
Aku terenyuh melihat dia yang didamba begitu lemah dan tak sekokoh biasanya.
Nilga Putra Adyatama
***
06.30 WIB. Taman belakang sekolah.
Rachel mengikuti Nilga sampai ke sini. Dari kejauhan, dia melihat Nilga menemui seseorang. Hatinya bertanya-tanya.
Siapa?
Mata Rachel menyipit. Memperjelas penglihatan. Sedikit mendekat karena Rachel takut ketahuan. Seandainya dia terus maju, entah Nilga atau orang yang ditemui cowok itu pasti akan menyadari keberadaannya sebagai penguntit.
Terlihat seorang cowok berkemeja urakan, celana bahan berwarna hitam, dan rambut yang juga berantakan. Penampilannya begitu kacau. Rachel meneliti dan membulatkan mata ketika menyadari siapa itu.
Bruk! Satu pukulan mendarat di pipi kanan. Membuat yang dipukul jatuh tersungkur di tanah. Rachel meringis melihatnya.
Sepertinya yang memukul belum puas. Dicengkram kerah lehar kemeja seragam sekolah kuat-kuat hingga setengah mengangkat orang yang dipukul.
Bruk! Satu lagi pukulan pada pipi kiri.
Ishhh... Tiba-tiba Rachel bergidik ngeri melihat darah segar memuncrat ke tanah.
Rachel berlari dan berniat melerai.
"KAK ZENKRA!!!" teriaknya sekenceng yang dia bisa.
Yang terpanggil menoleh dan melepas cengkraman dari kerah baju Nilga. Seragam putih Nilga ternoda bercak merah.
"Rachel?" ucap Zenkra, sepertinya kaget melihat Rachel yang berdiri tidak jauh dari posisinya dan Nilga.
Nilga pula menoleh ke arah Rachel yang ternganga. Tanpa sadar Rachel memejam untuk sesaat. Muka Nilga mememar, darahnya mengalir.
Rachel kini beralih melihat ke arah Zenkra yang terperangah. Penampilan Zenkra lebih kacau dari sebelumnya. Kemeja putih yang dipakai terkena muncratan darah Nilga. Kedua tangannya diperban, tetapi darah dari luka yg diperban tembus dan terlihat.
Kacau. Keduanya benar-benar kacau.
Rachel meremas tali pegangan paper bag, tidak percaya apa yang dia lihat sekarang. Sampai-sampai gadis itu tidak bisa menganggap ini semua mimpi, karena begitu jelas dan nyata di matanya.
"Apa-apaan ini?"
Nilga tidak bisa menjawab, karena mukanya sudah memar terkena hantaman Zenkra yang keras dua kali. Nilga hanya bangkit berdiri dari sungkurnya di tanah.
"Hel, aku--"
"Stop." Tangan kanan Rachel terangkat, tanda memberhentikan. Ucapan Zenkra diputus paksa olehnya.
"Nih, pegang," ujar Rachel memberikan paper bag ke tangan Nilga.
Rachel menggandeng lengan Nilga dengan tangan kanan, dan menggandeng lengan Zenkra dengan tangan kiri. Lantas, keduanya gadis itu tarik berjalan menuju UKS. "Kalian SAKIT…"
Sepanjang jalan semua orang bingung dengan pemandangan di depannya, tetapi di antara tatapan sangsi mereka, tidak ada yang Rachel gubris.
Bisik-bisik mulai terdengar.
"Kak Zenkra? Bukannya besok baru baliknya dia?"
"Itu muka Nilga kenapa bonyok gitu?"
"Gila si Rachel, dua-duanya diembat juga."
"Sebenernya ada apaan sih, nih?"
Rachel berjalan terus sampai UKS. Antara Nilga dan Zenkra, keduanya pula mengikuti tanpa protes.
Ketika di UKS. Rachel melepas gandengan dan membuka pintu ruangan serba putih di hadapannya. Gadis itu melangkah ke belakang, mendorong tubuh kedua cowok di belakangnya agar masuk duluan. Setelah itu, menutup pintu UKS dan menguncinya.
'Bisa heboh kalau nggak dikunci,' pikirnya. mengingat banyak siswa siswi SMA Ceniya yang kepo maksimal di luar sana.
Di sana hanya ada mereka bertiga dan petugas UKS yang selalu stanby berjaga.
"NGGAK DENGER?! CEPETAN!" teriak Rachel menggelegar.
Keduanya tersingkap, dan beranjak duduk sesuai instruksi.
Rachel meminta kotak P3K ke Sandra--petugas UKS, dan melangkah menghampiri mereka berdua kemudian.
"Geseran, gue duduk di tengah. Buat jaga-jaga, takutnya lo berdua nanti main tonjok-tonjokan lagi," ucap Rachel ketus.
Mereka bergeser tanpa ada protes.
Hahhh...
Embus napas lelah gadis itu, melapangkan hati, dan berucap lembut sambil mengotak-atik kotak P3K, "Ada masalah apa kalian?"
Keduanya bungkam, obat yang Rachel cari akhirnya ketemu. Gadis itu mengambil kedua tangan Zenkra, menaruhnya di pangkuan, dan mengelus perbannya dengan lembut.
"Ini tangan kenapa, Kak?" tanya Rachel selembut mungkin sambil memegang tangannya.
Zenkra terdiam. Lantas Rachel menoleh ke arahnya. "Nggak mau kasih tau gue?" Lebih lembut.
Ekspresi Zenkra seperti menahan kesedihan. Menatap Rachel lama dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa permisi, dia membawa tubuh Rachel ke dalam pelukannya. Erat. Sangat erat. Rasanya seperti tidak ingin melepas.
Air mata Rachel seperti siap tumpah, seolah bisa merasakan apa yang dirasakan Zenkra. Ada kelelahan di raut wajah cowok itu saat menatapnya barusan. Aroma tubuh Zenkra terhirup indera pembau Rachel.
Zenkra seperti sedang membagi sedih kepada Rachel.
"Gue kangen lo, Hel," ucapnya lirih, enggan melepas pelukan yang kini semakin mengerat.
Tes.
Air mata Rachel menetes begitu saja. Rachel tahu, pasti Zenkra melakukan sesuatu sampai punya luka separah ini. Rachel membalas pelukan Zenkra dan mengelus lembut pundaknya.
"Lo boleh nangis, Kak."
Nilga menjadi saksi kerapuhan Zenkra di balik semua kesempurnaan yang cowok itu miliki.
Pundak Rachel sudah basah, karena Zenkra menenggelamkan wajahnya di pundak gadis itu. Air mata Zenkra mengalir dan tubuhnya bergetar.
"Lo kenapa sakitin diri begitu? Emangnya nggak sakit sama sekali?" tanya Rachel penuh kelembutan. Zenkra menggeleng masih dalam keadaan memeluk gadisnya.
"Ini pelukan nggak mau dilepas?" tanya Rachel lagi.
Bukannya melepas, Zenkra malah mengeratkan pelukan seolah dia akan kehilangan Rachel bila dilepaskan.
Akhirnya Rachel biarkan cowok itu menangis di pelukannya. Sangat Lama. Sampai akhirnya Zenkra kelelahan dan tertidur.
'Apa yang terjadi sama lo sampai sesedih ini?' batin Rachel bertanya-tanya, melihat Zenkra sekarang mengingatkan gadis itu pada masa lalu.
Rachel meminta Nilga membantu membaringkan Zenkra di ranjang UKS. Melepas perban cowok itu perlahan dan mengobati lukanya, kemudian mengganti dengan perban yang baru.
Sesekali gadis itu lihat wajah lelah Zenkra di tengah tidurnya. Mengelus puncak kepala Zenkra lembut dan mengelap sisa air mata di pipinya.
"Lo tau, Ga? Dia nggak sekuat apa yang lo lihat selama ini," ucap Rachel memecah hening. Tinggal mereka berdua yang terjaga, sedangkan Zenkra sedang tidur dan Sandra sedang makan siang karena waktu menunjukkan tengah hari.
"Begitu rapuh sampai lo bakal nyangka dia adalah orang yang berbeda," ucap Rachel lagi sambil memulai mengobati luka Nilga.
Antiseptik menyentuh kulit Nilga, dingin dan perih berdulu-dulu menyergah hingga terdengar ringisan dari mulut Nilga yang sebelumnya bungkam mengamati, dan Rachel melakukannya lebih lembut lagi.
Nilga semakin terdiam. Luka memar di wajahnya sukses membuat dia kesulitan membuka mulut. Apalagi berbicara. Sehingga cuma Rachel yang mencerocos terus dari tadi.
"Kalau lo mau tau yang mana dia sebenernya, jawabannya adalah yang lo lihat barusan."
"Oh iya, itu paper bag isinya sweater yang gue pinjem dari lo. Thanks ya." Rachel menunjuk paper bag di sisi ranjang.
Setelahnya hanya hening yang mengisi. Tak ada kata. Tak ada yang ingin beranjak pergi. Atau berniat makan siang. Hanya diam.
Bersambung....