Rachel

Rachel
S2-Maaf Untuk Zenkra



"Udah deh, ya. Gue tanya sekali lagi... lo berdua buat apa ganggu-ganggu tidur cantik Yang Mulia Ratu Ani di sini?" tanya Ani selagi berkacak pinggang dan menaikan dagu diiringi tampang songongnya.


"What?! Julukan apa yang lo pakai barusan? Yang Mulia Ratu Ani?" balas Rachel dengan wajah melongo tidak dibuat-buat.


"Terima kasih atas pengakuannya, gue tersanjung," bangga Ani disertai cengenges sok cantik yang memang cantik.


Karin menggeleng-gelengkan kepala sembari berdecak. Memaklumi tingkah perempuan di hadapannya.


Lain halnya dengan Rachel yang sudah berwajah menganga lebar.


"Ani... mending lo ke rumah. Mamah udah nungguin lo mampir," alih Karin.


"Tunggu, tunggu, tunggu! Mamah siapa yang lo maksud, Rin? Lo kenal dia?" Rachel membentangkan kedua telapaknya menghentikan interaksi kedua orang di dekatnya, lalu menunjuk tepat di depan muka Ani yang berdiri begitu congkaknya.


"Mamah Erin--Mamah gue dong, Hel."


"What?!" kejut Rachel melotot kaget.


"Eh, Karin... Temen lo nggak bisa bahasa inggris selain kata 'what' ya? Norak gitu!" cibir Ani dengan gaya angkuhnya.


Mulut Rachel terbuka semakin lebar, mau bicara tetapi tidak bisa berkata-kata.


"Tuh, bener norak 'kan! Sampai terpana dan melongo gitu ngeliat muka cantik nan memesona gue," percaya diri Ani membuat Rachel kehilangan suara.


"Iya, Hel. Gue kenal dia. Dia itu... adalah... calon Yang Mulia Ratunya Baginda Yang Mulia Raja Karellingga Kusuma Dewa, Asabella Rosedia Cendani, kita panggil ANI," jelas Karin membuat Rachel pingsan di tempat.


"Hel! Hel! Jangan nakut-nakutin gue deh lo!" papah Karin yang sampai terduduk di lantai toilet. Tubuh Rachel yang proporsional itu terkenal berat.


Rachel tidak bangun juga meski Karin sudah mengguncang-guncang bahu perempuan itu dengan bar-bar.


"Hel! Lo nggak bangun, gue panggilin Kak Zenkra atau Nilga buat kasih napas buatan nih!"


Tanpa disangka, Rachel buru-buru membuka mata dan berdiri tegap. "Jangan macem-macem, Rin! Cukup Ravlein aja yang udah curi ciuman pertama gue."


Ani menepuk bahu Rachel dengan tampang memelas dan iba. "Yang sabar ya. Selain norak, ternyata otak lo ketinggalan di rumah. Ciuman pertama udah dicuri, mana ada bisa diambil orang lagi?"


Rachel tersenyum menyeringai, menggapai sebelah tangan Ani dan menepuk-nepuk tempurungnya pelan. "Kayanya lo deh yang otaknya ketinggalan di kloset. Karena pertama kali mereka cium gue, berarti nggak salah dong kalau gue bilang ciuman pertama.


"Les lagi deh lo, kali aja tes IQ tahun depan ada peningkatan. Biar lebih mendingan gitu," cibir Rachel tersenyum puas, lalu menepuk bahu Ani dan Karin bergantian. "Gue cabut duluan ya. Selain kata 'what', gue juga tahu ada kata, Bye!"


Karin menatap wajah Ani yang tertunduk menyuram. Usut punya usut, katanya Ani kalau sudah marah galaknya tidak ketolong. Hal itu juga yang membuat Karell--Kakaknya Karin bisa move on dari kegalakan Rachel.


"Sabar, Ani. Sahabat gue--Rachel, memang begitu," ucap Karin selagi mengelus punggung Ani, berniat menenangkan.


Ani mengangkat wajahnya yang semula tampak suram karena tertunduk. Perempuan itu mulai tertawa mengerikan membuat Karin mundur selangkah. "Ha. Haha. Hahahahahaha... Karin... lo harus buat gue sahabatan juga sama dia. Gue suka sama orang yang se-tipe sama gue. Langka. Paham bener deh gue kenapa tiga cowok sengkleh pewaris tahta bisa ngejar-ngejar dia. Ternyata kita sebelas dua belas."


"Sama-sama nggak waras ya?" sambung Karin dengan polosnya.


Ani mengacungkan kedua jempolnya. "BETULLL!!"


***


Sementara, di tempat Rachel berada.


"Dasar kurang waras!" maki Rachel merutuki kejadian di toilet tadi. Dia kembali ke tempat duduknya, ternyata acara penyambutan belum selesai, namun sudah berganti orang yang berdiri di podium. Jika sebelumnya ada Nilga yang tampannya bak pangeran berkuda putih, kini diganti dengan Kakek Geppetto seperti yang ada di film Pinocchio. Pria tua itu melirik ke arah datang Rachel yang langsung membuatnya bergidik dan bulu kuduk berdiri.


"Rachel, kamu nggak apa-apa?"


"San, pindah ke sampingnya Nilga," perintah Zenkra disambut senyuman lebar Sania.


"Dengan senang hati." Sania menepuk bahu Rachel. "Thanks, Hel."


Zenkra menarik tangan Rachel sampai tubuh perempuan itu terhuyung duduk ke bangku di sebelah Zenkra.


"Ada apa sih, Kak? Lo itu harus tau batasan. Udah punya tu-na-ngan!" Rachel membantu Zenkra menekankan setiap suku kata 'tunangan'.


"Baru tunangan, Hel. Belom resmi. Pliss, kasih aku kesempatan," mohon Zenkra dengan tampang memelas yang membuat Rachel beberapa kali membuang muka dan menatap wajah laki-laki itu lagi dan lagi.


"Hmm... kasih nggak, ya? Kasih, enggak, kasih, enggak, kasih, enggak, kasih, enggak, kasih, enggak." Rachel menutup satu-satu kesepuluh jari tangannya dan terhenti tepat di kata 'enggak'.


Zenkra sudah gerah, keringat dingin mengucur ke pelipisnya. Dalam hati Zenkra, 'Duh, mampus! Enggak lagi nih.'


Rachel menggulir bola matanya melirik wajah sudah tidak berdaya Zenkra. "Yah, Kak... sorry banget ya, jari tangan gue mengatakan 'enggak'. Gimana dong?"


"Nego tipis bisa nggak, Hel? Pliss..." mohon Zenkra menangkup kedua tangannya menjadi satu sebagai tanda memohon.


"Duh, gimana ya? Udah harga pas lagi nih. Gue mahalin aja mau nggak?" gurau Rachel melirik-lirik bergantian antara kesepuluh jari tangannya dan tampang memelas Zenkra yang sedang berkata, "Pliss..." Diiringan tatapan puppy eyes yang memanah tepat ke jantung hati Rachel.


"Ah, iya!" kejut Rachel menepuk tangannya.


"Kenapa, Hel?" Zenkra mengerutkan alis bingung.


"Gue baru inget! Gue 'kan sukanya angka ganjil. Berarti bonus nih, gue tutup satu jadi sembilan." Rachel menutup jari jempol kanannya.


"Jadi... KASIH NIH?!" teriak Zenkra mendapat desisan tamu undangan. "Sttt!!!"


"Jangan berisik, Kak. Gue untung inget tuh, Kalau enggak, mana bisa gue kasih lo kesempatan," kata Rachel berbisik ke dekat Zenkra.


Zenkra menggenggam tangan kiri Rachel. "Makasih, Hel."


"Sama-sama."


Di tempat Nilga berada.


"Itu ada apa ya berisik-berisik di tempat Rachel?" tanya Nilga cemas. Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang sudah terjadi, yang tidak lain adalah kesempatan terpendam yang jatuh ke tangan Zenkra. Nilga sangat jauh dari keberuntungan, dia yang duluan bertemu Rachel tetapi belum mendapatkan kesempatan.


"Ah... paling kelakuannya Zenkra yang belom nyerah mohon-mohon ke Rachel. Abaikan aja, Ga. Zenkra mana ada kekuatan menaklukkan hati para cewek sih? Nggak kaya lo, tanpa berkelakuan aja udah bikin hati cewek 'kaya gue' meleleh," puji Sania mengecilkan volume suara untuk kata 'kaya gue' pada voleme yang paling kecil hingga tidak bisa didengar Nilga.


"Hehe, bener juga lo, San. Makin lama hidup lo makin bijak juga."


Mendengar pujian dari Nilga, Sania sampai blushing.


Sementara Tante Garnisa mengerut di bangkunya mendapati saingan cintanya bertambah satu, Sania si Ratu Film pula. Pupus sudah harapan.


"Apa aku ditakdirkan menua tanpa kesempatan bersama yang dicinta?" ratap Tante Garnisa.


"Ih! Lebay deh."


Tante Garnisa menoleh ke arah suara yang terdengar lebih pedas dari mulut Rachel.


Siapakah dia?