
Maaf, pertahananku runtuh. Hanya dengan melihat, mendengar, dan berada di setiap hal terkait dirimu.
Nilga Putra Adyatama
***
Nilga's POV
"Halo... Lo dimana sekarang?"
"..."
"Jangan kemana-mana! Tunggu di situ."
Gue melajukan motor dan membelah jalanan sepi dengan situasi tengah malam. Hingga sampai di sebuah halte, gue melihat perempuan berbaju putih, rambut tergerai, dan arah pandangnya menunduk menatap ke tanah. Dia terduduk sendirian di halte yang sepi. Entah apa yang akan terjadi jika gue tidak datang menjemputnya.
"Lo ngapain sih keluar sampai larut malem begini?" tanya gue dengan amarah mungkin hingga terdengar membentak.
"Nilga... Lo dateng?" panggilnya lirih serta tanya akan kedatangan gue yang jelas-jelas sudah ada di depannya.
"Iya," ucap gue singkat.
"Lo katanya lagi sibuk..." ucap perempuan itu dan kini tatapannya menunduk kembali. "Emang gue tukang nyusahin. Maaf ya..."
Hah... Gue menghembuskan napas kasar. Kini gue setengah berjongkok di depan perempuan itu. Namun tatapannya tetap menunduk.
"Ga nyusahin kok, Hel... Gue cuma bohong tadi pas bilang sibuk," kata gue selembut mungkin.
Rachel mengangkat wajahnya dan membuat kedua manik mata kita bertemu, gue bisa melihat ekspresi ketakutan ada di wajahnya.
"Makasih udah dateng, dari tadi gue takut nunggu sendirian di sini," ucapnya disertai senyum getir, menceloskan jantung gue yang sudah berpacu cepat.
"Iya... Ayo pulang," ucap gue sambil mengulurkan tangan. Rachel menatap tangan gue dan kemudian beralih menatap wajah gue. Tangannya terangkat, sepertinya akan membalas uluran tangan ini. Namun...
Drettt... Drettt... Drettt...
Shit!
Ponsel di tangan kirinya bergetar dan menampilkan nama orang yang paling gue benci.
Zenkra is calling...
Rachel menatap gue dan seperti tahu perubahan raut di wajah gue.
"Angkat aja," ucap gue pelan seolah menekan amarah agar tidak mencuat.
Di luar dugaan, alih-alih menekan tombol hijau, Rachel justru menekan tombol merah dan mengambil tangan gue.
"Ayo pulang," ajaknya.
Jantung yang sebelumnya berdegup karena amarah, kini lebih kencang pacuannya karena sikap Rachel. Senyum gue terukir sesaat. "Ayo."
***
Seorang laki-laki mengacak rambutnya frustasi. Pikirannya berkecamuk menerawang apa yang sedang terjadi. Panggilannya diabaikan.
Zenkra menyandarkan dirinya di bangku kemudi, matanya menatap tajam ke arah ponsel yang menampilkan kalimat 'Cewek Gue' , beserta sederet nomor yang sudah Zenkra hapal meski tidak ada namanya sekalipun.
Dia kini berfirasat sesuatu hal pasti terjadi. Pasalnya, seorang Rachel tidak pernah menghubungi dia duluan sebelumnya, apalagi ini di tengah malam. Beberapa panggilan terabaikan, Zenkra mengusap wajahnya kasar.
"Shit! Ada apa ya?" gumamnya pelan bertanya pada diri sendiri.
Dia berpikir semua sebab Silcha yang tanpa sengaja membuat ponselnya bermode getar. Hingga dia tidak tahu ada panggilan masuk beberapa kali ke ponselnya. Silcha meminjam ponsel Zenkra dan berkata bahwa ponselnya berisik hingga mengubahnya ke mode getar.
"Hei... Jangan terlalu dipikirin. Kalau terjadi sesuatu sama Rachel, pasti dia telpon lagi," ucap Silcha yang mengibaskan tangan di depan wajah Zenkra. "Dia ga angkat telpon mungkin karena udah ga ada masalah apa-apa."
"Kalau dia marah sama gue gimana, Cha? Gue harus temuin dia besok, jelasin ke dia."
"Ga usah!" Sergah Silcha. "Eh, maksud gue... Dia kan orangnya cuek, ga peduli juga mau lo jelasin sampai mulut lo berbusa sekalipun."
"Iya sih. Lo ada benernya juga, Cha," kata Zenkra, namun hatinya tidak tenang.
"Udah tenang aja. Besok gue cari tahu dia kenapa, lo ga perlu khawatir. Terakhir kali lo telponin dia terus, dan berakhir di-block. Lo mau kena block lagi?"
"Enggaklah."
"Yaudah, serahin semuanya ke gue. Dan..." Silcha menggantungkan kalimatnya, kemudian mengecup pipi Zenkra sekilas. "Makasih udah jemput dan nganterin gue pulang."
Zenkra tidak marah ataupun kesal, walau terkadang merasa risih. Silcha memang sering berlaku seperti itu, dan bagi Zenkra, itu hanya bentuk kasih sayang antarsahabat. Mana mungkin Silcha suka sama sahabatnya sendiri, pikir Zenkra. Silcha sering bilang:
Gue suka sama lo.
Lo ga mau jadiin gue pacar?
Pacaran yuk, Kra.
Dan masih banyak lagi. Namun, Zenkra sangat paham kalau itu semua bercandaannya Silcha yang senang sekali menggoda dia.
"Iya, sana masuk. Lain kali kalau belanja jangan lupa waktu sampai larut malem begini."
Silcha tersenyum lebar mendapati perhatian dari Zenkra.
Silcha keluar mobil dan berkata, "selamat malem, Husband. Gue tunggu di kamar, hehehe..."
"Ish... Bisa ga sih, lo ga ngeledekin gue terus," kata Zenkra mendengus kesal.
"Oke, oke. Peace... Sayang, aku tidur duluan ya..." ucap Silcha dan terkekeh lagi.
"Geli gue dengernya. Gue balik, Cha." Zenkra melajukan mobilnya dan membelah jalanan malam.
Silcha masih berdiri memandangi mobil Zenkra yang semakin lama semakin menjauh dan lenyap dari pandangannya.
"Kenapa sih lo selalu menganggap ini bercandaan?" lirih Silcha, mengusap air mata yang menetes di pipinya.
***
"Makasih, Ga."
Nilga mengangguk dan menerima helm yang sudah Rachel lepas. Kini dia bersiap melajukan motornya. Namun tangan kirinya ditahan oleh Rachel.
"Ga... Lo masih marah sama gue?" tanya Rachel. Sedangkan Nilga diam.
"Gue minta maaf, gue tahu, kalau gue salah udah mengabaikan lo waktu itu. Setiap kali gue mencoba deketin lo dan mau minta maaf, lo selalu menghindar. Pliss, Ga... Maafin gue..." ucap Rachel lirih dengan kepala menunduk.
Rachel semakin merasa bersalah, karena Nilga dengan baiknya mau menjemput dia di halte busway saat tengah malam begini.
"Pliss, Ga. Tidur gue ga nyenyak kalau lo belom maafin gue," pinta Rachel dengan suara bergetar dan siap untuk menangis.
Nilga yang menyadari itu, kini mengangkat dagu Rachel. Menghadapkannya agar dia dapat menatap wajah Rachel.
"Tanpa lo minta, gue udah maafin lo. Tapi, hati gue masih sakit, perlu waktu buat sembuh. Kalau gue terus-terusan deket dan ngobrol sama lo, mana bisa gue move on."
Ucapan lembut Nilga sukses meloloskan air mata Rachel. Kenapa cowok di depan gue ini baik banget?
Nilga yang melihat itu, kini memeluk Rachel. "Jangan nangis, gue ga marah sama lo..."
Bibir Rachel bergetar, tangisnya terisak. "Gue... Jahat banget ya... udah nyakitin orang sebaik lo... Ga..." Rachel berucap di sela isaknya.
Nilga mengelus puncak punggung Rachel dan beralih mengelus lembut rambut perempuan itu yang tergerai sebahu. Mana bisa gue marah sama lo, Hel... Lo begitu menjatuhkan gue di dalam perasaan ini, sampai gue merasa seburuk apapun lo, gue ga bakal bisa marah lama-lama.
Nilga melepas pelukan dan mengusap bekas air mata di wajah Rachel. Dengan kekehan, dia berucap, "kalau lo nangis begini, nanti predikat 'cewek jutek' lo hilang... Diganti jadi 'cewek cengeng'..."
"Hahaha... Sialan lo!" sahut Rachel sambil menampar bahu Nilga tanpa belas kasih.
"Eh, gue ralat... Predikat baru lo sekarang adalah... cewek..." Nilga menggantungkan kalimatnya, dia berucap sambil mengusap-usap rasa panas di bahunya akibat tamparan keras dari Rachel.
"Cewek apa?" tanya Rachel.
Cewek gue...
"Cewek BAR-BAR... Hahahahahahaha..." Tawa Nilga mencuat diiringi tangannya yang dengan sadis mencubit pipi Rachel.
"NILGAAAA... PULANG LO SEKARANGGG! SEBELUM GUE NGAMUK KARENA LO BIKIN PIPI GUE MELAR..." Rachel berteriak sambil memegangi pipinya yang kesakitan.
Tawa Nilga membeludak mendengarnya. Rasanya rindu...
Setelah puas tertawa, tanpa izin, tangan Nilga mengelus puncak kepala Rachel dan mengecup keningnya. Respon Rachel melongo dengan mulut menganga.
"Gue pulang nih. Kalau kangen, lo bisa--" Lagi-lagi Nilga menggantungkan kalimatnya.
"Bisa apa?!" tanya Rachel setengah membentak, dirinya masih kesal dengan Nilga yang mencubit kasar pipinya hingga memerah dan sekarang mencium keningnya hingga wajahnya ikut memerah.
Alih-alih menjawab, Nilga justru menampangkan senyum yang sulit diartikan.
"Bisa apa, ih, Nilgaaaa?" Rachel berteriak karena kini dirinya merasa malu dihadapan Nilga.
"BISA GILAAA, HAHAHAHAHA..." ucap Nilga, mencubit pipi Rachel yang sebelah kanan, lalu melajukan motornya membelah jalanan pagi karena waktu menunjukkan pukul 1 dini hari.
"NILGAAA... AWAS SENIN LO... SIAP-SIAP MATI DITANGAN GUEEE..."
Rachel sudah tidak peduli lagi karena berisik di waktu yang tidak tepat. Nilga kurang ajar dasar... Sialan! Udah bikin jantung gue berdegup kencang...
Di lain sisi. Nilga mencetak senyum bahagia sambil fokus mengendarai motornya.
Gue mau berjuang lagi, entah itu yang kedua kali, ketiga kali, atau berapapun banyaknya, gue ga peduli. Adinda Rachel Karenina, cewek yang berhasil memporak-porandakan hati dan pikiran gue.