Rachel

Rachel
Dihantam Chat Asing



Hal yang paling menakutkan adalah ketika sedih kembali menguasai, yang kuingat hanya satu. Gadisku, penenang di saat kendali diri tak lagi kugenggam.


Zenkra Anugerah Widyarta


***


Brak!


Bruk! Cringgg...


Takk!


Pintu dibanting dengan kasarnya. Seluruh benda di atas meja berhamburan. Kini ponsel sudah menghantam dinding sampai terbelah-belah anggota tubuhnya.


"Aldo, cepat siapkan jadwal penerbangan untuk malam ini!" perintahnya kepada pria berusia 48 tahun di ambang pintu.


"Tapi, Tuan Muda. Masih ada undangan celebration yang harus dihadiri dan tidak--" Pembicaraan diputus paksa.


"Saya tahu! Penerbangan malam ini setelah celebration." Tak terbantah.


"Baik, Tuan Muda."


Suasana begitu kacau di kamar ini. Begitu banyak barang yang berserakan hingga tak bisa digambarkan seberapa berantakannya.


Zenkra geram. Tangannya mengepal erat. Kedua tempurung tangannya mengalir darah segar. Raut wajahnya begitu tegas dan matanya membinar amarah. Siapapun yang mendekat akan siap diterkam. Pikiran berkabut banyak pertanyaan. Kondisi Zenkra benar-benar kacau, karena sebelumnya beberapa foto mendarat di personal chat. Entah dari siapa itu.


Jadwal kepulangan yang seharusnya lusa, dipercepat menjadi malam ini. Tidak peduli apapun. Yang terpenting sekarang adalah Rachel-nya.


Celebration berjalan lancar, meskipun banyak yang bertanya mengapa kedua tangan Zenkra dibalut perban. Dengan mudah dia mengganti topik dan bergegas menyelesaikan segala urusan di sini.


Zenkra adalah pewaris tunggal harta kekayaan keluarga Widyarta. Jangan ditanya seberapa banyak kekayaannya, karena itu sama saja membuang waktu, apalagi jika ingin menghitungnya.


Urusan perusahaan adalah hal biasa baginya. Menurut berita yang beredar, Zenkra akan mendapat promosi sebagai CEO setelah kelulusan SMA. Begitu hebat jika diingat dia masih berusia 18 tahun.


Acara yang diperkirakan selesai tengah malam, kini baru usai tepat pukul satu dini hari. Kegeraman Zenkra bertambah. Dia menyuruh Aldo menyiapkan pesawat pribadi secepatnya. Tanpa berani membantah, Aldo menyuruh maskapai menyiapkan penerbangan tercepat ke Indonesia.


***


06.00 WIB, SMA Cendera Satya.


Suasana kelas 11 IPA 1 masih sepi, hanya ada Rachel, Karin, dan beberapa anak kutu buku. Karin tidak ada perasaan kesal sedikitpun terhadap Rachel yang sibuk beberapa hari ini. Justru sekarang hatinya sedang berbunga-bunga. Hubungannya dengan Rasya begitu menyenangkan.


"Hel..." panggil Karin.


Rachel masih sibuk mencatat perihal persiapan tujuh belasan Agustus hari ini. "Hmm..."


"Menurut lo, Rasya tuh gimana?"


"Masih pagi, Rin. Ga usah cinta-cintaan." Rachel masih fokus sama kertas di genggamannya.


"Dekorasi, oke."


"Rundown, oke."


"Peralatan, oke."


"Hmm... Semuanya, oke."


Gumam Rachel pada dirinya sendiri. Tidak menggubris ekspresi Karin yang sedang cemberut karena tidak dihiraukan.


"Halo, Sa." Rachel menempelkan layar ponsel ke telinganya ketika panggilan terhubung.


"Persiapan kayanya udah oke semua nih. Kalau ada masalah, lo bisa calling gue aja."


"Siap, bu ketos." Sambungan diputus.


"Hahhh... Selesai juga nih, Rin. Sisanya tugas divisi terkait acara, tugas gue udah tinggal ngawasin mereka," ucap Rachel lega sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku.


"Alhamdulillah, Hel. Seneng gue, akhirnya bisa main sama lo lagi. Hehehe..."


"Maaf ya, Rin. Beberapa hari ini gue tinggal," ujar Rachel sambil mengelus puncak kepala Karin layaknya kepada anak kecil.


Karin cengengesan.


"Hai, Rin, Hel. Pagi..." sapa Rasya melambai dari ambang pintu menghampiri bangku Karin dan Rachel. Di belakangnya ada Nilga, tapi dia malah langsung melenggang ke bangkunya. Raut wajah Nilga begitu serius.


"Haii..." balas Karin senyum-senyum sambil melambai heboh ke arah Rasya.


Rachel tersenyum ramah ke Rasya, dan mengalihkan perhatian ke arah Nilga yang kini beranjak pergi ke luar kelas setelah menaruh tasnya.


Rachel mengerutkan kening. Dia pun akhirnya juga beranjak pergi mengikuti Nilga dengan membawa paper bag berisi sweater Nilga.


Nilga terus berjalan tanpa mempedulikan sekeliling. Bahkan dia tidak menyadari Rachel yang tengah mengikuti.


Rachel semakin bingung. Nilga tidak seperti biasanya. Langkah Nilga besar-besar membuat Rachel kesulitan menyusul. Dia tidak mungkin berlari kalau situasinya begini.


Taman? Batin Rachel tambah bingung ketika sampai di taman belakang sekolah.


Di sana Nilga menemui seseorang.


Siapa?


***


Pagi ini Nilga dihantam sebuah chat dari orang yang menurutnya tak akan pernah mungkin menghubunginya.


Beberapa kali Nilga mengerjapkan mata. Dia baru turun dari motor besarnya bersama Rasya yang juga turun dari motor besar miliknya sendiri. Setelah itu pesan chat masuk.


Sebelum membuka pesan tersebut, Nilga meyakinkan diri bahwa ini bukanlah mimpi. Rasya sengaja tidak diberitahu mengenai hal ini.


Di depan kelas 11 IPA 1, Rasya masuk duluan. Sedangkan Nilga menyempatkan diri membuka pesan tersebut sebelum masuk ke dalam kelas.


Nilga meneguk salivanya. Raut wajahnya mendadak serius. Buru-buru dia masukan ponsel ke dalam saku celana.


"Hai, Rin, Hel. Pagi..." sapa Rasya kepada Rachel dan Karin.


Nilga menatap Rachel sebentar dan memutuskan melenggang pergi ke bangkunya. Dia menaruh tas dan kembali beranjak ke luar kelas.


Di pikiran Nilga terngiang isi pesan chat tadi.


08xxxxxxxxxx : Temuin gue sekarang di taman belakang sekolah. Gue benci menunggu.


Meski nomornya tidak tertera nama, Nilga bisa menebak nomor siapa itu.


Dia menyusuri koridor tanpa menggubris sapaan dari orang yang dilewatinya. Satu tujuannya, taman belakang sekolah.


Ketika di sana, langkah Nilga mendekat dan menampakkan seseorang yang tengah berdiri menunggu.


'Ternyata memang dia,' pikir Nilga.