
Puk!
Satu tepukan di bahu Rachel membuat gadis itu terkejut dan...
"Eh! Karin?!" pekikan melengking Rachel sukses menggema ke seantero toilet. Kedua tangannya direntangkan siap memberikan pelukan hangat kepada seseorang yang menepuk bar-bar bahunya dan ternyata orang itu adalah Karin. "Apa kabar lo? Uh... sahabat gue..."
Karin mundur selangkah, berpura-pura membuang muka kesal. "Jangan ngomong sama gue, lo! Jangan sok mau peluk-peluk gue! Kurang ajar lo balik ke Indo tanpa ngabarin! Dan sekarang malah ngaku-ngaku sahabat, kita END!"
Omelan demi omelan telah dikumandangkan Karin dengan tampang polos yang sama seperti enam tahun silam. Karin tidak pernah berubah.
Rachel tertawa pecah mendengarnya. "Eh... Karin? Mau end persahabatan sama gue? Yakin nih?" ledek Rachel dengan cengiran lebarnya.
"Sialan lo! Tau aja gue nggak bisa marah sama lo!" umpat Karin kini tergerak memeluk tubuh Rachel.
"Dih, siapa tadi yang katanya nggak mau dipeluk? Sok-sok-an marah sama gue?" ejek Rachel sembari membalas pelukan erat dari Karin.
"Diem lo ah, Hel!"
"Uthuk, uthuk... kanget berat nih kayanya." Rachel tidak bisa tidak tertawa di sela pelukan, tawa pecahnya bahkan membuat telinga Karin berdengung hebat.
"Lo ketawa nggak ada anggun-anggunnya, Hel! Heran nih sikap bukannya berubah malah makin bar-bar," kata Karin melepas pelukan, lalu menoyor kepala sahabat tercintanya itu.
"Heiii... Anda punya kaca? Lihat ke cermin seperti apa Anda sekarang! Anda lebih bar-bar, Dear..." balas Rachel mencubit sadis kedua pipi Karin yang empuk.
"Sakit ah, Hel!" Pak! Pak! Dua tepukan kasar diberikan Karin ke tangan Rachel harap-harap segera melepas cubitan mautnya dari pipi.
"Ihhh... pukul-pukul gue!" Rachel melepas cubitannya setelah dua pukulan Karin membekas merah di kedua tangannya. "Eh, iya. Lo kok bisa di sini, Rin?"
"Ah elah, itu aja masih dipertanyakan. Gue 'kan couple-nya Rasya yang notabene sahabatnya Nilga. Dan Nilga punya event penting kaya launching ini pasti ngundang-ngundang kita-lah...
"Lo sendiri? Bisa di sini bareng siapa? Silcha?"
"Silcha mana mau ikut acara ajak-ajak gue. Gengsi dia, takut kalah cantik," bangga Rachel membusungkan dadanya.
"Pede gila lo! Lantas barengan siapa woii?? Bikin gue mau mati penasaran, hah?"
"Jiahhh... enggak elit lo mati cuma karena penasaran! Gue ke sini barengan Nilga, dia mohon-mohon ajak gue. Cewek secantik ini mana tega sih sama cowok ganteng yang lagi memelas, gue iya-in deh."
"Sialan kepercayaan diri tingkat dewa lo! Gue dengernya maksa bener ini," sahut Karin. Gaya bicaranya kalau didengar-dengar jadi lebih begajulan dari enam tahun lalu.
"Nih pasti ajarannya si Rasya nih makanya lo ngomong udah begini bar-bar. Jangan malu-maluin gue ah, Rin!"
"Kurang ajar mulut lo, Hel! Tapi emang bener juga sih, gue ngomong lost control banget ya sekarang," sahut Karin membenarkan perkataan Rachel.
"Nah, entuh tau. Eh, iya. Omong-omong kabarnya Kak Karell pangeran bayangan gue gimana sekarang?"
"Kacau udah dia, Sis." Karin menggeleng-gelengkan kepala lemas.
"Eh, eh, eh. Kenapa? Terjerat obat-obatan dia?" tebak Rachel sontak mendapat toyoran kedua di kepalanya.
"Mana ada! Jangan ngarang cerita lo, Hel. Dia udah hiatus jadi pangeran bayangan lo tauuu..."
"Ya elah, udah kaya cerita novel gue noh hiatus. Kenapa emang pangeran gue, Rin? Cepet ah, kasih tau! Bikin gue penasaran aja!"
"Lo ngomong mulu dari tadi, kasih gue kesempatan buka suara sampai selesai dulu dong, Hel. Gue udah mangap-mangap kaya ikan lohan gini," kata Karin, kemudian mulai mendekatkan wajah ke telinga Rachel.
"Asal lo tau ya," bisik Karin. "Kak Karell itu... pstt, pstt."
"APA?! Lo berujar 'pstt, pstt' gitu mana gue tau sih Rin apa maksudnya," protes Rachel.
"Haha, lucu lo!" pekik Rachel tertawa garing.
"Gue emang lucu dan menggemaskan. Jangan diumbar langsung dong, Hel! 'Kan gue jadi malu."
"Sialan lo! Bikin gue naik pitam, Rin. Jadi Kak Karell kenapa sih?" Rasa penasaran Rachel sudah sampai ke ubun-ubun bersamaan dengan rasa dongkol di hatinya. Karin sangat suka menarik-ulur emosi.
"Sabar, Sis. Nih ya, gue kasih tahu hal penting selama lo nggak ada."
"Iyaa... apa tapinya?" Rachel semakin dongkol. Karin tidak juga bicara ke intinya.
"Nggak sabaran 'kan???" ledek Karin dengan senyum mengejek.
"Ah elah! Sebel lama-lama!"
"Iya, iya, sini." Karin mengisyaratkan agar telinga Rachel mendekat ke mulutnya. Rachel setuju. "Jadi, Kak Karell itu... udah punya pacar yang cantik dan aduhai. Kalahlah kalau lo disandingin sama tuh cewek."
"APA?! SERIUSAN LO?! SIAPA CEWEK YANG NGALAHIN KEMOLEKAN GUE?!" teriak Rachel.
Brak!
Salah satu bilik toilet dibuka kasar hingga menimbulkan bunyi 'brak!' tersebut.
"Siapa woiii yang ganggu tidur cantik gue di toilet???" suara seorang perempuan cantik yang baru saja menampakkan diri dari semedi-nya di salah satu bilik toilet.
Kaki putih jenjang, rambut hitam bergelombang dikibaskan ke belakang, tangan kiri yang mengibaskan rambut mengenakan jam keluaran edisi terbatas, baju? Jangan ditanya, branded nomor satu di tokonya.
"Berisik ya kalian!!" Suara galak yang bahkan lebih merdu dari milik Rachel. Siapa dia???
"A... A... A..."
"A apa, Rin?" Rachel menepuk punggung Karin yang tergagap.
"A, ANI?! Dia Ani, Hel," sebut Karin.
"Wahahahahaha... cantik-cantik namanya Ani, gue berpikir yang berlebihan rupanya," tawa Rachel terbahak.
"Iya, gue Ani. Kenapa? Salah kalau nama gue sebagus itu?" protes perempuan itu seiring dengan tangan dilipat di dada.
"Nggak, nggak apa-apa. Nggak salah kok, hahahaha..." Rachel menyahut selagi menuntaskan sisa tawa.
"Berhenti ketawa, Hel," peringat Karin tampak sungkan melihat Ani mendekat ke arah mereka.
"Kita kenalan dulu," ajak Ani mengulurkan jabatan tangan kepada Rachel.
Rachel dengan sikap tak mau kalah cantik pun menerima uluran. "Kenalin. Nama gue, Adinda Rachel Karenina. Panggil aja Rachel."
"Oh? Si primadona tiga pewaris tahta?" ujar Ani menaikkan satu alisnya diiringi senyum miring.
"Itu skandal enam tahun lalu. Lo juga tahu?" tanya Rachel tidak menyangka kejadian tempo dulu sangat tenar rupanya.
"Oh... pastinya. Karena gue, kenalin. Asabella Rosedia Cendani, dipanggil ANI."
Rachel sampai ternganga, ternyata nama perempuan di hadapannya begitu bagus. "Gue pikir nama lo, ehm, kenapa dipanggil begitu?"
"Nama Ani udah yang paling perfect. Tiga kata di nama lengkap gue kepanjangan jadi gue singkat sebagus itu jadinya."
Rachel saling berpandangan ke arah Karin. "Ha-ha. Sebagus itu."