
Tanda tanya memenuhi jiwa dan ragaku. Jangan anggap diriku tak tahu diri! Apakah diriku yang menginginkan ini?
Adinda Rachel Karenina
***
SMA Ceniya. Jam istirahat pertama.
Rachel's POV
Seminggu belakangan ini hidup gue damai. Gue memberi Kak Zenkra waktu untuk memikirkan perasaanya. Nilga yang diam seribu bahasa, mungkin marah karena gue tinggal pergi tanpa bilang apa-apa ketika dia nembak gue. Karin yang akhir-akhir ini sibuk menempel pada Rasya, kemanapun cowok itu berada.
Dan gue?
Sendirian di kelas. Membaca deretan nama latin dari pelajaran Biologi di binder kuning milik Karin. Bukan tidak ingin menimbrung dengan anak kelasan, melainkan pembicaraan mereka yang sama sekali tidak cocok untuk gue.
Cih! Kalau bukan soal cowok, pasti ngegosip. Ga jauh-jauh deh dari itu. Lebih mending gue nonton sinetron bareng Mamah, walaupun itu menjadi pilihan terakhir di tengah ke-boring-an di sepanjang hidup gue.
"Hai, Hel."
Gue mendongak, mengalihkan perhatian dari catatan Karin menuju arah panggilan.
"Oh, hai, Cha."
Senyum gue ramah, karena Silcha tersenyum ramah ke gue.
"Gue boleh duduk di sini?" tanyanya sambil menunjuk bangku Karin, di sebelah gue.
"Of course."
Gue masih fokus ke catatan rapi Karin. Tiba-tiba Silcha memecah hening.
"Hmm... Lo lagi ngapain sih?" tanyanya lembut. Setelah kedua kali bertemu dan mengobrol dengannya, gue merasa dia orang yang baik dan bisa diajak berteman.
"Gue lagi belajar. Bosen... Ga ada yang gue kerjain sih," ucap gue sambil menutup binder dan menyandarkan tubuh ke sandaran bangku.
"Gimana kalau kita hangout?" ajak Silcha.
Bagus juga tuh ide, udah lama gue ga jalan.
"Hmm... Boleh juga. Kapan?" tanya gue antusias.
"Malam ini jam 8. Gimana? Kalau malam kan adem tuh, Hel."
"Oke deh, Cha."
***
Jam 20.04 WIB. Salah satu mall terbesar di Jakarta.
Dengan sepatu kets putih, celana jeans pensil putih, kaos lengan pendek putih bergambar muka kucing. Gue melengkapi penampilan dengan tas selempang yang juga putih.
Gue berpikir Silcha sudah menunggu lama. Kita bertukar nomor ponsel dan janjian bertemu di mall lantai dasar. Benar saja, dia sudah menunggu. Tampilannya begitu modis dengan menggunakan mini dress hitam selutut, heels hitam 7cm, dan tas selempang yang juga hitam.
Duh... Gue ngerasa kebanting banget di sebelah Silcha. Dia cantik...
Silcha termasuk jajaran most wanted di SMA Ceniya. Namun, dia tidak terlalu peduli dan biasa saja menanggapi ocehan para murid yang memasukannya ke list jajaran siswi most wanted.
Udah cantik, anggota modeling, rendah hati pula, batin gue.
"Hel..." panggil Silcha menyadarkan gue dari mode ke-envy-an. "Hahaha... Lo ngelamun aja sih."
Ketawanya aja cantik. Sebelas-dua belas sama Kak Sania sih ini cantiknya.
"Ini mungkin terdengar menjijikan, karena yang biasa bilang begini kan cowok. Tapi lo bener-bener cantik sekarang," ucap gue tulus.
Silcha terkekeh, dan lagi-lagi membuat gue minder.
"Lo juga kok. Ayo! Banyak tempat yang mau gue datangi bareng lo," ucapnya antusias dan menarik lengan gue hingga setengah terderek.
Mulai dari beberapa store produk fashion dengan merk ternama, salon, restoran, dan hampir seluruh bagian mall kita sudah kunjungi. Kini jam di ponsel menunjukkan pukul 23.30 WIB.
Cringgg... Cringgg... Cringgg...
Ponsel Silcha berdering. "Bentar ya, Hel. Gue angkat telpon dulu."
Gue mengiyakan dan selang berapa lama ponsel gue yang bergetar. Alis gue tertaut bingung melihat nama sang penelpon.
"Halo..."
"Halo, Hel..." sahut orang di seberang telpon.
"Lo dimana?"
"Oh, iya gapapa, Cha."
"Lo hati-hati ya, Hel... Udah malem," ucap Silcha di seberang telepon.
"Iya."
Memang benar sudah malam, larut malah. Jam menunjukkan pukul 23. 52 WIB.
Gue membuka aplikasi ojek online dan membuat pesanan. Entah karena apa, tapi dari tadi di-cancel terus sama driver-nya. Mungkin karena sudah terlalu larut malam.
Duh... Gue pulang naik apa? tanya batin.
Gue mau telepon Mamah, tapi beliau kan masih di luar kota. Gue mau telepon Karin, sama saja bohong pasti dia tidak boleh keluar malam-malam begini. Gue telepon Kak Zenkra, tapi tidak diangkat. Huft... Taksi juga ga ada yang lewat.
Oh, iya! Nilga!
Tuttt... Tuttt... Tuttt...
"Halo?"
Ada cahaya harapan ketika Nilga mengangkat telpon. "Nilga, lo lagi sibuk?"
"Iya."
Yah... Pupus sudah harapan gue. Masa malam-malam begini harus pulang naik busway. Kan serem, malah sepi lagi...
"Ya udah, maaf ganggu. Gue tadinya mau minta tolong jemput. Hehehe... Dahh..."
Gue memutus panggilan dan berjalan pasrah pada takdir yang berkata bahwa gue harus olahraga malam ini.
***
Nilga's POV
"Eh, Sya. Lo tuh pacaran mulu sama Karin. Sini kek, temenin gue nonton Avengers: End Game." Gue mengajak Rasya nonton maraton sekarang karena dia nginep di rumah gue. Lumayan, koneksi internet lagi mendukung buat streaming film yang sudah berkualitas HD.
"Ogah! Biar katanya tuh film seru, mending gue chat-an sama Karin. Lebih seru... Lucu pula... Hahaha..." Mata si Sengkleh masih menatap layar ponsel. "HAHAHA... HAHAHA..."
Seketika bulu kuduk gue bergidik ngeri semenjak si Sengkleh yang satu ini punya pacar, jadi sering tertawa sendiri, kadang gue suka takut kalau dia kerasukan jin penunggu rumahnya si Karin yang terusik gegara saking seringnya si Rasya ke sana.
Dia menghampiri dan duduk di sebelah gue tanpa mengalihkan fokus pada ponselnya.
"Ck," decak gue sebal.
"WAHAHAHAHAHA... Si Karin lucu banget nih, Ga. Masa iya katanya hari ini Kak Karel kesurupan, tumben-tumbenan baik banget nyediain kue kering kecil-kecil coklat di meja pendek deket sofa, pakai piring pula katanya. WAHAHA... Yang bikin gue ngakak, pas dia tahu itu whiskas kering buat kucing peliharaan yang Kak Karel baru beli. Njirr... Malah udah dia abisin sepiring itu lagi... Hahahha... Ga bisa bayangin gue gimana rasanya tuh whiskas. Hahaha..."
Rasya tertawa terbahak-bahak, sementara bagi gue, itu bukan hal yang lucu-lucu amat.
"Dih... Ketawa kek lo, ga asik lo!" ucapnya menampol kepala gue. "Makanya cari pacar, abis itu minta ajarin selera humor biar ga kaku kaya jemuran kering," ucap Rasya menimpali ekspresi gue yang datar.
Kririringgg... Kririringgg... Kririringgg...
Ponsel gue berdering dan menampakkan nama si Penelpon. Rachel.
"Widihhh... Orang kaya lo ga perlu nyari yaa, malah dicari..."
"Berisik lo! Gue angkat telpon dulu."
Gue melangkah menjauh dari Rasya.
"Jangan jauh-jauh, nanti keburu dimatiin, nyesel, galau-galau club, tuh freezer mode on lagi nanti! Wahahaha..." teriak Rasya.
"Halo?" Gue mengangkat telpon.
"Nilga, lo lagi sibuk?" tanya Rachel di seberang sana. Nada suaranya sedikit lirih.
Gue tidak peduli, buat apa juga dia telepon gue. "Iya."
"Yaudah, maaf ganggu. Gue tadinya mau minta tolong jemput. Hehehe... Dahh..."
Panggilan terputus dan gue melirik jam di ponsel. Pukul 23.55 WIB. Dimana Rachel malam-malam begini?
Gue bergegas menyambar kunci motor, jaket, dan dua buah helm. Kemudian terburu-buru keluar sambil mencoba menelepon Rachel.
"Woiii... Nilga... Mau kemana lo?!" teriakan Rasya tak gue gubris.
"Halo... Lo dimana sekarang?"
"..."
"Jangan kemana-mana! Tunggu di situ."