Rachel

Rachel
Tiga Surat Peninggalan



Last, but not least...


***


"Waktumu tiga detik."


"Satu."


"Dua."


"Baiklah! Kau puas! Apa yang kau inginkan? Pertunangan ini berlanjut? Apapun, asal kau tidak menyentuh Rachel," pasrah Zenkra asalkan Rachel selamat dari cengkraman Tio. Dia tidak ingin hal yang terjadi pada Mamahnya dulu kini terjadi pula pada Rachel.


Tio memperlebar seringaiannya. "Good boy. Yang aku inginkan pernikahanmu."


"Apa maksudmu?" tanya Zenkra dengan wajah sedatar mungkin.


"Apa lagi? Pernikahanmu, setelah kau mendapat gelar magister," ucap Tio dengan senyuman yang tidak luntur. "Aku tidak ingin memiliki anak yang bodoh tentunya, selesaikan cepat pendidikanmu dan segera menikah."


"Dengan siapa? Rivalein?"


"Hubungan dengan keluarga Karaka sudah kau hancurkan. Bagaimana mungkin mereka mau menikahkan anaknya denganmu?"


"Lalu siapa?"


"Kau akan mengetahuinya nanti."


***


Gue dimana?


Untung aja bangun di tempat sebagus ini, bukannya di kolong jembatan.


Rachel menatap sekeliling. Meskipun asing, namun kamar ini begitu bagus baginya.


"Gue suka banget kamar ini, seandainya bisa jadi kamar gue," gumam Rachel.


"Ini memang kamar anda, Nona Rachel."


Seorang pria paruh baya menghampiri Rachel, dia adalah sopir mobil yang hampir menabrak Rachel semalam.


"Kamar saya? Maksudmu apa?"


"Ini kamar anda, Nona. Saya ke mari hanya ingin memberitahu bahwa Nona sudah ditunggu untuk sarapan. Bi Kara akan membantu Nona bersiap-siap." Pria itu semakin membuat Rachel bingung. Belum sempat Rachel bertanya, pria itu sudah lebih dulu pamit undur diri. "Saya permisi, Nona."


***


Rachel sudah membersihkan diri dan menggunakan sweater merah yang sudah disiapkan Bi Kara untuk melengkapi outfit casual-nya. Sejujurnya dia masih bingung dengan segala hal yang terjadi.


Apakah kejadian semalam hanya mimpi?


Atau sekarang mimpi gue masih berlanjut?


Dimana ini?


Bagaimana dengan Kak Zenkra, Nilga, Ravlein? Taruhan mereka? Dan perasaan gue?


Sebenarnya apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi?


Rachel menuruni anak tangga satu per satu hingga sampai di ruang makan yang begitu megah layaknya ruang makan kerajaan (?)


Oh... Bahkan gue aja ga pernah tau bagaimana megahnya ruang makan kerajaan.


Rachel yang sudah bingung, kini bertambah bingung menatap orang-orang yang sudah duduk di kursi masing-masing di ruang makan. Rachel yakin bahwa di sana ada sepasang suami-istri yang seumuran dengan Mamahnya.


"Mamah?" Rachel tak percaya ketika melihat Mamahnya duduk di salah satu kursi, berdekatan dengan sepasang suami dan istri yang barusan Rachel lihat.


Manik mata Rachel bergulir menilik ke sisi lain. "Dan... Silcha?"


Wah... Apa-apaan ini? Siapapun bangunkan gue. Mimpi macam apa ini?


"Oh, hai... Adinda Rachel Karenina." Silcha menyapa Rachel dengan menyebut nama lengkapnya. Namun seketika setelahnya, senyum Silcha mengembang.


"Upss, ralat. Adinda Rachel Karenina... Rameldant?" Silcha menyeringai ketika menyebut marga keluarganya disematkan pada nama Rachel.


***


Bandara Soekarno-Hatta.


"Kamu yakin, Sayang?"


"Tentu saja. Mamah ga usah khawatir," jawab Rachel.


"Oke, oke. Mamah hanya ingin memastikan kamu benar-benar sudah yakin dengan keputusanmu. Kamu yakin akan ikut Mamah menetap di Korea Selatan?"


"Iyap."


"Ehem." Rachel berdeham mengiyakan.


"Kamu akan sulit bertemu temanmu di Indo."


"Tidak masalah." Rachel menatap Mamahnya lekat. "Oh... Ayolah, Mah. Kita sudah mendiskusikan ini."


"Bagaimana dengan sahabatmu, Karin?"


"Aku sudah mengirimkannya surat mengenai kepindahanku. Mungkin dia akan guling-guling di lantai setelah membacanya." Rachel dan Claresta terkekeh.


"Bagaimana dengan Zenkra? Nilga? Dan Ravlein?"


Pertanyaan itu membuat Rachel berpikir sejenak. Bagaimana Claresta bisa mengetahuinya? Rachel-lah yang menceritakan semuanya kepada Claresta.


"Itu sudah kuurus." Seperkian detik Rachel berucap, senyumnya mengembang.


***


Widyarta Apartment.


"Tuan Muda, anda mendapat surat."


"Dari siapa?"


Aldo membolak-balik secarik amplop tanpa nama di tangannya. "Saya tidak tahu, Tuan Muda."


"Baiklah, berikan kepada saya."


Aldo menyerahkan amplop tersebut dan Zenkra menemukan secarik kertas kecil berbentuk persegi di dalamnya.



"Oh... Kau bahkan pergi tanpa ingin aku peluk rupanya. See you soon... Aku tunggu waktu yang tak dapat kau katakan itu." Zenkra mengulas senyum membaca terus dan terus surat itu, selalu, ketika dia merindukan si pengirimnya.


***


Kediaman Adyatama.


"Surat..." teriak seorang kurir di depan gerbang Nilga. Seorang penjaga gerbang membukakan pintu gerbang. Kebetulan Nilga pun ingin pergi mengendarai motornya menuju suatu tempat.


"Untuk siapa, Pak?" tanya Nilga pada kurir tersebut.


"Untuk Nilga Putra Adyatama."


Kurir itu menyerahkan surat kepada Nilga yang sudah lebih dulu mengulurkan tangan memintanya.


"Buat gue? Udah lama ga dapet surat dari fans," gumam Nilga ketika membolak-balik sisi amplop dan tidak menemukan nama pengirim.


Nilga membuka rekatan amplop dan mengeluarkan secarik kertas berbentuk persegi.


"Uwah... Pink, jangan-jangan beneran surat cinta," gumam Nilga ketika mendapati warna surat tersebut adalah 'pink'.



Setelah matanya membaca setiap kata isi surat, mulutnya bergumam lagi. "Gue emang baik. Semoga lo pergi ga terlalu lama, Hel. Gue janji."


***


Karaka Group.


"Anda mendapatkan surat, Tuan Ravlein," ucap seorang wanita yang merupakan sekretarisnya di kantor.


"Dari siapa, Sa?" Lisa--Nama sekretaris Ravlein.


"Tidak ada namanya, Tuan," ucap Lisa ketika tidak menemukan sepotong pun nama pengirim di tepi amplop.


"Kemarikan."


Sebuah amplop sudah berpindah tangan. Tanpa ragu Ravlein membukannya dan mengeluarkan secarik kertas persegi dari dalam amplop.



Ravlein terkekeh ketika membaca beberapa kalimat pertama dan mulai bergumam, "baiklah, aku tidak akan menertawakanmu."


"Apa, Tuan? Anda bicara dengan saya?" tanya Lisa yang masih berdiri di depan Ravlein.


"Oh, tidak, Sa. Saya menertawakan gadis cantik yang mengirim surat ini. Kau boleh melanjutkan pekerjaan."


Lisa tersipu malu sebelum keluar ruangan. Faktanya bahwa yang mengirim surat itu dari kurir ke Ravlein adalah dirinya. Apakah Tuan mulai jatuh hati padaku?


Padahal nyatanya, Ravlein menertawakan setiap kalimat yang termuat di surat. Sungguh wanita, mudah sekali terjerat dalam ke-baper-an.