
"Karena..."
Part 1
***
Jika kamu yang meminta, mari kita flash back ke masa sekitar 7 bulan silam.
Plak!
"Dasar anak tidak berguna!"
Sebuah tamparan mendarat di sebelah pipi Zenkra hingga menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
Zenkra bangkit berdiri dan menarik tangan Papahnya. "Pah! Berhenti!"
Ditepis pegangan Zenkra oleh Tio--Papahnya Zenkra dan kembali menghuyungkan tubuh Zenkra ke lantai. Sementara Tio sudah melenggang pergi sambil menyeret seorang wanita, Putri--Mamahnya Zenkra.
Sudut bibir Zenkra mengeluarkan darah segar. Dengan sekali usapan, darahnya kini berpindah ke kaos yang dikenakannya.
Tio masuk ke dalam mobil bagian kemudi, sedangkan Putri sudah lebih dulu dipaksa memasuki mobil di bagian penumpang.
"Pah! Mamah mau dibawa kemana?!" teriak Zenkra yang berlari keluar, kedua tangannya ditahan oleh dua orang berbadan kekar. Mobil itu melesat pergi.
Wusss...
Zenkra menghajar kedua orang itu hingga mengaduh. Ada gunanya juga gue belajar taekwondo, pikirnya.
Dengan cepat, Zenkra memasuki mobil putih mengkilap, mengambil alih kemudi, dan melesat tak kalah cepat.
"Bodoh! Kalian bisa lakukan apapun untuk menghentikannya!"
Tio murka ketika melirik spion melihat Zenkra yang mampu lolos. Pengawalnya tidak becus sama sekali.
"Saya mohon Tio, kamu bisa sakiti saya, tapi jangan sakiti Zenkra," mohon Putri. "Kemana kamu mau membawa saya?"
"Ke sisi Yang Maha Kuasa. Hahahahaha..." tawanya memecah dengan wajah yang begitu tegas dan sorot matanya tajam. Psikopat, batin Putri.
"Kamu tega!" Air mata Putri berlinang dan kemudian terdengar isakan.
"Biar seperti itu, kamu hanya menjadi duri dalam daging di hidupku!"
Kini tangis Putri semakin menjadi-jadi.
Mobil dihentikan karena lampu lalu lintas berwarna merah. Shit! umpat Tio.
Drettt... Drettt... Drettt...
Rafanya is calling...
Tio mengangkat telepon dengan senyum sumringah. "Halo, Sayang."
"Sudah kamu bereskan?"
"Jangan khawatir. Surat cerai sudah ditandatangani, tinggal melenyapkannya saja."
Ceklek!
Putri berhasil kabur keluar dari mobil sialan itu. Larinya tak tentu arah sekencang-kencangnya. Hingga--
Ngikkk~
Sebuah mobil nyaris menabraknya. Kini seorang wanita sang pemilik mobil keluar bersama anak perempuannya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Putri mengangguk, kemudian berkata, "tolong selamatkan saya."
"Ada apa?"
"Bawa saya ke tempat yang jauh dari sini secepatnya," ucapnya memohon dan langsung dipersilahkan masuk mobil oleh Claresta. Mobil itu melesat cepat.
Di lain sisi. Tio memukul kemudi geram. Tapi selama dia tidak muncul di hadapanku dan Zenkra, tidak masalah, batinnya.
Putri sudah tidak tahan dengan kelakuan psikopat suaminya. Kebiasaan buruknya yang suka bermain perempuan dan bersikap kasar sepertinya sudah mendarah daging.
"Terima kasih sudah menolong saya," ucap Putri tulus. Sepanjang perjalanan tadi dia menceritakan semuanya kepada Claresta.
"Sama-sama. Saya mengerti sebagai sesama wanita," ucap Claresta tulus.
Mereka menunggu hingga tiba jadwal penerbangan. Sesekali mengobrol untuk memecah hening dan rasa bosan.
"Ini anakmu?" tanya Putri.
"Iya. Saya sampai lupa mengenalkannya kepadamu. Ini Rachel," jelas Claresta.
Rachel mengecup tempurung tangan Putri. "Maaf Tante, Rachel tidak sempat memperkenalkan diri. Sejujurnya Rachel masih bingung soal kejadian tadi."
"Itu tidak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, kamu umur berapa?" tanya Putri lagi. Claresta permisi membelikan minum dan pergi setelah mendapat anggukan dari Rachel dan Putri.
"Enam belas tahun, Tante."
"Wah, sudah SMA berarti, ya?"
Rachel mengangguk. "Iya, Tan. Kelas sepuluh."
"Sekolah dimana?"
"Di SMA Cendera Satya."
Ucapan Rachel seperti menyambar Putri. Kemudian dia teringat suatu hal. "Rachel, di tas sekolahmu ada buku?"
Awalnya Rachel mengerutkan kening, namun kemudian mengangguk.
"Tante boleh pinjam beserta pulpen?"
Rachel menurut dan mengeluarkan sebuah buku tulis dan pulpen.
Putri menuliskan sesuatu di buku tulis Rachel tepat di bagian tengah, dengan niat agar mudah menyobeknya.
"Rachel, Tante boleh minta tolong?" Manik mata Putri memohon.
Akhirnya Rachel mengangguk. "Boleh Tante."
Putri merobek kertas yang sudah ditulisnya dan memberikannya kepada Rachel. "Tolong sampaikan ini kepada Zenkra Anugerah Widyarta kelas sebelas di SMA Cendera Satya."
Rachel bingung, kemudian mengangguk. Pasalnya, dia tidak tahu siapa Zenkra Anugerah Widyarta. Meski banyak laki-laki yang mendekatinya di sekolah, namun dia bersikap cuek. Teman seangkatannya saja dia sering lupa, apalagi ini kakak kelasnya. Setelah otaknya bekerja begitu berat untuk mengingat, rasanya nama itu tidak asing baginya.
"Ini diminum dulu, Put." Claresta yang baru sampai, menyuguhkan minuman botol ke Putri.
"Terima kasih, Claresta." Putri menerimanya.
Ting, tong... Ting, tong...
"Sudah waktunya saya berangkat. Saya permisi dan terima kasih banyak Claresta, saya akan mengganti budi baikmu dan anakmu."
Putri memeluk Claresta dan Rachel bergantian. Setelahnya pergi menuju suatu tempat yang jauh. Bahkan dia juga berniat mengganti namanya ketika sampai tujuan.
***
Sudah lebih dari seminggu Rachel mencari anak laki-laki yang bernama Zenkra. Namun tak juga dia temukan. Padahal Rachel sudah mengetahui ruang kelas Zenkra yang berada di 11 IPS 3. Sekretaris kelas hanya berkata bahwa Zenkra tidak masuk lagi.
Setiap hari disempatkan Rachel menanyakan keberadaan Zenkra ke sekretaris kelas 11 IPS 3, namanya Aqila. Bahkan mereka sampai bertukar nomor agar tetap bisa berkomunikasi di tengah banyaknya aktivitas sekolah.
Sebulan berlalu.
Sebuah pesan chat mendarat pada ponsel Rachel di sela-sela pelajaran Matematika. Dirinya tidak sabar ingin mengantar surat tersebut. Harap-harap bel istirahat cepat terdengar. Karena sepertinya surat itu penting sekali melihat kondisi Tante Putri tempo hari.
Aqila 11 IPS 3
: Zenkra masuk hel
Aqila 11 IPS 3
: Tapi ke kelas cuma naro tas
Aqila 11 IPS 3
: Kayanya tadi ke rooftop gedung kelas sebelas
Rachel : Makasih kak
Langkah Rachel grasak-grusuk tidak karuan setengah berlari. Dia tidak mempedulikan tatapan anak-anak yang melihatnya lewat, termasuk anak kelas 11 karena Rachel sudah di koridor kelas sebelas. Dia menaiki lift dan setelah itu menaiki tangga menuju rooftop. Matanya mengedar ke segala penjuru. Kemudian matanya terbelaklak melihat seorang laki-laki berdiri menaiki pagar pembatas pinggiran rooftop.
"Heyyy!!! Jangan bunuh diri!!!" teriak Rachel sekencang yang dibisa.