
Dirimu ada di waktu yang tepat. Membuat hati tak bisa melepas. Takut pada suatu waktu, sulit kutemukan yang sepertimu lagi.
Zenkra Anugerah Widyarta
***
Ruang OSIS SMA Ceniya.
Huft...
Hari ini.
25 panggilan tak terjawab.
Begitu banyak pesan teks dan Rachel sudah hapal sekali itu dari siapa. Dan akhirnya diabaikan oleh gadis itu.
"Woiii, lo pada niat rapat nggak sih?" bentak Rachel sambil menggebrak meja. Mereka menyulut emosi Rachel yang sedang kesal sama Zenkra. Orang itu tiada henti menelepon dan mengirim pesan teks ke Rachel.
'Udah gue block saking kesalnya,' pikir Rachel.
Sekarang lagi rapat OSIS yang kesekian kali setelah Rachel pulang dari rumah sakit. Soalnya acara tujuh belasan Agustus sudah di depan mata. Tapi nih anggota OSIS membuat Rachel naik pitam, berisik sedari tadi. Apalagi yang jadi bahan gosip sekarang?
Dari pembicaraan mereka tadi, samar-samar Rachel dengar.
"Lo tau nggak, Na?" Yang dipanggil namanya Irna. "Hot news nih tentang Kak Zenkra."
"Apaan tuh, Ra?" Yang memberikan informasi namanya Rara.
"Kak Zenkra pulang lusa."
"Kata siapa lo?"
"Listen. Gue 'kan latihan modeling. Nah, Kak Sania lagi ngobrol sama kakak kelas modeling yang lain. Kedengeran deh ke kuping gue. Hehehe..."
"Wah, kalau Kak Sania yang bilang mah akurat tuh info."
"Makanya--"
Brak!
Sehabis itu, Rachel menggebrak meja. Jadinya gosip tersebut terputus. Rachel juga sebenarnya penasaran, namun mereka 'kan sedang rapat. Kalau menggibah suka tidak tahu tempat.
Seketika segala suara senyap. Rapat berjalan dengan khidmat, walaupun sebelumnya sempat berisik.
"Oke, besok kita udah hari-H. Semangat ya, kalian. Jangan lupa jaga stamina, besok waktunya tempur."
Rachel menutup rapat dengan penyemangat.
***
'Duh... Capek banget nih, setelah beberapa hari masuk sekolah. Ya, iyalah, kerjaan gue setiap hari cuma belajar, rapat, belajar, rapat. Emangnya begini ya, kalau anak OSIS lagi ada acara? Tambah-tambah gue ketos, ya udah nasib saja pulang sore kelewat malam mah cuma buat kumpul rapat. Untung banget besok hari-H, walaupun bakal semakin melelahkan, tapi kebayarlah usaha anak-anak OSIS,' renung Rachel.
Tuh kan, Rachel sampai lupa dengan keberadaan Karin yang entah ada di mana. Akhir-akhir ini Rachel tidak bersama Karin. Di kelas, belajar. Pas bel istirahat atau pulang, Rachel sudah melenggang ke ruang OSIS. Lalu, karena tadi rapat terakhir, sekarang tinggal mencari Karin. Waktunya pulang.
Bruk!
Kebanyakan berpikir sambil jalan membuat Rachel menabrak seseorang. Rachel sampai jatuh duduk di lantai depan UKS. Sementara yang Rachel tabrak masih berdiri dengan kokoh seolah tidak berefek apa-apa setelah bertabrakan dengan gadis itu.
"Bangun! Nggak usah nge-drama minta dibangunin."
'Tuh, mulut minta gue potong rasanya,' batin Rachel.
Rachel pun bangkit bangun dari duduknya di lantai.
"Siapa yang nge-drama? Kalau ngomong sukanya ngasal lo!" jawab Rachel ketus sambil merapikan baju dan menepuk-nepuk pantat yang dirasa kotor. Rachel langsung melengos pergi tanpa mau tahu siapa yang dia tabrak.
Dalam hatinya mencibir, 'Nggak penting banget! Malah tuh orang segala ngatain gue juga!'
Baru dua langkah, tangan Rachel dicekal. Diseretlah gadis itu masuk ke dalam ruang UKS.
Ketika di dalam UKS.
"Ish, ngapain sih tarik-tarik gue ke sini?" tanya Rachel meronta. Ketika melihat wajah orang yang menariknya, ternyata itu Nilga. "Lah, ternyata lo! Mau nagih sweater? Lupa gue, makanya ingetin gue."
"Emang lo pikir siapa dari tadi?" tanya Nilga.
Rachel hanya mengedikan bahu tidak peduli.
"Dih, udah keselan, nggak jelas lagi lo! Pakai nge-drama duduk di lantai, biar gue bangunin, iya?"
Ucapan Nilga sangat sembarangan. Rachel kesal dan memutuskan untuk meninggalkan UKS.
'Yailah, baru berapa langkah, udah ditahan nih tangan gue. Hobi si Nilga kali nih, tahan-tahan tangan orang,' ujar batin Rachel.
'Ngegas gue. Bodo, ah. Kesel banget sama nih orang,' ungkapnya dalam benak.
"Kok lo yang marah sih? Yang nabrak lo, yang kesel juga lo."
'Bener juga sih, kenapa gue yang kesel jadinya?' pikir Rachel lagi.
"Nggak tau, ah!" Rachel tidak peduli dan melenggang pergi.
"Ish, tuh, tuh, tuh, nih tangan gue ngapain lo tahan-tahan lagi!" ucap Rachel sambil menunjuk-nunjuk tangan Nilga yang lagi-lagi menahannya pergi.
Tanpa ba-bi-bu, gadis itu diseret oleh Nilga menuju ranjang UKS. Lalu, dia mendudukkan Rachel secara paksa di situ.
Posisinya Rachel duduk di ranjang UKS, sementara Nilga berdiri membungkuk condong ke arahnya, sambil kedua tangan laki-laki itu memegang bahu Rachel.
'Bisa dibayangin deh, tuh, kaya gimana. Oke, fix. Sekarang jantung gue deg-degan. Posisi macam apa ini?' pikir Rachel.
"Ish, sana lo!" Rachel mendorong tubuh Nilga saat tersadar kalau posisinya membuat jantung gadis itu terasa tidak sehat. Dan Nilga akhirnya menyingkir mundur dan duduk di ranjang seberang.
Ketika Rachel meneliti perawakan laki-laki di hadapannya, ternyata dari lengan kanan Nilga sampai ke siku terdapat banyak darah. Ada luka.
"Tangan lo kenapa?" tanya Rachel sambil meringis melihatnya.
"Biasa, jatoh tadi pas futsal."
'Santai amat si Nilga jawabnya. Emangnya nggak sakit?' benak Rachel.
"Yaudah, obatin. Nanti infeksi lagi lo!"
"Ini... gue 'kan ke UKS," ucap Nilga.
"Eh, iya juga ya. Kenapa gue jadi mendadak ketular lemotnya si Karin? Ya udah tuh obatin, nanti infeksi, tangan diamputasi tau rasa lo!"
"Kalau ngomong suka ngasal! Lagian mana bisa gue ngobatin sendiri, pakai tangan kiri gitu?"
"Manja lo, ya! Bilang aja minta tolong, nggak usah kode-kode begitu," ucap Rachel tepat sasaran.
Nilga cengengesan memampangkan deretan gigi putihnya. "Hehehe..."
Selepasnya Rachel berteriak, "Kak, ini tangan dia minta diamputasi, eh, diobatin maksudnya!" Rachel mengadu ke petugas UKS. Namanya Sandra, anak UKS kelas 12.
"Enggak Kak, makasih," sergah Nilga kemudian.
"Lah? Nggak mau diobatin ya udah."
Nilga melihat ke arah Rachel, dan jantung gadis itu dibuat mendadak berdegup kencang.
"Gue maunya sama lo."
Rachel gelagapan mendengarnya dan mengerjapkan mata beberapa kali. 'Ga salah dengar nih gue?'
Buru-buru Rachel menepis pemikiran konyol di otak cantiknya itu.
"Ish... Apa bedanya diobatin gue sama Kak Sandra? Malah dia lebih pro daripada gue."
"Ahh, ishhh. Aduh... Ini sakit banget luka gue ketiup angin."
'Nyebelin tuh orang! Justru dia yang nge-drama,' pungkas pemikiran Rachel menatap kesal ke Nilga yang sangat buruk dalam berpura-pura.
"Ya udah, iya!" Rachel mengalah beranjak pergi mengambil kotak P3K.
Ternyata di UKS tidak hanya ada mereka berdua dan petugas UKS, ada... hmm... Siapa ya?
Tanpa diduga, orang itu mengulurkan tangan.
"Gue, Silcha."
"Oh, gue Rachel. Apa kita pernah ketemu sebelumnya? Muka lo nggak asing deh," ucap Rachel ramah.
"Hehehe... Kita sekelas, lo lupa, Hel?"
Rachel menepuk jidat. "Oh, iya. Gue pernah ngeliat lo di kelas. Maklumin ya, gue 'kan baru masuk beberapa hari, terus sibuk rapat-rapat OSIS."
"Siap, tapi lo sama Nilga lagi ngapain di sini? Lo pacaran ya..." Pertanyaan Silcha bikin Rachel teringat lagi sama si Nilga.
"Udahan dulu ya Cha, gue mau ngobatin tangannya Nilga," ucap Rachel pamit mengambil kotak P3K di lemari, langsung pergi menghampiri Nilga.
Pikiran Rachel mengawang, 'Masalah si Karin? Gampanglah, gue udah dapat chat dari dia. Katanya, gue balik duluan, Hel. Dianterin Rasya.'
Tidak ada masalah dengan itu, tapi... yang membuat Rachel bingung, sejak kapan Karin jadi dekat sama Rasya?