
Ya... Aku cukup tahu diri. Jika bukan milikku, maka tak ada hak untukku mengakui apalagi mempertahankannya, bukan?
Adinda Rachel Karenina
***
"Gue mau ke toilet sebentar," ucap Rachel.
"Mau aku antar," balas Ravlein dengan kerlingan sebelah matanya.
Rachel terkekeh. "Tidak perlu, hanya sebentar."
Ketika jarak mereka berjauhan, Rachel mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari seseorang yang ingin ditemuinya. Namun, seorang pria bertubuh tegap berdiri tepat di depannya.
"Anda sudah ditunggu Tuan, Nona Rachel," ucap pria itu. "Mari saya antar."
Rachel mengangguk ketika mengenali siapa pria itu yang tidak lain adalah Aldo. Kemudian mereka sampai di sebuah pintu coklat besar sebuah ruangan dengan dua orang bertubuh kekar berjaga di sana.
Tok, tok, tok...
"Masuk," sahut orang yang ada di dalam.
Ngekkk~
Salah satu penjaga membuka sebelah daun pintu coklat besar itu dan menampakkan sosok Tio yang dengan santai duduk sambil menikmati wine bersama seorang wanita jalang di pangkuannya.
Tio mengeluarkan cek dan menulis sejumlah angka di sana. "Aldo akan mengantarmu keluar, Baby."
Wanita jalang itu menerima cek dan beranjak keluar dengan disusul Aldo yang menutup pintu, meninggalkan Rachel bersama dengan Tio di dalamnya. Tubuh Rachel bergetar hebat, tidak dapat dipungkiri bila tatapan Tio sungguh mengintimidasi, tegas di wajahnya membuat sebuah rasa takut terbesit di benak Rachel.
"Rachel," ucap Tio yang membuat Rachel tidak dapat menyembunyikan raut wajah ketakutannya.
"I-iya?" balas Rachel dengan terbata-bata.
"Duduklah," titah Tio.
Rachel melangkah dan berniat duduk di sofa seberang Tio yang juga merupakan sofa yang memiliki jarak terjauh karena dibatasi meja besar. Rachel menggigit bibir bagian bawah untuk meminimalkan gemetar di tubuhnya.
"Kau sudah melihat Zenkra dan Rivalein?"
Rachel mengangguk.
"Aku tak perlu lagi mengeluarkan ancaman untukmu menjauhi putraku, bukan?" Tio berseringai memperhatikan ketakutan di wajah cantik Rachel. "Kau memang cantik. Tapi sayang sekali, kasta kita berbeda. Namun, informasi terkaitmu yang mampu menaklukkan hati tiga orang pewaris sekaligus membuatku kagum."
"Saya cukup tau diri dengan kasta saya sekarang, maka Anda tidak perlu repot-repot mengeluarkan ancaman. Dan terima kasih atas pujian Anda terhadap saya." Entah keberanian dari mana yang mampu menuntun Rachel untuk mengatakan semua itu. "Jika perbincangan ini hanya mengenai hal itu, Anda tidak perlu khawatir. Saya permisi."
Rachel beranjak berdiri dan meninggalkan Tio yang tengah tersenyum menyeringai. "Gadis ini benar-benar menarik, bahkan tak pernah ada orang biasa yang berani menatapku dengan seberani dia."
***
Rachel sudah cukup lama pergi dan belum juga kembali. Hal itu membuat Ravlein cemas, dan sekarang dia tengah mengobrol dengan Nilga dan Sania yang baru saja datang, Nilga dengan balutan jas hitamnya dan Sania dengan gaun cantiknya. Sementara Zenkra masih sibuk menyalami dan menyapa koleganya di podium utama bersama dengan Rivalein yang senantiasa selalu berada di sampingnya.
"Hai," sapa gadis yang ditunggu-tunggu.
"Rachel?" Baik Nilga dan Sania kompak menanyakan keberadaan Rachel di sana.
"Hai, Nilga, Kak Sania," sapa Rachel dengan senyum ramah.
Ini Buckled fit and flare midi dress dari NINA RICCI kan? Demi apa Rachel bisa punya baju itu? Wah... Silcha harus tau tentang hal ini, batin Sania ketika melihat penampilan Rachel dari atas ke bawah.
"Rachel? Lo kenapa bisa dateng ke acara pertunangannya Zenkra?" tanya Nilga dengan raut wajah khawatir akan perasaan Rachel sekarang yang sudah mengetahui pertunangan Zenkra dan Rivalein.
"Gue ada undangan, berarti boleh masuk kan?" balas Rachel dengan tampang datarnya.
"Lo engga apa--"
Ucapan Nilga terpotong Ravlein yang kini angkat suara.
"Kamu lama banget, Hel. Aku sampai khawatir," ucap Ravlein sambil bersimpuh dan mengulurkan tangan kanannya. "Mau berdansa?"
Rachel melirik ke podium sebentar dan mendapati Zenkra yang tengah menatap ke arah mereka.
Rachel tersenyum cantik dan menerima uluran tangan Ravlein. "Of course, My Prince for tonight."
Ucapan Rachel sungguh membuat Ravlein serasa melambung tinggi. Senyumnya mengembang tanda senang dan menggiring Rachel ke lantai dansa di depan podium utama.
Nilga sungguh dibuat geram dengan sepasang insan itu dan kemudian mengajak Sania menuju lantai dansa juga.
Musik di sana mengalun lembut dan seolah memuat romansa. Melihat dua pewaris perusahaan besar sedang berdansa dengan pasangannya masing-masing membuat yang lain ikut menarik pasangan mereka untuk berdansa, begitupun dengan Zenkra yang sudah menggenggam tangan Rivalein menuruni podium utama menuju lantai dansa. Ketiga pewaris itu kini berdansa di pusat dan jaraknya tidak terlalu jauh. Rachel dan Ravlein tidak melunturkan senyum mereka sama sekali, membuat Zenkra dan Nilga tidak bisa tidak melihatnya terus-menerus.
"Mungkin kamu bosan mendengar ini, tapi kamu sangat cantik malam ini, Babe," ucap Ravlein dengan tatapan memuja.
Rachel terkekeh. "Thanks."
Di benak Zenkra. Modus.
Di benak Nilga. Iyuh, gombal.
Di benak Sania. Kapan Nilga bilang kaya gitu ke gue?
Di benak Rivalein. Adek gue lupa kalau di sini ada kakaknya, nanti gue aduin Mamah sama Papah biarin di goreng jadi perkedel karena berani modusin anak gadis orang.
Sebelah tangan Ravlein beralih mengelus pipi Rachel, membuat gadis itu sempat kaget dan kemudian membiarkan Ravlein menyentuhnya. Mereka masih terbuai dengan dansanya dan Rachel merasakan wajahnya dan Ravlein hanya berjarak beberapa senti sekarang.
Gue ga peduli Ravlein udah berhasil merebut first kiss gue, sejujurnya hati gue udah sangat kacau sendari tadi ditambah mengingat perkataan yang terlontar dari Papahnya Kak Zenkra. Maaf Kak Zenkra, Nilga, gue mengecewakan kalian. Ini sebagai bukti kalau gue ga akan mengganggu pertunangan Kak Zenkra dengan Kakaknya Ravlein, dan hubungan Nilga dengan Kak Sania, serta gue akan menjatuhkan pilihan ke orang yang udah membuat hati gue hancur tiga tahun lalu, Ravlein. Biarlah... Mungkin udah takdir gue yang harus menikmati kehancuran ini, batin Rachel ketika dia berciuman dengan Ravlein.
Buk!
Zenkra menarik lengan Ravlein, menjauhkannya dari Rachel, dan memukul wajahnya hingga tersungkur ke lantai.
Ravlein menyeka sudut wajahnya yang mengeluarkan darah segar akibat pukulan Zenkra.
"Lo ga apa-apa, Rav?" Rachel berjongkok di samping Ravlein dengan wajah cemas.
Ravlein terkekeh dan tangan kanannya mengelus pipi Rachel. "Aku ga apa-apa, kamu khawatir?"
Rachel sungguh bingung dengan Ravlein yang justru terkekeh. Bukannya marah, atau membalas pukulan Zenkra. Kemudian Rachel mengangguk menjawab pertanyaan Ravlein.
Zenkra geram dan menarik kasar lengan Rachel hingga berdiri menjauhi Ravlein yang masih pada posisi setengah terbaring di lantai. Sedangkan Rachel yang mendapat perlakuan kasar itu meringis kesakitan akibat genggaman Zenkra di lengannya.
Nilga yang melihat itu tidak tinggal diam dan berniat melepas tangan Zenkra dari lengan Rachel. "Lo menyakitinya, Kra."
Dengan egois, Zenkra tidak membiarkan Nilga menyentuh Rachel dan tidak melepas genggaman tersebut. Ravlein bangkit berdiri dan terkekeh geli melihat Zenkra sekarang yang begitu menampakkan wajah frustasi.
Semua orang yang menyaksikan hanya mampu bungkam dan mengabadikan kejadian tersebut menjadi bentuk foto ataupun video.
"Lo egois, Kra. Lihat di belakang lo, ada tunangan lo!" Ravlein berucap menyadarkan Zenkra akan posisinya sekarang.
Zenkra menoleh ke belakang dan melihat ke arah Rivalein kemudian beralih menatap wajah Rachel yang masih meringis kesakitan karena Zenkra masih mencengkram lengannya. "Persetan dengan pertunangan bodoh ini! Gue ga peduli! Tidak ada orang yang boleh memiliki Rachel kecuali gue!"
"Kalau begitu, lo lupa? Lupa sama taruhan kita? Nilga, ingatkan psikopat yang satu ini soal taruhannya! Atau gue perlu umumkan supaya yang lain tau, termasuk Rachel?" Ravlein dengan bangga berujar membuat raut wajah Zenkra kewalahan begitu mendengar kalimat terakhirnya.
Taruhan? Gue? Rachel merasa ada yang tidak beres. Kemudian dia melepas cengkraman Zenkra ketika lengah dan melangkah mendekati Ravlein. "Taruhan? Gue? Apa maksudnya?"
"Hel... Aku bisa jelasin, tapi kita pergi dari sini dulu ya," ucap Zenkra dan langsung dibalas tatapan tajam oleh Rachel.
"Cukup, Kak! Gue perlu tau. Ravlein, apa maksud dari taruhan yang lo bilang tadi?" ujar Rachel dengan nada meninggi.
Tio yang sedang asik bermain-main dengan jalangnya, langsung datang ke lantai dansa begitu Aldo menginformasikan keributan yang terjadi. Tio juga mengintruksi agar Aldo dan orang-orangnya membubarkan pesta beserta para tamu undangan yang sedang seru melihat perdebatan tersebut.
"Siapa yang berhasil merebut first kiss kamu, akan berhasil menjadikan kamu sebagai 'milik'-nya. Dan yang kalah terpaksa harus menerimanya," jelas Ravlein.
"What?! Siapa aja yang terlibat?" tanya Rachel.
Tanpa ragu, Ravlein memberitahukan. "Aku, Zenkra, dan Nilga."
"Ini gila! Bodoh! Kalian menjadikan gue taruhan? Gue manusia yang punya perasaan, bukan hewan apalagi barang. Sampah lo semua!"
Air mata yang sudah Rachel bendung tiba-tiba saja jatuh dan mengalir deras, sepertinya kehancurannya tadi belum cukup hingga harus juga mengetahui fakta menohok ini. Rachel sudah tidak bisa lagi berada di tempat sialan itu. Kemudian dia berbalik dan berniat pergi sejauh-jauhnya. Namun baru berapa langkah, tangannya ditahan. "Biar gue anter, Hel."
"Lo sama aja!" ucap Rachel dengan tatapan kebencian dan menepis kasar tangan Nilga. Kemudian Rachel berlari keluar dan--
Ngikkk~
Sebuah mobil berhenti. Begitupun dengan Rachel yang sudah jatuh di aspal. Seluruh tubuhnya tak berdaya. Cahaya lampu mobil di depannya membuat penglihatannya memburam.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya sopir mobil tersebut.
Rachel mengangguk dan sopir itu membantunya beranjak dari posisi duduknya di aspal. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Biar saya antar."
***
Di sebuah ruangan yang sebelumnya Rachel masuki sudah berdiri Tio dan Zenkra saling berhadapan. Ternyata ruangan itu adalah ruang kerja Tio di kediaman Widyarta.
Plak!
"Anak bodoh! Berani-beraninya kau hancurkan nama baik Widyarta hanya karena seorang gadis!" bentak Tio setelah menampar keras wajah Zenkra hingga tersungkur ke lantai.
Zenkra bangkit berdiri. "Kau tidak dapat memaksa, aku tidak inginkan pertunangan ini."
Plak!
Tamparan kedua. "BODOH!!!"
"Kalau begitu, tidak ada pilihan lain." Tio menyeringai dan dapat dipastikan sisi psikopatnya sudah muncul. "Kau ingin aku menyiksanya? Atau membunuhnya?"
Dengan sekali sambar, kerah baju Tio direnggut oleh Zenkra. "Jangan coba-coba Pak Tua! Aku yang akan membunuhmu!" Zenkra menatap Tio dengan berkabut amarah, tidak dapat dipungkiri jiwa psikopat Tio menurun kepada Zenkra hingga mampu melakukan segala hal untuk melampiaskan amarahnya.
Tio menepis kasar cengkraman Zenkra dari kerahnya. "Turuti perintahku! Atau gadismu akan dalam bahaya. Putraku... Sudah kukatakan, musuhmu akan memperalatnya untuk mengancammu."
"Dan sudah kukatakan, kau adalah musuh yang mengancamku dengan memperalatnya!" bentak Zenkra.
"Waktumu tiga detik."
"Satu."
"Dua."
"Baiklah! Kau puas! Apa yang kau inginkan? Pertunangan ini berlanjut? Apapun, asal kau tidak menyentuh Rachel," pasrah Zenkra asalkan Rachel selamat dari cengkraman Tio. Dia tidak ingin hal yang terjadi pada Mamahnya dulu kini terjadi pula pada Rachel.
Tio memperlebar seringaiannya. "Good boy. Yang aku inginkan pernikahanmu."