Rachel

Rachel
Rachel is Comeback



Rasya konyol. Nilga mendadak jadi pendiam.


***


15.00 WIB.


Sudah dua minggu sejak kejadian Raline dan teman-temannya.


Rachel tidak mungkin lupa. Ketika Raline menyiram dia, Nilga yang meminjamkan sweater, Karin yang pulangnya langsung mengadu ke Claresta, Claresta tidak terima, dan sekolah bertindak dengan semestinya. Raline dan teman-temannya di-skors seminggu.


Sementara selama dua minggu, hidup Rachel sedikit tenang. Dan selama itu juga, gadis itu harus menginap di sini, di tempat yang menampung Rachel sekarang.


Claresta merangkul Rachel. Mencium kening putri semata wayangnya. Sebelum akhirnya mereka memasuki mobil dan melesat pergi.


"Bagaimana?" tanya Claresta.


"Bagaimana apanya, Mah?" Rachel balas dengan bertanya.


"Udah siap? Kamu masih bisa menundanya sampai lusa," ucap Claresta sedikit cemas melihat putri semata wayangnya ini.


"Siap, Mah. Kita bisa mulai besok."


"Ya udah. Kamu harus jaga diri baik-baik. Mamah khawatir."


"Iya, Mah."


Saat mobil menepi di plesteran rumah.


Rachel bergumam, "Duh... Kangen deh." Buru-buru dia turun dari mobil dan berlari masuk.


Hal pertama yang Rachel jumpa dan rindukan adalah kamarnya. Pasalnya, dia benar-benar tidak betah tidur di ranjang rumah sakit.


Gadis itu langsung melompat dan memeluk kasur yang dua minggu ini tidak dia tiduri.


Claresta naik dan menemui Rachel di kamarnya.


"Hahaha... heran Mamah tuh, kamu pulang dari rumah sakit, kenapa yang dikangenin malah kasur, hah?" tanya Claresta, geleng-geleng kepala melihat gelagat putrinya.


"Ya, gimana dong, Mah. Rachel nggak betah di rumah sakit. Pokoknya nggak senyaman di kamar Rachel sendiri."


Tiba-tiba.


"Rachelllllll..." pekik Karin yang datang-datang langsung memeluk tubuhnya.


"Ish, ngapain sih peluk-peluk? Kaya nggak ketemu setahun aja lo!" ucap Rachel meronta dari pelukan Karin.


"Mamah ke dapur dulu ya." Claresta pamit pergi setelah Rachel dan Karin mengiyakan.


"Gue kangennnn..." ucap Karin teramat lebay.


"Cih. Baru semalem ketemu di rumah sakit, udah bilang kangen aja lo," dengus sang lawan bicara.


"Iya sih. Tapi 'kan, gue kesepian kalau di sekolah," ucapnya dengan nada sok sedih.


Setelah kejadian itu, dua minggu Rachel berada di rumah sakit. Dia dirawat karena terkena gejala tifus. Syukur cuma dua minggu. Bayangkan saja.


Hari itu. Pagi-pagi sekali Karin ke rumah Rachel, menarik dia dari kasur dalam kondisi setengah sadar, langsung diguyur meski masih pakai baju tidur, ditambah belum sarapan. Terus... di sekolah, Raline menyiram Rachel menggunakan air mineral, karena begitu makanya tidak jadi makan siang dan langsung balik ke kelas. Setelah kejadian tersebut, seharian itu Rachel memakai seragam basah yang didobel sweater-nya Nilga. Pulang-pulang, itu seragam sampai sudah kering lagi, astaga...


Masih bersyukur baru gejala tifus. Itu hari benar-benar bala.


Rachel dengar dari Claresta dan Karin, kalau Raline and the geng di-skors selama seminggu. 'Biarin aja, masih mending nggak di DO. Oh iya, sweater-nya Nilga masih di gue, lupa naruhnya dimana,' pikir Rachel mengingat-ingat.


Besok Rachel sudah bisa mulai sekolah. Claresta menyuruhnya lusa, tapi Rachel ada rapat OSIS untuk acara tujuh belas Agustus-an. Itu pun, harusnya anak OSIS rapat dua hari yang lalu, tapi berhubung Rachel sakit, jadi diundur.


"Dan besok... apa yang bakal gue lakuin kalau ketemu Raline?" gumam Rachel pelan mengundang tanya dari Karin.


"Lo ngomong apa, Hel?"


"Ah... bukan apa-apa."


"Dih, nggak jelas. Kasih tau, nggak?" paksa Karin.


Rachel tergelak, "Apaan sih? Bukan apa-apa juga. Hahaha..."


"Jangan-jangan barusan lo abis bilang rindu ke gue ya?" Tatapan menyelidik Karin membuat tawa Rachel semakin kencang.


"Apa sih? Jijik tau nggak. Rindu-rinduan."


***


Esok harinya. SMA Cendera Satya.


Seperti biasa, Rachel berangkat bersama Karin. Tapi kini tidak diantar Karel, karena katanya, Karel sibuk mengurus persoalan kuliah. Jadilah Karin ke rumah Rachel dan mereka diantar Claresta sekalian wanita itu berangkat ke butik.


Ini semata-mata karena Rachel habis sakit, makanya Claresta menyempatkan waktu untuk mengantar, padahal banyak urusan di butik yang mesti diselesaikan.


Kalau bertanya perihal Papahnya... Beliau sudah tenang di sisi Yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu, sesibuk apapun Claresta, pasti akan selalu menyempatkan waktu di saat Rachel membutuhkan supaya anaknya tidak kekurangan kasih sayang orang tua.


Sekarang mereka telah berapa di depan gerbang SMA Cendera Satya. Sepanjang jalan menuju kelas, Rachel memperoleh banyak sapaan dan bahkan banyak yang bertanya bagaimana keadaan gadis itu. Mereka tahu Rachel sakit setelah tindak bullying yang dilakukan oleh Raline and the geng.


Dalam hatinya bergumam, "Gue merasa ini sangat kontras dengan terakhir kali gue ditatap dengan tatapan tajam dan penuh dengki. Kenapa mereka jadi baik banget sama gue gini sih?"


Semuanya sudah selesai dan menguap begitu saja, bahkan tadi Rachel sempat kepapasan melihat Raline yang seolah menghindarinya.


'Inget dosa kali dia,' pikir Rachel. Walau gadis itu masih agak heran mengapa seakan segala yang terjadi ini berbanding terbalik dengan keadaannya yang dihujat banyak orang akibat tragedi penembakan tempo hari.


Di kelas.


Sekilas, Rachel melihat Nilga dan Rasya sedang mengobrol. Mereka duduk di bangku paling belakang juga. Bedanya, jika Rachel dan Karin memilih barisan tengah, kedua laki-laki tampan itu malah menyukai barisan paling pojok dekat tembok.


Rachel melenggang duduk. Diikuti Karin setelahnya. Sementara nan jauh di sana, Nilga sedang menyenggol tangan Rasya. Keduanya lantas berdiri dari duduk dan menghampiri dua orang gadis cantik yang menyita perhatiannya.


"Hel..." panggil Rasya. "Lo udah baikan?"


"Belomlah. Dia aja baru masuk sekolah, gimana caranya baikan sama Raline?" ucap Karin menyambar dengan sinis.


"Hahaha... Maksud gue, keadaan dia udah baikan atau belom, begitu." ucap Rasya membenarkan. Baik Rachel maupun Rasya tertawa, bahkan Nilga yang sekarang sedang menjaga image pun mengukir senyum sebab tidak tahan dengan kesalahpahaman Karin, sementara Karin malu sudah salah sangka.


"Udah kok. Omong-omong, kita kenalan aja belom, kok lo udah sok akrab banget sih sama gue," ucap Rachel dengan mimik wajah normal, namun orang yang melihatnya pasti akan menyangka kalau Rachel sedang ketus pada lawan bicara.


"Hahaha... iya juga. Gue, Rasya Adrian Pelitaraya. Panggil Rasya, atau 'sayang' juga boleh. Sejujurnya gue nge-fans lihat lo waktu itu," gombal Rasya mengulurkan tangan berkenalan.


"Oh, yang pas Raline bully gue? Gue inget sekarang, lo itu orang konyol yang memuji gue pas udah selesai berurusan sama Raline tempo hari." Rachel menerima uluran jabat tangan dari Rasya lantas berucap, "Gue, Adinda Rachel Karenina. Panggil aja Rachel, nggak usah sayang-sayangan."


Rachel tersenyum setelahnya.


"Widihhh... lo cantik kalau senyum. Omong-omong, jangan bilang-bilang Kak Zenkra kalau gue abis godain lo, bisa dijadiin perkedel nanti gue."


Gadis itu terkekeh. Rasya asik juga.


"Gombal! Gue yang bilangin tau rasa lo!" ancam Karin.


"Et, Rin. Jangan kek, lo tega lihat muka ganteng gue bonyok, hah?" ucap Rasya memohon, menangkupkan kedua tangan seraya memasang wajah memelasnya.


Anak-anak sekelas sepertinya sudah mengenal Rachel dan Karin, palingan hanya Rachel saja yang belum mengenal mereka satu-satu. Sebab Rachel termasuk jajaran siswi most wanted, sementara selama dua minggu dirawat menyebabkan dia baru mengenal beberapa anak saja di kelasnya.


Karin menjulurkan lidah pada Rasya. "Wleee... lihat aja nanti, gue aduin Kak Zenkra!"


"Jangan, Rin..."


Rasya menepuk bahu Nilga dan membuatnya gelagapan, ketangkap basah sedang menatap ke arah Rachel dengan lekat. "Woiii, Ga! Diem aja lo!"


"Dia terpesona sama gue, Sya," ucap Rachel membalas seraya mengibaskan rambut sok cantik.


"Tahan, Ga, tahan. Punya Kak Zenkra ini. Baek-baek kena bogem."


Ditertawai oleh ketiganya, Nilga kini malah mengelak, "Siapa juga yang terpesona sama lo?!"


"Terus apa? Lihat-lihat gue sampai melongo gitu," ledek Rachel.


"Duh, Rin... Masalah rumah tangga nih. Ayo, Rin!" Rasya mengajak Karin ke bangku tempat duduknya.


"Gue cuma mau ingetin lo, sweater belom dibalikin," ujar Nilga sontak membuat Rachel menepuk jidat.


'Oh, iya. Padahal niatnya gue mau bawa hari ini. Lupa.'


"Iya, gue lupa," ucap Rachel dengan nada sesantai mungkin. Padahal hatinya sedang merutuki diri sendiri yang sering kali pelupa.


"Kita nggak mau kenalan?" tanya Nilga, Rachel menatapnya aneh. "Maksud gue... Lo ajak Rasya kenalan, gue enggak?"


Rachel ber-oh ria. Mengulurkan tangan ke arah Nilga. "Tadi lo udah denger nama gue, 'kan?"


Nilga mengangguk dan menerima uluran tangan darinya.


"Gue, Nilga Putra Adyatama. Panggil Nilga."


Yang diajak bicara mengangguk dibarengi suara bel sebagai tanda pelajaran akan dimulai.


Tringgg... tringgg... tringgg...


Para murid berhamburan menuju bangkunya masing-masing.


"Eh, Bro! Gue mau duduk sama Karin. Nih, tas lo!"


Rasya menukar tas Karin dengan tas Nilga.


"Eh, Rasyaaa!!!" teriak Rachel.


"Pinjem dulu," jawab Rasya santai menarik tangan Karin seolah gadis itu adalah barang yang bisa dipindah tangan.


Rachel mendengus kesal. Sementara Nilga duduk tanpa protes di bangkunya Karin.


Melihat Nilga tidak masalah duduk dengannya, Rachel pun acuh tak acuh dan berdiri.


"Mau ke mana lo?" tanya Nilga mencuat.


"Kenapa? Takut gue tinggal? Iya?" ledek Rachel dengan pose mengejek. "Tenang aja kali, Ga. Gue cuma mau ambil buku."


Setelahnya membuka kunci loker dan mengambil buku paket Matematika. Nilga bingung awalnya melihat betapa sesak loker gadis itu, sesaat kemudian dia mengerti.


"Cerdas juga lo. Di rumah nggak ada buku sama sekali gitu?" ucap Nilga sambil cengengesan, dia mengerti cara jitu Rachel yang menyimpan semua buku di loker.


"Ada, buku tulis sama LKS."


"Bisa gue teladan ini," puji Nilga.


Rachel mengibaskan rambut. Bangga.


Mereka asik tertawa. Namun, sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasi mereka tanpa disadari.


Bersambung.