Rachel

Rachel
S2-First Meet: Nilga



Jangan ditanya! Penampilan Rachel selalu sempurna meski hanya memakai kaos oblong juga. Apalagi sekarang yang bajunya saja keluaran edisi terbatas dengan harga setinggi langit.


Rachel yang ketika di SMA pernah mengikuti ekskul modeling, bukan tidak biasa berpakaian seperti sekarang. Namun, dia cukup canggung dan jadi belum terbiasa dengan nuansa negara kelahirannya.


Rambut Rachel hitam dan sudah sepunggung sekarang. Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Meneliti apakah penampilannya sudah pas atau belum. Jika dilihat-lihat, kini Rachel terlihat sangat cantik. Dengan gaun panjang berwarna merah maroon berbelahan di sisi kaki kanan hingga sedikit di atas lutut. Semakin dewasa, bentuk tubuh gadis itu sangat cantik. Gaun tanpa lengan dengan bagian dada dan punggung tertutup.


"Biar ini tertutup, tetep aja gue kedinginan. Si Nilga kasih baju begini amat," gumam Rachel, menghentak-hentak kaki hingga suara sepatu hak berwarna senadanya berdentum dengan lantai. Dia masih di rumah baru yang keluarga Rameldant berikan untuk dia dan Mamahnya.


Sambil menunggu Nilga datang menjemput, lebih baik kita buka rahasia mengapa Rachel bisa bersepupu dengan Silcha. Jadi begini ceritanya...


Singkatnya, Rachel adalah anak dari penerus bisnis Rameldant, informasi bisnisnya bisa dibaca lagi di Season 1. Papahnya Rachel, demi menikahi Claresta, Mamahnya Rachel, nekat mundur dari penerus bisnis. Alhasil, Papah Silcha yang notabene adik papahnya Rachel pun menjadi penerusnya. Sudah lama mereka mencari keberadaan Papahnya Rachel dan keluarga kecilnya itu. Namun, Papahnya Rachel masih memiliki koneksi dengan Rameldant, barulah bisa menutup segala akses informasi mengenainya.


Setelah meninggal, orang tua Silcha sedikit-sedikit mendapat pencerahan mengenai kabar kakaknya itu. Namun siapa sangka, kakaknya sudah meninggal dunia. Akhirnya Papah Silcha yang mengetahui keberadaan Rachel di pesta tunangan Zenkra, menyuruh orang untuk menjemputnya. Suatu keberuntungan ketika keluar aula pesta, Rachel nyaris ditabrak oleh mobil orang suruhan Papah Silcha. Begitulah ceritanya.


Tinnn... tinnn...


"Suara klakson tuh, pasti Nilga," ujar Rachel girang penantiannya sudah berakhir.


Rachel keluar rumah dan penglihatannya langsung mendapati mobil keren nan mulus yang diyakininya adalah milik Nilga.


"Tumben bawa mobil, motor lo ke mana?" tanya Rachel saat kaca mobil terbuka lebar dan menampakkan Nilga yang sudah terpaku menatapnya.


"Masih ada, cuma gue udah jarang pakai," sahut Nilga santai. "Masuk, Hel."


Rachel mengangguk. Dia berjalan memutar menuju bagian penumpang di samping Nilga. Rachel sudah memasuki mobil.


"TUNGGU!!!" teriak seseorang membuat Nilga mengurungkan niatan menginjak pedal gas.


Dengan napas tersendat-sendat, Tante Garnisa masuk mobil bagian penumpang di belakang.


"Kamu tega terus sama Tante, Hel. Baru juga sepekan di Indonesia, Tante udah tersiksa," omel Tante Garnisa.


"Tante apaan sih? Ini mau apa ikut-ikut?" tanya Rachel kebingungan.


"Tante 'kan juga mau nonton launching film XX, Hel."


"Oh... jadi ini alasan Tante paksa Rachel ikut acara begini?"


Tante Garnisa cengengesan. "Hehehe... salah satunya itu."


"Nilga cuma undang aku, kalau Tante ikut, nanti takutnya tidak bisa masuk," ujar Rachel. "Aku ga jadi ikut aja deh biar Tante bisa pergi."


"Kamu memang yang paling pengertian, Hel," sahut Tante Garnisa.


"Aku memang baik ya, Tante."


Baru Rachel berbalik untuk membuka pintu mobil, Nilga sudah mencekal tangannya. Hobi si Nilga suka cekal tangan orang masih aja ga berubah.


"Ga apa-apa. Ikut aja semuanya. Gue 'kan yang punya acara, jadi lo sama Tante Garnisa ikut juga ga masalah," tahan Nilga. Dia tidak mau Rachel batal ikut.


"Okay, kalau memang ga apa-apa." Rachel tidak jadi berniat keluar mobil.


"Oh, iya. Gue belom sempet nanya ini. Gimana kabar lo di Korea?" Nilga memecah hening.


"Baik kok gue. Kenapa lo? Rindu?" ledek Rachel.


"Iya, rindu berat," jujur Nilga. Rachel tersipu. Oh, ayolah. Gue masih perempuan normal yang tersipu malu juga kena gombalan maut cowok cakep, batin Rachel.


"Di sana betah ya lo, makanya baru balik setelah enam tahun lamanya?" tanya Nilga tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depan.


"Lumayan. Tapi... tunggu. Lo tahu dari mana gue baru balik hari itu? Nguntit gue lo ya?" tuduh Rachel dengan tatapan menyelidik.


"Hahaha... bisa dibilang begitu. Gue suruh orang cari tahu semua informasi tentang lo, Hel." Tanpa tahu malu Nilga mengakuinya.


"Kok gue horor dengernya. Serem amat lo nguntit-nguntit gue. Lantas, pertanyaan tadi apa faedahnya lo tanya-tanya kabar gue?"


"Basa-basi aja sih, Hel. Daripada hening banget kaya kuburan."


"Gue yang atasan harusnya mecat bawahan. Tapi karena lo yang ngomong, gue merasa takut," sahut Nilga diakhiri kekehan.


"Takut?"


"Iya... Gue takut kehilangan lo."


"HUEKKK!!!" suara Tante Garnisa. "Dari tadi selain jadi korban obat nyamuk, kuping Tante panas denger gombalan begitu. Tukeran tempat deh, Hel. Gantian, biar Tante yang digombalin Nilga."


"Eh? Aku lupa kalo ada Tante di mobil," sahut Rachel tanpa dosa.


Nilga cekikikan. Dia sendiri juga lupa akan keberadaan Tantenya Rachel.


"Kamu jahatin Tante terus. Dari Korea kok kamu jadi suka bully orang, Hel!" jengkel Tante Garnisa.


"Tenang, Tante. Cuma Tante aja kok yang Rachel bully, lupa ya kalau keponakan Tante yang cantik ini memang sudah punya hobi itu dari dulu." Rachel mengibaskan rambut bangga.


"Itu bukan hal yang perlu dibanggain, Hel."


"Jiah... Tante makin ke sini kok makin alim? Naksir Nilga ya jadi jaga image gitu?" ejek Rachel.


"Ah... kamu bisa aja, jangan terang-terangan gitu dong. Tante malu nih didenger Nilga."


"Sadar, Tante. Sadar. Inget... umur udah ga muda lagi. Berani banget suka sama Nilga."


Tante Garnisa menyipitkan mata. "Kamu iri... jangan-jangan juga suka Nilga?"


"Siapa? Aku?" Rachel menunjuk wajahnya sendiri.


"Suka juga ga apa-apa kok, Hel," sahut Nilga yang dari tadi menyimak.


"Kok kamu lebih pilih Rachel sih Nilga? Sama Tante aja," ucap Tante Garnisa tidak terima.


Kok gue denger kesannya si Tante beneran kaya Tante girang gini, pikir Rachel menggelengkan kepala sambil berdecak. "Ck, ck, ck."


"Ya maap, Tante. Udah cinta, susah sih ya, Tan."


"Apa? Kamu cinta sama Tante? Ya ampun, Nilga... mimpi apa Tante mendapat pernyataan cinta mendadak begini dari kamu." Tante Garnisa menangkup kedua pipinya.


"Bu-bukan gitu, Tan. Maksudnya--" ucap Nilga terpotong oleh sahutan Rachel.


"Suka Tante Garnisa juga ga apa-apa kali, Nilga. Zaman kok hari gini nikah, tapi umurnya terpaut jauh." Rachel terkekeh cantik.


"Akhirnya... Tante ga nyangka, Hel. Ternyata kamu memang peduli," puji Tante Garnisa.


"Ah... Tante bisa aja. Rachel jadi ga enak nih dipuji-puji gitu," jawab Rachel dengan wajah pura-pura tersipu. Dalam hatinya menertawakan reaksi Nilga yang hanya diam dan malas menanggapi rayuan Tante Garnisa.


Mereka sampai di sebuah hotel berbintang sepuluh. Keasikan berbincang membuat perjalanan jadi tidak terasa.


"Silakan turun, Hel." Nilga membukakan pintu penumpang untuk Rachel. Gadis itu turun dan berjalan masuk duluan. "Thanks, Nilga."


Nilga berniat mengekori, namun...


"Nilga! Tante ga dibukain pintu?"


Nilga memutar bola mata malas. Mau tidak mau dibukakan juga pintu untuk Tante Garnisa.


"Thanks, Nilga," ucap Tante Garnisa meniru gaya Rachel barusan.


Dalam hati Nilga, Rachel bagus-bagus aja barusan, kok giliran Tante Garnisa jadi begitu menjijikan ya gue lihatnya. Pakai gaya sok manja sama sekali ga cocok buat Tante Garnisa.


Di dalam aula.


Rachel yang sudah lebih dulu masuk ke tempat launching diadakan pun langsung disuguhkan pemandangan tidak sedap.


"Kak Zenkra?" suara Rachel tanpa sengaja, membuat yang dipanggil sontak menoleh.