Rachel

Rachel
Tunangan Zenkra dan Rivalein



Aku hancur, runtuh, dan segala duniaku gelap. Tidak bisakah kau kembali hanya sekedar untuk berkata 'tenanglah, aku baik-baik saja dan bahagia sekarang'?


Adinda Rachel Karenina


Aku tak bisa berkata 'baik-baik saja dan bahagia'. Ingin rasanya melenyap, namun tak bisakah kata 'bahagia'-ku ada padamu? Tak bisakah dirimu alasanku bahagia? Tolong! Aku pun di sini terluka sebab semua ini.


Zenkra Anugerah Widyarta


***


Di sebuah kafe di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.


Zenkra menyesap kopi yang masih mengepulkan uap panas. Situasi Zenkra sekarang layaknya buronan yang harus menghindar dari semua orang suruhan Papahnya. Bahkan mungkin, tidak bisa lagi Zenkra menghindar seperti sekarang ini.


Tiba-tiba, Aldo dengan dua anak buahnya yang bersetelan jas hitam datang, mereka sudah memasuki kafe dan membuat seluruh pasang mata menatap aneh.


"Ada apa?" tanya Zenkra tenang seolah sudah memprediksi kedatangan mereka.


"Ini, Tuan Muda." Aldo menyerahkan sebuah tablet yang menampakkan pria paruh baya di sana.


"Halo... Long time no see, Putraku. Tonight, acara pertunangan kalian yaa... Jangan telat, karena Papah tidak suka anak yang terlalu membangkang," ucap Tio dengan senyum ramah.


Zenkra geram. "Apa yang Papah ingin lakukan jika aku tidak datang?"


"Kamu sungguh menurunkan sikapku yang tak suka bertele-tele ya..." Dari layar tablet, Tio tampak berpikir. "Rachel?" Senyum Tio menyinis.


"Shit! Jangan sentuh dia, atau--"


"Atau apa?" potong Tio. "Kamu sungguh menarik, Nak. Perempuan akan membuatmu lemah. Bagaimana jika musuhmu yang memperalat perempuan itu untuk mengancammu?"


"Satu-satunya musuh yang mengancamku dengan memperalatnya adalah kau. Aku akan datang." Wajah Zenkra tampak serius.


"Good boy," puji Tio dan seperti mengingat sesuatu. "Oh, iya. Rachel cukup cantik, ternyata bakatku dalam memilih perempuan juga menurun padamu." Tawa Tio merekah, setelahnya layar tablet sudah tidak menampakkan pria itu.


"Sial kau Pak Tua!" umpat Zenkra.


"Dua bodyguard ini akan mengantarmu memilih setelan jas untuk nanti malam, Tuan Muda," ucap Aldo yang dibalas anggukan oleh Zenkra.


***


"Hahahaha... Aldo... Kemarilah..."


Aldo yang baru sampai di kediaman Widyarta pun menghampiri Tio yang duduk santai di ruang tamu.


"Bagaimana? Dia sudah disuruh memilih setelannya?" tanya Tio.


"Sudah, Tuan." Aldo berucap sembari mengangguk. "Ada informasi terbaru mengenai Rachel, Tuan."


"Wahh... Sungguh menarik dia." Tio membaca secarik kertas yang diberikan Aldo. "Buat dia datang nanti malam dan pertemukan dengan saya."


"Baik, Tuan." Aldo melangkah keluar untuk melaksanakan perintah Tio.


"Wahh... Saya jadi tidak sabar bertemu dengannya," gumam Tio dengan senyum sinisnya.


***


Sepulang sekolah Rachel diantar Nilga dan kini Karin menemaninya di rumah. Berita perjodohan ini sungguh begitu mendadak di telinganya.


"Udah dong, Hel... Jangan murung terus..." pinta Karin yang tengah merenggangkan tubuhnya di kasur Rachel.


"Lo ga liat nih. Mata gue sembab dan muka pucet. Ga ngerti lagi kenapa Kak Zenkra bisa se-ngefek ini ke gue," ucap Rachel melihat pantulan mengerikan dari dirinya di cermin.


Tok, tok, tok...


Rachel beranjak menuruni tangga menuju pintu depan. "Iya, iya, sebentar..."


"Biar saya aja, Bi," ucap Rachel pada Bi Imah yang sudah tergopoh-gopoh dari dapur.


Pintu dibukanya. Terlihat laki-laki paruh baya berjas hitam tengah berdiri di sana dengan senyum ramah. "Maaf. Anda siapa? Dan ada perlu apa?"


Laki-laki itu memperkenalkan diri. "Perkenalkan. Saya, Aldo. Kedatangan saya kemari ingin menyampaikan ini." Aldo menyerahkan kotak kado kepada Rachel.


"Apa ini? Saya tidak sedang menunggu barang," ucap Rachel bingung menerima kotak tersebut.


"Papahnya Tuan Muda Zenkra yang meminta saya memberikan ini kepada Nona. Kalau begitu saya permisi."


"Iya, terima kasih." Rachel masih bingung dan Aldo pergi.


"Kenapa, Hel?" tanya Karin yang sudah berada di belakangnya.


"Ah, lo! Ngagetin aja."


"Itu apa?" tanya Karin.


"Ga tau." Rachel mengedikkan bahu. "Ayo kita buka di kamar."


Rachel dan Karin sudah di kasur dan siap mengetahui isi kotak tersebut.


"Hati-hati, Hel. Nanti meledak! Duarrrr..."


"Lo ga usah bikin parno dong, Rin."


Dengan hati-hati kotak dibuka.


"Uwahhhh... Bagus banget..."


"Iyaa, Hel... Kayanya mahal deh..."


Kedua pasang mata mereka takjub. Rachel melebarkan gaun dan menempelkan ke tubuhnya di depan kaca. Gaun hitam dengan elegan terlihat begitu mempesona.


"Gilsss... Itu siapa yang kasih, Hel?" tanya Karin.


"Katanya Papahnya Zenkra."


"Dalam rangka?"


"Entahlah, gue juga ga tau." Rachel berniat memasukkan gaun itu ke kotak asalnya, namun sebuah amplop kecil menyita perhatiannya dan Karin.


"Uwahhh ada surat cintanya, Hel..." ucap Karin asal.


Tangan Rachel mengeluarkan isi amplop dan membacanya.


Teruntuk,


Rachel.


Nanti malam adalah acara pertunangan Zenkra dengan pewaris pertama keluarga Karaka Group, Rivalein. Saya berharap kamu dapat datang menggunakan gaun ini hanya sekedar untuk mengucap selamat. Serta, ada beberapa hal yang harus saya bicarakan denganmu.


Terima kasih


Tio, Papahnya Zenkra.


"Nanti malem?"


"Ada apa nanti malem, Hel?"


"Pertunangan Kak Zenkra dan gue diundang oleh Papahnya. Gue ga ngerti bagaimana Papahnya Kak Zenkra bisa kenal gue, tapi beliau mau membicarakan sesuatu ke gue katanya."


"Lo mau dateng?" tanya Karin dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Sepertinya penting," balas Rachel.


"Kalau begitu, lo harus cari pasangan yang juga dateng ke sana. Buat jaga-jaga, kan kita ga tau apa yang bakal terjadi."


Ucapan Karin membuat Rachel berpikir sejenak dan men-dial nomor Nilga.


"Halo, Hel... Udah lebih baik?"


"Udah, Ga. Nanti malem lo ada acara?"


"Hmm... Ada. Tapi kalau lo mau gue nemenin lo, gue bisa ga usah dateng aja. Nanti gue bilang ke Sania."


"Enggak usah, Ga. Gue cuma nanya aja. Makasih yaa..."


Telepon Rachel putus.


"Yaelah, Nilga udah pergi bareng Sania, Rin. Gimana nih?"


"Hmm... Ga tau, Hel." Ekspresi wajah Karin tampak bingung, sedangkan Rachel tampak panik.


Kemudian Rachel memandangi surat di tangannya. Karaka Group?


"Oh, iya!"


Rachel men-dial nomor seseorang.


"Halo, Hel."


"Halo, Rav."


"Ada apa?"


"Nanti malam lo bisa jemput gue?"


"Kemana, Hel? Aku ada acara, tapi mungkin bisa mengantar kamu dulu."


"Lo tenang aja... Kita bakal menghadiri acara yang sama."


"Maksud kamu?"


"Pertunangan Kak Zenkra kan?"


"Dari mana kamu tau?"


"Nanti gue jelasin. Lo jemput gue jam 8 malam ya... Dah... Makasih, Rav."


Tut, tut, tut...


Telepon Rachel putus.


***


20.00 WIB. Rumah Rachel.


Mobil sport kuning terparkir di pekarangan rumah Rachel.


Ravlein sempat terpesona melihat penampilan Rachel. Kemudian mereka berbincang terkait bagaimana Rachel bisa mengetahui acara pertunangan Zenkra. Selepas selesai, mereka melaju ke kediaman Widyarta dengan membawa undangan sebagai syarat tamu yang ingin masuk.


"Hel..." panggil Ravlein tetap fokus menyetir.


"Hmm..." deham Rachel mengiyakan panggilan Ravlein.


"Dari tadi aku mau bilang ini. Kamu terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna hitam," puji Ravlein.


Rachel terkekeh. "Papahnya Zenkra yang memberikan ini bersamaan dengan undangannya."


"Hahaha... Ternyata seleranya bagus juga..."


Keduanya tertawa dengan sesekali berbincang ringan hingga sampai di depan kediaman Widyarta.


"Are you ready, Princess?" tanya Ravlein dengan lengan kanan menekuk seolah ingin Rachel memegangnya, sebagai pasangan.


Dengan wajah serius, Rachel menyelipkan tangan kirinya di lekukan tangan kanan Ravlein dan berkata, "siap."


Baru berapa langkah masuk. Menyeruak keramaian tersebar ke seluruh penjuru ruangan yang begitu besar. Sangat kontras dengan waktu terakhir kali Rachel ke sini yang begitu sepi.


Semua mata tertuju ke arah kedatangan pewaris kedua Karaka Group dan perempuan yang digandengnya. Hal itu pun tidak luput dari Tio yang tengah memasang seringaian khasnya. Dan Zenkra--


Begitu terpesona dengan penampilan Rachel dan menatap sinis ke arah Ravlein yang begitu beruntung bisa datang dengan Rachel. Tangannya mengepal kuat ketika melihat Ravlein mendekatkan wajahnya ke wajah Rachel. Tatapan Rachel begitu dingin melihat Zenkra dari kejauhan dengan perempuan di sampingnya yang Ravlein bisikan namanya adalah Rivalein, Kakak Ravlein.


"Kau pasti Rachel, isn't true?" suara Tio memecah lamunan Rachel.


"Yes, Sir. And you?" Rachel menyipitkan mata mengingat-ingat siapakah orang yang mengenalnya ini.


Tio mengulurkan jabatan tangan. "Perkenalkan, saya, Tio Aksa Widyarta, Papahnya Zenkra."


Rachel membalas jabatan tangan Tio. "Senang bertemu dengan anda, Om. Terima kasih atas undangan dan gaunnya."


"Of course. Nice to meet you too."


"Halo, Om," sapa Ravlein menyapa Tio yang tidak menggubris keberadaannya.


Pandangan Tio teralih ke Ravlein. "Oh... Ravlein, Om sampai tidak sadar kalau kau datang bersama Rachel."


Senyum Tio merekah dengan sebuah pemikiran di kepalanya. "Nikmati pestanya kalian."


Rachel dan Ravlein pun mengangguk. Kemudian Tio melenggang pergi. Sedangkan Zenkra hanya mampu menatap mereka dari kejauhan karena harus terus berada di samping Rivalein sebagai tunangannya di podium utama.


***


Tio menghampiri Aldo yang dengan tegap berdiri di salah satu sudut ruangan.


"Tolong lakukan sesuatu untuk saya." Tio melirikkan matanya ke arah Rachel dan hal itu ditangkap oleh Aldo sebagai sinyal. "Bawa perempuan itu bertemu dengan saya sebelum dia meninggalkan acara."


"Baik, Tuan."