Rachel

Rachel
Ravlein in The School



Persaingan ini membuatku hampir gila.


Nilga Putra Adyatama


***


Senin, 16 September 2019


Seperti Senin pagi biasanya. Seluruh murid SMA Cendera Satya bersiap untuk upacara bendera. Ada yang sudah di lapangan, duduk-duduk di koridor, atau bahkan masih bersenda gurau di ruang kelas.


"Hel, ayo cepetan!" ajak Karin yang sudah berada di ambang pintu kelas.


"Ett, Rin. Ngapain sih buru-buru, belom bel juga..." ucap gue masih betah duduk di singgasana kebanggaan gue semenjak kelas 11.


"Lama lo! Gue tinggal nih!"


"Iya, iya. Nih otw, nih..."


Gue melangkah malas menghampiri Karin.


"Ya God..." Karin menatap syok ke satu arah. Dengan kedua tangan di depan dada menggenggam ponsel.


Gue mengikuti arah pandangnya. Sontak ponsel yang gue genggam lolos begitu saja menjajal benturan pada lantai. Tampang gue tak kalah syok dibanding Karin sekarang.


Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki berjalan ke arah kita dengan kerumunan rombongan heboh yang sangat berisik. Ketika laki-laki itu sampai di hadapan kita, dia lantas bersimpuh menekuk sebelah lututnya, dan membuat teriakan histeris yang menonton begitu memekakkan telinga.


Laki-laki itu bangkit, menyodorkan ponsel yang gue jatuhkan, dan berucap, "morning, Princess. Handphone kamu sampai jatuh karena terpesona sama kehadiran aku."


"Aaaaaa..."


"Ravleinnn..."


"Bener Ravlein yang itu kan???"


"Mata gue belom katarak kan ya? Ini Ravleinnya Karaka Group?"


"Coba gue cocokin dulu sama yang di foto. Anjerrrr sama donggg... Ravleinnn..."


Dan masih banyak ujaran lain dari para warga Ceniya. Gue hanya bisa melongo dengan tangan tergerak menerima sodoran ponsel.


"Morning, Princess. Aku nyapa kamu lho tadi," ucap Ravlein yang membuat gue tersadar dan mendelikkan mata.


"Iya. Gue belom tuli kali," balas gue dengan jutek bin ketus.


"Hel... Aku sekarang sekolah di sini."


"Bodo amat, gue ga peduli," ucap gue masih dengan nada bicara yang sama. "Ngapain lo laporan, gue bukan Ibu RT komplek kali yang lo kudu lapor soal kepindahan."


"What?! Lo sekolah di sini, Rav?" Karin histeris. Biasa aja, Rin. Ngapain lo histerisin dia, berasa dewa nanti, batin gue.


"Iya, Rin. Demi sang pujaan hati, apa sih yang enggak." Ravlein memasang senyuman yang jujur saja mempesona. Seandainya kekesalan gue belum di ubun-ubun, bisa dipastikan gue bakal jatuh hati hanya dengan melihat senyumnya. But, big no. Fokus, Hel. Sekolah dulu yang bener...


"Aaaa... Tolong-tolong kondisiin jantung gue."


"Mimpi apa gue semalem, seorang Ravlein Rain Karaka sekolah di Ceniya."


"Eh, plis. Ceniya beneran udah kaya kayangan, ini sih gue bakal makin jadi upik abu sekolah di sini."


"Ravlein sweet banget, btw ada hubungan apa dia sama Rachel?"


"Ett, perasaan gue ga kalah syantik dari Rachel. Tapi kok dia mulu yaa yang ketiban cogan-cogan Ceniya. Envy gue lama-lama."


"Apaan sih? Ada apaan? Ya Allah tolong pemandangan di depan hamba sungguh Masya Allah. Ceniya kedatengan bidadara... Kapan gue bisa jadi bidadari di sini?"


Dan tidak ada habisnya kalau gue paparin satu per satu seruan anak se-Ceniya.


"Pliss, Rav. Gue mau sekolah dengan tenang. Kedatengan lo, nambah beban di hidup gue," ujar gue. Sedikit sarkas sih, tapi enggak apa-apa deh biar tuh cowok sadar.


Ravlein tiba-tiba mengelus puncak kepala gue. "Oke. Aku langsung ke kelas deh, semangat belajarnya, My Princess." Dia lantas pergi menuju koridor gedung kelas 12. Dalam hati gue penasaran, dia kelas 12 berapa ya?


Buru-buru gue geleng-geleng kepala untuk menepis rasa penasaran tidak masuk akal yang sedang menghinggap.


"Sadar, Hel. Mantan tuh, mantan," gumam gue.


"Anjirrr... Ravlein pindah ke sekolah kita, Hel. Ga habis pikir gue..." Pekikan Karin membuat gue lantas menengok ke arahnya.


Gue mengedikkan bahu. "Tadi dia bilang gitu kan?"


"Iya sih, Hel. Tapi dia ga lagi ngebohong kan? Nge-prank gitu kalau kata anak jaman now," tanya Karin dengan wajah super polosnya.


"Tau ah, Rin. Dia udah pakai seragam Ceniya, mau ke kelas juga katanya, bohong dari mana kalau udah kaya gitu... Karina Khairunnisa, jangan kebanyakan nonton prank-prank begituan... Ini sekolah, masa di-prank." Gue langsung meninggalkan Karin yang terlihat masih berpikir. Dengan iringan kata 'misi' untuk memecah kerumunan yang masih sibuk berdesas-desus merancang gosip-gosip miring yang akan mengguncang Ceniya. Oh... Gue jadi merasa, ini bukan sekolah, melainkan pusat entertainment.


***


Author's POV


"Itu Ravlein bukan sih? Ini gue ga lagi sakit mata kan ya?" gumam Nilga sambil mengucek mata saat dari kejauhan melihat sesosok laki-laki yang baru saja meninggalkan kerumunan di depan kelas 11 IPA 1.


"Sya, itu Ravlein bukan?"


"Mana, Ga?" tanya Rasya menengok ke arah yang ditunjuk Nilga. "Eh, iya tuh, Ga. Itu Ravlein bukan sih? Mata gue belom katarak kan? Masa iya dia sekolah di sini?"


"Njir, lo malah balik nanya. Tapi kalau iya, gila dia sampai niat pindah sekolah."


"Emang kenapa, Ga?" tanya Rasya bingung dengan ucapan Nilga barusan.


"Gapapa, Sya. Kuy kelas!" ajak Nilga.


Gue lupa kalau Rasya ga tau soal perjanjian gila itu, batin Nilga.


Di lain sisi, Zenkra, Sania, dan Silcha baru saja turun dari mobil sport milik Zenkra. Setelah Sania dan Silcha bersusah payah meminta maaf ke Zenkra atas perlakuan mereka kepada Rachel tanggal 13 kemarin. Dengan beribu alasan yang dibuat keduanya. Mereka berkata bahwa mereka hanya merayakan peresmian special member modeling khusus untuk Rachel dan tidak mengetahui kadar alkohol yang diberikan pelayan kepada Rachel. Mereka juga berkata, pasti ada yang sengaja melakukan itu, tapi tidak tahu siapa.


Akhirnya Zenkra mau percaya dan memaafkan kedua sahabatnya itu dan memberikan mereka tumpangan menuju sekolah. Itu pun karena pagi-pagi sekali Sania dan Silcha membangunkan Zenkra di kediaman Widyarta dan menyita waktunya dengan segala alasan yang telah mereka berdua persiapkan hingga tidak ada waktu lagi untuk menjemput Rachel. Zenkra bahkan tidak menyangka mereka nekat mendatangi rumahnya. Memang setelah kejadian itu, segala pesan teks dan telepon dari keduanya sengaja diabaikan Zenkra. Hanya saja, sungguh tidak terduga mengetahui apa yang terjadi terhadap Rachel hingga harus merelakan 'kesayangan'-nya menginap di kediaman Karaka.


Tettt... Tettt... Tettt...


Bel khas SMA Cendera Satya sudah berdering. Semua murid berhamburan memasuki barisan sesuai kelasnya masing-masing. Seperti biasa, Rachel selalu berada di barisan paling belakang karena malas kalau harus berbagi oksigen di barisan tengah yang membuatnya jengah. Sedangkan Karin ada di barisan depan selaku wakil petugas keamanan kelas 11 IPA 1. Ketua petugas keamanan kelas tentu saja Rasya. Laki-laki itu selalu beriringan dengan Karin layaknya jodoh sehidup semati.


Sementara Nilga, sudah menjadi rutinitas baginya kena hukum guru BK yang sedang berjaga sebab tidak memakai topi.


Huft... Padahal orang kaya, topi hilang juga tinggal beli, emang dasar anaknya aja yang males begitu, kata Rachel dalam hati sambil menggelengkan kepalanya, menyayangkan kondisi Nilga yang justru harus mendapati panas karena dijemur berhadapan dengan barisan depan.


Bosan mendengar amanat upacara pagi ini. Rachel bersenandung kecil menyanyikan lagu dari penyanyi favoritnya Raisa yang berjudul 'Terjebak Nostalgia'.


"Telah lama...


Ku tahu eng...kau...


Punya rasa...


Untukku...


Kini saat...


Dia tak kembali...


Kau nyatakan...cintamu...


Namun...


Aku...


Takkan pernah bisa...ku...


Takkan pernah merasa...


Rasakan cinta yang...kau...be...ri...


Ku terjebak, di ruang nostalgia...


Semua yang ku rasa kini...


Tak berubah sejak dia pergi...


Maafkanlahku...


Hanya ingin sendiri...


Ku..di..si..ni..."


"Ciee... Terjebak nostalgia..." Sontak Rachel menoleh ke samping kanannya.


"Njirrr, sejak kapan lo di situ?" tanya Rachel kepada orang yang sama.


"Sejak awal aku di sini kok."


"Bohong anjir lo! Tadi gue ga liat lo di situ, sana lo..." usir Rachel mendorong tubuh Ravlein menjauh dari barisan cowok kelasnya.


"Tadi aku telat barisnya, makanya kamu ga liat."


Rachel masih mendorong tubuh Ravlein yang enggan menjauh juga, ada beberapa pasang mata yang menengok ke arah mereka, namun tidak dipedulikan oleh keduanya.


"BODO AMAT! Lo mau telat kek, enggak kek. Sabeb lo! Udah sana... Balik ke barisan kelas lo, atau--"


"RACHEL!!" bentak seorang yang sangat terkenal se-SMA Ceniya.


"Duh, mampus..." gumam Rachel masih terdengar ke telinga Ravlein yang berada tepat di sampingnya.


Hampir seluruh pasang mata melihat ke arah belakang.


"Kenapa kamu ribut, Rachel?! Dan kamu... Anak baru! Sedang apa kamu di barisan anak kelas sebelas!"


Bu Kartika-Guru BK yang terkenal paling killer di antara banyaknya guru BK di SMA Cendera Satya.


"Saya kan murid baru, Bu. Belum mengetahui barisan saya di mana. Makanya saya baris di sini," kata Ravlein.


Cih, lo bukan orang bego kali, Rav. Udah jelas-jelas lo sengaja, masih aja ngeles... cibir batin Rachel.


"Nah, saya sudah memberitahu bahwa dia salah barisan dan menyuruh pergi ke barisannya, Bu, tapi dia menolak," ucap Rachel membela diri.


"Tidak usah alasan. Kalian berdua membuat keributan saat upacara tengah berlangsung. Ikut Ibu! Cepat!"


Ravlein dan Rachel hanya bisa pasrah mengekor Bu Kartika yang sudah menatap keduanya dengan tatapan setajam elang, serta menjadi tontonan hampir sebagian besar murid yang ada di sana.


Ini kedua kalinya dalam sehari gue jadi tontonan publik gegara kunyuk yang satu ini, rutuk batin. Rachel hanya bisa menatap kesal Ravlein yang berjalan beriringan dengannya di belakang Bu Kartika. Sementara Ravlein membalas dengan menampangkan cengiran tanpa dosanya yang membuat Rachel membuang muka malas.


Ketika pulang sekolah.


Rachel secepat kilat ke ruang BK sebab dampak kejadian saat upacara tadi, dia jadi harus ke BK lagi sepulang sekolah. Rachel juga heran kenapa dia masih harus ke sana, sedangkan tadi pagi sudah dihukum membantu Bu Kartika menyusun berkas-berkas BK yang begitu banyaknya.


"Hai, Princess."


"YA ALLAH!" Rachel mengelus dada, terkejut hebat akibat orang yang menyapanya barusan. "Sialan, lo mau bikin gue jantungan! Bisa ga sih, ga usah segala ngagetin? Udah kaya ghost aja lo tiba-tiba nongol!"


Dan ini ketiga kalinya dalam sehari Rachel kembali mendapat tatapan para murid, dan kini di koridor gedung kelas 11.


"Maaf, Hel. Kan tujuan kita sama."


"Udah deh ya. Tuh, lo ga liat? Kita tuh diliatin."


"Aku ga peduli tuh."


"Terserah deh," ucap Rachel dan berlari meninggalkan Ravlein yang menyunggingkan senyum melihat kelakuan Rachel.


Sepanjang koridor, Ravlein mendengar beberapa murid membicarakan tentang dirinya.


"Itu Ravlein Karaka Group kan?"


"Iya... Ganteng banget ya..."


"Ini barusan gue search di google, dia sebelumnya SMA di Amerika."


"Masa sih? Demi apa dia pindah ke sini? Apa Karaka Group mau bangkrut?"


"Huss... Ngarang lo! Karaka Group udah susah bangkrut saking gedenya."


"Terus alesan dia pindah ke Indo apa dah?"


"Kok lo nanya gue? Sono tanya ke orangnya langsung."


Ravlein tampak berpikir sepanjang jalan menuju ruang BK.


"Hmm... Alasan gue ke Indo lagi ya?" gumam Ravlein.


Tok, tok, tok...


Ravlein mengetuk pintu ruang BK, dan membukanya ketika mendengar sebuah suara mempersilahkannya masuk, hingga mata Ravlein melihat Rachel yang sudah duduk berhadapan dengan Bu Kartika.


"Karena dia."


***


"Eh... Rin, Rin, Rin," panggil Nilga ketika mendapati Karin yang sedang berjalan sendiri menuju gerbang.


"Apaan sih, Ga? Ga usah pegang-pegang, nanti gue aduin Rasya tau rasa lo!" Karin menepis kedua tangan Nilga yang memegang kedua sisi bahunya.


"Iya, maap, maap. Kebawa suasana."


"Kenapa sih? Panik banget lo, Ga."


"Itu, Rachel kemana, Rin? Selesai kelas, dia langsung hilang aja kaya sulap."


"Lo ngelawak ya, Ga? Rachel mana bisa sulap. Apa gue aja yang ga tau? Jangan-jangan Rachel diem-diem belajar sulap?" ujar Karin dengan tampang polosnya.


"Duh, salah gue bercandain dia," gumam Nilga.


"Oh, lo bercanda..." ucap Karin dengan cengirannya. Sedangkan Nilga tidak percaya bahwa Karin dapat mendengar gumamannya barusan dan bukannya tersinggung malah cengengesan.


"Iya, hehe... Jadi Rachel mana?" Nilga menggaruk tengkuknya, bingung menanggapi sikap Karin.


"Oh... Rachel ke ruang BK. Dia dihukum gegara kejadian pas upacara."


"Emang pas upacara kenapa?" tanya Nilga yang tidak tahu kejadian tersebut sebab harus baris berhadapan dengan barisan paling depan.


"Lo ga tau? Lo emang ga upacara? Lo cabut ke UKS ya? Awalnya juga gue ga tau sih, tapi tadi Rachel kasih tau."


Duh... Panjang dah nih urusannya, kaga kelar-kelar ngomong sama Karin, batin Nilga.


Nilga menepuk pundak kanan Karin. "Makasih ya, Rin. Gue duluan."


"SAMA-SAMA, GA..." teriak Karin karena Nilga sudah berlari menjauh.


"Kamu ngapain sama Nilga?"


"Eh, Sya. Tadi Nilga nanya Rachel dimana," jelas Karin.


"Oalah, kuy pulang bareng, urusan aku sama anak Voli udah kelar," ajak Rasya.


"Yah, Sya. Tapi Mamah aku udah jemput nih di gerbang."


Melihat ekspresi kecewa di wajah Karin, Rasya mengelus puncak kepala pacarnya itu. "Yaudah, aku anterin sampai ke Mamah kamu ya..."


Karin mengangguk antusias.


***


Nilga sudah sampai di dekat ruang BK. Terlihat seseorang sedang duduk di teras depan ruangan BK. Orang itu sadar akan kehadiran Nilga.


"Ada urusan apa lo ke sini?"


"Sama kaya lo."


"Rachel?"


"Ga perlu lo perjelas, Kra. Lo ga bego."


"Kalau begitu, mending lo pulang, Ga. Gue udah duluan dateng ke sini, jadi gue yang bawa dia balik."


Zenkra masih dengan santai duduk. Padahal, ucapannya barusan sukses membuat emosi Nilga memuncak.


"Buat apa pulang gitu aja."


"Ah, lo, Ga! Nambahin saingan aja, di dalam udah ada Ravlein."


"Yaudah, kita liat aja siapa yang Rachel pilih."


"Boleh aja."


Tak lama, daun pintu ruang BK terbuka dan menampakkan seseorang di sana yang menatap bingung ke arah Zenkra dan Nilga.


"Lho? Kalian ngapain di sini?"


"Lagi nunggu seseorang, Pak," jawab Zenkra.


"Nunggu orang cakep, Pak," timpal Nilga.


"Siapa? Bapak?" Dengan kepercayaan diri tingkat tinggi Pak Setya menunjuk ke depan mukanya.


"Bukan," jawab serentak keduanya.


"Siapa yang lebih cakep dari Bapak, Hah? Cepat katakan!"


Tak lama, daun pintu ruang BK terbuka kembali dan menampakkan sosok yang ditunggu-tunggu.


"Oh... Kalau ini sih, Bapak ngaku kalah. Si Anak Baru emang lebih cakep."


"Bukan." Serentak Zenkra dan Nilga berujar lagi.


"Sok atuh siapa? Kalian teh bikin Bapak lier."


"Rachel, Pak," ucap Zenkra dan Nilga yang lagi-lagi kompak.


Manik mata Pak Setya lantas tertuju ke arah Rachel yang baru keluar ruang BK.


"Eh... Neng geulis, dari tadi teh Bapak tunggu-tunggu."


"Hahaha... Bapak nunggu saya? Kenapa, Pak? Mau anter saya pulang?"


"Sok atuh kalau mau diantar, kebetulan pisan teh Bapak bawa mobil," ajak Pak Setya.


"Makasih, Pak. Kebetulan saya ga ada yang jemput." Rachel tersenyum girang.


"Ayok, atuh Neng geulis." Pak Setya mempersilahkan Rachel jalan duluan. Sementara Pak Setya menyempatkan berpamitan dengan ketiga cowok yang sedang melongo. "Punten nya, Bapak pulang duluan."


"Dah... Semuanya..." Rachel melambaikan tangan kepada ketiga cowok yang sedang melongo kebingungan.


Ketika sosok Rachel dan Pak Setya menjauh.


"Sialan, tuh tua bangka!" umpat Ravlein.


"Curi-curi start kita aja dia," timpal Zenkra.


"Tahu gini, mending gue balik duluan ikutin kata lo, Kra," seru Nilga.


"Ish... Tua bangka genit dasar," umpat Zenkra.


"Tau tuh, biasa banget deh kalau ada cewek bening," ujar Nilga.


"Ehem..."


Sontak ketiganya menegok ke asal dehaman.


"KALIAN BERTIGA DIHUKUM!!! MELANGGAR TATA KRAMA, MENGATAI GURU, MENGGANGGU KETENANGAN SAYA YANG SEDANG MENGERJAKAN DEADLINE... BESOK PAGI KE RUANGAN BK!!! KALAU TIDAK... KALIAN SUDAH TAHU AKIBATNYA."


"Baik, Bu Kartika," ucap ketiganya serentak menurut karena sudah mengetahui kekejaman guru BK-nya yang satu itu. Kalau mereka tidak datang ke ruangan BK besok pagi, membersihkan seluruh toilet di SMA Cendera Satya adalah hukumannya.


***


Ponsel di saku celana Zenkra bergetar saat dirinya baru ingin membuka pintu mobil sport miliknya ketika di parkiran sekolah.


"Halo, Pah..."


"Besok Papah pulang ke Indonesia." Suara Tio Aksa Widyarta-Papah Zenkra di seberang telepon dari Amerika.


"Ada apa?"


"Papah ingin pulang harus ada alasan?!" bentak Tio.


"Kali ini apa?"


"Tunggu saja dan lihat, hahahha..."


Tut


Panggilan diputus Tio. Zenkra bergidik ngeri mendengar tawa psikopat Papahnya. Kali ini apa lagi? batin Zenkra bertanya-tanya.