
"Karena..."
Part 2
***
Jika kamu yang meminta, mari kita flash back ke masa sekitar 7 bulan silam.
"Heyyy!!! Jangan bunuh diri!!!" teriak Rachel sekencang yang dibisa. Kakinya berlari dan menggapai tangan laki-laki itu, kemudian menariknya ke belakang.
Keduanya terhuyung ke plesteran rooftop. Tetapi ini bukan seperti di sinetron, dimana sang perempuan jatuh tepat di atas tubuh si laki-laki. Keduanya hanya jatuh bersebelahan.
"Duhhh... tangan gue lecet nih gara-gara lo!" ucap Rachel sambil membersihkan telapak tangannya yang lecet karena terjatuh.
Zenkra bergeming. Pikirannya sudah tidak waras karena terhasut bisikan setan untuk melakukan bunuh diri. Kalau bukan karena perempuan di sebelahnya, maka dapat dipastikan SMA Ceniya diliput dan masuk ke koran akibat perbuatannya.
Seorang bocah tampan bunuh diri dengan melompat dari rooftop SMA Cendera Satya, batin Zenkra menerka-nerka judul koran yang akan memuatnya.
"Ishhh..." ringis perempuan itu kesakitan.
Zenkra mengamati penampilan perempuan itu dari atas ke bawah. Cantik, imut juga, batinnya.
"Eh lo kok diem aja sih! Bilang maaf kek! Makasih kek! Gini-gini gue udah nyelametin lo tau," ucapnya ketus.
"Makasih, dan maaf lo jadi terluka," ucap Zenkra tulus sambil mengulurkan tangan. "Siapa nama lo? Ayo ke UKS, biar gue obatin luka lo."
"Gue Rachel, Kak. Ga usah salaman soalnya tangan gue lagi perih nih," ujarnya.
Nih cewek galak, jutek pula. Biasanya cewek yang gue ajak ngomong pasti senyum-senyum ngeliat gue, pikirnya. Zenkra memang jarang bicara ke sembarang orang, bahkan ke teman sekelasnya saja jarang. Kecuali Sania yang sudah dikenalnya dari kecil.
"Oh iya, ga perlu anter ke UKS. Gue bisa sendiri," kata Rachel yang beranjak berdiri, sedangkan Zenkra masih betah terduduk di plesteran rooftop. "Ini. Gue nyariin lo selama sebulan cuma buat ngasih ini."
Kertas? Atau sepertinya surat? Hahaha... Basi. Udah biasa gue dapet yang beginian di kolong meja atau dikasih secara langsung. Paling cuma berakhir di tempat sampah. Tapi kenapa sampai nyariin gue sebulan? Sepenting itukah sampai dia harus nyariin gue sebulan cuma buat mengungkapkan perasaannya?
Batin Zenkra bertanya-tanya. Namun setelah surat itu berpindah tangan, Rachel malah pergi dengan cueknya.
Kini Zenkra mengerutkan keningnya.
"Cuma pakai kertas buku tulis doang, ga di amplopin lagi. Yang udah dihias-hias aja gue buang ke tempat sampah."
Zenkra mengamati surat itu dan muncul rasa penasaran karena baru kali ini dia menerima surat yang alakadarnya seperti itu.
"Berhubung ga ada tempat sampah di rooftop. Suratnya gue baca deh, dan lo adalah cewek jutek terberuntung yang pernah ada karena berhasil bikin gue baca surat ini. Itung-itung ucapan makasih juga udah bikin gagal rencana bunuh diri gue."
Tangan Zenkra bergerak perlahan membuka kertas tersebut. Matanya membelaklak melihat isi suratnya. Kini dia membacanya dengan seksama.
Untuk Zenkra, putra Mamah yang tertampan di seluruh dunia.
Maaf, Nak. Karena Mamah tidak sempat berbicara banyak sebelum pergi meninggalkanmu. Inipun Mamah seperti menemukan sebuah keajaiban karena dapat lolos dari Papahmu. Kala itu Mamah lari sekencang-kencangnya hingga hampir tertabrak sebuah mobil. Mobil itu berhenti dan pemiliknya keluar. Bagi Mamah, pemilik mobil itu bagaikan malaikat. Mereka yang menolong Mamah. Namanya Claresta dan putrinya, Rachel.
Zenkra, putra Mamah yang tersayang. Kamu tahu betapa sayangnya Mamah kepadamu. Tolong jangan membenci Papahmu, bagaimanapun kamu adalah anaknya. Harap-harap sifat buruknya dapat berubah seiring berjalannya waktu.
Zenkra, putra Mamah. Mamah ingin sekali mengusap pipimu, menggenggam tanganmu, melihat putra Mamah beranjak dewasa setiap harinya. Bagaimana kabarmu? Mamah mengerti kamu pasti sedih dan terpukul karena kepergian Mamah. Jangan menyakiti dirimu terus. Mamah akan sedih di sini. Jangan kesepian, karena banyak cara Tuhan mengisi kekosongan di hatimu. Mamah terus bersamamu, di dalam hatimu. Jika tiba saatnya, kita akan bertemu kembali, jika tidak di dunia, maka di akhirat pun tak apa.
Mamah do'akan kebahagiaanmu, kesehatanmu, kebaikanmu, untukmu putra Mamah yang paling Mamah cinta.
Sampai bertemu lagi, untuk waktu yang tidak diketahui berapa lamanya.
Dari Mamah,
Untuk putraku,
Zenkra Anugerah Widyarta
Tes
Air mata meluncur di pipi Zenkra jatuh membasahi kertas yang dibacanya. Setelah sebulan kepergian Putri, akhirnya Tuhan memberikan lentera di hidup Zenkra melalui gadis yang dianggapnya jutek, namun begitu berarti dan sabar mencari Zenkra setiap hari selama sebulan. Gadis itu bisa saja tidak menyampaikan suratnya, bahkan tak perlu bersusah payah mencarinya selama sebulan, tidak ada untungnya juga baginya. Tetapi dia justru mencari Zenkra dan menunggu hingga bertemu, serta menyelamatkan hidupnya. Jika saja, gadis itu tidak muncul, jangankan membaca, menyentuh surat ini pun tak akan terlaksana.
Zenkra berlari tak tentu arah. Pikiran hanya tertuju pada gadis jutek berambut sebahu. Kemana gue harus mencarinya? pikir Zenkra.
Kemudian kakinya berlari menuju UKS. Harap-harap gadis itu ada di sana.
Brak!
Pintu UKS dibuka dengan kasar hingga membentur ke dinding. Jika saja bisa, pintu itu pasti sudah mengaduh kesakitan.
Beberapa pasang mata di UKS menatap ke arahnya, namun tidak bagi seorang perempuan yang duduk di ranjang UKS di pojok ranjang. Manik mata Zenkra berfokus ke gadis jutek berambut sebahu di sana. Mulutnya bergumam, sesekali meringis kesakitan ketika antiseptik menyentuh kulitnya. Dia begitu fokus, hingga tidak mempedulikan kehadiran Zenkra.
"Sialan banget sih tuh orang. Kalau tadi dia beneran bunuh diri, kan gue yang berpotensi jadi pelaku. Malah cuma gue yang ada di situ. Nyebelin."
"Sok ganteng banget lagi. Ya, emang ganteng sih. Ish... Aduh nih luka kenapa perih banget dah..."
Zenkra menghampiri gadis itu. Sesekali senyumnya muncul mendengar cacian tertuju pada dirinya. Zenkra mengambil alih kotak P3K dan tangannya bergerak mengobati luka gadis itu.
Rachel hanya mampu melongo. Tidak dapat berkata-kata, melihat Zenkra yang dengan santai mengambil alih aktivitasnya.
"Lo ngapain, hah? Gue bisa obatin sendiri," ucap Rachel mencoba menarik tangannya yang dipegang Zenkra. Namun sia-sia, Zenkra memegang erat tangan Rachel.
"Sepertinya gue bisa mempercayai lo," ucap Zenkra masih fokus membersihkan luka Rachel.
"Ngapain pakai percaya sama gue segala? Kenal aja enggak," ucap Rachel jutek bin cuek. Zenkra memang famous, dia ketua basket sama renang di SMA Ceniya. Pantas namanya tidak asing di telinga Rachel. Namun, yang mengusik benaknya sekarang adalah, untuk apa seorang Zenkra ingin mempercayai gue?
"Karena lo berarti di hidup gue."
Zenkra selesai mengobati tangan Rachel. Kini dia melangkah keluar UKS dan meninggalkan Rachel di sana.
"Dasar ga jelas, main pergi aja! Tapi makasih ya udah di obatin!" teriak Rachel, berharap Zenkra mendengar. Samar-samar senyum Zenkra terulas. Namun, tanpa diketahui oleh Rachel.