Rachel

Rachel
Apa Menjawab Pertanyaan Gue Sesulit Itu?



Meski kucoba tuk menutup, tetapi pada akhirnya akan kubuka juga padamu.


Zenkra Anugerah Widyarta


Mengapa? Kamu memberikan segalanya padaku, mendekatkan dirimu padaku, tanpa berpaling sedikitpun meski kudorong dirimu menuju jurang terdalam yang bukan hanya sakit, namun kamu bisa saja mati di sana.


Adinda Rachel Karenina


***


Kediaman Widyarta.


"Hah? Kenapa gue bisa ada di sini?" tanya Rachel yang tampak bingung.


"Aku yang bawa."


'Sama Nilga. Hehehe... Gue blur-lah Nilganya,' pikir Zenkra.


"Gue mau balik, belom izin sama Mamah," ucap wanita itu cuek.


"Gue udah izin ke Tante Claresta."


Karena paham bawa anak orang secara ilegal. Makanya tadi Zenkra menyempatkan menelepon untuk meminta izin ke Claresta--Mamahnya Rachel.


'Calon mertua gue. Fix bet, kalau Nilga tau gue sebut Mamahnya Rachel sebagai calon mertua, bisa dipastiin dia bakal bilang, "ngarep!",' benak Zenkra.


Pria itu bisa saja membawa Rachel pulang ke rumahnya, namun dia masih ingin berlama-lama dengan Rachel untuk sekarang.


Melihat Rachel yang diam. Zenkra pula jadi tidak memiliki topik bahasan. mereka jadi diam-diaman.


"Kak..." panggil Rachel.


"Iya?" tanya Zenkra lembut. Duduk di sisi ranjang terdekat dari posisi Rachel sekarang.


"Ada banyak pertanyaan di otak gue," kata Rachel yang kini menatap Zenkra lekat. "Mau lo jawab satu-satu?"


Dia mengangguk. "Dengan senang hati, Princess."


Rachel mulai bertanya.


"Sejak kapan lo jadi semanis ini dan pakai panggilan 'aku-kamu' ke gue?"


Pria itu lantas berpikir sebelum menjawab, "Sejak kuputuskan mengklaim Rachel sebagai hal favorit di hidup aku."


Rachel bergeming dan kemudian mengangguk. "Pertanyaan kedua, kenapa lo pulang cepet sedangkan dari gosip yang beredar harusnya besok lo baru pulang?"


Rachel tampak mengerutkan kening entah apa yang dipikirkan. Sementara Zenkra berharap wanita itu mengklarifikasi fotonya bersama Nilga di UKS, tetapi justru Rachel hanya mempertahankan diamnya.


Zenkra sekarang berucap tanpa ditanya. "Itu juga sebab aku mukul Nilga di taman belakang sekolah, sebelum niatnya mau nemuin kamu."


"Jangan dilakuin lagi." Rachel menggeleng. "Aku gak suka kekerasan."


Seketika Zenkra kecewa. Rachel seolah membela Nilga, namun kekecewaan itu lenyap saat kata 'aku' terlontar dari mulutnya. "Aku?" tanya Zenkra memastikan pendengarannya masih oke.


Rachel mengangguk. "Iya, aku akan coba menggunakan panggilan yang sama."


Bamn! Zenkra merasa jantungnya berdegup tak karuan. Rasa senang membumbung di hatinya. Senyum pria itu lantas terukir dengan sendirinya.


"Pertanyaan ketiga." Rachel mendekat. Jantung semakin keras berdentum. Tangan Rachel memegang kedua tangan Zenkra yang dibalut perban. Mengelusnya lembut.


Dalam hati Zenkra bertekad, 'Gue, Zenkra Anugerah Widyarta, salah satu cowok beruntung yang bisa mencintai Rachel. Gue akan bener-bener membuat lo jatuh hati ke gue!'


"Kenapa tangan kamu luka? Terjadi sesuatu?" tanyanya begitu lembut. Badan Zenkra melemas mendengar suara lembut nan merdu dari tanyaan Rachel. 'Oh, shit! Sejak kapan seorang Rachel bisa se-ngefek ini ke gue.'


Rachel enggan melepas penggangannya dari tangan Zenkra. Namun jawaban dari pertanyaannya ada di ponsel Zenkra.


Mau tidak mau pria itu melepas genggaman, mengambil ponsel, dan menunjukkan sebuah foto yang datang bersamaan dengan foto Rachel yang sedang bersama Nilga di UKS. Namun foto itu berbeda.


"Karena ini juga." Kini Zenkra menyerahkan ponselnya agar Rachel dapat melihat gambar yang terpampang di sana. Tangannya mengepal kuat. "Itu foto Papah bersama selingkuhannya yang kesekian. Luka itu karena aku yang marah dan tanpa sadar nonjokin tembok setelah melihatnya."


Terlihat sebuah gambar seorang pria, itu Papahnya Zenkra, bersama wanita cantik sedang berciuman. Kepalan tangan Zenkra semakin menguat. Dua sebab dalam bentuk sebuah foto yang membuat pria itu akhirnya mempercepat kepulangan karena sudah muak di Amerika bersama si Tua Bangka yang hobi berganto-ganti wanita. Zenkra tertunduk menatap kepalan tangan yang ada di pangkuannya.


Tanpa diduga. Kedua tangan Rachel mengelus tempurung tangan Zenkra sekali lagi. Dia menatap ke arahnya. Kemudian Zenkra refleks membawa Rachel ke dalam pelukannya. Dipeluknya Rachel erat dan wanita itu kemudian membalas pelukan tersebut. Menenggelamkan luka dan memunculkan sebuah kehangatan yang menjalar di seluruh tubuh Zenkra sampai ke hati.


'Ya, aku sudah jatuh sedalam-dalamnya pada jurangmu yang kuanggap itu sebagai bentuk cinta. Hingga rasanya tak ada cara bagiku keluar. Dirimu menguasaiku, ketiadaanmu akan sangat menyakitiku. Namun, seberapapun sakit diriku, hatiku, tak masalah jika demi kata 'bahagia' di hidupmu. Anggap saja itu pertukaran, sakitku dengan kebahagiaanmu,' pikiran Zenkra tiba-tiba mendadak puitis.


Rachel mengelus puncak kepala dan punggung Zenkra. Sementara pria itu semakin mengeratkan pelukan, enggan melepas rasanya. Dalam waktu yang lama, mereka sama-sama tenggelam dalam keheningan.


Tak lama kemudian Rachel melepas pelukan.


"Pertanyaan terakhir," ucap wanita itu. "Kenapa kamu menyukaiku, membagi segala sisi kelam di hidupmu, dan terus mendekat padahal aku begitu jahatnya mengabaikanmu?"


Agak aneh Rachel rasakan bicara dengan membahasakan 'aku-kamu' seperti itu ke Zenkra. Lidahnya jadi berbelit dan terasa gatal. Memang dasarnya Rachel tidak pernah bicara diatur sebegitunya.


Pas sekarang dia menerapkannya, sontak diri Rachel sendiri mungkin shock dan terkejut bukan main. 'Apa lebih baik gue ngomong ke Kak Zenkra kaya biasa aja ya?' pikir Rachel menimang-nimang.


Selama Rachel melamunkan itu, Zenkra terdiam cukup lama. Dia menyangka mungkin dirinya yang tidak fokus mendengarkan Zenkra, namun nyatanya pria itu memang terdiam sedari tadi.


'Apa menjawab pertanyaan gue sesulit itu?'