih ada anget-angetnya Rachel.'


Seketika Zenkra bergidik ngeri sama diri dia sendiri.


Nilga benar-benar tidak meninggalkan Rachel. Lantas muncul suatu ide cemerlang di otak Zenkra. Laki-laki itu mengetikkan sesuatu di ponsel dan mengirimkannya.


Zenkra : San, gue minta tolong, boleh?


Sania : For what?


Zenkra : Nilga di rumah gue, lo tlp dia kek. Bilang minta anterin ke mall


Sania : Nilga? Ngapain ke rmh lo?


Zenkra : Panjang ceritanya, gece ya. Nanti gue traktir kalau lo berhasil bawa dia pergi.


Sania : Seriously?


Zenkra : Yes


Tak berapa lama, ponsel Nilga berdering. Dan dengan segera Nilga mengangkat telpon.


"Halo, San. Ada apa telpon?" tanya Nilga ke orang di seberang telpon.


'Widih... Sania gercep juga', batin Zenkra.


"Oh, aku cuma kangen aja. Kamu lagi dimana?"


'Huekkk... Jijik dah gue dengernya. Tapi kalau Rachel yang bilang begitu, gue pasti senang bukan main. Suaranya pasti merdu,' khayal Zenkra di sela mendengarkan pembicaraan Nilga dan Sania di telepon.


"Di rumah Zenkra."


"Aku mau ke mall, tapi supir aku nggak bisa antar. Kamu mau ya, antar aku."


"Sekarang banget nih?"


"Iya, pliss ya. Soalnya ada yang mau aku beli dan itu penting."


Nilga menghembuskan napas kasar. "Oke."


'Yes, berhasil. Thanks, San. Abis ini gue traktir lo sepuasnya,' batin Zenkra berbunga-bunga. Tinggal dia sama Rachel di ruangan itu tanpa yang ketiganya setan--Nilga.


Bersambung....