
Hilangmu munculkan rasa bersalahku. Atau ini rasa dimana diriku mulai tertarik padamu (?)
Pliss, kembali dan jelaskan mengapa aku sekacau ini kehilanganmu.
Adinda Rachel Karenina
***
SMA Cendera Satya.
Entah sudah berapa hari semenjak hilangnya Zenkra. Bahkan Rachel tidak sehari pun absen untuk mengunjungi kelas 12 IPS 3 hanya sekedar menanyakan, apakah Kak Zenkra masuk sekolah hari ini?
Dan hampir setiap hari juga Rachel harus bertemu Ravlein yang berkelas di 12 IPS 1. Seperti sekarang. Dengan langkah gusar, Rachel berjalan berniat melewati Ravlein yang dengan santai bersandar di tembok depan kelas 12 IPS 1. Rachel berjalan seolah tidak melihat siapapun di sepanjang koridor gedung kelas 12, begitu banyak pasang mata yang menilik keberadaan Rachel seolah menjadi hal biasa baginya dalam beberapa hari terakhir.
"Eh, eh, eh... Main lewat aja," suara Ravlein.
Dengan memutar mata jengah Rachel tetap berjalan. Keakraban Ravlein membuat Rachel memiliki lebih banyak musuh, terutama di kalangan perempuan. Harus Rachel akui, seandainya Ravlein tidak ada di koridor gedung kelas 12 ini, bisa dipastikan akan ada gerombolan cewek kakel--kakak kelas yang melabraknya. Terlihat dari tatapan mereka ke arah Rachel yang seolah mau menerkam mangsa.
Merasa panggilannya dihiraukan, Ravlein menarik lengan Rachel dan berkata, "Zenkra ga akan masuk dalam waktu dekat, harus berapa kali aku bilang ini."
"Gue ga percaya sama lo!" Rachel menyahut dengan setengah membentak, membuatnya kembali menjadi pusat perhatian. Kemudian dia beringsut ke arah kelas 12 IPS 3. Dan--
"Batu! Aku bilang dia ga masuk," ucap Ravlein dari belakang Rachel yang sedang melongo menyapu pandangan ke seluruh ruang kelas. Dan benar, Zenkra tidak masuk. Lagi?
Rachel memutar tubuh dan hanya menyisakan jarak beberapa inci dari Ravlein. Pandangan mereka bertemu dan hal itu membuat jantung keduanya berdebar hebat. Gue manusia, wajar dong kalau deg-degan di deket lawan jenis. Tampan, tajir, auto pintar karena dia bisa mengurus bisnis, siapa yang tidak tau seorang Ravlein pewaris kedua Karaka Group. Duh... Batin... Pliss waras dikit dong... dia mantan, inget cuma MANTAN.
Rachel menggelengkan kepala merutuki batinnya yang mulai memuja Ravlein.
"Gue heran. Tau dari mana lo soal Kak Zenkra?" Dengan tatapan sok, Rachel bertanya kepada Ravlein. Namun, bukannya menjawab, Ravlein justru menarik tangan Rachel dengan setengah menyeretnya menuju taman belakang yang sudah menjadi tempat pemaparan segala rahasia para murid di SMA Ceniya. Bahkan Ravlein yang merupakan murid pindahan pun langsung mengetahuinya. Tempat paling legend di Ceniya.
"Buat apa lo tarik-tarik gue ke sini?" tanya Rachel ketika mereka sampai di taman belakang.
"Tadi kamu mau nanya kalau aku bisa tau dari mana soal keberadaan Zenkra kan," ujar Ravlein dengan nada lembut ke arah Rachel. Terkadang hal itu membuat Rachel begitu bingung, mengapa Ravlein selalu bersikap lembut kepadanya, sedangkan ke perempuan lain begitu dingin. Bahkan dia masih menggunakan bahasa 'aku-kamu' jika dengan Rachel yang justru kebalikannya, jutek, cuek, sedikit ketus dan kasar dengan bahasa 'gue-lo' padahal Ravlein seumuran dengan Zenkra yang berarti kakel-nya.
"Hmm... Iya. Lo tau dari man--"
"Ssttt..." Tangan kiri Ravlein menggenggam lengan Rachel, sedangkan jari telunjuk tangan kanannya mendarat tepat di bibir cantik Rachel, mengisyaratkan untuk diam. Jantung pliss jangan berdegup terlalu kenceng, otak pliss jangan mikir yang macem-macem. Tapi ini si Ravlein mau ngapain? Gue ga bisa, gue ga bisa menghentikan jantung dan otak gue yang berlaku secara alami, berdegup dan berpikir, batin Rachel.
"Siapa di sana?!" bentak Ravlein tiba-tiba, membuat jantung Rachel terlonjak kaget ketika otaknya mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Tak lama, tiga sosok orang keluar dari tempat persembunyian mereka. Rachel mengikuti arah pandang Ravlein.
"Lah? Karin? Rasya? Nilga?" tanya Rachel tak percaya bahwa ada yang membuntuti, dan mereka adalah teman-temannya.
"Hehehe... Rav, lo peka banget. Gue, Rasya, sama Nilga padahal udah berusaha banget biar ga ketauan," ucap Karin memamerkan deretan gigi putihnya.
"Gue sadar ada yang ngikutin Rachel beberapa hari ini, cuma gue mau konfirmasi dulu, dan ternyata kalian. Mau apa kalian buntutin Rachel?" ucap Ravlein.
"Kita khawatir sama Rachel yang linglung beberapa hari ini, sebenernya ada apa sih?" balas Rasya.
"Kalian khawatirin gue? Gue?" Telunjuk Rachel menunjuk ke wajahnya. "Emang gue keliatan linglung?"
"Lebih parah. Lo udah kaya mayat hidup berjalan, muka pucet, hilang-hilangan, dan keliatan banget kaya orang bingungnya," jelas Nilga. "Lo kenapa, Hel?"
"Seburuk itukah gue? Masa sih?"
"IYAA!!!" jawab Ravlein, Nilga, Rasya, dan Karin serempak.
"Oh my God, gue juga sadar semua itu, tapi juga ga ngerti kenapa diri gue bisa begini," ucap Rachel lirih.
"Gue bisa jelasin soal Zenkra..." pecah Ravlein ke empat orang di sana.
"Sepulang sekolah, di sini," ucap Ravlein lagi setelah mendengar bel masuk berbunyi.
***
Di kediaman Widyarta.
"Dimana dia? Kalian sama sekali tidak becus! Sudah beberapa hari namun dia belum kembali juga!" bentak Tio kepada jajaran anak buahnya. "Aldo! Jelaskan!"
Aldo maju selangkah sejajar dengan Tio dan memberikan sebuah map coklat. "Kita masih belum mengetahui keberadaan Tuan Muda. Namun, keluarga Rameldant telah berhasil melacak mobil yang dibawa Tuan Muda Zenkra, jika dilihat dari hasil yang diberikan menunjukkan bahwa mobil Tuan Muda berada di Kota Tangerang Selatan."
"Di negara bagian mana itu? Asing sekali di telinga saya," ucap Tio dengan alis tertaut bingung, kebingungan itu cukup meredam emosinya sesaat.
"Masih di Indonesia, Tuan. Ini." Aldo memberikan ponselnya kepada Tio yang sudah terpampang Google Maps, di sana menunjukkan lokasi Kota Tangerang Selatan.
Tio beroh ria.
"Saya mulai meragukan kinerja orang suruhan kita dan Rameldant. Bagaimana bisa mereka tidak mampu menemukan keberadaan Putri, dan sekarang Zenkra? Sungguh tidak becus." Tio menggelengkan kepala merutuki kebodohan orang suruhannya yang dianggap kompeten justru tidak mampu menemukan keberadaan Putri-- Mamahnya Zenkra dan sekarang Zenkra. "Saya ingin ada perkembangan malam ini, atau--"
***
Bel sekolah sudah berbunyi 12 menit yang lalu.
Kelima manusia tengah berkumpul di taman belakang sekolah, mereka duduk membentuk lingkaran. Rachel, Karin, Nilga, Ravlein, dan Rasya.
"Udah lengkap semua?" tanya Ravlein.
"Udah!!!" Serempak ke empat yang lain menjawab.
"Oke, oke, gue mulai nih. Ga sabar ya kalian."
Ravlein menarik napas panjang dan menghembuskannya.
"Zenkra hilang..." ucap Ravlein dengan ekspresi dibuat sedatar mungkin.
"Rav... Kita udah tau soal itu. Yang penting, dimana dia sekarang?" tanya Rachel tidak sabar.
Gue bener-bener bisa digorok Zenkra kalau kasih tau ke kalian, batin Ravlein. Dia diam dan membuat Nilga kesal.
"Gue ga suka bertele-tele. Apa perlu gue suruh orang buat cari tau?" gusar Nilga merespon tingkah Ravlein yang menguji kesabaran. Pasalnya, untuk apa dia mengumpulkan yang lain ke sini jika tidak juga memberitahu apapun.
"Kak, lo buang waktu gue! Mending tadi gue ikut kumpul voli," seru Rasya masih sopan dengan embel-embel 'Kak' kepada Ravlein yang merupakan kakel-nya.
"Kak, ga seru lo ah!" Karin mulai malas. "Hel, lo ceritain ke gue aja nanti deh. Ayo, Sya! Kita mending jalan, makan basonya Mang Umay." Karin mengajak Rasya ke tempat biasa mereka kencan kalau sedang malam Minggu.
"Ayo deh, Rin! Gue duluan ya, Guyss..." pamit Rasya mengiyakan ajakan Karin.
"Tiati, Rin. Nanti gue ceritain kalau nih Kunyuk udah buka suara," ucap Rachel sambil menunjuk ke Ravlein ketika menyuarakan kata 'kunyuk'. Karin dan Rasya melenggang pergi, menyisakan Rachel, Nilga, dan Ravlein.
"Hahaha... Mampus dikata 'kunyuk' sama Rachel," ejek Nilga.
"Hel..." panggil Ravlein dengan nada sok sedih. "Kunyuk-kunyuk gini aku masih pacar kamu lho..."
"HEH! MANTAN!" seru Rachel membenarkan situasi hubungan mereka. "Gue pulang kalau lo ga guna nyuruh kita kumpul di sini!"
Ravlein menahan tangan Rachel yang sudah beranjak berdiri.
"Oke! Fine!" Tidak ada pilihan, Ravlein membuka mulut. Sorry, Kra. Gue terpaksa ngasih tau sebelum lo, sebab ini semua kebodohan lo yang lari dari masalah.
"Zenkra dijodohin..."
"Hah?!"
Seketika Rachel melemas, hatinya runtuh bersamaan dengan tubuhnya yang kini kembali terduduk di tanah. "Dengan siapa? Kapan?" tanya Rachel lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
Nilga mampu melihat kesedihan di raut wajah Rachel. Dan sejujurnya, dia pun syok mendengar bahwa Zenkra dijodohin pada awalnua. Kemudian Nilga mengetikkan sesuatu di ponselnya ketika mendapat pesan ajakan dari Sania.
"Siapa, Rav?" tanya Rachel lagi. Nilga hanya mampu menyimak dan melihat kehancuran perlahan dari seorang Rachel.
"Kakak aku, Rivalein."
"Untuk kapannya... Di hari yang sama ketika dia menginap di rumah kamu, Hel." Ravlein ragu memberitahukan fakta naas itu.
Damn! Rachel tidak bisa membendung air matanya lagi. Kini hatinya hancur, bahkan dia tidak tahu sebab kehancurannya sekarang. Entah karena membiarkan Zenkra pulang selepas menginap di rumahnya, atau mengenai berita perjodohan ini. Entahlah... yang jelas, Rachel hanya ingin Zenkra kembali di hadapannya.
Penyesalan demi penyesalan berkecamuk di diri Rachel sekarang.
Gue kenapa?
Apa ini semua sebabnya? Kenapa Kak Zenkra menghilang?
Seandainya gue tahu masalah keluarga yang dimaksudnya waktu itu adalah perjodohan ini.
Jika perjodohan ini benar penyebabnya. Gue ga akan biarin dia menanggung sendiri, paling tidak, gue bakal kasih pelukan penguat ke dia. Gue bodoh...
Apa yang harus gue rasain sekarang?
Senang? Karena Kak Zenkra udah dapetin yang lebih baik dari gue. Cantik, terpelajar, dan merupakan pewaris pertama Karaka Group.
Atau sedih? Karena entah mengapa hati gue sakit dan merasa kehilangan sekarang. Entah karena dia menghilang tiba-tiba atau karena dia ga akan inget gue lagi karena udah dapet yang lebih baik.
Air mata Rachel semakin deras. Nilga merengkuh bahu Rachel, sedangkan Ravlein menggenggam telapak tangan kanan Rachel. Membuat gadis itu terisak dan menangisi kekacauan yang menghinggapinya sekarang.