
Pertemuan bodoh...
***
"RACHELLL!!!"
Dengan menggelegar suara di sampingnya sukses memekakkan telinga. Tangan wanita itu memegang ke segala apapun yang dianggap mampu menyelamatkan hidupnya.
"Iyaa, Tante..."
Dengan senyum menyeringai Rachel menjawab. Mereka berkomunikasi dengan setengah berteriak karena begitu bising.
"Kamu jangan gila, Hel..."
"Hahahaha... Ini balasan karena Tante udah bohongin aku..."
"Bohong dimananya??? Tante bicara apa adanya... Kamu masih dendam sama Tante yang ngerjain kamu kemarin soal Kak Claresta???" ucap wanita itu yang tidak lain adalah Garnisa. Rachel masih kesal dengan Tantenya yang mengerjai dan membuat Rachel beranggapan bahwa Mamahnya sudah tiada.
Dengan sekali hentak, mobil putih ditancapkan gasnya membuat laju semakin mengencang.
"RACHELLL... KAMU MAU BIKIN TANTE MATI MUDA?! HAH?!"
Tanpa menggubris kicauan Tantenya, Rachel berhenti tepat di depan rumahnya. Diikuti mobil merah milik Mamahnya di belakang.
"Hahahaha... Ga mati kan, Tan? Udah sampai," ucap Rachel dengan nada normal kembali.
"Kamu gila... Udah lama ga bawa mobil malah berani banget ngebut begitu."
Rachel cengengesan, sedangkan Garnisa turun dari mobil.
***
Zenkra's POV
Ketika gadis itu turun dari mobil, seketika gue menghampiri, dan membawanya ke pelukan gue. Kemarin ternyata Mamahnya Rachel masuk rumah sakit kata Bi Imah pas pulang sekolah kita mampir. Yap, gue, Nilga, Karin, dan Rasya mengunjungi rumah Rachel kemarin. Dan hari ini pun kita datang karena Bi Imah bilang mereka akan pulang sore.
"Ini kenapa sih peluk-peluk?" Dengan seketika pelukan gue dilepas.
Gue kini berdiri menghadapnya. "Gue kan kangen, Hel."
"RACHELLL!!! INI COWOK KAMU GANTENG BANGET SIH..."
Gue tersentak ketika melihat seseorang yang baru turun dari mobil.
"Tante berisik banget sih... Cowok siapa???"
Gadis yang baru turun tersebut kini berjalan menghampiri.
Lah? Gue ga lagi halu kan?
Gue dibuat bingung dengan apa yang ada di hadapan gue. Setelah beberapa kali mengerjapkan mata, gue melihat Nilga yang menghampiri gadis itu, dan lantas memeluknya.
"Gue meluk orang yang bener nih, Kra." Nilga terkekeh, kemudian berucap lagi, "gue kangen lo, Hel. Lo apa kabar?"
***
Rachel's POV
Mamah tadi menelepon gue tepat setelah Tante Garnisa turun dari mobil.
"Hel, Mamah mau balik lagi ke butik sebab masih ada kerjaan. Mamah ikut pulang karena khawatir kalian kenapa-kenapa, lagian kamu bawa mobil ugal-ugalan begitu."
"Yah, Mah. Masa udah balik lagi aja, Rachel juga masih kangen."
"Ya gimana dong, Hel. Nanti Mamah kabarin kalau mau pulang."
"Iya, Mah. Ini Tante Garnisa ga ikut Mamah?"
"Enggak deh. Mamah pusing sama Tante kamu, biarin dia menginap di rumah aja, sekalian nemenin kamu ya."
"Ya udah deh, Mah. Hati-hati, jangan lupa istirahat, mandi, makan. Rachel ga mau Mamah masuk rumah sakit lagi kaya sebelumnya."
"Iya, iya. Mamah tutup ya teleponnya..."
"Iya, Mah."
Sambungan telepon terputus.
"RACHELLL!!! INI COWOK KAMU GANTENG BANGET SIH..."
Duh... Ini Tante Garnisa kenapa lagi sih? Cowok siapa?
"Tante berisik banget sih... Cowok siapa???"
Lantas gue pergi menghampiri Tante Garnisa. Ini ada apaan ramai-ramai begini? Kak Zenkra di dekat Tante Garnisa, tidak jauh ada Nilga, Karin, sama Rasya yang lagi cengengesan entah karena apa.
Kemudian Nilga menghampiri gue dan tiba-tiba memeluk. Gue diam saja karena jujur, ini gue bingung pada kenapa.
"Gue meluk orang yang bener nih, Kra." Nilga terkekeh, kemudian berucap lagi, "gue kangen lo, Hel. Lo apa kabar?"
"Hm? Baik kok gue... Ini pada kenapa sih?" ucap gue menanyakan kebingungan yang dari tadi menyarang di benak dan pikiran gue.
"Ga ada apa-apa, Hel." Nilga menelusupkan kepalanya di leher gue dan membuat gue kegelian. Tiba-tiba tangan gue ditarik paksa.
"Kak Zenkra? Kenapa tarik-tarik sih?"
"Lo seneng dipeluk Nilga?"
"Enggak gitu, Kak. Gue cuma bingung. Ini ada apaan?"
"Itu diem aja gitu dipeluk-peluk. Jangan bikin gue marah dan kalap ngehabisin dia."
"Haduhhh... Anak muda jaman sekarang. Kalau nyelesaiin masalah sukanya di tempat umum. Ayo kita masuk dulu biar otak jadi dingin kena AC," ajak Tante Garnisa yang dengan santai melenggang duluan membelah jarak antara gue dan Kak Zenkra.
Di ruang tamu rumah gue.
Tante Garnisa sudah lebih dulu duduk di single sofa dan kita menyusulnya duduk. Gue diapit dengan Kak Zenkra dan Nilga, sedangkan Karin dan Rasya duduk bersama.
"Halo, Tante Garnisa. Apa kabar?" ucap Karin, senyumnya tidak luntur sendari tadi di depan rumah.
Tante Garnisa menyipitkan mata dan terlihat mengingat-ingat. Kemudian matanya membelaklak.
"KARIN???" Tante bangkit dan memeluk Karin. "Apa kabar kamu? Tante terakhir kali liat kamu pas... hmm... Kapan ya, Hel?"
"Pas SMP, Tan..." jawab gue sambil memutar bola mata, malas.
"Oh iya. Udah lumayan lama Tante ga main ke sini." Kini Tante kembali duduk di sofa. "Hmm... Oh iya, itu pacar kamu yang mana, Hel? Yang tadi meluk Tante atau yang satunya?"
Gue lantas melotot mendengar ucapan Tante Garnisa. "Meluk Tante?"
"Iya, Hel. Kak Zenkra tadi pasti mikir kalau Tante Garnisa itu lo, makanya langsung meluk aja." Karin bersuara.
Gue menoleh ke arah Kak Zenkra.
"Gue ga tau, Hel. Soalnya kalian mirip."
"Mirip dari mananya? Meskipun banyak yang bilang begitu, masa lo ga bisa bedain sih, Kak?" Entah mengapa gue kesal. Dari rambut saja kita sudah berbeda, Tante Garnisa berambut panjang, sedangkan gue sebahu. Memangnya muka kita mirip?
"Ya maaf... Abisnya udah kangen berat."
"Hahahaha... Untung gue ga salah peluk," ucap Nilga.
"Lah, lo aja dikasih tau Karin tadi kalau yang dipeluk Kak Zenkra itu Tantenya Rachel," timpal Rasya.
"Ish... Sama aja kalian berdua," ucap gue kesal.
"Ehem, ehem... Ini Tante nanya ga dijawab? Pacar kamu yang mana Adinda Rachel Karenina? Jangan bilang dua-duanya? Hehehehe... Keponakan Tante emang sama berbakatnya kaya Tantenya kalau soal cowok," ucap Tante Garnisa bangga.
"Ish... Apaan sih, Tan. Rachel ga punya pacar," gerutu gue.
"Waduh... Kalian berdua barusan ditolak sama Rachel. Gimana kalau sama Tante aja? Kita kan mirip, di jaman sekarang ini pernikahan beda umur bukan masalah. Netizen pasti maklum kok..."
"TANTE... STOP! JANGAN JADI KAYA TANTE GIRANG DI LUARAN SANA." Gue berteriak menyudahi ucapan gesrek Tante Garnisa. Pantas Mamah pusing bukan kepalang menghadapi sikap adik satu-satunya ini. Kadang gue suka kesal kalau kelakuan kita disama-samain. Jelas otak gue masih lebih waras.
"Keep calm babe... Jadi, saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu supaya tidak terjadi insiden salah peluk lagi seperti tadi. Saya sih suka-suka aja dipeluk sama cogan, tapi nanti Rachel jadi harus kalah bersaing sama saya. Perkenalkan, saya Garnisa, Tantenya Rachel, adik dari Mamahnya Rachel. Salken ya..."
Kemudian Tante beranjak bangun dan menyalami teman-teman gue. Sedangkan gue hanya bisa geleng-geleng kepala. Karin sudah tahu tabiat Tante. Dan yang lain hanya melongo.
"Maaf, Neng Rachel. Di depan ada tamu," ucap Bi Imah menyela di tengah pergerakan Tante Garnisa.
"Siapa, Bi? Suruh masuk aja."
"Baik, Neng."
Tak lama Bi Imah kembali disertai seorang laki-laki di belakangnya.
"Hai, mantan... Apa kabar?" ucap laki-laki itu disertai seringaian khasnya. Seluruh mata tertuju pada laki-laki itu.
"Wah... Semakin seru ini... Siapa lagi dia, Hel?" tanya Tante Garnisa tersenyum penuh arti.