Rachel

Rachel
Hubungan Nilga dan Rachel



Jangan men-judge orang hanya dari sudut pandang kita, cobalah mampir dan lihat dari sudut pandang orang tersebut. Maka akan ditemukan sisi baik dari hal yang kalian judge.


Adinda Rachel Karenina


***


Setelah semua kekacauan.


Rachel berkemas dan melaksanakan evaluasi kerja dengan para pejabat OSIS. Sementara Zenkra, gadis itu titip ke Nilga di UKS. Entah bagaimana nasib keduanya, tapi yang jelas evalker lebih penting daripada itu.


"Oke, guys. Gue buka evaluasi kerja kita untuk acara tujuh belasan Agustus tahun ini. Silahkan para PJ menyampaikan keluh kesan kalian terkait acara," ucap Rachel membuka.


Divisi peralatan, perlengkapan, pubdekdok, dan konsumsi menyampaikan bahwa semuanya sudah ter-handle dengan baik.


Kini divisi acara yang bersuara dan dilanjut divisi keamanan.


"Hel, kalau dari divisi acara sendiri awalnya ke-hadle, tapi pas anak-anak pada lihat kejadian yang lo bareng Kak Zenkra sama Nilga ke UKS, suasananya langsung jadi kacau," jelas wakil PJ divisi acara, namanya Raga kelas 11 IPS 1.


"Iya, Hel. Divisi keamanan jadi nggak bisa kondusifin acara karena mereka langsung membabi-buta cuma mau lihat kejadian itu," tambah PJ divisi keamanan, namanya Gandi kelas 11 IPA 3.


Rachel masih diam menyimak. Dia menggumam pelan, "Membabi buta? Berasa ada hal 'wow' aja, kebakaran misalnya."


Seseorang dari anggota divisi acara mengacungkan tangan.


"Iya, Kak Rachel. Tapi tadi untung Kak Rachel langsung kunci pintu UKS, jadinya mereka kembali kondusif lagi, walaupun masih ada yang berusaha penasaran dan nunggu di depan UKS," ucap Rara kelas 10 IPS 2.


"Lo gimana sih, Ra. Tapi setelah itu, acara bubar karena pada nggak semangat lagi buat lomba 'kan," tambah Irna, anggota divisi acara, teman dekat sekaligus sekelas dengan Rara.


Yang lain mengangguk membenarkan terkait runtutan situasi yang terjadi. Rachel memijat kening, kepala serasa pusing mendengar penjelasan evaluasi kerja kali ini. Semuanya kacau.


Rachel mengintruksi sekos--sekretaris OSIS mencatat segala yang perlu dicatat.


"Oke, sekos. Catet yang perlu dicatet. Yang lainnya, makasih udah berkontribusi pada acara kali ini meskipun hasilnya nggak memuaskan. Kalian udah melakukan yang terbaik. Semua yang terjadi, di luar kehendak kita, jadi gue nggak mau dari kalian ada yang saling menyalahkan."


Gadis itu tutup evaluasi kerja untuk acara ini. Yang lain bubar dari ruang OSIS. Begitupun dengan Rachel yang langsung keluar, dan bergegas menuju ruang UKS. Karena UKS terletak satu gedung dengan ruang OSIS dan ekskul lainnya, maka tak perlu waktu lama untuk sampai ke sana.


***


Mata terpejam, tapi masih bisa merasakan ruangan yang begitu sepi. Beberapa kali Zenkra mengerjapkan mata. Membangunkan tubuhnya menjadi posisi duduk. Matanya menyapu sekeliling, namun tak juga menemukan apa yang dicari. Alisnya terangkat sebelah ketika mendapati seorang laki-laki di bangku petugas UKS. Laki-laki itu sedang mengotak-ngatik ponsel menyadari Zenkra yang tengah terduduk.


"Udah bangun lo?" Tak ada basa-basi.


"Udah. Sejak kapan lo gantiin Kak Sandra di situ?" tanya Zenkra.


"Sejak Rachel nyuruh gue jagain lo," ucap laki-laki itu, Nilga. Memar di wajahnya sudah lebih baik, jadi sudah bisa bicara meski masih terasa sakit. Sandra menitipkan UKS ke Nilga sebentar karena suatu hal.


"Woiii... Selow aja, Kra. Gue disuruh jagain lo di sin--" ucap Nilga terputus karena kini cengkraman Zenkra lebih kuat.


"Gue tanya di mana Rachel?!" bentak Zenkra.


Nilga menepis cengkraman Zenkra. "Gue belom abis ngomong, lo udah ngegas aja."


Zenkra terdiam, sedangkan Nilga melanjutkan kalimatnya. "Dia ada evalker acara OSIS-nya yang kacau gara-gara lo!"


Lagi-lagi Zenkra terdiam. Namun dia teringat sesuatu.


"Ada hubungan apa antara lo sama Rachel?" tanya Zenkra sambil menunjukkan sebuah foto dari layar ponselnya. Foto Nilga yang sedang memegang bahu Rachel yang terduduk di ranjang UKS.


Nilga diam mengamati foto tersebut, foto yang sama di grup angkatan kemarin. "Kalau gue boleh jujur, gue suka sama Rach--"


Belum selesai bicara, Zenkra menarik kerah baju hingga tubuh Nilga terangkat.


"Cari mati lo!" bentak Zenkra.


Tanpa melepas cengkraman di kerah bajunya, Nilga menjawab, "Lo siapanya? Gue masih berhak buat dapetin dia, bukan?"


Zenkra geram. Melepas cengkraman dengan kasar dan mengepalkan tangannya. Merutuki kenyataan nahas atas pernyataan Nilga.


Ceklek! Brak!


"Kak!" Rachel membuka pintu dan membantingnya ke dinding ketika melihat situasi tersebut.


Rachel melerai keduanya. Menjauhkan tubuh Zenkra dan Nilga. Namun seketika mengembuskan napas kasar.


Rachel lelah. Dia memijat keningnya dan melangkah menjauh. Dia duduk di salah satu ranjang UKS.


"Lanjut aja deh kalau kalian mau berantem lagi, gue capek, ah," ucap Rachel mempersilahkan. "Ngelihat kalian malah bikin gue makin pusing."


Keduanya terdiam. Rachel mengubah posisi duduknya menjadi berbaring. Menarik selimut tipis UKS, dan memejamkan mata.


Lain halnya dengan Zenkra yang menghampiri Rachel dan melihat penampakan gadis itu tidur, Nilga justru masih bingung dan bertanya-tanya mengenai foto tersebut.


Dari mana Zenkra bisa mendapat foto itu? Apa di grup angkatan kelas 12 juga disebar luas, atau bagaimana?


Lalu apa tujuan orang tersebut mengirim foto itu di grup angkatan maupun ke Zenkra?


Siapa pengirim yang berinisial 'R'?


Semua pertanyaan memenuhi benak Nilga.