
Tolong!
Jangan memasang tampang itu! Aku tidak tega dibuatnya.
Adinda Rachel Karenina
***
Di lapangan utama.
Rachel's POV
Entah apa yang merasuki gue. Dengan tanpa dosa, gue melenggang pergi meninggalkan kerumunan yang dibuat Nilga dan Rasya. Gue sudah tidak peduli lagi sama Karin yang masih ada di sana. Toh ada Rasya juga yang nemenin dia.
Soal Nilga?
Gue juga sadar diri kalau ini salah. Tapi, gue tidak bisa membiarkan Kak Zenkra merealisasikan niatan bunuh dirinya tujuh bulan yang lalu.
Masa iya, nanti judul pemberitaannya begini:
Seorang bocah tampan ditemukan tewas akibat terjun dari rooftop sekolah. Diduga penyebabnya karena patah hati oleh seorang gadis cantik berwajah jutek.
Fix, gue bisa pastiin itu bakal ada di halaman utama koran or majalah yang kalian baca. Secara, ke-famous-an gue sama Kak Zenkra sudah terdengar sampai seantero planet bumi dan galaksi bima sakti.
Catat itu.
Dan kayanya, sekarang pun simpang-siur pemberitaan mengenai tragedi penembakan kedua sudah tersebar se-SMA Ceniya ini. Dengan korban yang sama, sedangkan pelakunya berbeda.
Gue terus berjalan cepat. Akhirnya gue sampai di rooftop gedung kelas 11, tempat biasa Kak Zenkra menyendiri.
***
Author's POV
Seorang anak laki-laki duduk di plesteran rooftop sambil termenung memandangi langit serta kerumunan lapangan utama yang begitu ramai. Dari atas, terlihat mereka begitu kecil layaknya kutu, sementara anak laki-laki itu merasa dirinya paling besar dan tinggi dibanding mereka.
"Kak..." panggil suara anak perempuan.
Zenkra menoleh dan mendapati sosok Rachel di sana. Dengan alis tertaut bingung, Zenkra menepuk-nepuk plesteran di sebelahnya, tanda menyuruh Rachel duduk. Sesuai perintah, Rachel duduk di plesteran bekas tepukan Zenkra.
"Kenapa?" Bukan Rachel, melainkan Zenkra yang bertanya.
"Hm?" Rachel bertanya dengan dehaman.
"Kenapa ke sini?" tanya Zenkra, tatapannya kembali lurus memandang langit dan sesekali ke arah kerumunan, namun tak berani menatap ke arah Rachel.
"Ga boleh?" Alih-alih menjawab, Rachel justru balik bertanya.
Zenkra diam sebentar, dan kemudian berucap, "lo ke sini karena kasian sama gue? Ga perlu lagi, Hel. Lo juga ga perlu mikirin perasaan gue, karena gue sendiri masih ga bisa mastiin soal itu."
"Kenapa, Kak? Lo ga suka sama gue? Kemana 'aku-kamu' yang biasanya?" tanya Rachel. Terbesit rasa kecewa mendengar Zenkra mengubah bahasa dengan 'gue-lo'.
"Dibilang ga suka, ya, gue suka sama lo. Tapi, gue ga tahu suka macem apa ini." Zenkra berucap dengan nada frustasi. Tatapannya masih enggan menghadap Rachel.
Rachel yang menyadari itu, kini memanggil, "kak..."
Zenkra diam.
"Kak..."
Zenkra berdeham tetapi tidak menatapnya.
"Kak! Lo budek ya?!" teriak Rachel tepat di telinga kiri Zenkra. Hal itu sukses membuat telinga Zenkra berdengung.
"Lo marah sama gue? Ga mau liat muka gue? Emang semenjijikan apa muka gue sampai lo ga mau liat? Kenapa dari tadi lo ngomong ke gue tapi tatapan lo ke arah lain?" Rachel tidak tanggung-tanggung menyerbu Zenkra dengan banyak pertanyaan.
Zenkra diam.
"Diemin aja terus gue, Kak. Gue balik kelaslah, berasa debu gue di sini. Ga berarti!"
Rachel beranjak bangun dan seketika tangannya ditarik hingga membuatnya kembali terduduk di plesteran.
"Rasanya gue selalu pengen meluk kalau ngeliat ke arah lo." Zenkra memeluk Rachel tanpa izin. "Gue tahu ini salah, tapi sebentar... aja. Biar gue ikhlas ngerelain lo buat Nilga."
***
Rasya's POV
Gue memeluk perempuan yang barusan gue tembak. Dia nangis pas gue menyatakan perasaan bersamaan dengan Nilga yang juga mengungkap perasaannya buat Rachel.
"Ga usah nangis, ini bentuk sayang gue buat lo, Rin," ucap gue sambil mengelus puncak kepalanya, Karin, cewek yang kata orang lemot tapi bagi gue itu bentuk kepolosannya.
Tangisnya sesegukan. Gue jadi merasa bersalah sudah membuat anak orang nangis sampai sesegukan begini.
"Mau permen? Atau balon? Atau aku? Hahaha..." ledek gue biar tangisnya mereda.
Benar saja. Karin langsung mengurai pelukan dan menampar muka ganteng gue.
Plak!
Ini sih beneran sakit, Rin. Batin gue bersuara, tapi tidak sampai ke mulut.
"Mau semuanya," ucap Karin polos dengan senyum sebagai pengganti tangis.
Tangan gue bergerak mengelap bekas air mata di wajahnya. "Termasuk aku?"
Kepalanya mengangguk. Duh... Polosnya...
"Berarti mau jadi pacar aku?" tanya gue lagi, niat gue memastikan status kita berdua itu seperti apa.
"Boleh?" tanyanya membuat gue bingung, namun seketika gue sadar akan tingkat kelemotannya.
"Kamu mau bikin aku bahagia?" tanya gue, bukan menjawab.
"Mau, gimana caranya?" kata Karin.
"Kamu mau jadi pacar aku. Mau digodain aku, tapi jangan mau digodain cowok lain. Mau jalan bareng aku, tapi jangan jalan sama cowok lain. Mau deket terus sama aku, tapi jangan deket-deket cowok lain. Gimana, kamu mau?"
Karin mengangguk dan tersenyum. "Mau..."
"Sini peluk kalau gitu." Gue merentangkan kedua tangan dan disambut oleh Karin yang memeluk gue erat. Duh... Senengnya bukan main woiii... Coba kalian rasain ini, Mblo...
Ketika gue lagi seneng-senengnya, Rachel justru pergi meninggalkan Nilga tanpa sepatah kata apapun. Setelah itu, Nilga menyusul, namun dengan ekspresi begitu kesal dan tangan yang mengepal kuat.
Tidak hanya gue, banyak pasang mata yang melihatnya ikut penasaran.
Mau kemana Rachel? Nilga pasti ngikutin dia nih sekarang...
Gue sebenarnya penasaran, tapi sekarang tidak mungkin untuk memberitahu hal itu ke Karin. Bagi gue, itu privasi mereka dan kita tidak berhak ikut campur, meski bersahabat sekalipun.
Ada satu hal lagi yang mengganjal pikiran gue.
Kira-kira Rachel nerima Nilga atau enggak ya?