Rachel

Rachel
Bab 19



Begitu tanyamu terlontar, diriku bingung menjawab. Maaf, karena bergeming adalah satu-satunya hal yang mampu kulakukan.


Zenkra Anugerah Widyarta


***


Zenkra's POV


"Jadi, karena gue ngasih surat itu dan nyelametin lo?"


Tanyanya terngiang-ngiang di pikiran gue. Karena gue sendiri pun bingung harus menjawab apa.


Gue merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar yang didominasi warna hitam, dan menghembuskan napas kasar nan frustasi. Ditambah tadi melihat Nilga yang memboyong Rachel sampai ke rumah.


Apakah gue suka sama Rachel karena dia adalah pelita di saat gelap menutup hati sebab permasalahan soal Mamah?


Bagaimana jika orang itu bukan dia?


Apakah gue akan merasakan hal yang sama?


Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan. Gue merasa harus membicarakan hal ini dengan Rachel.


***


Rachel's POV


Pagi. Di rumah.


Tok, tok, tok...


Pintu diketuk. Tapi gue enggan beranjak. Gue justru malah menarik selimut karena malas sekali bangun untuk berangkat sekolah.


"Hel..." panggil Mamah.


"Sepuluh menit lagi, Mah," jawab gue dari balik selimut.


"Cepet, Hel. Udah ditungguin dua orang teman kamu tuh..." ucap Mamah membuat gue terlonjak kaget. Dua? Karin bawa siapa ke rumah gue?


Tanpa aba-aba, gue melompat turun dari kasur. Membuka pintu kamar dan melewati Mamah yang masih berdiri di depan pintu. Gue menuruni anak tangga hingga ke ruang tamu dan melihat dua orang teman yang Mamah maksud.


Shit! Komuk gue!


Dengan secepat kilat gue berbalik ke kamar dan memasuki kamar mandi. Bergegas siap-siap.


Setelah dirasa semua sudah siap, gue langsung menuruni tangga lagi, namun kini dengan sok santai padahal mah malu gegara komuk bangun tidurnya ke-gap.


Gue sebenarnya kaget melihat dia berdua di sini, tapi gue bikin sesantai mungkin nih ekspresi. "Kalian berdua ngapain di sini?"


"Mau jemput lo. Gue dateng duluan, Hel. Eh, si Zenkra malah tau-tau nongol."


"Boong, Hel. Si Nilga pasti ngirim intel ke rumah aku buat mata-matain. Soalnya aku udah dari semalem kepikiran jemput kamu."


"Dih, kerajinan amat. Lo kira intel berprofesi ganda jadi dukun, sampai bisa baca pikiran lo juga."


"Awas lo, Ga."


"Ampun, Bos."


"Eh... Sudah-sudah. Jangan bertengkar." Mamah menengahi.


"Tau lo berdua berisik di rumah orang," ucap gue. "Mah, Rachel berangkat ya. Assalammu'alaikum." Gue mengecup tempurung tangan Mamah.


"Iya, Tante. Zenkra juga pamit ya."


"Nilga juga pamit, Tan."


Kalau Kak Zenkra sih pernah ke rumah gue buat berterima kasih soal Tante Putri. Nilga juga sudah dua kali nebengin gue pulang. Yang bikin gue bingung, gue bakal ikut siapa?


Nilga dan Kak Zenkra bergiliran menyalami tangan Mamah. Kemudian gue keluar diikuti keduanya, dan Mamah mengantar hingga depan pintu.


"Ayo, Hel. Ada hal yang mau aku omongin," ucap Kak Zenkra menggiring gue ke motor gede berwarna putih. Duh, pasti bahasan yang kemarin.


"Bareng gue aja, Hel. Kan, lo masih ada utang sama gue," timpal Nilga.


"Utang?" Kak Zenkra mewakili pertanyaan di benak gue. "Berapa utangnya? Biar gue yang bayar, tapi lo jauh-jauh dari Rachel."


"Sok banget lo, Kra! Mentang-mentang kaya."


"Lah daripada lo! Udah kaya, masih ditagih aja tuh utang."


"Duh, stop! Gue mau berangkat sekolah ya, bukan mau ngomongin sesuatu atau bahas-bahas soal utang." Pusing kalau begini terus.


Mamah hanya tersenyum menahan tawa ketika melihat situasi ini. Mungkin dalam benaknya, cinta anak muda sungguh indah.


"Mah, Rachel naik busway aja ya," ucap gue ke Mamah yang paham dan mengangguk.


Dengan langkah gercep, gue meninggalkan mereka.


"Hel!" panggil Nilga dan Kak Zenkra berbarengan, namun tidak gue gubris.


"Tan, Nilga nitip motor ya," ucap Nilga yang kini berlari menyusul gue.


"Tan, Zenkra juga ya." Kak Zenkra tak mau kalah.


"Dasar anak jaman sekarang," gumam Mamah yang melihat dua motor gede bertengger di pekarangan rumahnya.


Kini, kita bertiga naik busway. Gue bisa apa? Busway buat umum. Masa iya, gue larang mereka naik. Kalau tuh busway punya gue sih oke-oke aja.


Di sepanjang perjalanan mereka hanya mengekor. Gue unmood jadinya ditambah banyak sekali yang melihat dan berbisik, gue pun hanya berdiam diri sambil memasang tampang cemberut.


Di depan gerbang SMA Ceniya.


Kita bertiga menjadi pusat perhatian murid-murid. Bagai putri turun dari tahta, gue dikawal sama dua pangeran tampan dambaan para ciwi-ciwi se-SMA Ceniya. Dengan kebiasaan para murid di SMA Ceniya yang suka sekali mendadak jadi fotografer kalau lagi ada hal kaya beginian. Kalau tidak foto, pasti video. Malah sampai ada yang membuat snapgram, bahkan snap-WA juga. Dari mana gue tahu? Mereka tag nama gue di story ig mereka, sedangkan di snap-WA gue bisa tahu dari mereka yang saling save nomor ponsel sama gue.


Gue bodo amat dan terus berjalan sampai ke depan kelas 11 IPA 1. Pengawal gue masih dengan setia mengawal.


Gue berbalik menghadap mereka berdua. "Gue mau belajar, jangan ganggu gue dengan hal yang ga jelas. Dan Nilga, bahas-bahas soal utang nanti aja, bahkan gue lupa punya utang apa sama lo. Dan lo juga Kak, sana ke kelas lo, belajar yang bener."


"Yahahaha... Kasian deh lo Kra, ga sekelas," ledek Nilga. "Sana... Belajar yang bener..."


Dalam hati gue ikut tertawa. Apalagi sekarang Kak Zenkra tampak kecewa.


"Sialan lo, Ga!" umpat Kak Zenkra. Dia kini mendekat ke arah gue.


"Kamu jangan mau diliatin sama dia terus ya pas di kelas," ucap Kak Zenkra sambil mengelus-elus kepala gue. Dalam hati, ya terus, gue harus colok mata si Nilga gitu? Biar dia ga bisa liat sekalian. Mata punya dia juga, ga ada hak gue larang.


Bisik-bisik bersuara.


"Kenapa nasib si Rachel beruntung banget ya?"


"Gue iri liatnya."


"Duh, Kak Zenkra. Aku juga mau dong dielus kepalanya."


"Saingan lo Zenkra woiii sama Nilga."


"Njirrr, kalau gue jadi si Rachel, gue bingung pilih yang mana."


"Duh, pupus udah harapan gue deketin Rachel."


"Patah hati gue."


Dan masih banyak lagi.


Tettt... Tettt... Tettt...


Bel berbunyi dan gue masuk kelas meninggalkan semua orang di sana. May be, anak kutu buku hidupnya lebih tenang dari gue kali ya. Jauh... Dari ramai-ramai begini.


Gue sampai di singgasana kebanggaan gue. Tapi sesuatu hal terbesit di benak gue.


"Lah? Karin ga masuk?" gumam gue mendapati bangku Karin yang belum berpenghuni.


Beberapa hari ini gue memang jarang sekali sama dia. Karena biasanya dia selalu bersama Rasya. Pikiran negatif gue sudah menguasai, jangan-jangan si Rasya yang nge-hasut Karin biar ga masuk sekolah.