
"Kak Zenkra?" suara Rachel tanpa sengaja, membuat yang dipanggil sontak menoleh.
"Rachel?" suara Zenkra saat mendapati yang memanggilnya adalah Rachel. Di gandengan Zenkra sudah ada Sania. Ekspresi wajah Sania sudah kesal saja bawaannya jika melihat Rachel.
"Zenkra?" sapa orang di belakang Rachel memastikan yang dilihatnya benar Zenkra. Rachel melongok, ternyata orang itu adalah Nilga yang diekori Tante Garnisa.
"Long time no see, Rachel. Kapan kamu kembali ke Indonesia?" tanya Zenkra melepas gandengan Sania, setelahnya mengulurkan tangan untuk dijabat.
Alih-alih Rachel yang menerima jabatan tangan tersebut, Nilga sudah lebih dulu menjabat tangan Zenkra menggantikan Rachel.
"Dia baru kembali sepekan yang lalu," sahut Nilga sembari mengguncangkan jabatan tangan mereka. "Maaf, gue terlalu sibuk jadi terlambat mengatakan ini. Selamat atas pertunangan lo dengan Sania."
Rachel bukannya tidak tahu jika Zenkra sudah bertunangan dengan Sania setahun yang lalu tepat saat pria itu meneruskan pendidikannya mengejar gelar magister. Mungkin sebentar lagi kuliah S2-nya akan selesai. Rachel masih bisa mendapat informasi itu dari Silcha yang notabene sepupunya sekarang. Silcha jadi baik setelah mengetahui hubungan darah di antara mereka.
"Terima kasih atas ucapan lo, Nilga. Tapi, hubungan kalian berdua adalah..." ucap Zenkra menggantungkan kalimatnya.
"Untuk saat ini Rachel masih artis gue, tapi di masa depan dia adalah menantu kediaman Adyatama," tegas Nilga membuat seseorang terbatuk-batuk tersedak air ludahnya sendiri setelah mendengar pengakuan itu.
"Uhuk... uhuk..." batuk Tante Garnisa di belakang Nilga.
Rachel sampai heran melihat kelakuan Tante Garnisa. Gue yang diakuin Nilga, kenapa Tante yang nampaknya terkejut banget? pikirnya.
Rahang Zenkra mengeras, begitu pula Sania yang sudah mengepalkan tangan. Sania masih menyukai Nilga, meski sudah bertunangan dengan Zenkra. Oleh sebab itu, dia juga menjadi artis di agensi milik Nilga agar dapat mencuri-curi pandang pada pria itu.
Kerumunan orang yang memasuki aula dan duduk di bangku-bangku yang telah disediakan menginterupsi pembicaraan mereka.
"Sepertinya acara launching akan dimulai," ujar Nilga. "Kalau begitu kami permisi mencari tempat duduk."
Nilga merangkul pinggang belakang Rachel dan menggiringnya ke deretan bangku VVIP, posisinya di tengah dan terdepan. Zenkra dan Sania juga duduk di deretan yang sama. Tidak lupa Tante Garnisa yang juga sudah duduk di samping kiri Rachel, saat Nilga berada di sisi kanan gadis cantik itu. Jadilah Rachel diapit oleh keduanya.
Zenkra adalah pemegang perusahaan Widyarta jelas bisa duduk di bangku VVIP, sedangkan Sania adalah artis pemeran utama dalam film XX.
Ketika Nilga memberi pembukaan di podium, Rachel bertanya pada Tante Garnisa.
"Psst... Tante! Mengapa Tante sangat ingin ikut pada launching film XX?" bisik Rachel dengan rasa penasaran.
Tante Garnisa tersenyum lebar. "Tante sudah melihat trailer-nya dan keren banget. Pemeran utama prianya juga tampan. Uuuuu... Tante suka sekali."
"Cih, yang jadi si pemeran wanitanya nenek Sania. Apanya yang bagus?" cibir Rachel sembari melipat tangan di dada.
Tante Garnisa antusias. "Ah, iya. Rachel! Tante mau bertanya ini sedari tadi. Kamu kenal sama Sania si bidadari perfilman?"
"Iyuhh... Tante. Jangan lagi-lagi sebut dia yang bagus di depan Rachel," jijik Rachel mendengar julukan yang diberikan Tante Garnisa pada Sania.
"Kamu tuh sensian banget ya, Hel. Orang cantik dan baik-baik gitu dimusuhin," ujar Tante Garnisa. "Mending kamu kenalin Tante sama Sania biar bisa minta foto dan tanda tangan deh, Hel."
"Big no, Tan. Aku mending disuruh cium Nilga dari pada kenalin Tante sama si nenek," jawab Rachel angkuh.
"Yee... Tante juga mau kalau disuruh cium Nilga mah, Rachel. Kamu jangan gitu ah, kenalin Tante ya... pliss..." mohon Tante Garnisa disertai fish eyes.
Di lain sisi.
Zenkra tidak senang dengan pembicaraan Rachel dan Tantenya. Tangan Zenkra mengepal kuat-kuat hingga buku-buku tangannya memutih.
"Gue kesel! Lo tahu sendiri secinta apa gue sama dia. Enam tahun terakhir juga gue kirim mata-mata buat tahu keadaan dia, San," curhat Zenkra. Pria itu memang sudah tahu kalau Rachel kembali ke Indonesia seminggu yang lalu. Pertanyaannya barusan adalah basa-basi semata. "Yang gue heran itu adalah Papah gue, San. Si Tua Bangka udah tahu banget kalau status Rachel bahkan lebih dari keluarga lo. Rachel juga bahkan salah satu pemegang saham tertinggi di Rameldant. Gue rasa dia gengsi karena sebelumnya udah ancam Rachel."
"Lo nggak usah banding-bandingin kesayangan lo sama gue atau keluarga gue deh, Kra. Kesel gue dengernya," sahut Sania cemberut.
"Sorry, San. Ya... mau gimana lagi, dia emang spesial. Gue yakin Nilga juga sadar kalau Rachel itu spesial. Dia ibarat bom waktu yang bisa meledak kapanpun di mana aja. Siapa sih cowok yang nggak tersihir sama kecantikan dan tingkah laku dia?"
Plak! Plak!
Dua tamparan keras mendarat ke bahu Zenkra dari Sania. Membuat seluruh mata tertuju ke arah mereka berdua termasuk Rachel dan Tantenya.
"Lo apa sih pukul-pukul, San?" tanya Zenkra tidak terima.
"Gue kesel banget sama lo! Jangan puji-puji Rachel di hadapan gue dan hubung-hubungin dia sama Nilga," gerutu Sania disahuti kekehan Zenkra.
Di tempat Rachel berada.
"Apaan sih ketawa-ketawa bareng gitu! Enam tahun lalu siapa coba yang mohon-mohon supaya gue jadi pacarnya. Sekarang, udah ada tunangan aja gue dihempas gitu aja. Kurang ajar!" dumel Rachel dongkol.
"Kamu ngedumelin apa sih, Hel?" Tante Garnisa yang sudah kembali fokus pada pembukaannya Nilga pun terusik dengan dumelan Rachel yang terdengar seperti lebah berdengung.
"Nggak, Tan. Rachel ke toilet dulu ya," pamit Rachel pada Tantenya.
"Iya, jangan lama-lama. Itu dompetnya dibawa, Hel. Supaya nanti Tante gampang hubungin kamu," sahut Tante Garnisa.
"Oke, Tan. Tinggal dulu ya." Tangan Rachel menggapai dompet tangannya. Berjalan melewati tempat duduk Zenkra dan Sania.
Selepas kepergian Rachel.
"Lo? Nggak ada niatan buat ngikutin dia 'kan, Kra?"
Zenkra cengengesan tampan. "Niatnya sih."
"Jangan coba-coba! Ini acara penting gue, lo terlibat skandal, habis udah karir gue," peringat Sania.
"Iya, deh... bawel lo ah," pasrah Zenkra.
"Dia cuma ke toilet. Kita bukan lagi di novel-novel yang biasanya toilet jadi tempat kejahatan merajalela atau para wanita ganjen beraksi," ujar Sania menatap lurus ke arah wajah tampan Nilga yang tengah menyampaikan pembukaan.
Sementara di toilet.
Rachel baru saja selesai buang air kecil.
Tidak lupa dia bawa kembali dompet tangannya.
"Gue kesel banget! Kayanya udah saatnya nih gue nyari pendamping biar nggak dikata jomblo terus dan diledekin Tante," gerutu Rachel keluar pintu toilet wanita. "Tapi... selain dari Nilga tentunya. Cowok baru misal gitu. Kali aja nih kaya di sinetron-sinetron yang abis tabrakan otak oleng dan saling cinta. Hahaha... gue jadi pelawak cocok kali ya, kadang suka ngakak sendiri ngetawain diri."
Puk!
Satu tepukan di bahu Rachel membuat gadis itu terkejut dan...