Rachel

Rachel
Bab 22



Aku bilang tidak takut pada apapun resikonya. Termasuk dirimu yang mengabaikanku.


Tetapi, aku tidak bilang bahwa hati ini tidak kecewa. Mengapa kamu pergi mengejar kekecewaannya dan meninggalkan kekecewaanku?


Nilga Putra Adyatama


***


Nilga's POV


Hati gue sudah bukan seperti piring pecah lagi. Ini lebih parah. Gue yang awalnya tidak mengerti menapa Rachel pergi begitu saja tanpa sepatah kata apapun, akhirnya pun mengikutinya.


Rooftop gedung kelas 11?


Sejak kapan si Rachel tahu tempat ini?


Batin gue bertanya-tanya karena kebingungan. Samar-samar gue mendengar pembicaraan serius antara laki-laki dan perempuan.


"Lo marah sama gue? Ga mau liat muka gue? Emang semenjijikan apa muka gue sampai lo ga mau liat? Kenapa dari tadi lo ngomong ke gue tapi tatapan lo ke arah lain?"


Itu suara Rachel.


Yang ditanya malah diam saja.


"Diemin aja terus gue, Kak. Gue balik kelaslah, berasa debu gue di sini. Ga berarti!"


Rachel berucap lagi namun kini sedikit membentak.


Gue hanya mampu menatap dari kejauhan, Rachel yang beranjak bangun, dan seketika tangannya ditarik hingga membuatnya kembali terduduk di plesteran.


"Rasanya gue selalu pengen meluk kalau ngeliat ke arah lo."


Zenkra memeluk Rachel.


Langit di hati gue memendung kelabu. Kilat amarah mungkin bisa orang lain lihat di bola mata gue. Dengan langkah cepat, gue pergi bersama kekecewaan tanpa mau mengetahui kelanjutan kedua manusia yang tengah berpelukan itu.


Cukup. Meskipun siap menanggung resiko, bukan berarti kekecewaan tidak akan singgah di hati ini. Tidak ada tempat tujuan selain UKS. Bukan hanya karena AC yang mungkin bisa mendinginkan hati dan pikiran gue, melainkan di sana begitu tenang untuk merenungi segala yang hinggap dan bergulat di dalam benak.


Mata memejam ketika tubuh merebah di ranjang UKS. Di sana ada Kak Sandra yang tengah sibuk menyusun obat-obatan, namun tidak sama sekali mengganggu gue.


Tettt... Tettt... Tettt...


Bel tanda istirahat berakhir, juga tanda bahwa pelajaran Bahasa Indonesia akan dimulai. Diri gue enggan beranjak dan justru memejamkan mata untuk menjelajah ke alam mimpi.


17.00 WIB.


Rasanya begitu sepi. Dengan setengah sadar dari tidur, gue memandangi suasana UKS yang tidak berubah sama sekali. Kak Sandra pun masih di bangku singgasananya seperti biasa.


"Baru bangun?"


"Hmm..." deham gue menjawab pertanyaan yang dilontarkan Kak Sandra. Perempuan itu tersenyum lebar.


Gue merogoh kantong celana berniat mengambil ponsel dan beranjak bangun menuju ke pintu. "Gue balik, Kak."


"Iya hati-hati," sahut Kak Sandra, lagi-lagi dengan senyum. Terkadang itu cukup mengusik, karena senyumnya seperti seolah memuja gue.


Sepanjang jalan menuju kelas 11 IPA 1, gue masih melihat beberapa murid yang mengikuti ekskul. Namun, jam pulang sekolah sudah berlalu satu jam sebelumnya.


Kelas begitu sunyi. Hanya ada bangku dan meja di sana dan beberapa coretan di papan tulis bekas pelajaran Kimia, pelajaran setelah Bahasa Indonesia.


Dengan langkah santai, gue menghampiri tas yang masih bertengger di bangku kebanggaan. Sebelumnya gue sempat membuka ponsel yang menampilkan notif dari Rasya.


Si Sengkleh Rasya


Lo mesti cerita soal tadi


Gue cuma read. Lalu mengusap wajah dengan kasar dan frustasi. Kini jari gue mengetik sebuah nama dan men-dial.


"Halo..." Suara dari seberang telepon.


"Bawa pulang motor saya dari rumah Rachel."


"Baik, Tuan Muda."


Mungkin memang sudah seharusnya gue merelakan dia.


***


Brak!


Bruk!


Pletak!


Sania's POV


Betapa jelek kebiasaan gue ketika marah. Maklum, karena jarang sekali orang di rumah ini yang membuat emosi gue hingga memuncak seperti sekarang. Bahkan tidak akan ada yang berani.


"Wah... Wah... Wah..."


Shit! Siapa yang membiarkan dia masuk? Gue dalam mood buruk untuk menyambut seorang wanita ular seperti dia sekarang.


"Sepertinya, gue dateng di saat yang tepat," ucapnya melangkah masuk ke dalam kamar yang begitu kacau hingga mungkin orang lain akan menganggapnya kapal pecah.


Beberapa barang berserakan, tak dipungkiri beberapa juga ada yang rusak. Kamar yang didominasi berwarna pink ini seharusnya terlihat layaknya kamar seorang princess. Namun kini lebih terlihat seperti kamar berhantu, dimana segala benda tidak tertata rapi seperti sediakala.


Gue mendudukan diri di sisi ranjang yang seprei-nya sudah urakan. "Mau apa lo ke sini?"


"Apa lagi? Menenangkan sahabat gue tentunya," balasnya kini merebahkan tubuh di sisi ranjang yang kosong.


Batin gue merutuki persahabatan bodoh gue bersama wanita ular ini. Kita sudah dekat sendari kecil, tak dipungkiri persahabatan kita akan terbentuk. Gue, Zenkra, dan putri Rameldant ini--Silcha.


Meski usia dia terpaut satu tahun lebih muda dibanding gue dan Zenkra. Bagi gue, wanita ini tidak lebih seperti wanita ular. Bahkan julukan nenek sihir yang sering disematkan pada diri gue pun tak seberapa dari kelicikannya. Silcha akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Zenkra. Ya, dia menyukai Zenkra.


Namun, Zenkra begitu menyukai Rachel, hingga ketika kasus pem-bully-an yang dilakukan Raline and the geng pun gue juga yang harus turun tangan. Zenkra meminta gue untuk memberikan pelajaran kepada mereka hingga bungkam dan tidak berani bertingkah lagi kepada Rachel. Karena itu pula, Silcha begitu marah dan menyebar foto Rachel bersama Nilga ke grup angkatan kelas 11, ke gue, maupun Zenkra dengan akun chat berinisial 'R'. Benar-benar wanita ular itu, niatnya membuat Rachel dimusuhi teman se-angkatan.


"Kita sama-sama korban di sini, San," ucapnya tenang dengan posisi terduduk sekarang. "Satu gadis bisa merenggut kebahagiaan kita berdua."


Ucapan Silcha ada benarnya juga. Seorang Rachel mampu memporak-porandakan persahabatan sekaligus kisah cinta di hidup gue.


Secara logika. Rachel yang hadir karena perihal surat, mampu meluluh-lantahkan hati seorang tuan muda Widyarta. Itu mengusik Silcha. Kini, giliran gue yang terusik sebab Nilga ikut jatuh hati kepadanya.


Gue heran. Apa yang istimewa dari seorang cewek jutek seperti Rachel?


Mampu gue akui dia cantik dan unggul kalau soal prestasi dibanding gue ataupun Silcha. Namun hal itu di luar akal sehat. Hanya karena itu?


"Hahaha... Sekarang lo merasakan apa yang selama ini gue rasakan, bukan?" Tawa jahat Silcha memecah lamunan gue. "Niat bekerja sama?"


Ini gila! Betapa mengerikan kalau kita sampai bekerja sama.


"Oke. Kita buat dia sadar diri."


Persetan dengan kemarahan Zenkra nanti, gue tidak peduli.