
Surat cinta?
Adinda Rachel Karenina
***
9 September 2019. 06.00 WIB. SMA Ceniya, 11 IPA 1.
"Gimana? Udah ditaruh?"
"Udah. Kuy kantin."
Kedua gadis itupun melenggang pergi menuju kantin.
***
06.45 WIB
Para murid kelas 11 IPA 1 berkumpul mengerumuni singgasana paling belakang di barisan kedua. Bahkan, murid kelas tetangga juga sampai ada yang masuk dan ingin mengetahui perihal langka yang sedang terjadi.
Rachel dan Karin baru tiba di sekolah karena harus menunggu Garnisa berdandan hingga hari berganti tahun lamanya. Mereka langsung melenggang ke arah kerumunan, lebih tepatnya menuju singgasana mereka yang sedang menjadi pusat perhatian.
"Misi dong... Apaan sih nih ramai-ramai?" ucap Rachel memecah kerumunan yang memberi mereka jalan menuju singgasananya.
"Apaan nih, Hel?" tanya Karin mengambil secarik kertas yang ada di meja Rachel.
"Paling surat cinta, udah basi." Rachel mengibaskan tangannya tak acuh.
"Kalian ngapain ngumpul di sini?! Udah sana bubar, gue bukan pajangan!" ucap Rachel ketus menatap orang-orang yang mengerumuninya.
Mereka diam dan membubarkan diri. Mereka tidak ingin mencari masalah dengan Rachel yang notabene adalah gadis kesayangan Zenkra dan Nilga sekarang.
Tak lama Nilga dan Rasya datang.
"Itu barusan ada apa sih ramai-ramai?" tanya Rasya.
Rachel mengedikkan bahu tak acuh.
"Enggak lagi cari masalah sama kalian kan?" Kini Nilga yang bertanya.
"Enggak kok. Ga tau tuh, ga jelas banget," ucap Rachel masa bodo.
"Kayanya karena ini deh, Hel." Karin menunjukkan secarik kertas yang sendari tadi dibacanya lamat-lamat.
Rachel, Rasya, dan Nilga saling tatap, kemudian beralih pandang ke invitation card resmi dari ekskul modeling.
"Ini maksudnya apa?" tanya Rachel bingung.
"Itu tandanya, lo resmi direkrut sebagai anggota modeling." Silcha berjalan menghampiri mereka dan tangannya terulur. "Selamat ya, Hel. Tanggal 13 nanti lo bisa ke lapangan utama bareng gue."
Rachel membalas uluran tangan. "Iya, makasih, Cha." Semenjak terakhir kali kalap berbelanja dengan Silcha hingga tagihan kartu kredit Mamahnya membengkak, Rachel baru berbicara lagi dengan Silcha. Ditambah, sebenarnya Rachel rada dongkol karena Silcha pulang duluan waktu itu. Yaudahlah ya...
15.00 WIB
Dengan langkah gontai Rachel berjalan beriringan dengan Karin.
Tin... Tin...
Groomm... Groomm...
"Ayok pulang bareng."
"Iya, ayok naik."
Ajak Nilga dan Rasya setelahnya. Sementara Rachel dan Karin serentak saling pandang, mengangguk, dan tersenyum penuh arti. Lumayan kan gratis... Pandangan mereka tadi seolah menyuarakan hal itu.
***
Sampai di depan rumah Rachel.
"Makasih ya..."
Mereka melajukan motornya pergi. Gadis itu jalan beriringan dengan seseorang yang sedang menempelkan ponsel ke telinga.
"Halo..."
"Iya, halo, Bi..."
"Ada apa, Non?"
"Anterin baju ganti ke rumah Rachel, sama perlengkapan dan baju sekolah buat besok ya, Bi. Aku mau nginep di rumah Rachel. Sekalian minta tolong bilangin Mamah sama Papah ya, Bi."
"Oh... Iya, Non Karin."
"Yaudah, Bi. Makasih..."
"Sama-sama, Non..."
Karin merebahkan tubuhnya di kasur Rachel dengan posisi membentang hingga menguasai hampir seluruh sisi kasur.
"Tumben amat lo nginep."
"Iya, Hel. Gue pengen ngobrol-ngobrol cantik sama lo. Udah lama ga gitu."
"Iya juga sih, Rin. Kalau dipikir-pikir, kita emang udah jarang banget ngabisin waktu bareng lagi."
"Tuh, iya kan. Gue sekalian mau bahas soal tuh undangan, Hel."
"Kenapa? Ga usah dibahaslah, Gue kan bisa aja ga dateng pas tanggal 13."
"Ga bisa. Harus dateng."
"Hah? Maksud lo ngomong gitu apaan, Rin?"
"Nanti gue ceritain, gue mau turun ambil baju, mandi, dan lain-lain dulu. Hehehehe..."
"Ish, tuh bocah... Tahu apa sih dia soal nih undangan," ucap Rachel dan menaruh undangan tersebut di atas meja belajar.
***
"Namun... bila... saatnya telah tiba... Kuingin kau menjadi milikku... Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan... Berlarian ke sana ke mari dan... ter... ta... wa..."
"Namun bila kau ingin sendiri... Cepat-cepatlah sampaikan kepadaku... Agar ku tak berharap... Dan buat kau berse... dih..."
Jegrug!
"Sumpah, sumpah, Rin. Jangan nyanyi deh lo! Mending biarin si Ghea aja yang nyanyi, lo jangan... Rusak...."
Karin meng-stop suara merdu Ghea di aplikasi Youtube. Dan berdecak sebal ke arah sahabatnya yang baru keluar kamar mandi langsung menghujat suara merdunya.
"Sialan lo, Hel! Gue lagi asik-asik menghayati nih lagu juga... Gue mandi perasaan cepet tadi, lo lama banget njir..."
"Hahaha... Dibilang jadi rusak tuh lagu kalau lo ikutan nyanyi... Ngatain gue lagi lo! Lo satu jam mandi, gue paling setengahnya dari lo... "
"Ish, biarin kek. Sirik gini nih. Ga pernah ngerasain berbunga-bunga... Jomblo sih..."
"Kurang asem lo... Mentang-mentang udah pacaran. Gue ga mau ya, sampai lo diputusin Rasya dan setel lagu sedihnya di rumah gue..."
Karin cemberut dan kini berucap, "Hel... Coba istigfar..."
"Astagfirullah..."
Senyum Karin terulas. Kini dia berjalan mengitari Rachel sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Hus... Hus... Sana pergi... Jangan ganggu sahabat saya... Jangan tempeli sahabat saya dengan kesirikan yang berlebih... cukup juteknya aja yang berlebih... sirik jangan... Hus... Hus..."
"IHHH... KARINN!!! NGAPAIN SIH?! GA JELAS BANGET TAU GAK?!"
Karin berlari menjauhi Rachel yang masih di depan pintu kamar mandi. Karin melompat ke atas kasur, sedangkan emosi Rachel sudah meluap-luap atas perlakuan Karin.
"Ampun, ampun, Bos... Jangan marah-marah, Hel... Kalau marah nanti cepet tua, kalau cepet tua nanti kaya nenek-nenek, kalau kaya nenek-nenek nanti lo enak."
Niat Rachel yang ingin menjitak kepala Karin pun terhenti. "Kok enak?"
Dengan sigap Karin berposisi jongkok di atas kasur Rachel. "Enak lo, Hel. Kalau jadi nenek-nenek... nanti setiap di busway, kereta, dan transportasi umum lainnya pasti dapet tempat duduk. Belom lagi kalau mau nyeberang jalan... ga perlu susah payah nengok kiri-kanan... ga perlu nugas sekolah... ga perlu khawatir kurang duit, soalnya tinggal bilang, nak... minta uang... cu... minta uang... hahahahhahaha...."
Karin dengan cekatan mengelak amukan Rachel. Dengan posisinya yang sudah jongkok tinggal melompat saja dari kasur. Sedangkan Rachel jatuh tersungkur di kasurnya karena tidak berhasil menggapai Karin.
"KARINNN!!!" teriak Rachel dan membuat kedua telunjuk Karin menyumbat telinga.
"NAK... MINTA UANG... CU... MINTA UANG..." teriak Karin masih sambil menyumbat telinganya.
"WAHAHAHAHAHAHA..."
"WAHAHAHAHAHAHAHAHA..."
Rachel tertawa keras dan disusul tawa keras dari Karin.
"Kangen gue, Hel. Akhirnya bisa kaya gini lagi."
"Hahahaha... Iya, Rin. Gue juga kangen... Hahaha..."
Rachel mengubah posisi menjadi duduk di atas kasurnya dengan kedua tangan memeluk perutnya yang masih geli dengan kelakuan minus Karin.
Rachel bangkit dan kini duduk di meja rias. Tangannya mengambil sisir dan menyisir rambut perlahan.
"Hel..." Karin menghampiri dan mengambil alih sisir di tangan Rachel. Karin mulai menyisir lembut rambut Rachel.
Dari pantulan kaca meja rias, Karin dapat melihat ekspresi Rachel yang mengangkat kedua alisnya seolah bertanya, apa?
"Lo dateng aja ya tanggal 13 nanti."
"Ya terserah gue lah, mager juga..." ucap Rachel tak acuh, kini tangannya tak bisa diam, mengetuk-ngetuk meja dengan brush make up.
"Lo harus dateng..."
"Kenapa?"
"Soalnya... Lo tau Sella kan? Temen sebangku gue pas kelas 10."
"Ehem."
"Dia pernah cerita ke gue tentang sejarah kartu undangan itu." Tangan Karin masih berkutat pada rambut Rachel. "Katanya, tuh undangan bisa bikin lo beruntung ataupun sial."
"Maksud lo?" Rachel benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Karin mau kemana.
"Lo gak tahu? Hampir semua orang di Ceniya pasti tahu ini."
"Gue ga tau. Gece kek, Rin. Nahan mulu, nahan. Gue kepo anjir..." Rachel memutar bola matanya malas.
"Jadi... Dulu ada dua cewek yang dapet undangan special member dari ekskul modeling. Nah, kaya lo tuh." Karin menjelaskan dan Rachel antusias mendengar.
"Terus, terus."
"Terus... Katanya sih, dua-duanya cantik banget. Nah terus, satu cewek dateng dan satunya enggak. Cewek yang dateng itu jadi hits, sedangkan yang satunya lagi justru jadi pindah sekolah seminggu setelah hari-H undangan itu. Kata Sela sih ga ada yang tau pasti alasannya tuh cewek pindah. Tapi ada berita simpang siur kalau tuh cewek di-bully, ada juga yang bilang karena bapaknya pindah kerja, dan ada juga yang bilang kalau tuh cewek ngerasa ga cocok sekolah di situ. Waktu itu yang mengundang dua cewek itu juga Kak Sania. Makanya, gue mau lo dateng ya, Hel. Soalnya gue ga mau lo kenapa-kenapa."
Karin memeluk leher Rachel dari belakang. Dan Rachel mengelus tangan Karin. "Iya... Gue dateng nanti."
Kemudian seketika elusan Rachel berganti keplakan dan cengkraman pada tangan Karin.
"Ampun, ampun, Hel. Hahahahaha... Lepasin, Hel. Hahaha... Kalau marah nanti kaya nenek-nenek... Hahahah...."
Dengan setengah bar-bar, Rachel menarik kedua tangan Karin dan disungkurkannya tubuh Karin ke kasur.
"Gue fokus-fokus denger lo cerita... LO APAIN RAMBUT GUE, RINNN?!"
Rachel kembali duduk di bangku meja rias. Jika dilihat dari pantulan kaca, rambut lurus Rachel dibuat bergelombang pada bagian bawahnya oleh Karin.
"Ish, bawel lo, Hel. Liat tuh baik-baik di kaca, cantik gitu juga."
Sejujurnya, Rachel rada risih dengan perubahan ini. Tapi tidak dipungkiri gaya rambutnya sekarang terlihat bagus.
"Hmm... Bagus juga..." ucap Rachel.
Karin menoyor kepala Rachel. "Woo... Dasar cewek bar-bar. Main banting gue aja ke kasur."
"Hehehehe..."
"Rambut lo kaya gini ya pas tanggal 13 nanti," ucap Karin.
Rachel tersenyum. Namun di hatinya masih resah mengenai cerita Karin tadi. Kenapa gue dijadiin special member ekskul modeling?