
"Karena..."
Part 3
***
Jika kamu yang meminta, mari kita flash back ke masa sekitar 7 bulan silam.
Esoknya, kolong meja Rachel dipenuhi beberapa jenis makanan yang ada di minimarket. Itu sudah biasa baginya, pasti selalu ada pengagum rahasia yang memenuhi asupan pagi Rachel. Makanya dia jarang sekali kekurangan jajan meskipun kadang lupa bawa uang saku sekolahnya.
Yang membuat Rachel mengerutkan kening sekarang adalah kenyataan bahwa hari ini makanan-makanan tersebut memenuhi kolong mejanya. Banyak sekali.
"Tysa, anterin gue ke kantin yukk," ajak Rachel kepada teman sebangkunya.
"Lo belom sarapan, Hel?" tanya Tysa.
"Udah, ayo aja gercep."
Keduanya berlari ke kantin. Ralat, Rachel berlari ke kantin dan Tysa yang mau tidak mau mengikutinya berlari.
Sesampainya di kantin lantai satu. Kaki Tysa kelelahan, ditambah lagi sepertinya niat Rachel ingin menaiki tangga menuju kantin lantai dua.
"Hel, Hel, Hel..."
"Apa, Tys?"
"Capek nih, ke kantin lantai satu aja. Gue udah ga sanggup kalau naik tangga, lo lagi, kenapa pakai lari segala sih," ucapnya sambil engos-engosan. Kasian, batin Rachel.
"Yaudah deh, ayo."
Di kantin lantai satu ramai, tetapi tidak terlalu karena ini masih pagi, cuma waktu senggang sebelum mulai pelajaran pertama. Di sana ada Zenkra dan geng-nya, anak basket. Mata Zenkra menangkap sosok Rachel dan mengamatinya tak lepas-lepas. Namun yang ditatap malah tidak merasa.
Itu si Rachel kan? Ngapain dia? Emang dasarnya cuek, ga peduli diliatin banyak orang tuh anak, pikir Zenkra.
Rachel dan Tysa menjadi pusat perhatian di kantin, tetapi justru Rachel tidak peduli. Aktivitasnya yang berlari menghampiri Ibu kantin, menanyakan apakah Ibu kantin punya kantong kresek hitam yang besar, kemudian ditaruhlah uang lima ribu di meja Ibu kantin.
"Neng, ga usah bayar!" teriak Ibu kantin kepada Rachel yang sudah berlari menjauh.
"Gapapa, Bu. Buat Ibu aja, makasih ya..." Rachel menoleh dan melambaikan tangan ke Ibu kantin. Ada yang tertawa atau sekedar senyum-senyum melihat tingkah konyol Rachel. Termasuk Zenkra yang menahan tawa melihatnya.
Rachel berlari dengan kantong kresek hitam berkibar digenggamannya. Sedangkan Tysa hanya pasrah mengikuti Rachel berlari menuju kelas.
Sekali raup, isi di kolong meja langsung lenyap, berpindah ke dalam kantong kresek. Tysa geleng-geleng kepala melihatnya.
"Gila, Hel! Lo abis borong minimarket?" ucapnya tak percaya melihat begitu banyak makanan dan minuman di sana.
"Iya nih. Orang kalau borong, naruhnya di kolong meja gue, hahaha..." gurau Rachel. "Lo kalau mau ambil nih, yang mana aja bebas, ucapan terimakasih udah nganterin ke kantin."
"Beneran, Hel? Hehehe... Dengan senang hati, kalau gitu sering-sering minta gue anterin lo aja." Rachel membuka kresek dan Tysa mengambil sekotak susu, dan beberapa makanan.
"Makasih."
"Lah, Hel? Gue yang makasih udah di kasih."
"Gue lebih makasih, udah ngeringanin barang bawaan gue."
***
Selama seminggu selalu banyak makanan memenuhi kolong meja Rachel, sampai-sampai gadis itu menyiapkan kantong kresek dari rumah. Sudah dibagi ke teman-temannya atau dibawa pulang untuk stok nonton drama korea di rumah.
Hari ini, Rachel berangkat pagi-pagi supaya tahu siapa yang menaruh begitu banyak makanan di kolong mejanya. Dia melongok ke dalam kelas dan mendapati Tono, temannya, sedang mengendap-endap di meja Rachel.
"Woiiii, Tono!" teriak Rachel hampir membuat jantung Tono loncat. "Lo yang suka ngasih gue makanan banyak-banyak?"
"Eh, eh, bukan, Hel," gagap Tono dengan kedua tangan dadah-dadah.
"Ngaku aja lo! Udah ketauan," tuduh Rachel.
"Itu... Gue mana ada duit buat beli makanan sebanyak gitu. Gue aja cuma ngasih lo permen lolipop doang setiap hari."
"Terus siapa yang naruh ini banyak-banyak?" tanya Rachel kebingungan.
"Tadi Kak Zenkra lebih dulu naruh, makanannya se-kresek," ucap Tono memberitahu.
Rachel melengos pergi ke kelas 11 IPS 3. Koridor sepi banget kalau pagi, batin Rachel.
Ketika sampai di kelas 11 IPS 3. Rachel menemukan sesosok jiwa di sana.
"Heh, Kak!" panggil Rachel.
Orang yang dipanggil menengok.
"Kak Zenkra mana?"
"Mana gue tau, rooftop paling," ucap perempuan berkaca mata yang hanya sendiri di ruang kelas.
Nyusahin! Pagi-pagi udah bikin gue naik tangga. Langkahnya sampai di anak tangga teratas dan benar saja, Zenkra ada di sana, berdiri menaiki pembatas rooftop.
"Heh, Kak! Mau bunuh diri lagi lo?" ujar Rachel. Langkahnya santai ketika Zenkra turun dan menghampirinya.
"Gue masih cukup waras," ucapnya.
"Berarti sebelumnya, lo cukup gila?"
"Hahaha... Bisa dibilang begitu."
Didudukkan dirinya di plesteran rooftop dan Zenkra ikut duduk di sebelahnya.
"Gue anggap lo masih cukup gila, Kak," ucap Rachel memandang lurus ke langit biru.
"Maksud lo?" Kini Zenkra kebingungan.
"Orang waras mana yang borong makanan ditaruhnya di kolong meja gue. Hahaha... Jangan-jangan di rumah lo ga ada kulkas, Kak."
Konyol, pikir Zenkra namun ikut terkekeh.
"Gue ga tau tujuan lo apa, tapi gue ga lagi minta dikasih makan," ucap Rachel. "Mulai sekarang ga perlu kaya gitu."
Rachel beranjak berdiri dan berniat pergi. Namun tangannya ditahan oleh Zenkra.
"Bisa lo temenin gue di sini?" tanya Zenkra ke Rachel yang kini mengangguk dan duduk lagi.
Zenkra diam saja memandang langit. Sedangkan Rachel memandang Zenkra. Ganteng, batinnya. Kemudian matanya melotot dan mengusap bekas luka di lengan Zenkra. Yang disentuh terlonjak kaget.
"Itu ulah Papah gue. Ketika selama sebulan lo nyariin gue karena ga masuk." Entah apa yang ada di benak Zenkra, tetapi kini dia ingin berbagi ke perempuan di sebelahnya. "Gue mengurung diri sebab depresi dan tanpa sadar menyayat tangan gue. Papah hanya diem aja, paling kalau udah pingsan pas bangun gue ada di rumah sakit."
Rachel menyimak. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi sepertinya Zenkra merasa kesepian dan tertekan. Yang jelas Zenkra begitu rapuh sekarang. Rachel jadi teringat dengan Tante Putri.
"Jadi Tante Putri tuh Mamah lo, Kak?" tanya Rachel semata-mata untuk memenuhi jiwa kepo-nya.
"Iya, itu Mamah gue."
Kasian… Terus, gimana kabar Tante Putri sekarang ya? batin Rachel.
"Heh, kok lo diem aja?" Zenkra menghamburkan lamunan Rachel, tangannya melambai-lambai tepat di depan wajah Rachel.
"Oh gitu, Kak." Rachel tidak berani bertanya segala yang ada di otaknya. Dia hanya bisa berkata, "gue ga ngerti apa-apa soal lo, Kak. Tapi seburuk apapun keadaan lo, emang tubuh lo ada salah apa sama lo? Enggak ada kan. Makanya jangan disakitin. Kasian tuh, ga salah tapi malah ngerasain sakit."
"Lo bener. Gue akan coba," kata Zenkra disertai senyum. Kini keduanya merasakan jantung yang berdegup kencang.
Rachel salah tingkah dan berdiri. "Gue ke kelaslah, Kak. Gue itu bukan lo, yang suka bolos jam pelajaran."
Rachel pergi meninggalkan Zenkra. Tak lama Zenkra kembali ke kelasnya. "Perasaan gue lega setelah ketemu lo. Gue juga ga bakal bolos lagi," gumamnya pada diri sendiri.
Zenkra mengikuti mata pelajaran dengan khidmat, meski dibalas tatapan aneh plus horror dari teman sekelas sekaligus guru yang mengajar. Pasalnya, kalau tidak tidur, maka mata Zenkra hanya berfokus ke ponsel jika di kelas. Bahkan saking bingungnya dengan perubahan sikap Zenkra, salah satu guru ada yang bercerita kepada wali kelas 11 IPS 3, dan berkata, apa waktunya Zenkra sudah dekat?
***
Waktu berlalu begitu cepat. Hari-hari Zenkra hanya dipenuhi dengan ingatannya tentang Rachel. Sesekali, dia memperhatikan Rachel ketika ke kantin bersama temannya, entah siapa itu Zenkra tidak tahu siapa nama teman Rachel. Meski sekilas, hanya ketika Rachel akan menaiki tangga menuju kantin lantai dua, namun itu sudah cukup bagi Zenkra.
Sesekali keduanya berpapasan, namun dengan cueknya, Rachel hanya menyapa dan pergi begitu saja. Hingga suatu hari ketika kenaikan kelas dan Zenkra memutuskan untuk menyatakan perasaannya.
Envy juga gue liat Rachel dideketin cowok setiap hari. Tuh cewek sih cuek, tapi tetep banyak yang suka. Gue akui dia cantik dan imut. Tapi alasan gue suka dia karena bagi gue dia berarti. Ibarat lampu, gelap hidup gue tanpa dia, batin Zenkra.
Flash back off.