Rachel

Rachel
S2-6 Tahun Setelahnya



6 tahun setelahnya.


Terakhir kali semua kejadian mendadak itu terjadi. Mulai dari Kak Zenkra yang mendadak tunangan, Nilga dan Kak Sania yang sudah seperti pasangan telenovela, menemui Pak Tio yang melarang agar tidak berdekatan dengan Kak Zenkra lagi, Ravlein sang mantan terindah yang tiba-tiba mencuri first kiss, hampir ditabrak mobil, terbangun di kediaman Rameldant yang bak istana, juga marga yang disematkan Silcha ketika memanggil nama Rachel.


Semua itu buru-buru Rachel tutup dengan memutuskan meninggalkan semuanya dan pergi ke Korea Selatan. Mencari ketenangan supaya terhindar dari segala problematika masa-masa remaja.


Ya, masalah marga, Rachel ternyata adalah bagian keluarga Rameldant yang terkenal itu. Dia adalah sepupu Silcha, perempuan yang juga suka Kak Zenkra, namun harus merasa pupus cinta.


Lantas, untuk apa dia berebut dengan gue kalau ujung-ujungnya di antara kita ga ada yang menang? pikir Rachel bertanya-tanya ketika menginjakkan kakinya di lantai Bandara Seokarno-Hatta.


"Rachel..." panggil Tante Garnisa yang kini sudah kalah cantik dari yang dipanggil.


"Rachel pikir Tante lupa kalau masih punya keponakan," sarkas Rachel sembari melangkah mendekati Tantenya itu.


"Ye... kamu itu sensi banget sih. Tante hanya tidak suka keramaian, menunggu orang cantik dari Korea membuat Tante minder," sahut Tante Garnisa meledek.


Memang benar, tatapan mata sebagian besar pengunjung bandara memang sudah tertuju padanya. Apa gue semenawan itu?


Sebelum kalian pikir yang macam-macam bahwa Rachel operasi plastik atau suntik sana-sini, mending kalian baca lagi Season 1 cerita ini. Bagaimana cantiknya seorang Rachel hingga diperebutkan tiga orang pria pewaris tahta.


"Tante sok jaga image deh, di tempat clubbing bukan seperti kuburan juga. Sok-sok-an bilang tidak suka keramaian," sindir Rachel pada kebiasaan Tantenya yang sangat sulit dihilangkan itu.


"Kamu baru pulang sudah ngajakin ribut," gerutu wanita itu. "omong-omong, Tante mau menjadikanmu sebagai aktris terkenal. Wajah ini mubazir jika tidak dimanfaatkan." Wajah Rachel diteliti dengan seksama.


"Ish, apaan sih? Wajah ini made in Indonesia, jangan asal klaim. Ayo pulang, aku capek nih," dumel Rachel dengan wajah jutek andalannya. Lalu pergi meninggalkan Tantenya.


"Tingkat kejutekan nih anak semakin mengkhawatirkan, tapi kalau jadi aktris sangat cocok agar tidak mudah ditekan lawan," gumam Tante Garnisa tersenyum penuh makna dan tersirat segala ide bar-bar untuk keponakannya yang baru pulang dari Korea.


Sampai tujuan.


"TANTE!!!" rengek Rachel ketika tangannya ditarik-tarik kaya lembu.


"Bentar doang, Hel. Cuma jepret kiri, kanan, atas, bawah, sama bumbu gaya deh dikit."


"GA MAU!!" tolak Rachel mentah-mentah saat Tante laknatnya itu membawa dirinya ke perusahaan entertainment bukannya pulang ke rumah.


Masih dengan menarik tangan keponakannya, "Bentar, Sayang... Kalau kamu jadi aktris, nanti bakal punya banyak uang buat club--"


Rachel membelaklakan mata sesaat dirinya seolah digadai untuk memenuhi kebutuhan clubbing Tantenya sendiri. Gue makin sering nonton sinetron Indonesia di Korea Selatan. Judulnya aneh-aneh. "Aku digadai Tanteku untuk kebutuhan clubbing" itu judul pasti langsung banjir pemirsa kalau sampai ada, benakku.


"Tante Garnisa?" suara bariton seorang laki-laki mengintrupsi acara tarik-menarik tante dan keponakannya.


Seorang pria berperawakan tinggi, wajah tampan, badan proporsional dan atletis, kulit putih, senyum manis, dan...


"Rachel?" panggilan itu membuyarkan lamunan Rachel yang sedang mendeskripsikan ciri-ciri si pria.


"Nilga?"


"Iya, Nilga." Senyum Tante Garnisa merekah sempurna. Cih, apa dia lagi menggoda Nilga? ejek Rachel dalam hati.


"Rachel... udah lama ga ketemu. Gue pemilik agensi ini, lo mau ikut casting juga?" tanya Nilga tersenyum manis. Dalam hati Rachel, Oh... biar udah gede juga tetep cakep. Apa gue udah cukup cantik belum ya sekarang?


"Iya nih, Tante tarik-tarik gue sok ngelarang masuk," sahut Rachel tersenyum cantik, sementara Tante Garnisa hanya memandang tak percaya. Dalam hati Tante Garnisa, Bukan dia yang tarik-tarik ga mau masuk? Kenapa kesannya aku pelaku dan dia korban yang teraniaya.


"Kalau mau ikut casting ya masuk aja." Nilga terkekeh merdu. Jujur, membuat Rachel lupa diri kalau masih di Bumi. Dia pikir sudah di surga, sampai bisa dengar kekehan malaikat.


Setelah terkekeh juga, Tante Garnisa menyahut. "Hehehe... iya, Nilga. Dia mau ikut casting."


Kenapa yang ini kaya kekehan suara malaikat pencabut nyawa? pikir Rachel.


Nilga mengulurkan tangan. "Ayo masuk," ajaknya. Ini udah kaya cerita kerajaan dongeng yang jalan aja pakai gandengan, benak Rachel, hatinya jingkrak-jingkrakan. Dia menerima uluran tangan Nilga dan memasuki perusahaan entertainment meninggalkan Tante Garnisa.


"Apa aku masih dianggap?" gumam Tante Garnisa tercengang mendapat perlakuan semena-mena dari keponakannya sendiri.


"Lo ga usah ikut casting deh, Hel. Langsung foto shoot aja."


Kalau sudah begini, bagaimana mungkin Rachel tolak. "I-iya deh," sahut Rachel malu-malu kucing.


Tante Garnisa memutar bola mata malas melihat tingkah kepura-puraan Rachel. Apa ke Korea Selatan membuat otaknya terbentur hingga berubah jadi perempuan menye-menye?


Nyatanya tidak.


Setelah foto shoot.


"70:30, Tan," ucap Rachel.


"Tidak bisa. Tante yang bawa kamu ke sini, 40:60."


"Tapi aku yang kerja, 80:20 kalau gitu."


"Kok turun sih, Hel!" pekik Tante Garnisa tidak terima.


"50:50, final. Ga bisa diganggu gugat."


"Aku bisa aja ambil seratus persen penghasilan jadi aktris buat diri sendiri lho, Tan... 95:5. Kalau ga mau, juga ga apa-apa," ujar Rachel tak peduli.


"Kenapa turun lagi?!" Tante Garnisa mulai kesal menghadapi tingkah Rachel yang semakin bar-bar ini.


"Ga mau? Satu... dua... ti--"


"MAU!!"


Hahaha... manfaatin tante sendiri biar jadi asisten dengan bayaran 5 persen penghasilan sangat memuaskan. Siapa suruh mau curang duluan? pikir Rachel.


"Gitu dong... 'kan sama-sama enak."


"Kenapa aku merasa seperti sedang dibodohi, ya?" gumam pelan Tante Garnisa membuat Rachel tersenyum lebar seraya berlalu.


"Hel..." panggil Nilga, Rachel menoleh. "Ya?"


Sok cool banget, pikir Tante Garnisa melihat cara bicara Rachel.


"Pekan ini luang? Kalau luang, mau temenin gue ke acara launching film XX?"


Baru satu hari di Indonesia langsung dapet job tanpa casting plus udah ada aja cowok yang deketin. Bikin emosi, bikin iri. Tunggu! film XX yang aku tunggu-tunggu... Ga boleh biarin menikmati hidup enak seorang diri, gerutu Tante Garnisa dalam hati.


"Sorry, Mr. Adyatama. Saya tidak berminat," jawab Rachel sok formal kalau di tempat kerja.


What?! Kalau dia tolak, bahaya... batin Tante Garnisa tidak terima.


"Rachel... ini sama saja kaya kamu bersosialisasi dengan dunia entertainment. Tidak ada salahnya menerima ajakan Nilga."


Kenapa gue merasa Tante punya niat terselubung? Ada udang dibalik bakwan, pikir Rachel.


"Iya, Hel. Ikut ya, pliss... nanti gue suruh orang buat kirimin baju, lo tinggal bawa diri aja." Sangat lain dengan Nilga yang enggan bicara formal.


Tante Garnisa sudah melotot kode. Rachel menghela napas dan berkata, "Oke. Alamat dan nomor telepon minta aja sama asisten," ucap Rachel semena-mena pada Tante Garnisa. Meski statusnya memang begitu, namun tidak harus terang-terangan juga, bukan?


"Siap. Gue jemput jam 8 malem pekan ini."


Rachel mengacungkan jempolnya ke atas tanpa menoleh dan tetap berlalu keluar kantor.


To be continue...


Gimana? Seru ga? Ini bahasanya lebih rapi sih kalau menurut aku dibanding season 1-nya. Semoga suka, jangan lupa like, vote, dan komen. Sampai jumpa nanti lagi...