Rachel

Rachel
Jebakan Anak Modelling



Mereka berbeda. Bukan karena asupannya, hartanya, atau parasnya. Melainkan yang berbeda adalah cara berpikirnya, pembicaraannya, atau caranya memandang sesuatu hal.


Adinda Rachel Karenina


***


13 September 2019. Jam istirahat kedua.


Waktu yang menunjukkan hari ini dan tepat seperti yang tertera dalam undangan. Rachel berjalan beriringan dengan Silcha menuju lapangan utama. Jantung Rachel berdegup tak tentu arah. Mengedarkan pandangan ke sekitar dan mendapati ramai di sini.


Berita undangan special member untuk Rachel sudah tersebar ke seluruh penjuru SMA Cendera Satya. Setiap tahun selalu ada, namun skandal tahun lalu seperti yang diceritakan Karin tempo hari membuat keadaan menjadi luar biasa ramai. Para murid penasaran dengan peresmian special member kali ini.


Sedikit informasi, Karin berkata, jika ekskul modeling selalu open recruitment untuk anggota baru setiap awal tahun ajaran. Namun, selalu ada yang disebut sebagai special member yang diundang, bukan mendaftar. Seperti Rachel sekarang. Entah apa yang menjadi kriterianya, tapi yang dipilih selalu cantik dan sewaktu-waktu bisa kapanpun ketua ekskul berkehendak memberikan undangan untuk mereka yang katanya 'beruntung'.


Sania memang sudah mantan ketua ekskul, namun selagi masih bersekolah di SMA Ceniya, dia masih memiliki wewenang untuk memilih satu special member setiap tahunnya. Sedangkan Raline adalah ketua ekskul modeling yang baru, periode 2019/2020. Namun entah mengapa dia tidak menggunakan wewenangnya tahun ini. Mengingat namanya membuat Rachel ikut teringat tindakan bullying dulu.


"Aduh... Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang..." Sania berucap dengan kedua telapak tangan disatukan dan menyentuh pipi kanan.


"Halo, Rachel, selamat bergabung," sapanya dengan tangan terulur untuk berjabat tangan.


"Halo, Kak. Iya, terima kasih," balas Rachel dan menerima uluran tangan.


"San, rambut lo putih? Setelah istirahat kedua kan ada kelas." Silcha bertanya ketika melihat warna rambut mencolok Sania. Mereka dekat, jadi tidak perlu embel-embel 'Kak' dari Silcha. Di SMA Ceniya masih memperbolehkan rambut berwarna hitam dan coklat, namun Sania dengan santainya mengecat rambut berwarna putih.


"Peresmian kali ini akan berbeda, Cha. Gue sama Raline udah minta izin ke pihak sekolah supaya free class sampai pulang karena acara peresmian kita kali ini akan ditambah beberapa kejutan lainnya untuk warga SMA Ceniya."


"Kejutan? Maksudnya, San?" Silcha bertanya lagi.


Jari telunjuk Sania memanggil Raline yang tengah duduk di kerumunan anak ekskul modeling. Rachel hanya mampu menatap bisu gerak-geriknya.


"Yang lain udah siap, tinggal Rachel sama lo, Cha." Terlihat anggota ekskul modeling sudah menggunakan pakaian bebas dengan full make up. "Raline, bantu Rachel siap-siap. Lo juga, ayo gue bantu siap-siap, Cha."


"Siap, Kak." Raline tersenyum ke arah Rachel seolah tidak pernah terjadi apa-apa dulu.


Sania tersenyum ramah ke arah Rachel, "nanti sistematisnya bakal dijelasin sama Raline ya, Hel."


"Iya, Kak." Rachel membalas tersenyum namun dengan kikuk. Kak Sania sama Raline cantik banget... batin Rachel.


"Yaudah, ayo kita ke ruang modeling," ajak Sania.


***


Mereka sampai di ruang modeling dan mata Rachel langsung tertuju pada salah satu spot ketika Sania bersuara.


"Hel, pilih satu baju yang mau lo pakai," intruksi Sania. "Raline, bantuin Rachel make up."


Kini sudut mata Sania beralih ke Silcha.


"Cha, ayo ganti background-nya jadi hitam."


Sania dan Silcha mengganti background. Sementara Rachel memilih baju, setelah itu Raline mengajak Rachel ke ruang make up.


"Wahh... Banyak banget..." takjub Rachel ketika melihat meja rias yang dipenuhi make up di atas meja, maupun di setiap lacinya.


"Itu belom seberapa, masih banyak stok make up di persediaan," ucap Raline. "Oh iya, Hel... Soal bullying dulu gue minta maaf. Waktu itu gue cuma iri sama lo. Dan sana ganti baju lo di situ." Raline menunjuk ruang ganti dan Rachel berjalan ke sana setelah mengangguk.


Tak lama, Rachel ke luar dan dipersilahkan duduk oleh Raline. "Duduk, Hel. Biar gue bantu dandan."


Rachel hanya mengikuti instruksi.


"Sana, Cha. Ganti baju, abis itu make up," ucap Sania ketika dia dan Silcha memasuki ruang make up.


***


Silcha sudah rapi dengan pakaian bebas dan make up-nya, begitupun dengan Rachel.


"Coba lo ke tempat foto, Hel. Gue mau liat lo sebagai model." Lagi-lagi Sania mengintruksi.


Rachel berjalan ke sana dan ber-pose memegang belakang kepala bak model majalah. Kemudian mengubah-ubah pose-nya seolah sedang photo shoot.


Sania, Silcha, dan Raline melihat Rachel dari kejauhan.


"Gila... Gue dandanin asal aja dia cantik," seru Raline tersenyum sinis.


"Emang dia udah dasarnya cantik, makanya Zenkra naksir," sergah Sania. "Pemilihan bajunya oke juga. Simple, but elegant..."


"Tapi tetep cantikan gue. Lagian Zenkra sama Nilga juga ga masuk sekolah. Kita ga perlu khawatir sebenernya kalau mau ngerjain dia," suara Silcha.


"Yaudah nanti aja, kita acting jadi baik dulu sebentar. Bikin dia percaya kalau kita ga ada niatan buruk ke dia." Sania berucap sambil bertepuk tangan, diikuti yang lainnya. Mereka berjalan menghampiri Rachel. "Bagus, Hel. Selamat ya... Ga sia-sia gue jadiin lo special member tahun ini."


"Lo cantik banget, Hel," seru Raline.


"Iya, lo emang udah bakat jadi model deh kayanya," ucap Silcha dengan kekehan.


"Yaudah... Kita ke lapangan utama. Yang lain udah nunggu lama." Sania menggiring mereka ke lapangan utama.


Di sepanjang jalan menuju lapangan utama Raline menjelaskan sistematis acara kepada Rachel dan Silcha. Semua anggota ekskul modeling mengenakan pakaian didominasi putih, sedangkan Rachel sebagai center memakai baju berwarna beda, hitam. Mereka akan melakukan fashion show di lapangan utama.


Sania bertepuk tangan. "Ayo semuanya kumpul. Kita buat takjub warga SMA Ceniya dengan pesona kita. Semangat semua!!!"


Mereka menumpuk tangan kanan, begitu juga Rachel. Lalu diserukan, "CENIYA MODELING... WAITING US!!!"


Begitulah sorakan anak ekskul modeling sebelum acara atau lomba. Mereka mengambil posisi sesuai yang sudah diintruksikan dan mulai satu per satu berjalan layaknya model papan atas.


Semua mata tertuju antusias dengan kumpulan gadis cantik yang sedang ber-pose. Seringkali tepuk tangan bergemuruh. Kini semuanya dibuat terpukau dengan penampilan special member tahun ini, Rachel, yang begitu cantik dan mulai ber-pose layaknya model profesional. Bahkan Sania, Silcha, dan Raline tak percaya dibuatnya. Tidak ada persiapan bagi Rachel untuk ini.


Dari jarak yang cukup jauh, Karin dan Rasya menonton. Karin begitu antusias melihat sahabatnya sambil sesekali bersiul. Sedangkan Rasya selalu dengan tingkah hebohnya yang kini menjadi pemandu sorak meneriaki nama Rachel.


Acara semakin meriah dan diakhiri dengan penyerahan selempang peresmian bertuliskan 'Beauty Outside and Inside, Rachel'.


Semua murid bertepuk tangan ketika Sania memasangkan selempang tersebut kepada Rachel. Dengan begitu Rachel secara resmi dinobatkan sebagai anggota modeling.


***


23.00 WIB


"Guysss, bersulang untuk anggota baru kita, Rachel..."


Raline mengajak semua orang untuk bersulang. Mereka melanjutkan acara peresmian dengan clubing di tempat biasa kumpul, di ruangan private yang hanya berisi mereka.


"Ayo dong, Hel... Minum... Sekali aja buat ngerayain peresmian lo..." ucap Silcha setengah berteriak karena bising musik yang mengalun. "Dikit aja, Hel... Dikit... Ga akan bikin lo mabuk kok..."


Rachel tampak ragu, namun tetap meneguk alkohol di tangannya. Kemudian pikirannya melayang, entah berapa persen alkohol yang barusan dia teguk.


"Abisin... Abisin... Abisin..." teriak semua orang dan tanpa ragu Rachel menandaskan alkohol di dalam gelas.


Kini pikirannya sudah tidak lagi jernih dan dia mulai berjoget mengikuti tempo cepat musik. Kepalanya pusing, namun pikirannya melayang-layang. Tubuhnya oleng dan jalannya sudah tak tentu arah, begitupun yang lainnya. Ini pertama kali bagi Rachel, membuatnya lebih mabuk dibanding yang lain.


Di sela jogetnya, penglihatan Rachel memburam dan samar-samar terdengar suara gebrakan.


Brak!


***


"Uhhh..."


Suara pertama yang terlontar dari mulut Rachel dengan tangan memegang kepala yang terasa berdentum keras. Beberapa kali Rachel mengerjapkan mata, memfokuskan penglihatan.


"Udah bangun?" tanya suara serak laki-laki di sampingnya.