
Kamu memberiku tamparan keras. Menyadarkanku akan dunia nyata yang mesti kupijak, bukan pada dunia maya yang memuat mimpi dan angan semata.
Adinda Rachel Karenina
***
Malam peresmian special member.
"Baik. Meeting kita sudahi, terima kasih semuanya," ucap Zenkra mewakili dua laki-laki di sampingnya. Semua bubar meninggalkan ruangan, kecuali mereka bertiga.
"For the first time, this is our first project. Terima kasih atas kerja samanya, Zenkra dan Nilga." Ravlein berucap sambil menjabat tangan keduanya bergantian.
"Ya ya ya, ga ada salahnya kita bersaing mendapatkan hati wanita, tapi bekerjasama dalam urusan pekerjaan," ujar Nilga. Dia baru kali pertama berkontribusi dalam perusahaan Adyatama, berbeda dengan Zenkra dan Ravlein yang sudah sering menghadiri celebration atau bahkan menyentuh beberapa berkas perusahaan.
"Maaf, Tuan Muda. Orang suruhan yang dikirim untuk memata-matai Nona Rachel barusan menelpon," ucap asisten pribadi Ravlein yang membuat geram karena harus membicarakan hal tersebut di depan Zenkra dan Nilga, namun kemarahan Ravlein tertahan ketika asistennya berucap kembali. "Nona Rachel sedang berada di private room salah satu bar ternama di Jakarta."
"Dengan siapa?" tanya Ravlein dengan nada dingin, sedangkan Zenkra dan Nilga masih menyimak agar tahu kelanjutan informasi tersebut.
"Belum terkonfirmasi."
Ravlein berhambur ke luar ruangan dengan wajah serius dan intruksi. "Siapkan mobil saya dan segera kirimkan lokasinya."
Tanpa pikir panjang, baik Zenkra maupun Nilga ikut mengekor Ravlein dan mobilnya yang melaju cepat membelah jalanan malam.
Ketiga mobil sport keluaran terbaru itu memarkir di depan bar. Ravlein keluar dari mobil dan menghampiri orang suruhannya.
"Di sebelah mana?"
"Di ruang 103, Tuan Muda."
Tanpa berkata-kata lagi, ketiga pria bersetelan jas tersebut memasuki bar. Sontak hal tersebut mengundang jerit-jerit wanita penghuni bar yang melihat ketiga pria tampan tersebut.
Brak!
Gebrakan pintu private room 103 oleh Ravlein. Zenkra dan Nilga mengerti siapa dalang dibalik ini semua ketika mendapati penghuni ruangan tersebut.
Rachel yang sedang berjoget pun limbung karena kaget, matanya berkunang-kunang efek minuman yang barusan diteguknya. Dengan sigap, Ravlein menangkap tubuh Rachel agar tidak menyentuh lantai. Ravlein memberikan tatapan membunuhnya ke penghuni ruangan satu per satu, kemudian dibawanya Rachel ke mobil, dan melajukan mobilnya entah tujuannya kemana.
Di lain sisi, Nilga menatap horror Silcha, Sania, dan Raline, serta seluruh anak ekskul modeling lainnya.
Brak!
Zenkra menggebrak meja. "Apa yang kalian lakuin ke Rachel?" Emosinya sudah tidak terkendali.
"Ki.. kita cum.. cuma kasih minuman aja kok..." gagap Sania melihat manik mata gelap Zenkra.
"Tolong lacak kemana Ravlein membawa Rachel," instruksi Nilga pada orang suruhannya di seberang telepon.
"Ini?" Tunjuk Nilga ke gelas yang berada paling dekat dengan Rachel tadi.
"INI?!" bentak Nilga ketika tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Mereka ketakutan melihat dua laki-laki tersebut begitu marah, bahkan Nilga yang jarang marah pun kini tak kalah menyeramkan. Silcha mengangguk.
Nilga melambai-lambai gelas tersebut di dekat indera pemciumannya. "Coba cek, Kra. Kalau ga salah ini alkohol kadar tinggi."
Zenkra melakukan hal yang sama, kemudian berucap dengan wajah datar, "95%".
"SHIT!!!" Dengan keras, umpatan dan gebrakan meja bersamaan dilakukan oleh Nilga. Setelah itu, ponselnya bergetar.
"..."
"Baik, terima kasih."
Putus Nilga.
"Dimana Rachel?" tanya Zenkra.
"Kediaman Karaka," sahut Nilga datar.
"Kita ke sana sekarang," ujar Zenkra.
Brak!
"Kalian... akan tau akibatnya jika berani macam-macam sama Rachel lagi. Siapapun, tidak terkecuali."
Zenkra berucap setelah menggebrak meja. Nada ancamannya dingin. Silcha dan Sania membeku di tempat, ancaman Zenkra tidak main-main ketika menyebutkan kata 'tidak terkecuali' yang berarti mereka akan berada dalam masalah.
"Bukan hanya Zenkra. Gue juga ga akan tinggal diam kalau sedikit aja lo semua menyentuh Rachel dengan niatan busuk kalian. Terutama buat lo, Rameldant." Nilga berseru dan terakhir menunjuk ke arah Silcha. Nilga sudah lama memantau gerak-gerik Silcha, terutama setelah mengetahui bahwa yang meng-share fotonya bersama Rachel dulu adalah Silcha.
Semua pasang mata ikut tertuju ke arah Silcha ketika kata 'Rameldant' ditujukan Nilga untuk Silcha. Pasalnya, tidak ada yang mengetahui identitas Silcha sebagai anggota keluarga Rameldant, Perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan informasi, terkhusus dalam hal melacak sesuatu ataupun seseorang, tidak akan ada informasi yang terlewat oleh perusahaan Rameldant ini. Siapapun mengetahui kesohoran perusahaan tersebut, namun pihak mereka menyembunyikan informasi terkait pewaris tahta Rameldant, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengetahui siapa pewaris perusahaan Rameldant yaitu Silcha. Seperti halnya, Zenkra, Sania, Nilga, dan Ravlein, mereka golongan konglomerat tentu tahu akan hal itu. Ralat. Kini penghuni ruangan mengetahui identitas Silcha ketika Nilga menyuarakannya.
Hening menyelimuti kepergian Zenkra dan Nilga menuju kediaman Karaka. Silcha dan Sania juga meninggalkan ruang private tersebut untuk menghindari tanda tanya di otak orang-orang yang ada di sana.
Di kediaman Karaka.
Tin... Tin...
Tin... Tin... Tin... Tin... Tin...
Klakson pertama dari mobil Nilga, sementara yang kedua dari mobil Zenkra.
Nilga keluar dari mobil dan menggebrak bagian depan mobil Zenkra. Hal itu membuat sang empunya mobil keluar.
"Anjir lo! Main gebrak-gebrak mobil orang aja, Ga!"
"Lo tau waktu dong, Kra. Ini tengah malem, tuh orang pada keganggu tidurnya."
Nilga menghampiri gerbang dan memencet bel. Ting... Tong... Ting... Tong...
Tidak ada respon apa-apa.
"Informan lo akurat enggak sih, Ga? Bener-bener ga becus! Si Rachel sebenernya ada di sini atau enggak?" maki Zenkra.
"Sialan lo ngeremehin orang suruhan gue!"
Tiba-tiba gerbang dibuka dan menampakkan empat orang berbadan kekar berpakaian serba hitam menyambut mereka dengan hadangan ketika melihat sang tamu tidak tahu diri yang membuat kegaduhan.
"Bagi dua, Ga. Lo sebelah kanan, gue kiri." Zenkra berujar sambil meregangkan otot tangannya.
"Okee... Gue surga, lo neraka, Kra." Sigap Nilga dengan ancang-ancang sambil meregangkan otot lehernya.
"Shit! Masih sempet ngajakin ribut lo, Ga."
Tanpa menggubris ucapan Zenkra, Nilga menghajar dua laki-laki sebelah kanan dan disusul Zenkra yang menghajar dua laki-laki di sebelah kiri. Tak perlu waktu lama, tragedi baku hantam selesai dan mereka memasuki kediaman Karaka yang tak kalah besar dari kediaman mereka masing-masing.
"Wah... wah... wah... Kayanya gue perlu nge-upgrade bela diri biar ga kalah dari musuh-musuh gue." Ravlein bertepuk tangan tiga kali sambil berucap dan menghampiri Nilga dan Zenkra.
"Dimana Rachel?" tanya Nilga tenang namun dengan wajah datar.
"Lagi tidur. Alkoholnya kadar tinggi, berapa persen?" tanya Ravlein dengan senyum menyeringainya.
Dengan sekali hentak, Zenkra menarik leher baju Ravlein hingga terhuyung mendekat. "Lo macam-macam, habis lo!"
"Oh, gue cuma ngegantiin bajunya, salah?" sahut Ravlein dengan senyum melebar.
Mata Zenkra membelaklak, menguatkan kepalan pada leher baju Ravlein.
Nilga dengan santai berjalan ke sofa dan duduk, dia pun memanggil wanita paruh baya yang berada tidak jauh dari mereka. "Bi, buatkan kita minum."
Bi Raya mengangguk. Sontak Ravlein dan Zenkra yang sedang adu tatap serentak menengok ke arah suara Nilga yang tengah bersandar santai di sofa.
Tak lama, Bi Raya datang dengan 3 gelas minuman di nampan dan menyuguhkannya.
"Terima kasih, Bi," ucap Nilga, sedangkan Ravlein dan Zenkra yang sudah ikut duduk di sofa terheran-heran dengan tingkah Nilga yang kelewat santainya.
"Ini bukan rumah lo, Ga," seru Ravlein.
"Gue tau. Ya kali dah rumah lo gua aku-akuin, Rav."
"Itu sih, berasa di rumah nenek," ujar Zenkra.
Nilga menandaskan isi di gelasnya. "Bi, antar saya ke kamar Rachel tidur." Nilga berdiri dan berjalan ke arah Bi Raya tanpa mempedulikan tatapan tak percaya Ravlein dan Zenkra.
"Mari... Biar saya antar," balas Bi Raya. Ravlein dan Zenkra semakin tak percaya ketika Bi Raya dan Nilga sudah meninggalkan mereka.
Di kamar tamu.
Tangan Nilga mengelus puncak kepala Rachel.
"Ish, Ga. Jangan sentuh-sentuh!"
Nilga hanya mengacungkan telunjuknya tanda menyuruh Zenkra diam. Kemudian berjalan ke arah Ravlein dan menepuk pundak Ravlein pelan. "Jagain, lo sayang dia kan?" Ravlein mengangguk. "Kalau sayang, ga akan macem-macem."
Bamn! Nilga keluar dari kamar tamu dengan meninggalkan kata-kata bijak. Hal itu membuat Ravlein dan Zenkra hanya melongo dan tak bisa berkata-kata.
Zenkra menatap wajah Rachel lama dan mengecup kening gadis itu. Kemudian menonjok pelan bahu Ravlein. "Gue juga balik, ini hak lo karena udah lebih dulu tau keberadaan dan keadaannya. Jagain dia. Sedikit aja dia luka, kekkkk..." Zenkra menarik garis horizontal di lehernya dengan telunjuk, seolah berkata 'mati lo', kemudian keluar menyusul Nilga yang mungkin sudah di mobilnya.
***
Esoknya, setelah acara peresmian.
Rachel menginjakkan kakinya ke tanah, menuruni mobil sport milik Ravlein.
"Eh, kok lo ikut gue ke rumah? Sana pulang lo."
"Kamu ngusir aku, Hel? Aku ga boleh mampir?" tanya Ravlein dengan tampang polos yang sungguh membuat Rachel tidak tega mengusirnya.
"Oke, oke. Terserah."
Rachel membuka pintu dan masuk, Ravlein mengekor. Terlihat dua orang wanita sontak berdiri melihat pintu terbuka dan menampakkan Rachel di sana.
"RACHELLLLLL..." teriak Claresta dengan dada naik-turun tanda emosinya sudah di ambang pintu.
"Mamah?!" Rachel kaget melihat Mamahnya pulang tanpa kabar. "Kapan pulang?"
Tanpa menggubris, Claresta langsung menghampiri dan menjewer telinga kanan Rachel.
"Ah, ah, ahh... Mah... Lepasin... Sakit nih..." Rachel memukul-mukul tangan yang mendarat di telinganya.
"Ga akan Mamah lepas, biar putus..."
Garnisa hanya meringis melihat iba ke arah Rachel. Pasalnya, semalam dia juga merasakan amukan Claresta yang mencak-mencak ketika pulang dan mengetahui bahwa anak semata wayangnya tidak ada di rumah.
Garnisa pun baru pulang dari club tempat biasa dia pergi setiap malam. Saat itu pukul 2 dini hari, dan Claresta tiba di rumah sejam setelah Garnisa pulang. Kebiasaan Garnisa yang sering keluar malam membuat Claresta pusing bukan main.
"Kamu kemana saja semalaman?!" Nada bicara Claresta sudah tidak bisa diatur akibat kesal bercampur khawatir.
"Ah... Mah... Iya nanti Rachel jelasin... Ini lepas dulu..."
"GA MAU! MAMAH KESAL SAMA KAMU ADINDA RACHEL KARENINA..."
"Nanti telinga Rachel putus beneran, Mah..."
"Biarin saja..."
"Assalammu'alaikum, Tante."
Sontak jeweran Claresta terlepas dan menatap ke arah Ravlein. "Wa'alaikumsalam. Kamu siapa?"
Rachel mengelus-elus telinga yang memerah bekas jeweran Mamahnya.
"Saya Ravlein, temannya Rachel, Tante. Boleh saya masuk, Tan?" ucap Ravlein sopan.
"Oh iya silahkan. Maaf Tante tidak sadar ada kamu."
Claresta mempersilahkan Ravlein duduk dan semua orang akhirnya juga duduk. Kecuali Garnisa yang mengendap-endap pergi ke kamarnya menghindari amarah Claresta yang bisa saja menyembur ke dirinya lagi.
"Jadi begini Tante." Ravlein membuka kalimatnya untuk menjelaskan. "Semalam Rachel menginap di rumah saya karena sudah terlalu larut untuk pulang. Tapi Tante tenang saja, kita di rumah tidak hanya berdua. Dan karena itu, makanya pagi-pagi begini saya mengantar Rachel pulang agar tidak ada yang khawatir. Jadi, Tante jangan menjewer Rachel lagi. Kasian Rachel, Tan."
Senyum Rachel mengembang dan menganggukkan kepala sambil menatap Mamahnya, seolah berkata 'bener tuh, Mah'.
Claresta bertanya kepada Rachel, "benar seperti itu, Adinda Rachel Karenina?" Mata Claresta menatap tajam. Bagi Rachel, Claresta benar-benar menyeramkan jika sudah memanggilnya dengan nama lengkap Rachel, tanda bahwa amarah Claresta sudah di level tertinggi.
"I-iya, Mah," gagap Rachel.
"Lalu mengapa ditelpon tidak diangkat?" sergah Claresta.
"Handphone Rachel tertinggal, Tan. Saya sudah bertanya kepada Rachel berapa nomor telpon Tante atau rumah, tapi dia tidak ingat," jelas Ravlein.
"KAMU TIDAK INGAT NOMOR TELPON MAMAH DAN RUMAH, HEL???" Nada bicara Claresta meninggi lagi.
Rachel mengangguk membenarkan kebohongan yang Ravlein buat. Namun, dia sangat bersyukur Ravlein tidak mengadu tentang keadaan kacaunya semalam.
"Mamah tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi dan kamu malah tidak hapal nomor penting."
"MASUK KE KAMAR DAN HAPALKAN!!!" perintah Claresta.
Rachel dengan sigap berdiri dan berlari ke kamar untuk menghindari amukan Claresta. "Iya, Mah."
Setelah Rachel masuk, Ravlein beranjak berdiri. "Maaf, Tante. Saya tidak bisa berlama-lama karena harus mengurus berkas pindah sekolah."
"Ya sudah, terima kasih Ravlein sudah memperbolehkan Rachel menginap dan mengantarnya pulang."
"Sama-sama, Tan. Kalau begitu, saya permisi. Assalammu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"ADINDA RACHEL KARENINA... SUDAH DIHAPALKAN BELUM???"
Di lain sisi, Ravlein yang sudah berada di luar pintu pun menutup telinga mendengar teriakan Claresta yang menggelegar.
"Huft... Siap-siap pecah gendang telinga gue kalau udah jadi menantunya," gumam Ravlein sambil menghampiri mobil sport-nya.
Ravlein menggapai ponsel di atas dashboard mobil.
"Halo, Tuan Muda," sapa orang di seberang telepon.
"Cepat urus berkas pindah sekolah saya ke SMA Cendera Satya," titah Ravlein.
"Baik, Tuan Muda."