Rachel

Rachel
Mantan yang Tak Diundang



Pertemuan bodoh...


Part 2


***


Bi Imah mempersilahkan masuk laki-laki yang tengah berdiri di depan pagar rumah Rachel.


Ketika di ruang tamu.


"Hai, mantan... Apa kabar?" ucap laki-laki itu disertai seringaian khasnya. Seluruh mata tertuju pada laki-laki itu.


"Wah... Semakin seru ini... Siapa lagi dia, Hel?" tanya Garnisa tersenyum penuh arti.


Tak hanya Rachel yang terbelaklak, semuanya juga ikut melotot entah karena ekspresi tak percaya ataupun bingung akan kehadiran laki-laki yang menyebut Rachel dengan sebutan 'mantan'.


"Kita harus bicara, tapi ga di sini." Ekspresi Rachel yang tengah duduk mendadak serius.


Zenkra dan Nilga menatap Rachel bingung.


"Eitsss... Kalau cuma mantan ga usah seserius itu dong, Hel..." Tante Garnisa berdiri dan mempersilahkan laki-laki itu duduk. "Silahkan duduk. Biar Tante berdiri."


Yang dipersilahkan justru berjalan menghampiri Rachel. "Ga usah repot-repot Kak atau Tante, saya hanya mau bertemu Rachel."


"Panggil aja Tante, sebutan 'kakak' kesannya terlalu muda untuk saya yang berumur 26 tahun."


Laki-laki itu hanya tersenyum sopan dan kembali berjalan menghampiri Rachel. Sontak, Rachel berdiri dan tanpa aba-aba dipeluk oleh laki-laki yang kini menelusupkan kepalanya di lekukan leher Rachel. "Gue kangen... Apa kabar, Cantik?"


Rachel tidak membalas pelukan laki-laki itu. Perilakunya sukses membuat tangan Nilga dan Zenkra serentak terkepal.


"Baik. Mau apa lo ke sini, Rav?"


Ravlein Rain Karaka. Pacar Rachel tiga tahun silam, pewaris kedua dari harta kekayaan garis keturunan Karaka Group, pewaris pertama tentu saja Kakak perempuannya, Rivalein.


Ravlein melepas pelukan dan tangannya mengusap puncak kepala Rachel gemas. "Ga pernah berubah, always jutek, dan ga bisa basa-basi."


Rachel memutar bola mata malas. "Kita udah putus, ngapain lo ke sini?"


Ravlein terkekeh. "Aku cuma pergi tiga tahun silam, ga ada kata putus di antara kita. Now, I'm back for you, Babe."


"Udah bagus sebutan lo di awal. Sekali 'mantan', selamanya begitu. Sejak kapan lo ke Indo?"


"Oh My girl, aku ga nyangka kamu masih peduli dengan kehadiran aku. Baru aja sampai dan langsung ke sini."


"Buat apa ke sini? Gue udah anti banget sama hal yang berbau lo."


Tangan Ravlein mengacak rambut Rachel dan langsung mendapat tepisan kasar dari sang empunya rambut.


"Kamu lebih kasar, Babe. Aku suka." Ravlein menyeringai.


Bamn! Ingin sekali Rachel melenyapkan Ravlein sekarang. Laki-laki itu benar-benar menyebalkan. Karin sangat geram, begitupun dengan Nilga dan Zenkra, sedangkan Rasya dan Tante Garnisa tidak mengerti ada apa ini.


"Dia sekarang pacar gue, lo jangan coba-coba sentuh dia." Sontak Rachel menoleh ke sisi kanannya yang mendapati raut tidak suka di wajah Nilga yang sudah bangkit berdiri.


"HEH... NILGA!!! MAU LO BAWA KEMANA SI RACHEL???" teriak Karin ketika melihat Nilga menarik Rachel pergi, setelahnya disusul suara deruan motor milik Nilga yang menjauh.


***


"Kita perlu bicara. Di luar."


Kemudian laki-laki itu mengangguk dan mengekor Zenkra ke luar rumah Rachel.


Buk!


Ya, laki-laki itu adalah Ravlein yang baru saja kena pukul Zenkra ketika sesampainya mereka di luar.


"Gue yang harusnya nanya, buat apa lo ke rumah Rachel? Lo beneran mantannya?" Dengan sekali hentak, Zenkra menarik leher kaos Ravlein hingga tubuhnya sedikit terangkat.


"Ga ada kata putus di antara kita, berarti ga salah kan kalau gue masih mengakui dia sebagai pacar?" Senyumnya melebar meskipun sedikit meringis sakit akibat pukulan Zenkra di pipinya.


Zenkra mendorong Ravlein ke tanah dengan keras. "Lo berani macem-macem. HABIS LO!"


Ravlein terkekeh menatap wajah serius Zenkra, "gue bingung. Nilga pacarnya. Kenapa lo yang kesel?"


Zenkra merutuki ucapan Nilga dan pikirannya bertanya-tanya kemana Nilga membawa Rachel.


"Shit lo, Ga!" gerutu Zenkra, namun masih dapat didengar.


"Lo suka cewek gue?" ejek Ravlein membuat tangan Zenkra terkepal.


Buk!


"Dia bukan cewek lo ataupun si Bocah tengik."


"Lalu? Dia cewek lo?" Senyum di wajah Ravlein terus mengembang. Pertemuannya dengan Zenkra dan Nilga sungguh di luar dugaan. Jangan bertanya mengapa mereka bisa saling mengenal. Baik Zenkra, maupun Ravlein keduanya famous sebagai anak konglomerat, begitupula dengan Nilga. Para konglomerat biasanya setiap tahun selalu membuat pesta untuk berkumpul, atau memamerkan pencapaiannya dalam tahun itu, termasuk memamerkan para pewarisnya. Tidak heran bila kehadiran Ravlein yang mengaku sebagai pacar Rachel membuat Nilga dan Zenkra geram. Ralat. Mantan pacar.


"Lho? Kok diem? Bukan juga ya?" Ravlein berdiri dengan susah payah, badannya serasa remuk dihantam Zenkra barusan. Seringaiannya tercetak dengan jelas tanda kemenangan. "Jadi, ada drama baru, judulnya tiga pangeran dan seorang putri tidur. Siapapun yang berhasil mendapat first kiss-nya Rachel yang berarti membangunkan cintanya, sangat beruntung. Deal?"


"Dengan begitu, yang kalah ga boleh mengotak-atik hubungan si pemenang." Zenkra menambah kesepakatan yang dibuat Ravlein. "Oh, dan... Jangan memakai cara licik murahan lo untuk mendapatkan first kiss dari Rachel, karena itu sebagai simbol cinta dia dan kemenangan satu di antara kita."


Zenkra berucap lagi mengulangi kata terakhir Ravlein, "deal?"


"Tunggu. Satu pemeran belom ada, besok kita ketemuan dan menyepakatinya," ucap Ravlein di sela senyum menyeringainya.


"Oke. Gue yakin Nilga ga akan nolak perjanjian ini," ucap Zenkra yang dari tadi pun sudah memasang senyum terbaiknya.


"Dan gue yakin Rachel akan jatuh ke pelukan gue untuk kedua kalinya," bangga Ravlein.


"Jangan terlalu percaya diri, gue takut lo kalah dan ga bisa nerima kenyataan nantinya."


"Hahahaha... Lo juga mesti berkaca, tidak menutup kemungkinan lo juga akan kalah, Bung."


"Dia tidak sedang membenci gue, sedangkan lo? Kayanya kemungkinan lo kalah lebih besar, Tuan Muda Karaka." Zenkra menepuk-nepuk pipi sebelah kiri Ravlein. "Pulang sana... Kalau Rachel masih liat lo di sini, dia bakal lebih benci, dan lo akan kalah sebelum berperang."


Zenkra kembali ke dalam rumah Rachel. Sementara Ravlein mengeraskan rahangnya dan masuk ke dalam mobil sport kuning yang menjadi kesayangannya satu bulan terakhir. Bukan karena usiran Zenkra, Ravlein pulang sebab benar ucapan Zenkra kalau Rachel pasti akan lebih membencinya. Ravlein merutuki hal itu dan kepergiannya ke luar negeri tiga tahun silam.


"Melihat reaksi lo dan Nilga membuat gue tertantang. She's so special. Liat apa yang akan gue perbuat nanti." Ravlein terkekeh dan menyudahinya dengan seringaian yang sulit diartikan.


***


Sementara di lain sisi, Rachel dan Nilga berhenti di sebuah kafe tempat biasa anak muda nongkrong.


"Mau makan apa?" tanya Nilga.


"Gue ga bawa uang," jawab Rachel singkat.


"Pesen aja. Nanti gue yang bayar."


"Beneran?" Raut wajah bad mood-nya berubah jadi berbinar.


"Iyaa..." jawab Nilga dengan senyum merekah senang melihat Rachel tersenyum. Cantik...


"Boleh pesen apa aja?"


"Boleh..." ucap Nilga sambil mengelus kepala Rachel layaknya hewan peliharaan.


Rachel tersenyum lebar dan mulai menyuarakan pesanannya kepada pelayan kafe.