
Aku bingung ingin melangkah. Kiri-kananku jurang. Namun yang kutakutkan sekarang adalah kejadian yang sama terulang, pada mereka yang berharga.
Zenkra Anugerah Widyarta
***
"Aldo, ada apa sampai Papah menyuruh saya datang ke sini?" tanya Zenkra yang sekarang dibalut kaos hitam berluarkan jaket dan tidak lupa kaca mata yang membuatnya terlihat begitu tampan dan mempesona.
"Kita akan kedatangan tamu kehormatan, Tuan Muda," jawab Aldo--Pria paruh baya asisten keluarga Widyarta.
"Kalau begitu, beritahu saya siapa tamu kehormatan itu sampai malam hari begini saya disuruh datang ke sini."
"Nanti Tuan Muda akan tahu sendiri. Ngomong-ngomong, bukankah Tuan menyuruh anda bersetelan jas? Tuan akan sangat marah nanti." Kini Aldo yang bertanya, tapi justru Zenkra membalas tak acuh dan melengos pergi ke dalam resto. "Biar saja, sudah lama saya tidak mendapati amarah si Tua Bangka."
***
Restoran di Jakarta.
"Atas nama Widyarta?" tanya pelayan di ambang pintu. "Ya."
"Silahkan masuk, Tuan." Zenkra memasuki private room restoran disusul dengan Aldo.
"Kau sungguh tidak ingin memberitahu siapa tamu kehormatannya?" tanya Zenkra lagi, dirinya tak percaya akan se-special ini penyambutan yang katanya untuk 'tamu kehormatan'.
"Saya tidak diizinkan. Kata Tuan, biar menjadi surprise untuk anda."
"Ah, si Tua Bangka bahkan sudah mulai sweet memberi surprise ketika ulang tahunku sudah lewat dua bulan," ucap Zenkra dengan senyum sinis andalannya sambil duduk di salah satu kursi meja makan.
"Lima menit lagi Tuan sampai," kata Aldo memberitahu.
"Saya tetap harus di sini meski dia datang satu tahun lagi pun," sarkas Zenkra.
5 menit kemudian.
"Oh... Zenkra, putra Papah..."
Dari ambang pintu nampak pria paruh baya bersetelan jas datang menghampiri Zenkra yang langsung berdiri menyambutnya menuju ambang pintu. Pria itu memeluk Zenkra layaknya sesama pria dan membisikkan ke telinga Zenkra. "Dimana setelan jasmu?"
Dengan senyum semanis mungkin, Zenkra berkata, "sengaja kutinggal."
Sekelebat amarah terpancar di bola mata pria itu yang tidak lain adalah Tio, Papah Zenkra.
Tak lama nampak masuk sepasang kekasih yang sudah sama paruh bayanya. Lantas kedua alis Zenkra tertaut bingung ditambah seorang wanita muda nan cantik yang sepertinya tak asing di penglihatan Zenkra menyusul kedatangan mereka. Wanita itu tampak fokus berjalan menatap ponsel di tangannya.
Oh... Apa yang si Tua Bangka rencanakan sekarang? batin Zenkra mulai bertanya-tanya.
"Wah, Zenkra... Kau begitu tampan, Nak. Kami sampai tidak mengenalimu," ucap tulus pria yang kini melepas gandengan dengan istrinya itu, dan beralih memeluk Zenkra layaknya pria.
"Silahkan duduk," sambut Tio dengan sebelah tangan direntangkan menunjuk ke arah meja makan.
"Terima kasih, Tio," balas pria tadi yang kembali menggandeng istrinya menuju meja makan.
Mata wanita muda itu kini tak lagi berfokus pada ponselnya dan menatap ke arah Zenkra ketika mereka berhadapan.
"Halo, Zenkra. Long time no see," sapanya dengan senyum ramah.
Zenkra membalas dengan berbisik, "Kak Rivalein? Apa yang kau lakukan di sini?"
Rivalein Reina Karaka, Kakak Ravlein, pewaris tahta pertama Karaka Group.
Rivalein terkekeh dan menjawab dengan berbisik juga, "kau akan mengetahuinya nanti." Kemudian Rivalein menyusul kedua orang tuanya menuju meja makan.
"Sebenarnya ada apa ini?" guman Zenkra bertanya pada dirinya sendiri.
"Zenkra, apa yang kau lakukan di sana, mari bergabung."
"Iya, Zenkra. Mari ikut duduk juga."
Ajak Keandra dan disusul istrinya, Sinta, kedua orang tua Ravlein dan Rivalein.
"Baik, Om dan Tante." Zenkra duduk di kursi dekat Papahnya.
Tok, tok, tok.
"Maaf saya terlambat. Apa kabar, Om?" Ravlein menjabat tangan Tio dan beralih memeluk Mamah dan Papahnya. "Kangen kalian..."
"Jangan dikira Mamah tidak kangen, Rav."
"Iya, Mamahmu sampai ingin cepat-cepat ke Indo. Papah sampai kewalahan menghadapinya."
Ravlein beralih duduk di sebelah Rivalein.
"Hai, Riv. Apa kabar lo?" sapa Ravlein pada Kakaknya.
"Ravlein..." tegur Mamahnya.
"Iya, iya, Mah... Halo, Kak. Kau apa kabar?" Ravlein membenarkan cara bicaranya dengan lebih sopan. Dan hal itu membuat seisi ruangan terkekeh.
"Baik dong, Dek," jawab santai Rivalein tanpa dosa. Sedangkan Ravlein menekuk wajahnya mendengar panggilan 'Dek' dari Rivalein. Sialan lo, Riv! Ravlein sungguh tidak suka dengan panggilan itu, seolah dia adalah bocah.
***
Mereka makan dengan tenang. Begitu makanan habis, Tio mulai berdeham.
"Ehem."
Lalu Tio memulai pembicaraan.
"Tujuan pertemuan keluarga Widyarta dan Karaka sekarang adalah untuk merayakan bisnis yang dijalin keluarga kita sejak lama. Dan..." Tio melirik ke arah Keandra dan Sinta.
Keandra kini mengambil alih pembicaraan. "Dan... Mengumumkan pertunangan antara Rivalein dan Zenkra."
Rivalein nampak tenang seolah sudah mengetahui rencana perjodohan ini, lain halnya dengan Zenkra dan Ravlein yang sudah membulatkan mata.
"What?!"
Zenkra tidak bisa mengontrol mulutnya untuk tidak bicara. Ucapannya langsung mendapat tatapan tajam dari Tio yang sudah berselimut amarah. Sadar akan hal itu, Zenkra lantas berujar sopan dan pergi dari acara sialan itu, "maaf, saya permisi."
"Zenkra!" teriak Tio namun tidak digubris oleh Zenkra yang justru sudah membanting pintu keluar ruangan.
"Maafkan kelancangan putra saya, Keandra."
"Tidak apa, Tio. Mungkin kau bisa menjelaskan kepadanya nanti."
Tio menunduk bukan hanya karena malu, melainkan amarahnya yang siap meledak.
***
"Maaf, Tuan Muda. Anda tidak diperkenankan membawa mobil sendiri," ucap Aldo menghentikan Zenkra yang sudah membuka pintu mobil yang dikendarai Aldo ketika mereka ke resto sebelumnya.
Zenkra tak berkata, namun tatapan tajamnya sukses membuat Aldo diam dan mundur. Zenkra masuk ke mobil dan dengan secepat mungkin melajukan mobilnya hingga sampai di depan rumah bercat putih berpagar hitam.
Mobilnya ditepikan. Kemudian Zenkra turun dan mengetuk pintu. Sekilas melirik ke jam tangannya, pukul 22.00 WIB.
Tok, tok, tok
"Assalammu'alaikum..."
Zenkra mengetuk pintu lagi.
Tok, tok, tok
"Wa'alaikumsalam... Iya, iya, sebentar."
Tak lama pintu terbuka dan Zenkra langsung memeluk orang yang membukakan pintu.
"Hel..." panggil Zenkra di lekukan leher perempuan yang dipeluknya.
"Kak Zenkra!" teriak Rachel.
Sontak Zenkra melepas pelukan dan menengok ke balik tubuh perempuan yang barusan dipeluknya.
"Hel?" Zenkra menatap dua perempuan itu bergantian.
Rachel berjalan menghampiri Zenkra. "Ini kedua kalinya gue tau lo salah peluk. Atau di luaran sana lo lebih sering peluk-peluk orang begitu?"
Garnisa terkekeh. "Hahaha... Kayanya Zenkra lebih suka sama Tante deh, Hel."
Zenkra diam, bingung mau bagaimana menjelaskannya.
"Ish... Tante masuk sana! Nanti aku aduin Mamah lho soal yang pas Tante clubing sampai jam 2 pagi," ancam Rachel.
"Jangan, Hel, pliss... Oke, oke, Tante masuk nih."
Garnisa mengerlingkan sebelah mata ke arah Zenkra sebelum melenggang pergi.
Rachel justru melengos pergi menuju sofa. Zenkra mengekor.
"Gue--"
"Gue apa? Ga bisa bedain?" potong Rachel sambil duduk di sofa.
Kini Zenkra duduk di sebelah Rachel dan menatapnya lekat, "Gue..."
Dijodohin...
Namun Zenkra urung, tidak ingin Rachel menjauh setelah mendengar pengakuannya itu. "Gue... nginep di sini ya?"
"What?! Nanti apa kata tetangga?" Rachel membulatkan matanya mendengar penuturan Zenkra.
"Pliss..."
Rachel menghembuskan napas. "Yaudah deh, tapi semaleman aja..." Zenkra tersenyum sumringah. "Dan... lo tidur di sini." Rachel menunjuk sofa.
Seketika senyum Zenkra meluntur, "iya deh gapapa."
"Bi Imah..." panggil Rachel.
Selang beberapa menit, sosok Bi Imah muncul. "Iya, Neng?"
"Tolong ambilkan bantal dan selimut ya, Bi."
"Iya, Neng Rachel."
Bi Imah ke dalam dan tak lama kembali lagi dengan membawa sebuah bantal dan selimut.
"Makasih, Bi."
"Iya, Neng Rachel. Bibi tidur ya, Neng."
"Oh, iya, Bi."
Rachel menyodorkan bantal dan selimut ke arah Zenkra. "Nih, Kak."
"Makasih, Hel."
"Hm." Rachel hanya berdeham mengiyakan ucapan terima kasih Zenkra. "Lo kenapa tiba-tiba mau nginep di sini, Kak?"
Zenkra diam sesaat, kemudian menjawab. "Lagi ada masalah di rumah."
Rachel hanya mengangguk mengerti, pikirnya, tidak mungkin dia mengorek-ngorek masalah Zenkra walaupun sebenarnya dalam hati penasaran.
"Yaudah, tidur deh, Kak." Rachel beranjak berdiri dan siap melangkah. Namun tangannya ditahan oleh Zenkra.
"Jangan pergi dulu, Hel. Temenin sampai gue tidur."
Oke, gue bisa apa. Akhirnya Rachel duduk kembali.
***
03.30 WIB
"ASTAGA HELL!!!"
Rachel mengerang terusik tidurnya. Tangan Rachel mengeratkan pelukan dan Zenkra yang sudah terbangun hanya bisa tersenyum melihat Rachel.
"HELL... SADAR!!!"
"Duh... Rin... Lo tuh toak amat ya..." ucap Rachel masih dengan mata terpejam.
"Hel!!! Ini masih mending lo ke-gap gue, apa kabar kalau sampai warga yang nge-gap tingkah laknat lo pas lagi tidur ini!" Karin membuat kedua mata Rachel membulat bangun dan menyadari tangannya yang sudah memeluk erat pinggang Zenkra. Sementara Zenkra terkekeh.
Rachel dengan kasar mendorong tubuh Zenkra hingga terjatuh dari sofa. "Eh, eh, eh... Maap Kak, panik, gue ga sengaja dorong lo."
Zenkra kembali duduk ke sofa setelah mengaduh dan mengelus bokongnya yang membentur lantai. "Abis dipeluk, langsung dihempas gitu aja sih, Hel."
"Iya, maap, Kak. Sakit ya?"
"Sakitlah, lo bar-bar gitu dorong guenya," ucap Zenkra dengan tawa.
"WAHAHAHAHAHA... Lo berdua abis ngapain aja semalem, kalau warga tau bisa diarak lo berdua," ucap Karin asal.
"Lo kalau ngomong suka ngasal, Rin!" Rachel melirik jam dinding dan mendapati jam menunjukkan pukul setengah empat lewat. "Gila lo, Rin! Pagi-pagi buta gini ngapain lo ke rumah gue? Anjir! Masuk lewat mana lo?"
"Hehehe... Itu, Hel. Air di rumah gue mati kekeringan, baru mau diperbaiki hari ini. Sekarang gue numpang mandi sama wudhu ya, Hel. Oh iya, hahahha... tadi gue panjat pager rumah lo, terus pintu rumah lo ga dikunci, jadi gue langsung masuk, eh malah ngeliat lo lagi peluk-peluk Kak Zenkra bikin gue panik teriak..." jelas Karin.
Zenkra terkekeh mendengar penjelasan Karin dan dia berpikir, ternyata Karin lebih bar-bar dari Rachel sampai nekat panjat pagar.
"GILA LO!"
Karin cengengesan mendengar makian Rachel.
"Hahahaha... Yaudah, Hel. Gue pamit pulang ya," ujar Zenkra.
"Yaudah gih, Kak. Hati-hati."
"Dah... Kak..." Karin melambai heboh ke Zenkra yang sudah melewati pintu.
"EH!"
"Aaaaa..." Rachel dan Karin refleks menggelegarkan teriakan karena kaget. Keduanya menatap lagi ke arah pintu.
"Hahahaha... Titip salam buat Tante Garnisa," ucap Zenkra setelah tiba-tiba nongol lagi, kemudian benar-benar pergi.
Baik Rachel dan Karin saling tatap dan memiliki pikiran konyol yang sama. Jangan-jangan Kak Zenkra suka sama Tante Garnisa (?)
Kemudian keduanya tertawa ketika tiba-tiba Tante Garnisa keluar kamar dengan tampang semerawut khas orang bangun tidur ditambah ekspresi panik. "Kenapa?! Ada maling?! Semalem Tante lupa kunci pintu depan setelah bukain pintu buat Zenkra."
***
Di SMA Cendera Satya.
"Hel! Zenkra mana?"
Baru di ambang pintu, Rachel dan Karin langsung dihadang Silcha yang menanyakan keberadaan Zenkra.
"Kok lo nanya gue, Cha?"
"Soalnya gue dapet info kalau Zenkra semalem ke rumah lo."
Dari mana dia tahu? Rachel dan Karin saling melempar tatap. Silcha yang peka akan hal itu pun menambahkan kalimatnya. "Gue tau dari Sania."
Rachel dan Karin beroh ria.
Memang tak banyak yang mengetahui identitas Silcha yang notabene adalah seorang pewaris Rameldant, termasuk Rachel dan Karin, bahkan semua anak modeling yang mengetahui fakta itu pun disuruh bungkam oleh suruhan keluarga Rameldant. Sebenarnya Silcha pun mengetahui informasi perjodohan dan kepergian Zenkra dari ajudannya, kilahnya berkata bahwa info itu dari Sania.
"Ga tau, Cha. Tadi pagi Kak Zenkra udah pulang. Emang kenapa?" Rachel menjawab dan Karin hanya mengangguk-angguk.
"Hah? Justru gue tanya karena dia belom ada di rumahnya. Kenapa lo biarin dia pergi, Hel?" Mata Silcha berkilat amarah, membuat Rachel jadi bingung, apakah salah dia membiarkan Zenkra pulang?
Silcha pergi meninggalkan keduanya.
"Silcha kenapa?" tanya Karin. "Kok kayanya marah gitu sama lo, Hel?"
"Ga tau, Rin. Gue juga lagi bingung ini," jawab Rachel.
***
Di lain sisi. Kediaman Widyarta.
"Zenkra belum kembali?"
"Belum, Tuan."
Prank...
Segala benda di meja makan sudah terpecah belah di lantai.
"DIMANA DIA?!" bentak Tio pada Aldo yang sudah ketakutan terhadap majikannya itu. Meskipun telah lama mengabdi, namun tak bisa dipungkiri, siapapun pasti akan takut melihat amarah Tio jika sisi psikopatnya sudah keluar.
"Semalaman di rumah Rachel. Namun sekarang kita kehilangan jejaknya, bahkan ponselnya kini sudah tidak bisa terlacak," jelas Aldo.
"Rachel? Siapa dia?" Nada bicara Tio sedikit menurun. Kemudian Aldo menyerahkan amplop cokelat berisi berkas informasi mengenai Rachel.
"Cepat cari keberadaan Zenkra dan bawa dia kehadapanku! Sepertinya dia sudah tidak bisa kemanapun sekarang," perintah Tio dengan seringaiannya yang mengerikan setelah membaca isi kertas yang memuat informasi dan foto terkait Rachel.
"Baik, Tuan."
Kemudian Aldo undur diri untuk mengerahkan semua suruhan keluarga Widyarta untuk mencari Zenkra.