
Kehilangan adalah hal yang menyakitkan.
Aku tidak mau lagi.
Adinda Rachel Karenina
***
Malam. 19.00 WIB
Rachel's POV
Cahaya menyilaukan penglihatan gue yang posisinya sedang terbaring. Lama-kelamaan fokus gue membaik, memperjelas nuansa putih khas rumah sakit. Apa yang terjadi?
Gue memijat kening karena merasakan dentuman di bagian kepala. Pusing. Seketika bayangan runtutan kejadian tergambar di pikiran gue.
"Kamu yang sabar, Hel. Biarkan Mamahmu istirahat dengan tenang."
"Mamaaaahhhhh..." teriakku memekik dengan kencang. Air mata kembali menghiasi wajah dan gue menundukkan kepala.
Ngikkk...
Seseorang memasuki kamar rumah sakit tempat gue berada, namun gue tetap menunduk sedih tak menghiraukan.
"Rachel..."
Sontak gue mendongak. Mereka menghampiri gue. Yang hanya bisa dilakukan adalah diam tak percaya.
"Kamu kenapa teriakin Mamah?"
Mata gue mengerjap dan bangkit turun dari ranjang rumah sakit. Gue meraba-raba wajah orang yang baru saja bicara dan beralih mencubit lengan.
"Aaaaa... Sakit, Hel..."
"Mah... Ini Rachel ga lagi halu kan? Ini beneran Mamah kan? Bukannya Mamah tadi sudah meningg--"
Gue menutup mulut ketika menyadari bahwa gue salah bicara. Tante Garnisa hanya terkekeh di belakang Mamah yang kini melotot ke arah gue.
"RACHELLLL... KAMU NYUMPAHIN MAMAH MATI?! HAH?!"
Tante Garnisa mengelus pundak Mamah sambil terkekeh geli, "Claresta, ini di rumah sakit, tolong jangan berisik."
"Garnisa, aku sudah tidak kuat mendapati tingkah nakal anak ini."
"Ahhh, ah, ahhh... Sakit, Mah." Gue menepuk-nepuk tangan Mamah yang tengah menjewer telinga kiri gue. "Ampun, Mah... Bukan salah Rachel... Ahhh... Itu Tante ikut andil."
Seketika gue merasa lega, Mamah melepas jeweran dan berbalik menatap tajam adiknya.
"Peace... Kak... Aku cuma bilang ke Rachel untuk bersabar dan membiarkan Kakak beristirahat dengan tenang," jelasnya ketika tatapan Mamah menuntut penjelasan. "Rachel sendiri yang berasumsi Mamahnya meninggal sampai pingsan segala."
"Ihhhhh... Tante..." ucap gue sambil memukul-mukul lengan Tante Garnisa. "Rachel sampai sudah membayangkan hidup sendiri, jadi gembel, dan terluntang-lantung di jalanan karena ga punya orang tua. Huh! Jahat, Tante malah buat bercandaan!"
"Enaknya kita apakan dia, Hel?" tanya Mamah yang mulai menjewer telinga adiknya itu.
"Aduhhh... Kak... Maaf ga sengaja... Hahahahaha... Pliss maaf ya, maaf."
"Terus jewer, Mah... Sampai telinga Tante putus, hahahahahahaha," ucap gue kemudian tertawa bahagia.
"Ahhh... Mamah... Sakit... Kenapa Rachel dijewer lagi..."
Mamah tertawa jahat dengan kedua tangan menjewer gue serta adiknya. Baginya, kita memiliki tabiat yang sama.
"Mamah sudah tau kenakalan kamu Rachel... Pergi belanja besar-besar hingga pulang tengah malam. Kamu itu anak perawan... Mana boleh seperti itu, Mamah tidak pernah mengajarkanmu seperti itu Adinda Rachel Karenina..." Jeweran Mamah menguat di telinga gue.
"Ahhh... Udah dong Mah... Ini telinga Rachel nanti putus. Nanti anak perawan Mamah ga punya telinga mau?" Gue menepuk-nepuk tangan Mamah.
"Aduh, Kak... Lepaskan kita... Kita janji tidak akan merepotkanmu lagi dengan kelakuan kita... Lepaskan, Kak..."
Mamah melepas jeweran kita dan berkata, "punya anak sama adik sukanya bikin naik pitam. Menyumpahiku mati pula."
Mamah mendudukan diri di sofa. Gue mengikuti dan duduk di sebelahnya.
"Ihhh... Ga gitu, Mah. Rachel ditipu sama Tante Garnisa. Lagipun Mamah kenapa bisa masuk rumah sakit?"
"Kamu tidak perlu menasehatiku, Garnisa. Kamu tau sendiri kan, betapa banyaknya pesanan di butik akhir-akhir ini."
Mamah meraih air mineral dan meneguknya.
"Bener kata Tante, Mah. Tetep aja kan, perlu istirahat dan makan yang teratur. Emangnya Mamah tega meninggalkan Rachel dan membuat Rachel benar-benar jadi gembel seperti bayangan Rachel," ucap gue kemudian meneguk air mineral.
Buk! ******...
"MAMAHHH..." teriak gue ketika tangan Mamah menabok belakang gue dan membuat gue menyemburkan air yang tengah diteguk.
"Lagian, kamu. Suka asal kalau ngomong. Tidak boleh bicara seperti itu."
Tante Garnisa hanya tertawa melihat kelakukan anak dan Mamahnya.
"Iya, Mah... Maaf..." ucap gue dengan bibir manyun dan wajah cemberut.
***
Nilga's POV
"Rachel mana ya? Tumbenan dia ga masuk sekolah," gumam gue ketika bel pelajaran pertama usai berganti jam istirahat, namun tidak mendapati sosok Rachel di kelas.
"Karin!!!" teriak gue memanggil Karin yang berada di bangkunya, sedangkan gue berada di bangku sendiri.
"Ngapain lo panggil-panggil cewek gue, Nilga!!!" teriak Rasya yang duduk di sebelahnya Karin.
"Diem lo, Sya!!!" ucap gue dan beralih menatap Karin dari kejauhan. "Rachel kemana, Rin?!! Gue telepon ga bisa-bisa nih!!!"
"Ga tau, Ga!!! Gue telepon juga ga bisa!!!" balas Karin yang juga berteriak.
"Anjir lo pada!!! Bikin kelas udah kaya hutan rimba!!! Bisa ga sih ga usah teriak-teriakan!!!" teriak Tono-- ketua kelas 11 IPA 1.
Rani yang berada di sebalah Tono berucap, "lo juga teriak-teriak, Ton. Apa bedanya lo sama mereka?"
"WAHAHAHAHAHAHAHAHAHA…"
Lantas penghuni kelas tertawa membuat suasana semakin seperti hutan rimba. Kini Pak Setya yang lewat pun sampai mampir dan melongok ke dalam kelas.
"Ada apa ini?!" ucapnya tegas.
Seketika kelas senyap dan Pak Setya berucap lagi. "Ada hal bahagia apa? Beritahu Bapak. Karena Bapak sedang membutuhkan kebahagiaan."
"JIAHHH...WAHAHAHAHAHAHAHAHAHA…"
Tawa kembali memecahkan suasana kelas menjadi lebih gaduh dari sebelumnya.
***
Zenkra's POV
"Woiii... Ga..."
Gue melambai ketika mendapati Nilga tengah duduk bersama anak futsal di podium lapangan utama.
"Woiii... Kra... Lo waras?! Dadah-dadah sambil senyum-senyum ga jelas gitu ke gue. Suka lo sama gue?! Hahahaha..." balas Nilga setengah berteriak karena jarak kita memang lumayan jauh. Teman-temannya terkekeh.
Ketika gue sampai, gue bertanya, "Rachel mana, Ga?"
Nilga memasang senyum jahil. "Dia lagi menjadi Ibu rumah tangga yang baik di kediaman Adyatama."
Semuanya terkekeh, kecuali gue. Gue memasang tatapan tajam dan membunuh ke semua orang yang ada di sana. Seketika diam. "Et, seriusan, Ga! Dia udah berangkat kata Bi Imah, tapi di kelas ga ada."
"Gue lagi rapat ini! Cari sendiri kek! Gue belom liat Rachel."
Gue sebal sebenarnya kalau mau bertanya ke Nilga, tapi itu perlu demi mengetahui keberadaan Rachel.
"Lo dimana sih, Hel?" gumam gue.
Rachel gue telepon dari tadi ga bisa-bisa. Silcha gue chat ga dibales. Mereka berdua marah apa ya? Padahal gue mau tanya si Rachel sudah ada di kelas atau belum ke Silcha. Tapi, ya udahlah, nanti pas jam istirahat gue ke kelasnya lagi aja.