Rachel

Rachel
Bab 20



Kamu tahu apa yang membuatku tak gentar tuk menyatakan perasaan ini?


Karena bagiku, itu bukanlah suatu kesalahan. Untuk apa aku takut.


Nilga Putra Adyatama


***


Jam istirahat pertama. Taman belakang sekolah.


Zenkra's POV


"Hai..." ucap gue. Tepat di depan gue berdiri seorang gadis.


"Hai..." balasnya dengan senyum begitu ramah. Namun tak berarti apapun untuk gue.


"Sorry, karena gue baru sempet nemuin lo," ucap gue.


"No problem. Asal lo ga lupa aja sama gue," ucapnya tanpa memudarkan senyum.


"Lo dan Papah lo udah berjasa, gue ga akan lupa."


Kini senyumnya makin melebar. Dia menghampiri gue dan menggapai lengan gue. "Kalau begitu, kenapa lo ga jadiin gue pacar aja? Or Miss. Widyarta?"


Gue risih dan melepaskan pegangannya. Bahkan di kereta yang padet pun, lo ga bisa seenaknya pegang tangan orang, pikir gue.


"Sorry, gue udah suka cewek lain."


Alisnya terangkat dan senyumnya miring, "Rachel?"


Gue bergeming. Buat apa menjawab, jika dia sudah tahu.


"Dia ga suka lo. Gue rasa, lo perlu buka mata dan lihat, siapa yang lebih mencintai lo," ucapnya dengan nada mengejek.


"Bukan urusan lo."


"Itu menjadi urusan gue, karena gue intel lo, informan lo, dan juga sahabat lo," jelasnya. Putri keluarga Rameldant ini benar-benar membuat gue pusing.


"Bukan berarti lo berhak mengurus hati gue," ucap gue, tidak ingin dia terlibat juga dalam urusan hati gue.


"Kita liat aja, apakah lo bisa menang," ucapnya sinis dan meremehkan. "Lo bodoh! Kayanya... Nilga udah beraksi sekarang."


"Maksud lo?" Kini tanya gue mencuat.


"Hahaha... Lo ga tau apa-apa?" tanyanya yang membuat gue bingung. "Nilga berniat nembak Rachel sekarang di lapangan utama. Tadi gue denger pembicaraan mereka."


Sial!


Lapangan utama, tempat biasa sekolah mengumpulkan para muridnya, baik ketika upacara, maupun ketika informasi penting disampaikan. Sontak gue berlari menuju lapangan utama. Nilga... Mati lo sekarang!


***


Author's POV


Pagi ini Rachel berpikir bahwa Karin tidak masuk sekolah, ternyata itu salah. Begitu pelajaran akan dimulai, Rasya dan Karin masuk dengan tergesa-gesa. Menyalami Pak Setya-- Guru Fisika yang sudah di depan papan tulis.


"Hai, Hel..." sapa Karin yang duduk di sebelah Rachel.


"Lo kenapa telat?" tanya Rachel.


"Tuh, si Rasya ban motornya bocor. Ke bengkel dulu deh kita."


"Gue pikir lo kenapa. Hampir aja gue mau tonjok si Rasya nih niatnya karena udah nyulik lo."


"Enggaklah, ya kali. Oh iya, tadi lo di anter Mamah lo?"


"Naik busway," jawab Rachel singkat dan malas mengingat kejadian pagi tadi.


"Tumben... Biasanya dianter atau naik ojek online." Karin heran.


"Iya, males gue. Tadi pagi tuh gegara Nilga sama Kak Zenkra jemput gue," ucap Rachel malas.


"Hah? Kok bisa?" Karin yang mendegar itu sontak kaget.


"Mereka apa sih yang ga bisa," kata Rachel pasrah. Tangannya memainkan pulpen dan mengetuk-ngetuk meja.


Tiba-tiba suara menggelegar mengisi ruang kelas. "Rachel!!! Karin!!! Kemari kalian..."


Pak Setya memanggil nama dua gadis yang duduk di belakang.


"Duh, ******, Hel. Pak Setya ngamuk nih."


"Yaudah gapapa, Rin. Ayo."


Rachel dan Karin berjalan menghampiri Pak Setya.


"Aduh... Neng geulis-geulis kok berisik," ucap Pak Setya mengelus dada. "Lari di lapangan teh panas Neng... Bapak teh ga tega ngasih hukumannya."


Semua murid tertawa alih-alih takut Pak Setya marah.


Pak Setya menghembuskan napas. "Hah... Yaudah, Neng. Lari nya... Lima putaran wae. Nanti kalau capek teh istirahat wae duluan."


Seketika sepenjuru kelas dibuat melongo mendengar ucapan Pak Setya. Rachel dan Karin dengan enaknya bisa istirahat duluan, tidak belajar pula.


"Baik, Pak," ucap keduanya dengan cengiran berarti.


Di lapangan utama.


Mereka berdua lari. Namun karena KBM-- Kegiatan Belajar Mengajar sedang berlangsung, tidak ada kehebohan yang tercipta akibat kedua cewek hits Ceniya sedang berlari di tengah terik lapangan utama.


Keduanya selesai berlari dan duduk di pinggir lapangan. Mereka duduk di sana hingga bel istirahat berbunyi. Keduanya tidak berniat ke kantin. Mereka masih betah di sana.


Dari kejauhan, Nilga dan Rasya datang menghampiri, asalnya dari ruang musik.


Para murid hilir-mudik, tak sedikit juga ada yang mengamati ke-empat most wanted yang sedang berkumpul itu. Nilga dan Rasya membawa gitar di genggaman.


Rachel dan Karin masih berposisi duduk, sedangkan Nilga dan Rasya berdiri dan mulai memetik senar gitar.


Rasya menatap manik mata Karin lekat dan mulai bernyanyi.


You're just too good to be true.


(Kamu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan)


(Tidak bisa mengalihkan pandangan darimu)


You'd be like heaven to touch.


(Anda akan seperti surga untuk disentuh)


I wanna hold you so much.


(Aku ingin menahanmu begitu banyak)


At long last love has arrived.


(Cinta terakhir sudah sampai)


And I thank God I'm alive.


(Dan saya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya hidup)


You're just too good to be true.


(Kamu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan)


(Tidak bisa mengalihkan pandangan darimu)


Kini Nilga yang bersuara. Matanya menatap Rachel, seolah lagu itu ditujukan untuknya.


Pardon the way that I stare.


(Maafkan jalan yang saya tatap)


There's nothing else to compare.


(Tidak ada lagi yang bisa dibandingkan)


The sight of you leaves me weak.


(Melihatmu membuatku lemah)


There are no words left to speak.


(Tidak ada kata-kata yang tersisa untuk berbicara)


But if you feel like I feel.


(Tapi jika Anda merasa seperti yang saya rasakan)


Please let me know that it's real.


(Tolong beritahu saya bahwa itu nyata)


You're just too good to be true.


(Kamu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan)


(Tidak bisa mengalihkan pandangan darimu)


Nilga bersimpuh di depan Rachel yang masih menatapnya tak percaya. Alunan indah disuarakan.


I love you baby, and if it's quite all right,


(Aku mencintaimu sayang, dan kalau memang baik,)


I need you baby to warm the lonely night.


(Aku ingin kau sayang untuk menghangatkan malam yang sepi ini.)


I love you baby.


(Aku mencintaimu sayang.)


Trust in me when I say


(Percayalah padaku saat aku berkata)


Oh pretty baby, don't bring me down, I pray.


(Oh sayang yang cantik, jangan bawa aku turun, aku doakan.)


Oh pretty baby, now that I found you. Stay.


(Oh sayang yang cantik, sekarang aku menemukanmu. Tinggal.)


Dan Rasya ikut bersimpuh di depan Karin. Mulutnya mengalunkan bait lagu selanjutnya.


And let me love you, baby. Let me love you ...


(Dan biarkan aku mencintaimu, sayang Biarkan aku mencintaimu ...)


Seketika air mata Karin luruh begitu saja. Tangan Rasya mengelus puncak kepala Karin, menaruh gitar begitu saja, dan membawa Karin ke dalam pelukan. "Ga usah nangis, ini bentuk sayang gue buat lo, Rin," ucap Rasya lembut.


Di lain sisi, Rachel masih melongo tak percaya. Nilga mengulas senyum tulus, tangannya mengambil tangan kanan Rachel, dan mengecupnya. "Dasar pelupa. Gue sampai harus mengulang pernyataan cinta gue di depan banyak orang, kan. Jadi pacar gue ya..."


Semua yang menyaksikan dibuat baper. Nilga dan Rasya benar-benar membuat hati perempuan yang ikut menyaksikan menjadi luluh. Sedangkan, laki-lakinya dibuat patah hati.


Rachel bingung harus menjawab apa. Dia tidak bisa menahan adanya desiran darah mengalir disertai jantung yang berdegup kencang. Dia pun tak bisa berbohong, bahkan sekarang dia juga luluh karena aksi Nilga tadi.


Jauh di sana, Rachel melihat Kak Zenkra yang datang, raut wajahnya menyiratkan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam. Dia tidak melakukan apapun, bahkan kini kakinya melangkah pergi entah kemana, menjauh dari kerumunan.


Gue harus bagaimana? batin Rachel menjerit, meminta jawaban pada siapapun yang mendengarnya. Namun sayang, tidak ada yang berkemampuan telepati hingga mampu mengetahui isi hatinya.