Rachel

Rachel
Prolog & Epilog



PROLOG


Bagi diriku di masa lalu. Kehilanganmu adalah hal yang tak apa untukku. Jangankan wujudmu, bayangmu tak ada pun bukan masalah bagiku. Ketika senyummu itu seolah lenyap, dan tak pernah ada lagi, mungkin aku masih dapat berkata "aku baik-baik saja, dan akan selalu begitu".


Namun, kini. Ada hal yang membuatku ragu. Yaitu, ketika diriku mulai merasa bahwa kehilanganmu adalah hal yang ada 'apa-apanya' untukku. Yang bahkan, jangankan wujudmu, bayangmu tak ada pun merupakan masalah bagiku. Ketika senyummu itu seolah lenyap, dan tak pernah ada lagi, mungkin aku hanya bisa berkata "aku tak baik-baik saja dan akan selalu tak bisa baik-baik saja".


Terima kasih dirimu yang telah mengajarkanku cara menghargai dan mengingatkanku bahwa bayangmu nyata, dirimu nyata, bahkan senyummu nyata.


Dariku


Adinda Rachel Karenina


***


EPILOG


6 tahun setelahnya...


Bagi diriku di masa lalu. Kehilanganmu adalah hal yang tak apa untukku. Jangankan wujudmu, bayangmu tak ada pun bukan masalah bagiku. Ketika senyummu itu seolah lenyap, dan tak pernah ada lagi, mungkin aku masih dapat berkata "aku baik-baik saja, dan akan selalu begitu".


Namun, kini. Ada hal yang membuatku ragu. Yaitu, ketika diriku mulai merasa bahwa kehilanganmu adalah hal yang ada 'apa-apanya' untukku. Yang bahkan, jangankan wujudmu, bayangmu tak ada pun merupakan masalah bagiku. Ketika senyummu itu seolah lenyap, dan tak pernah ada lagi, mungkin aku hanya bisa berkata "aku tak baik-baik saja dan akan selalu tak bisa baik-baik saja".


Terima kasih dirimu yang telah mengajarkanku cara menghargai dan mengingatkanku bahwa bayangmu nyata, dirimu nyata, bahkan senyummu nyata.


Dariku


Adinda Rachel Karenina


Beberapa kalimat yang berhasil Rachel rangkai untuk prolog cerita pertamanya.


Dari untaian kata-kata tersebut menceritakan penyesalan akan kehadiran seseorang di dalam hidupnya yang baru di sadari.


Memang seperti itu niatnya perlakuan Rachel terhadap setiap novel yang ditulisnya. Dimana terdapat kata-kata mutiara darinya di awal sebagai prolog yang mewakili isi cerita.


Cerita tersebut sudah selesai Rachel tulis dan kemungkinan akan ada bagian kedua dari kelanjutan ceritanya.


"Huft... Ternyata nge-revisi lebih melelahkan dari pada nge-halu." Rachel terkekeh, kemudian menyesap kopi moccacino dari sebuah kafe di Korea Selatan.


"Akhirnya selesai juga." Senyum Rachel mengembang puas.


***


ANNOUNCEMENT


YOU AND I


Halo, Pembaca!


Terima kasih atas dukungan kalian di karya aku ini yang berjudul Rachel. Terima kasih juga atas Vote, Komen, dan Like kalian, huhu aku terharu... Hmm... Aku berniat buat S2 Rachel, menurut kalian bagaimana?


Kenapa aku baru menyapa di akhir cerita Rachel ya? Maaf... Hehe niatnya biar jadi kejutan. Sekali lagi aku berterima kasih sekali atas dukungan kalian yang sudah mau membaca dan memberikan vote, serta apresiasinya.


Aku sadar sekali bahwa karya aku ini jauh dari kata sempurna, dengan bahasa dan penulisan yang masih acak-acakan ini semoga kalian terhibur. Karena aku hanyalah butiran debu tanpa kehadiran kalian. Luv u all...


"Kalau kalian senang, aku juga..."


-Zenkra, Nilga, Ravlein.


"Terima kasih atas kepercayaan kalian..."


-Rachel, Karin, Sania, Silcha.


Semoga aku bisa terus menuliskan karya-karyaku yang lain. Menghibur dan menemani keseharian kalian dengan cerita-cerita ringan dan menyenangkan. Sampai jumpa di lain kesempatan, tunggu kehadiranku lagi ya dengan karya-karya lainnya. Semoga kita diberikan kesehatan dan umur panjang.


Oh iya, jangan lupa baca cerita aku yang lain judulnya 'Seventh-Fortune or Disaster' genre teen romance dan 'Kompas di Bawah Cahaya Bulan Sabit' genre teen mistery. Terkhusus lagi untuk kalian yang lebih suka bahasa yang baku dibanding cerita 'Rachel' yang ringan ini.


See yaa,


Salam manis dariku,


Yanuarita