Rachel

Rachel
Berita Buruk



Sekarang aku mengerti, ketika gelap menguasai saat mengetahui orang yang tersayang mendadak bisu tak mampu bersuara. Raga ada, namun jiwa tak berdaya hanya sekedar untuk membuka dari pejam yang begitu menyiksa.


Adinda Rachel Karenina


***


Hari Senin. 06.30 WIB.


"Halo..."


"Halo, Tante..."


"..."


"Iya, Tante. Rachel akan ke sana."


Tin... tin...


Tak berapa lama sambungan telepon terputus, sebuah mobil berwarna putih sampai di depan rumah. Dengan langkah berlari kecil, Rachel segera masuk ke mobil tersebut.


"Non Rachel sudah ditunggu di sana," ucap pengemudi di sebelahnya.


"Iya, Pak. Tolong cepat sedikit ya, Pak," balas Rachel dengan sebuah raut wajah panik.


***


Groomm... groomm...


Sebuah motor gede terparkir di pekarangan. Sang pengemudi turun.


Tok, tok, tok...


"Assalammu'alaikum."


Tok, tok, tok...


"Duh... ga ada orang apa nih ya."


Tak lama.


"Sebentar... sebentar..."


Jegrug!


"Eh, Den nyariin Neng Rachel ya?"


"Iya, Bi. Rachelnya ada?"


Bi Imah menggaruk tengkuknya, "anu... Den, Neng Rachel baru aja berangkat."


Zenkra menyalamin tangan Bi Imah. "Oh gitu, Bi. Terima kasih ya, assalammu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Den."


Zenkra menaiki motornya dan berniat pergi ke sekolah. Sedangkan Bi Imah berniat melanjutkan rutinitasnya beres-beres rumah.


Jegrug! Bi Imah menutup pintu dan Zenkra melajukan motornya.


Di SMA Cendera Satya.


Dengan siul menyertai langkah dan senyum sumringah Zenkra membuat yang melihatnya akan terpesona seketika. Zenkra memasuki kelas.


"Eh, Zenkra. Tumben lo senyum-senyum begitu," sapa seorang perempuan yang berpapasan dengannya.


"Iya dong... Kita harus semangat mengawali hari," balas Zenkra dengan senyum yang tak luntur.


Manik mata Zenkra celingukan menyapu seluruh penjuru kelas. Tidak ada, batinnya.


"Cha, Rachel mana?" Tanya Zenkra pada perempuan tadi, yang tidak lain adalah Silcha Rameldant. Seketika raut muka Silcha berubah kusut.


"Gue pikir lo ke kelas gue buat ketemu gue," ucap Silcha dengan bibir manyun cemberutnya.


Zenkra mengelus puncak kepala Silcha dan berkata, "bosen ketemu lo mulu, mana Rachel?"


Dengan kasarnya, Silcha menepis tangan Zenkra. "Ga tau. Ngapain lo tanya gue?"


"Jangan kasar-kasar dong, Cha... Rachel belom ke kelas emang?" Tanya Zenkra lagi, menuntut jawaban dari Silcha.


"Belom tuh. Dia lagi pacaran kali sama Nilga," jawab Silcha asal.


Zenkra membelaklakan matanya, "Nilga mana?"


Dengan santainya Silcha menunjukkan telunjuknya ke arah luar kelas. "Di podium lapangan utama."


Dengan langkah tergesa Zenkra meluap-luap dengan berbagai sumpah serampah.


Langkahnya berhenti disertai hentian sumpah serampahnya. Dia mendapati Nilga di podium, namun dimana Rachel?


***


Lambat laun tangis gadis itu berubah menjadi isakan dan dengan sesegukan yang juga ikut hadir mengisi keheningan suara.


Garnisa tak kuasa menahan air matanya untuk tidak tumpah. Ditambah isakan gadis di sebelahnya yang dengan mudah menggoyahkan niatnya mencoba tegar.


Hiks, hiks, hiks...


Air mata menetes tanpa permisi di kedua pipi Garnisa. Lain halnya dengan gadis di sebelahnya yang sudah bermandikan linangan air mata yang mengalir tak henti-henti.


Kaki gadis itu mendadak lemas dan membuatnya terduduk di lantai rumah sakit. Garnisa yang menyadari hal itu, kini ikut terduduk sambil memeluk gadis itu.


Tangannya mengelus punggung dan rambut sang gadis. Dan justru memperderas air mata untuk terus mengalir.


Gadis itu kembali terisak.


Hiks, hiks, hiks...


"Tante..."


"Mamah... kenapa... Tan...?" Hiks, hiks...


Ucapan gadis itu tersendat-sendat diselingi sesegukan. Garnisa sungguh merasa kasihan kepada gadis di hadapannya. Seragam yang masih melekat di tubuhnya kini sudah tidak karuan.


"Kamu yang sabar ya, dokter sedang memeriksa keadaan Mamah kamu." Garnisa tersenyum getir di hadapan gadis itu, berharap dia mengerti bahwa mereka harus tetap tenang hingga dokter keluar ruangan.


Gadis itu kembali mengeratkan pelukannya ke Garnisa. Tak lama pelukan mereka terurai ketika seorang laki-laki berjas putih keluar dengan wajah yang tampak kusut.


"Bisa saya bicara empat mata dengan keluarganya di ruangan saya?" Ucap dokter itu.


"Baik dokter, saya akan menyusul," balas Garnisa.


Garnisa menatap lekat pada kedua manik mata gadis itu dan berkata, "Tante akan menemui dokter. Tolong kamu jaga Mamahmu sebentar, Tante akan segera kembali."


Gadis itu mengangguk dan melenggang menuju pintu kamar yang sebelumnya dipandangi.


Ngikkk...


Pintu didorong dan gadis itu masuk menghampiri wanita yang tengah terbaring tidak sadarkan diri. Aroma obat menyeruak ke indera penciumannya.


Air mata yang semula sempat berhenti, kini kembali menghiasi wajah cantik gadis itu.


Dia mendudukan diri di kursi sebelah ranjang. Air matanya terus bergulir bersamaan dengan tangan kanannya yang terus bergerak. Menyentuh wajah yang sedikit berkerut nan pucat, mengelus puncak kepala wanita itu, dan berakhir menggenggam tangannya.


Gadis itu beranjak bangun dan membungkukkan badannya untuk mencium kening Mamahnya.


Cup. Tes.


Setetes air mata tanpa sengaja jatuh di wajah sendu Mamahnya. Kini gadis itu kembali duduk dengan terus menggenggam erat tangan Mamahnya.


"Mah... Rachel kangen..."


"Rachel mau melihat wajah berseri Mamah, bukan wajah pucat seperti ini."


Tak ada jawaban. Sunyi menyeruak, diisi isakan gadis yang mencoba berbicara kepada wanita yang sedang terpejam.


Hiks, hiks... Tangannya mengelap air mata di pipi, namun tetap sia-sia karena kembali berganti dengan air mata baru yang terus meluncur turun.


"Bangun, Mah... bangun..."


"Rachel ga punya siapa-siapa lagi di rumah."


"Papah kan sudah tiada... Hiks... Hiks... Mamah masa tega ninggalin Rachel sendiri... Hiks... Hiks... Mah... bangun Mah..." suara lirih Rachel memohon agar Mamahnya bangun dan membuka mata. Namun tak ada respon dari yang dipanggil.


Kepala Rachel dibenamkan ke genggamannya pada tangan Mamahnya. Menciumi tangan itu bertubi-tubi dengan lembut, hatinya teriris sedikit demi sedikit membayangkan hidupnya nanti.


Tak juga air mata mereda. Tak bisa. Layaknya kran air yang sudah tidak bisa ditutup.


Ngikkk...


"Rachel..." panggil seseorang yang baru saja memasuki kamar itu.


Rachel hanya mampu menatap dengan wajah sendu. "Tante..."


Garnisa menghampiri Rachel, mengelus punggung Rachel agar tenang, dan mengecup puncak kepala Rachel lama.


"Bagaimana... Mamah... Tan?" Sesegukan masih menyertai tangisnya.


"Tanteee..." Rachel memanggil, beranjak berdiri menggoyang-goyangkan tubuh Garnisa yang tetap diam membisu.


Hati Rachel tidak bisa tenang lagi. Apa yang terjadi? Kelabu menyertainya, tetes demi tetes air mata yang bersuara. Kakinya melemas membuatnya terduduk di lantai.


Garnisa ikut terduduk dan memeluk erat tubuh Rachel. "Kamu yang sabar, Hel. Biarkan Mamahmu istirahat dengan tenang."


Seketika hujaman pisau mendarat di dadanya. Sakit dan sesak. Kepalanya seperti ditimpuk ribuan batu. Pening. Tenggorokannya tercekat. Kata-kata Garnisa sukses menghantam tubuh Rachel dengan keras dan membuat penglihatannya mengabur dan gelap menguasai. Saat itu juga, Rachel tidak sadarkan diri.