
Omong kosongmu memakanku. Aku yang menanti juangmu. Sedang kamu, entahlah, aku bahkan tak tahu apapun. Dirimu, hatimu, bahkan pikiranmu.
Adinda Rachel Karenina
***
Zenkra's POV
Hari pertama sekolah.
Gue pakai baju santai ke SMA Ceniya. Memang tidak berniat sekolah. Gue pun datang terlambat. Gue mau urus surat izin. Sebenarnya, bokap sudah bilang ke pihak sekolah dan surat izin bakal diantar sampai ke rumah. Tapi, berhubung gue ada tujuan ke sini, sekalian saja urus surat izin juga.
Ketika di lapangan.
Anak kelas 12 banyak yang menghampiri gue. Mereka memberikan selamat, karena kemarinnya hari ulang tahun gue yang ke-18. Setelah itu, anak kelas 10 dan 11 pada datang ke lapangan, berkerumun cuma buat mengucapkan selamat juga.
Gue menyapu pandangan. Yang gue tuju malah tidak ada. Lantas, gue bertanya dimana keberadaannya.
Seseorang memberitahukan bahwa dia sekarang kelas 11 IPA 1. Buru-buru gue langsung ke sana.
Sepanjang jalan, banyak yang mengejar-ngejar gue karena belum sempat bilang selamat ulang tahun. Akhirnya, mereka mengikuti gue sampai ke kelas 11 IPA 1.
Gue melihat sosok itu. Dia duduk di lantai, depan kelas, dekat papan tulis. Gue melihat sekeliling kelas.
Kangen gue sama dia...
Bruk, gubruk, gubruk, gubruk...
Fans gue berdatangan ketika mengetahui keberadaan gue di sekolah.
"Eh, eh, eh. Apaan tuh, Rin?"
Dia begitu panik. Namun tetap cantik. Gue masuk kelas diikuti yang lainnya. Ketika mata kita bertemu, dia berucap, "Kak Zenkra? Ini pada ngapain sih?"
Duhhh, lucunya... Di saat yang lain mengejar gue cuma buat sekedar mengucap 'selamat'. Dia dengan santai di sini, bahkan tidak ada niatan buat mengingat ulang tahun gue.
"Gue mau ngomong sama lo, Hel," ucap gue ke dia. Rachel. Cewek yang sukses melekat di hati gue. Yang mengingatkan kejadian itu. Tepatnya, 6 bulan lalu.
"Kak? Lo mau ngomong apa? Ga usah macem-macem deh, pakai bawa pasukan segala kaya gini."
Gue senyum. Merutuki gadis cantik di hadapan gue. So cute...
Gue tidak mengerti kenapa sekarang dia mengelus dada. Sementara yang lain hanya mengamati. Mereka semua juga tidak mengetahui niat gue sekarang.
Gue menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
"Gue suka sama lo, Hel," ucap gue dan dibalas tatapan tidak percaya dari yang diajak bicara.
Gerombolan murid SMA Ceniya bersorak.
"Cieee... Terima, terima, terima"
Berisik! Tapi tidak apa-apa, gue lagi senang sekarang.
"Kak? Gue salah dengar kan?"
Gue senyum lagi sambil menggeleng menjawab pertanyaan itu. Ucap gue, "will you be my girlfriend?"
"Hah? No!" Dia kayanya kaget mendengar pertanyaan gue. Tapi gue lebih kaget pas mendengar jawaban dari dia.
Seketika senyap.
"No?" tanya gue, mengangkat sebelah alis, tanda bingung. Gue berusaha mengontrol raut wajah biar tidak keliatan kecewa.
"Iya… no, ya, Kak. Gue belom suka sama lo, lagipula gue masih kecil, ga boleh pacaran."
Jawaban konyol. Untung gue cinta.
Gue tergoda meledek. "Kalo nikah, boleh?"
"Cieeeeeeeeeeeeee..." Yang lain bersorak.
"Apalagi nikah, Kak."
Gue kecewa. Ditolak mentah-mentah sama Rachel. Pasalnya, mungkin orang akan menyebut gue 'bucin', karena sudah terlanjur sayang sama perempuan yang satu ini.
"Duh... Gue patah hati nih. Jadi, seorang Zenkra ditolak?"
Harapan gue, dia berubah pikiran.
Dia mengangguk, memperjelas penolakannya.
Sial! Gue ditolak.
Gue tidak bisa terima penolakan dan berkata, "ya udah, Rachel. Mulai sekarang, lo harus terima, karena gue bakal jadiin lo hal favorit gue."
"Maksudnya, Kak?" tanya Rachel bingung.
Yang lain diam. Kayanya juga tidak mengerti.
"Gue ga terima penolakan dan bakal bikin lo suka sama gue."
Lantas gue pergi, menyembunyikan wajah kecewa. Namun sebelumnya, gue mengintruksi yang lain buat ninggalin Rachel dan berkata, "Rachel is mine"
***
Langkah kaki gue gusar. Setelah menonton video tragedi bullying yang menimpa perempuan kesayangan gue.
Kalau saja gue ada di tempat, sudah dapat dipastikan Raline and the geng menyesali perbuatannya.
Jari gue mengetik di layar ponsel.
Zenkra : Hel
Zenkra : Helll
Zenkra : Kamu ga apa-apa?
Zenkra : Bales!
Zenkra : Angkat telpon aku!
Zenkra : Plisss
Zenkra : Aku khawatir
Zenkra : Aku mau denger suara kamu
Zenkra : Plissss
Zenkra : Rachelll
Zenkra : Helll
Zenkra : Helll, maaf aku ga ada pas kejadian itu. Aku lagi di luar negeri untuk urusan bisnis Papah. Pliss, maaf.
Gue mengirimi banyak pesan, tapi cuma berujung kata 'read'. Telepon dan vidcall gue bahkan tidak pernah diangkat.
Shit! Gue khawatir. Pesan terakhir juga cuma di-read. Gue merutuki diri sendiri. Gue seolah menjadi manusia tidak tahu diri tanpa tanggung jawab.
Setelah gue mendengar kabar bahwa Rachel sakit selama dua minggu. Perasaan gue semakin tidak tenang. Gue sudah mencoba puluhan kali menelepon dia, tapi malah berujung 'block' di semua sosial media gue. Dan benar-benar tidak bisa dihubungi. Pesan teks sama telepon gue pun terabaikan.
Gue ga tenang!
Yang seharusnya gue izin sebulan. Kini gue persingkat jadi 3 minggu. Setiap malam, waktu tidur gue persingkat jadi 1 jam sehari, semata-mata biar bisa menyelesaikan semua tugas sial di sini. Gue pengen cepat-cepat balik ke Indonesia, peluk dia, dan ga akan gue lepas.
Raline and the geng tidak akan gue lepas semudah itu. Membuat 'kesayangan' gue menderita dan sampai jatuh sakit.
H-5, sebelum kepulangan.
Gue tidak sabar waktu berjalan begitu lama rasanya. Pagi ini gue melihat matahari bersinar begitu terik dari arah pesisir pantai tempat gue menginap. Penampilan gue begitu kacau. Rambut urakan yang tak sempat gue sisir. Di otak gue hanya ada kata, cepat berlalu, gadisku sudah menunggu.
Walau tidak ada jaminan sikap Rachel seperti apa nantinya. Gue bertekad, tidak akan membuatnya lepas dari genggaman.
Kecewa.
Gue bisa rasakan itu. Perasaan Rachel pasti kecewa. Mendengar gue berucap dengan entengnya ingin membuatnya jatuh ke pelukan gue. Tapi nyatanya, semua ilusi. Gue di sini dan tidak bisa berbuat banyak untuk menolongnya.